[Marinir] [t-net] KSAD Akui Peluru TNI ...

Hong Gie marinir@polarhome.com
Wed, 31 Dec 2003 19:31:47 +0700


----- Original Message -----
From: "Anthony Kurniawan" <bimagroup@yahoo.com>
To: <tionghoa-net@yahoogroups.com>
Sent: Wednesday, December 31, 2003 3:15 PM
Subject: [t-net] KSAD Akui Peluru TNI yang merenggut nyawa Sory Ersa
Siregar, Reporter Senior RCTI


KSAD Akui Peluru TNI

Pelor yang Menewaskan Wartawan Ersa Siregar
JAKARTA - Tabir misteri peluru yang merenggut nyawa
Sory Ersa Siregar dibuka oleh KSAD Jenderal TNI
Ryamizard Ryacudu. Orang nomor satu di Angkatan Darat
ini mengakui, timah panas tersebut berasal dari
senjata pasukan TNI yang sedang baku tembak dengan
Gerakan Aceh Merdeka.

Menurut KSAD, kematian reporter RCTI itu adalah risiko
wartawan perang di medan tempur yang sedang
bergejolak. "Risiko. Wartawan perang di tempat perang,
risikonya kena pelor. Siapa yang mau menjadi wartawan
perang, ya... risikonya kena pelor itu," ujar
Ryamizard setelah melantik Brigjen TNI Supiadin
sebagai Pangdam IX Udayana.

Tidak hanya terkena peluru, lanjut KSAD, wartawan yang
bertugas di tempat perang juga berisiko disambar
ledakan granat, bom, dan lain-lain. "Kalau tidak mau
ambil risiko seperti itu, ya jangan dong bertugas di
lokasi pertempuran," ujarnya.

Dijelaskan Ryamizard, saat itu terjadi kontak senjata
antara TNI dan GAM di daerah rawa-rawa yang rimbun.
Jarak pandang di medan tempur ini sangat terbatas.
Ersa yang ketika itu berada dalam sekapan GAM terkena
peluru nyasar yang dimuntahkan pasukan TNI.

Seperti diketahui, peristiwa pada Senin 29 Desember
tersebut terjadi di Desa Malehen, Kecamatan Simpang
Ulin, Aceh Timur. Pasukan TNI yang terlibat dalam baku
tembak itu adalah 13 personel Batalyon VI Marinir
pimpinan Lettu Mar Samson Sitohang. Mereka berhadapan
dengan delapan personel GAM.

Ryamizard mencium adanya pihak asing yang ikut campur
menanggapi kasus yang menewaskan Ersa itu. "Ini
persoalan bangsa. Orang lain tidak perlu ikut campur,"
katanya, tegas. Sayang, jenderal bintang empat
tersebut tidak menyebut jelas pihak asing yang dia
maksud.

"Saya paling benci ada orang-orang ikut campur. Kalau
mencari solusi yang benar, kita terima. Tapi ikut
campur dengan kutak-kutik kutak-kutik begitu, ya tidak
benar dong," ujarnya.

Sementara itu, gelombang demonstrasi memprotes
kematian Ersa kemarin berlangsung di mana-mana. Di
Jakarta, misalnya, puluhan wartawan yang tergabung
dalam AJI (Aliansi Jurnalis Independen) menyatakan
duka yang mendalam atas musibah tersebut.

Aksi demo di sekitar Bundaran HI itu dimulai pukul
12.00. Sebuah spanduk besar dibentangkan. Tulisannya:
Duka Untuk Ersa. Hadir juga dalam aksi itu sejumlah
tokoh LSM. Antara lain, Ketua Kontras Munir,
Nursjahbani Kancasungkana, Emi Hafidz dari
Transparansi Indonesia, dan Hasballah M. Saad (Komnas
HAM).

Hal serupa juga dinyatakan dalam pernyataan sikap AJI
yang dibacakan oleh Sekjennya, Nizar Patria. Menurut
dia, terbunuhnya Ersa tak bisa dilepaskan dari
tanggung jawab TNI dan GAM. "Terbunuhnya Ersa adalah
antiklimaks yang tragis bagi profesi jurnalis yang
meliput darurat militer di Aceh," katanya. Kematian
Ersa seharusnya bisa dihindari jika TNI dan GAM
mengutamakan harga manusia dan kemanusiaan di atas
logika perang.

AJI menuntut pemerintah mengusut tuntas kematian Ersa
dan membawa pelakunya ke hadapan hukum. "Kami juga
menuntut agar Ferry Santoro segera dibebaskan," kata
Nizar. Terakhir, AJI menuntut pemerintah membentuk tim
independen untuk mengusut tuntas tewasnya Ersa dan
upaya pembebasan Ferry Santoro. Aksi itu berlangsung
satu jam. Pukul 13.00, mereka membubarkan diri.


Kegagalan Semua Pihak

Kapolri Jenderal Pol Da'i Bachtiar mengakui bahwa
tewasnya Ersa merupakan kegagalan semua pihak untuk
menyelamatkannya. Karena itu, Da'i atas nama Polri
turut mengucapkan belasungkawa.

Orang nomor satu di jajaran Polri itu mengaku tidak
menduga wartawan senior televisi swasta tersebut tewas
dalam baku tembak antara TNI dan GAM. "Saya turut
menyampaikan duka cita yang mendalam atas tewasnya
rekan kita Ersa Siregar. Semoga arwahnya diterima di
sisi Allah SWT. Peristiwa ini adalah kegagalan kita
semua untuk menyelamatkan Ersa dari sarang GAM," ujar
Da'i setelah memperingati HUT Ke-23 Satpam (satuan
pengamanan) di Mabes Polri kemarin.

Namun, Da'i meminta kasus itu tidak terlalu
dipolemikkan. Sebab, Ersa tewas dalam situasi dan
kondisi yang sangat darurat. "Dalam situasi darurat
militer, apa pun bisa terjadi. Kita tidak bisa
menyalahkan siapa-siapa dalam kasus ini. Yang salah
adalah kita semua," imbuh Da'i.


Ribuan Pelayat

Rumah duka di kawasan Jalan Tuntang Perumnas II,
Tangerang, kemarin benar-benar larut dalam suasana
haru. Sejak pagi ribuan pelayat mendatangi kediaman
almarhum Ersa untuk memberikan penghormatan terakhir.
Dari mimik muka mereka terpancar jelas ekspresi
kedukaan yang mendalam.

Selain para tetangga dan kerabat Ersa, rekan sesama
wartawan tampak memadati rumah berlantai dua tersebut.
Termasuk para kru televisi swasta RCTI yang
mengirimkan dia ke Aceh. Mereka tampak bercakap-cakap
dengan keluarga Ersa untuk sekadar melipur laranya.

Isak tangis keluarga dan para pelayat tidak lagi dapat
dibendung ketika jenazah Ersa tiba di rumah duka pukul
13.00. Istri Ersa, Tuti Komala Bintang, tampak tidak
mampu menahan perasaan sedihnya. Kedua mata wanita itu
tampak berkaca-kaca memandangi jenazah suaminya yang
telah enam bulan menjadi sandera Gerakan Aceh Merdeka
(GAM).

Sementara itu, ketiga putra Ersa -Ridwan, Vitra, dan
Sara- tampak lebih tegar dibandingkan ibu mereka.
Dengan tabah, mereka menerima ucapan belasungkawa dari
para pelayat. Termasuk dari Wakil Ketua DPR RI A.M.
Fatwa, Ketua PMI Mar'ie Muhammad, dan Dansatgaspen
Koops Letkol CAJ Ahmad Yani Basuki.

Tidak hanya itu. Putra sulung Ersa, Ridwan, bahkan
menjadi imam dalam salat jenazah yang dilaksanakan di
Masjid At-Taubah yang berjarak sekitar 15 meter dari
rumah duka. Selanjutnya, jenazah Ersa diberangkatkan
ke peristirahatan terakhir di TPU Astana Raga II,
Tangerang, yang berjarak sekitar 5 kilometer.

Jenazah Ersa baru diberangkatkan dari Masjid At-Taubah
sekitar pukul 14.00. Puluhan mobil beriringan turut
melepas Ersa ke peristirahatannya yang terakhir.
Sepanjang perjalanan menuju pemakaman, masyarakat
berjajar di pinggir jalan. Mereka melambaikan tangan
sebagai tanda turut berduka cita atas kepergian
wartawan senior tersebut.

Sebelumnya, jenazah pria kelahiran Brastagi, Sumatera
Utara, 4 Desember 1951, tersebut diberangkatkan pukul
06.00 dari Lhokseumawe. Jenazah itu diangkut dari RS
Kesrem Lilawangsa, Lhokseumawe, langsung menuju
Bandara Polonial, Medan, menggunakan helikopter
TNI-AD.

Selanjutnya, jenazah diangkut ke Jakarta menggunakan
maskapai penerbangan Mandala Airlines bernomor
penerbangan RI-091 dan tiba sekitar pukul 11.55.
Begitu tiba di Bandara Soekarno-Hatta, jenazah Ersa
diserahkan Sesmenko Polkam Letjen TNI Sudi Silalahi
kepada Direktur RCTI Hari Tanusudibyo yang mewakili
pihak keluarga.


Akan Dibebaskan

Sebelum ditemukan tak bernyawa di Simpang Ulim, Aceh
Timur, ternyata Ersa sedang menderita malaria.
Presidium Medical Emergency Rescue Committee (Mer-C)
Dr Joserizal Jurnalis mengungkapkan bahwa kondisi
terakhir Ersa sangat memprihatinkan.

Dia menjelaskan, dua bulan sebelumnya, dirinya
mendapatkan laporan bahwa kondisi Ersa yang disandera
GAM terus menurun. "Ersa tampak kurus dan tidak bisa
berjalan normal," ungkapnya.

Selain pernah menderita malaria selama ditawan,
ditemukan dua luka lama pada kedua kaki Ersa. Kedua
luka tersebut masing-masing terdapat di lutut kiri
serta betis kanan. Joserizal memperkirakan, kedua luka
yang diderita Ersa tersebut merupakan luka tembak.

Dalam siaran persnya, Joserizal juga menjelaskan,
beberapa hari sebelum tertembak, sebenarnya Ersa
sedang berada dalam tahap pembebasan oleh GAM. Menurut
dia, 23 Desember lalu, pihaknya telah dihubungi GAM
untuk diminta sebagai mediator pembebasan Ersa dan
beberapa sandera sipil lainnya. Kabar tersebut
langsung dilaporkan Joserizal kepada pihak TNI.


Tak Serius

Direktur Imparsial Munir mengaku tidak kaget bahwa
para sandera GAM akhirnya menjadi korban baku tembak
antara GAM-TNI. "Soal sandera menjadi korban tembak
atau mati, itu sebenarnya hanya masalah waktu. Soal
tempat, itu hanya masalah waktu. Sebab, baik GAM
maupun TNI tidak serius bernegosiasi dalam pembebasan
sandera," jelasnya kepada koran ini di kantor
Imparsial kemarin.

Baik TNI maupun GAM, lanjut Munir, menjadikan para
sandera sebagai alat tawar-menawar (bargaining) untuk
kepentingan masing-masing kelompok. GAM tak mau
melepaskan para sandera sebagai pancingan agar lembaga
internasional bisa masuk ke Aceh. Misalnya, ICRC atau
PBB. "Kalau terjadi, hal itu cukup menguntungkan
posisi GAM," ungkapnya.

Sebaliknya, TNI tidak ingin buru-buru membebaskan para
sandera yang disekap GAM. Tujuannya, membangun opini
bahwa GAM memang merupakan tukang culik dan main
sandera warga sipil. Hal itu jelas menguntungkan
posisi TNI sekaligus memberi legimitasi keberadaan TNI
di Aceh. "Jadi, kedua pihak (GAM dan TNI, Red) saling
memanfaatkan sandera untuk kepentingan masing-masing,"
ungkapnya.

Jika tidak ada negosiasi antara GAM dan pemerintah
tentang pelepasan sandera, nasib mereka bisa menyusul
almarhum Ersa Siregar. Mengapa? Sebab, kontak senjata
GAM-TNI bisa terjadi setiap saat. Karena itu, soal
kapan sandera menjadi korban, itu hanya menunggu waktu
dan tempat. "Karena itu, hal tersebut harus dicegah.
Para sandera harus diselamatkan. Caranya, harus ada
negosiasi antara GAM dan TNI," tegasnya.

Menurut Munir, pemerintah harus lebih bijaksana dalam
upaya membebaskan sandera. Yakni, mau mengalah
sedikit. Sebab, untuk berharap GAM mau mengalah, itu
tidak mungkin. "Sebab, GAM berada dalam posisi
memberontak," katanya.

Sikap mengalah pemerintah pernah ditunjukkan saat
pembebasan wartawan freelance AS William Nassen ketika
berada di sarang GAM. Saat itu, pemerintah cukup
akomodatif bahkan memberikan keleluasaan kepada atase
pertahanan AS untuk terlibat langsung keluar masuk
hutan Aceh. "Mengapa, hal itu tak bisa dilakukan dalam
pembebasan sandera saat ini," ungkapnya.

Karena itu, Munir mengimbau agar GAM dan TNI lebih
serius bernegosiasi untuk melepaskan para sandera.
Bila perlu, lanjut dia, hal tersebut melibatkan pihak
ketiga untuk menjembataninya. Yakni, ICRC, PMI, atau
MeRCI. Mungkin GAM juga membutuhkan jaminan keamanan
agar tidak diserang saat pelepasan sandera. "Hal itu
harus secepatnya dilakukan demi kepentingan para
sandera. Kalau tidak, nasib sandera tak berbeda jauh
dari almarhum Ersa," tegasnya.

Lembaga yang dipimpinnya, Imparsial, lanjut Munir,
siap menjadi mediator antara GAM dan pemerintah untuk
pembebasan para sandera. "Kami siap kalau diminta
menjadi mediator," ujarnya. (agt/nur/ssk/bh/riz/jpnn)