[Marinir] [Nasional] HATI NURANI TENTARA

Yap Hong Gie marinir@polarhome.com
Tue, 11 Feb 2003 14:10:29 +0700


----- Original Message ----- 
From: rawaku kurawa <rawaku@yahoo.com>
To: <national@mail2.factsoft.de>
Sent: Tuesday, February 11, 2003 1:47 AM
Subject: [Nasional] HATI NURANI TENTARA


 -----------------------------------------------------------------------
 HATI NURANI TENTARA
 Oleh L Murbandono Hs
 
> TRAGEDI di Aceh (ada tentara tewas oleh "oknum"  
> masyarakat dan  ada warga Aceh tewas oleh  "oknum"
> tentara) adalah bagian tragedi nasional yang lebih
> luas: ada sederet panjang peristiwa seram-seram di
> berbagai tempat dan waktu yang melibatkan sejumlah
> oknum tentara, membuat Rakyat, yang adalah ibu
> kandungnya, bertanya-tanya.
> 
> Maka di sebuah musim krisis ibu kandung itu dengan
> berpedoman akal sehat dan berkompas niat baik
> mengarungi semua sudut Nusantara tempat ia berbincang
> dengan anak-anak kandungnya, sejak surya terbit sampai
> tenggelam. Akhirnya ia tidak tahan, menangis, menutup
> perbincangan. "Sebenarnya, apa maumu, anak-anakku?"
> 
> Seiring pertanyaan itu, sebagai ibu sejati yang
> percaya ibu dan anak tak bisa dipisahkan, ia bicara
> panjang lebar toh bernas dengan suara merdeka. Semua 
> kekecewaan dan bahkan kegusarannya, ia tumpahkan.
> Sebab ibu normal tidak takut terhadap anak-anak
> kandungnya sendiri. Ia serbu mereka dengan 1001
> pertanyaan pokok, melakukan kewajiban seorang ibu yang
> sejati. Ia tagih janji-janji mereka yang tetap ia
> percayai. Ia bertanya, antara lain,  dunia bersama
> macam apa yang akan mereka bentangkan di negeri
> tercinta. Salah satu yang terpenting adalah
> keprihatinannya mengapa anak-anak kandungnya itu
> agaknya tidak mau tahu bahwa segala hal seram-seram
> yang kini meneror bangsa adalah akibat logis substansi
> mereka sebagai  mesin  keseragaman di setiap tempo dan
> detik.
> 
> Anak-anak itu tersentak dan lalu menjawab serentak.
> Begini:
> 
> Meski kami terpukul tak suka pernyataan itu tapi jika
> kenyataannya begitu maka kami harus mengaku dengan
> tulus, sebab kami tetap anakmu. Apalagi, tegur
> kegusaran ibu tanpa kebencian, selain keprihatinan,
> yang terasa memberi pelita menuju suara pembaruan.
> 
> Kami, sebagian anak-anakmu, adalah tentara. Dunia kami
> berbeda dari dunia saudari-saudara kami yang lain.
> Dunia kami meniscayakan aba-aba, kedisiplinan,
> kepatuhan. Itu harga mati, ibu! Sebab kami harus
> mengoperasikan segala akses dan mesin perusak semisal
> 1001 senjata yang amat berbahaya tanpa penyeragaman
> dalam harga mati tersebut.
> 
> Maka ibarat pohon, jika harga mati itu diolah secara
> murni, akan memberikan buah-buah yang menghidupkan.
> Jadi, segala yang menghidupkan adalah tujuan dan
> target harga mati itu. Jika ia ternyata tak membuahkan
> hal-hal yang menghidupkan tetapi justru menyebarkan
> kengerian, sungguh, itu bukan maksud kami! Perlukah
> kami bersumpah untuk kali yang kesekian bahwa apa yang
> ibu dambakan, sebuah dunia tempat kita saling berkisah
> menanggalkan sumber-sumber kebencian, menjadi dambaan
> kami juga?
> 
> Ibu kandung itu diam. Termenung. Tidak mengiyakan.
> Tidak membantah. Angin tropis menyapu gunung-gunung.
> Anak-anak kandung itu melanjutkan:
> 
> Maka, jika ibu bertanya dunia seperti apa yang akan
> kami bentangkan, jawabnya masih sama, yaitu
> mewujud-nyatakan sumpah kami yang dulu-dulu juga.
> Meski situasi menggiring "salah urus-langkah-tingkah"
> sebagian dari kami telah mencoreng sejarah kami,
> tetapi sumpah sebagai pembela kejujuran, kebenaran,
> keadilan, pencinta perdamaian dan akan  berbakti
> kepada negara dan bangsa, tidak bisa kami ubah. Sebab
> itulah hakikat/makna eksistensi kami. Apakah ada
> sesuatu yang lain? Jika jawaban itu harus dirumuskan,
> kata-kata lain semacam apa yang bisa lebih menyejukkan
> semua anak bangsa?
> 
> Bahwa jawaban semacam itu akan dianggap retorika
> belaka ketika negara kita sakit macam sekarang dan
> ketika begitu banyak hati manusia terluka,  kami
> pahami  sejujur hati. O, betapa mulia sebuah sumpah!
> O, betapa sulit memulihkan kemuliaannya ketika ia
> terbiasa disalahgunakan sehingga jadi sampah!
> 
> Yang ingin kami katakan adalah, umpama batu, kami
> adalah batu-batu kali yang diam di tempatnya hingga
> ekologi terjaga. Jika terpaksa, bolehlah jadi fondasi
> jalan tol atau bangunan, tetapi bukan batu yang
> dilemparkan untuk merusak apalagi mematikan. Umpama
> pisau, kami adalah pisau produk teknologi fungsional
> sehingga memudahkan manusia memanusiawikan kehidupan,
> dan bukannya pisau pembuat luka.
> 
> Jika sebagian kami ada yang jadi batu-perajam-akal dan
> atau pisau-peluka-jiwa, bagi kami yang asali, itu
> salah tempat, tak penting salah prosedur atau salah
> struktural sebab diskursus tentangnya telah jadi
> rutinitas macet yang amat melelahkan semua anak
> bangsa. Apapun terjadi, jika  kami memang batu dan
> atau pisau, kami tetap batu dan atau pisau, dan tidak
> bisa dipaksa untuk menjadi sesuatu yang lain.
> 
> Artinya, ujungnya, kami memang dan hanya perkakas dan
> alat. Alat apa saja. Alat filsafat, alat politik, alat
> budaya, alat kepentingan, dan bahkan alat kejahatan.
> Ia netral, bisa baik atau buruk, terpulang siapa di
> balik alat tersebut. Jadi ibu, bimbinglah kami  sesuai
> kenyataan obyektif kami itu. Kenyataan sebagai
> perkakas!
> 
> Jadi manakala kami bersumpah, mohon tafsirkan itu
> sebagai sumpah sebuah mesin. Tapi sebagai mesin yang
> berniat fungsional,  percayakah ibu, bahwa hati kami
> tergetar dahsyat ketika ibu menyatakan masih percaya
> pada janji kami dan ketika ibu dengan putus asa
> menyatakan masih menyimpan harapan romantis tentang
> kami, seolah-olah harapan itu bakal menjadi
> kemustahilan dalam dunia-bersama kita?
> 
> Tiba-tiba, anak-anak kandung itu  menangis. Artinya,
> dari mesin mereka kembali  jadi manusia biasa. Sebab
> kabarnya, tentara tidak faham akan tangis. Tampak
> mereka harus melewati pergulatan batin yang dahsyat,
> sampai akhirnya melanjutkan kata-katanya:
> 
> Maafkan kami, ibu. Setelah menimbang dari segala
> penjuru, akhirnya cuma itu yang bisa kami katakan.
> Sebagai tentara yang mempunyai dunia khusus dengan
> harga mati di atas, secara prosedural kami berada
> dalam posisi bisu karena tali-temali yang amat rumit.
> Yaitu formal, melibatkan semua terminologi militer.
> Dan material, melibatkan segala kiprah politis yang
> tengah berjalan ialah keterpurukan kami dalam benang
> kusut konflik kepentingan dan kekuasaan yang
> sebagaimana kata ibu, tanpa nurani.
> 
> Dalam keterpurukan itu kami harus bermain, untuk
> survive, dalam menyikapi game amat ruwet yang
> melibatkan 1001 diskursus raksasa seperti pembebasan
> versus penindasan, dwifungsi, distribusi rezeki
> bangsa, dan daftar panjang agenda/perkara kenegaraan. 
> 
> 
> Artinya, seluruh pertanyaan ibu (semisal "apa yang
> terjadi dengan kami" dstnya) yang kaya makna akan
> ihwal eksistensial dunia-bersama, tak satupun bisa
> kami jawab. Jawabnya tersimpan di lemari besi. Siapa
> pemegang kuncinya, sebagian dari kami tidak tahu juga.
> Mudah-mudahan saja, kuncinya tidak hilang dan atau
> menghilang.
> 
> Seberapa jauh hal ini bisa difahami semua anak bangsa
> hingga dunia-bersama punya pegangan mengalkulasi
> kemungkinan masadepan yang lebih baik, jawabnya,
> lagi-lagi berada di lemari besi yang tadi. Tetapi
> situasi obyektif semacam ini, bagi kami tentara yang
> asali, tidak membuat kecil hati. Itulah keniscayaan
> yang harus dihayati bagi mereka yang bertekat memilih
> dunia khusus yang saat ini kami jalani.  
> 
> Sekalipun demikian, berbagai teguran ibu semisal
> menyesalkan penggunaan kekerasan, kelangkaan kemurahan
> hati, kekian-asingan kami dari keheningan hingga
> mustahil menangkap Suara Sejati, kepatuhan buta,
> kebenaran tanpa perangkap, penyempitan kami akan makna
> dunia-bersama hingga terbentang sebuah dunia yang
> boleh jadi aman tapi dingin menggetarkan, dan masih
> banyak teguran positif yang lain,  semuanya itu kami
> simpan di relung hati terdalam sebagai modal kami
> menuju dunia-bersama masadepan yang lebih baik dan
> lebih bermutu.
> 
> Bahkan modal yang amat berharga! Teguran itu minimal
> mengingatkan hakikat kami yang asali, ialah himpunan
> anak bangsa yang dipercaya menjadi mesin dan alat-alat
> perusak/pemusnah. ("Habitat" ini membuat sebagian dari
> kami cenderung berprinsip to be or not to be manakala
> dihadapkan masalah, apalagi jika menyangkut
> kesetia-kawanan korps, dan bukannya prinsip
> saling-berbagi dalam pluralitas dunia-bersama.) Maka
> penggunaannya, harus amat hati-hati. Ia perlu diatur
> pengatur. Siapa? Sirkuit di luar kami? Sebab mesin tak
> bisa mengatur dirinya sendiri? Tentangnya, sebaiknya
> dibicarakan oleh semua anak bangsa, di sebuah meja
> perjamuan, hanya dengan kata-kata! Jika kita sudah tak
> percaya kepada daya-makna kata, ke mana dunia
> kemanusiaan akan kita bawa?
> 
> Apalagi, di jantung kehidupan tertulis, awal dari
> segala awal adalah kata ... 
> 
> Anak-anak kandung itu resah. Sebab telah mengatakan
> sesuatu di luar garis? Entahlah. Tapi berangsur-angsur
> mereka menjadi tenang.  Mungkin itu disebabkan mereka 
> telah mengungkapkan sesuatu yang sesuai isi hati. Maka
> sekarang kita tahu, anak-anak kandung itu  tentara
> sejati. Entah di manapun mereka berada.
> 
> ***
> 
> L Murbandono Hs
> Rakyat Biasa Warganegara RI
> Hilversum, Nederland
> -------------------------------------------------------------
> Info & Arsip Milis Nasional: http://www.munindo.brd.de/milis/
> Anggota Nasional: http://mail2.factsoft.de/mailman/roster/national
> Netetiket: http://www.munindo.brd.de/milis/netetiket.html
> Nasional-m: http://www.polarhome.com/pipermail/nasional-m/
> Nasional-a:  http://www.polarhome.com/pipermail/nasional-a/
> Nasional-e:  http://www.polarhome.com/pipermail/nasional-e/
> ------------------Mailing List Nasional------------------