[Marinir] [tempoint'f] Panglima TNI : 377 Personil TNI Jadi Korban
Tsunami Aceh
YapHongGie
ouwehoer at centrin.net.id
Mon Dec 27 14:54:50 CET 2004
http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2004/12/27/brk,20041227-69,id.htm
l
Nasional
Panglima TNI : 377 Personil TNI Jadi Korban Tsunami Aceh
Senin, 27 Desember 2004 | 20:28 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Sampai Hari Senin (27/12), menurut Panglima TNI
Jenderal Endriartono Sutarto, sudah tercatat 377 personil TNI yang menjadi
korban bencana gempa dan gelombang Tsunami di wilayah Aceh dan sekitarnya.
Dari jumlah itu, 180 orang prajurit (satu kompi Kodam Iskandar Muda) menjadi
korban saat berlatih di Ulhe leu, Banda Aceh, 19 orang personil dari satuan
organik Kodam Iskandar Muda dan Satuan Penugasan dari Yonif - 744 dan Yonif
Marinir, serta 51 orang keluarga prajurit, yang terdiri dari 21 orang istri
dan 30 anak-anak prajurit. "Sebagian dari mereka sedang melaksanakan latihan
di laut dan sebagian sedang bertugas di daerah pantai, serta sebagian
asramanya ikut tersapu oleh gelombang laut, sehingga selain 377, ada 51
keluarga prajurit (21 istri dengan 30 orang anak-anak) yang menjadi korban,"
ujar Endriartono kepada wartawan hari ini, Senin (27/12), di Mabes TNI
Cilangkap.
Menurutnya, kemungkinan jumlah tersebut merupakan bagian kecil dari jumlah
korban yang belum diketahui, yang sekarang masih terjadi di Aceh, Nias dan
Pantai Timur (Pantai Cermin). Namun, TNI telah berkomitmen untuk terus
membantu korban dan masyarakat yang terkena bencana tersebut. "Untuk itu TNI
sejak hari ini sudah membuat posko bantuan bencana yang didirikan di Banda
Aceh, Lhokseumawe, Medan dan Jakarta. Tujuannya, agar dapat segera memberi
bantuan ke korban dan masyarakat," katanya.
Endriartono juga membenarkan hilangnya ribuan orang yang sedang lari pagi
(jogging) di Banda Aceh. Namun sebagian dari mereka sudah ditemukan. Di
lapangan Banda Aceh sendiri, yang jaraknya hanya 2,5 kilometer dari pantai,
ketinggian air mencapai 5 meter, sehingga orang-orang yang sedang berlari
(olah raga) tersapu semua akibat gelombang itu. Kepala Staf Kodam (Kasdam)
Iskandar Muda dan Wakil Panglima Kodam Iskandar Muda, yang dikabarkan sempat
terbawa gelombang sudah ditemukan, kecuali satu orang kameraman TNI yang
sedang bertugas, yakni Sertu Jasodin sampai saat ini masih hilang.
Selain kehilangan prajurit, TNI juga kehilangan peralatan militer. Di
antaranya 224 pucuk senjata, 15 unit Sea Rider (Perahu Cepat), puluhan
kendaraan militer serta rusaknya ratusan unit perumahan dinas Kodam Iskandar
Muda yang tersebar di Banda Aceh, Meulaboh dan Sigli.
Komunikasi juga masih terputus sampai hari Senin. "Komunikasi sampai saat
ini belum bisa berjalan, kecuali di Lhoukseumawe, tetapi kita masih punya
hubungan radio, sehingga Mabes TNI terus menerus berkomunikasi dengan Banda
Aceh melalui saluran radio," ujar Jenderal Endriartono. Menurutnya, jika
komunikasi terus tidak tersambung, pihaknya sudah menyediakan alat
komunikasi cadangan agar pemerintah pusat tetap bisa berkomunikasi dengan
daerah bencana, guna mengetahui bantuan apa yang harus segera diberikan
kepada korban.
Dalam pertemuannya dengan wartawan, Endriartono menyatakan bencana gempa dan
gelombang Tsunami di wilayah Aceh dan sekitarnya sebagai musibah nasional.
"Kita semua harus ikut prihatin dan berbelasungkawa,"ujarnya.
Karena itu, TNI, sejak Minggu (26/12) sampai Senin (27/12), sudah mengirim
10.880 ton obat-obatan. TNI yang bekerja sama dengan Departemen Sosial dan
Departemen Kesehatan pada Senin (27/12), juga telah mengirim makanan untuk
balita (MP ASI) sebanyak 4170 kilogram, rompi 50 kilogram, kantong jenazah
60 kilogram, dan spanduk sebanyak 20 kilogram.
Bantuan berupa bahan makanan akan dikirim kembali besok pagi, karena yang
paling dibutuhkan saat ini di Aceh adalah makanan. "Sambil kita siapkan satu
kapal untuk mengangkut bahan makanan yang lain." Panglima juga mengakui
sudah menerima telepon dari Panglima dan Menteri Pertahanan Australia, serta
dari negara lain termasuk Malaysia, Amerika. Mereka akan memberi bantuan.
Dari Australia akan memberi bantuan empat pesawat untuk mengangkut bahan
makanan, obat-obatan, untuk evakuasi dan sebagai rumah sakit lapangan. "Ini
memang merupakan kerja sama internasional yang sudah disepakati bersama
bahwa dimanapun terjadi bencana alam, internasional punya kewajiban untuk
memberi bantuan," ujarnya.
Sunariah
---------------------
http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2004/12/27/brk,20041227-40,id.htm
l
Nasional
Akibat Tsunami Aceh, Belum Diketahui Nasib Ratusan Anggota TNI dan Brimob
Senin, 27 Desember 2004 | 16:19 WIB
TEMPO Interaktif, Jakarta:Banda Aceh masih mencekam. Jalan-jalan raya masih
disesaki tumbangan pepohonan dan puing-puing bangunan. Dan yang membuat
bencana ini kian mengerikan adalah masih putusnya jalur komunikasi ke Banda
Aceh.
Menurut Suryatin, Direktur PT Telekomunikasi Indonesia Bidang Fixed Line
kepada Noffi Triana Firman dari TEMPO, Senin (27/12) belum dapat ditentukan
berapa lama waktu yang diperlukan untuk memperbaiki Sentra Telepon Otomat
(STO), hingga arus komunikasi dari dan ke Aceh dapat lancar kembali.
"Semua itu tergantung situasi," katanya, walau begitu menurut Suryatin,
Telkom mengupayakan segala langkah yang bisa diambil untuk memperbaikinya.
Termasuk melakukan koordinasi dengan pihak PT PLN dan Pertamina untuk
mempercepat perbaikan STO tersebut.
Sementara itu, menurut seorang anggota TNI Angkatan Udara yang juga Anggota
Tim TNI AU yang dikirim ke Aceh, kepada TEMPO, Senin (27/12) di Medan
menyatakan hingga kini masih banyak kesimpang-siuran jumlah korban yang
belum ditemukan.
Sampai saat ini, menurut sumber TEMPO tadi, yang masih belum terdeteksi
keberadaannya antara lain 1.500 orang peserta lomba jalan kaki 10k di Krueng
Raya, Banda Aceh yang hilang tersapu ombak. Juga 400 personil TNI yang
sedang melakukan latihan raiders di kompleks pelabuhan lama Ulele, Banda
Aceh dan sekitar 500 personel Brimob yang ada di Aceh hilang saat apel pagi
di Banda Aceh.
Menurut Kepala Dinas Penerangan Umum Mabes TNI, Kolonel Ahmad Yani Basuki,
sebanyak empat pucuk senjata dan empat kendaraan rusak berat akibat gempa
dan gelombang pasang tsunami. Yani membantah soal hilangnya ratusan pasukan
TNI dan sejumlah kendaraan perang yang hanyut akibat bencana ini.
"Kalau jumlahnya sampai ratusan kita sudah geger. Tidak benar itu," kata
Yani ketika dihubungi TEMPO, Senin, (27/12). Yani memastikan hingga siang
ini jumlah korban dari anggota TNI sebanyak 12 orang tewas dan tujuh
dinyatakan hilang. Sementara anggota keluarga TNI yang didata meninggal
dunia sebanyak 44 orang dan dinyatakan hilang 5 orang. Sementara untuk
kendaraan rusak berat dan hilang yang terdata oleh Mabes TNI adalah tiga
kendaraan dinas dan jip CJ 7.
Dan hingga sore ini (27/12), menurut Kabag Humas Aceh Utara Azhari Hasan,
sebanyak 30 ribu warga Aceh menyebar menjadi pengungsi. Keberadaan para
pengungsi tersebut beada disejumlah titik seluruh kecamatan Aceh Utara.
Titik-titik pengungsian meliputi Kecamatan Seunundon, Panton Labu,
Lhoksukon, Santalira Bayu, Simpang Dama, Kecamatan Samudra Gedong, Mibong,
dan Muara Batu.
Bambang Soed dan Hambali Batubara (Medan), Imran MA (Lhokseumawe), Bernarda
Rurit (Jakarta)
More information about the Marinir
mailing list