[Marinir] [KCM] "Medical (Aceh) Tsunami Response"

YapHongGie ouwehoer at centrin.net.id
Fri Dec 31 13:56:23 CET 2004


Updated: Kamis, 30 Desember 2004, 06:30 WIB
KESEHATAN
"Medical (Aceh) Tsunami Response"
Jakarta, Kamis

Reuters
Dua wanita Aceh yang terluka mendapat perawatan di rumah sakit Banda Aceh,
Rabu (29/12). Banyak korban menderita kelaparan dan terancam berbagai
penyakit.

Berita Terkait:
. Efek Trauma Gempa dan Tsunami


Oleh Dr. Handrawan Nadesul, dokter umum

ADA sejumlah mitos yang dianggap lazim terjadi pascagempa, yaitu:
(1) di wilayah bencana alam bakal terjadi wabah penyakit;
(2) mayat menjadi sumber wabah;
(3) memerlukan bantuan asing;
(4) kebutuhan pasokan medis
dalam jumlah banyak;
(5) kondisi gempa harus normal dalam beberapa minggu.

Dr Michel Thieren (Medical Officer Department of Emergency and Humanitarian
Action, WHO) mengingatkan miskonsepsi itu perlu diralat.
WHO merekomendasi "manajemen pascagempa" (post-earthquake management) dalam
sejumlah langkah, yaitu:
(1) mengutamakan pertolongan pertama bedah minor,
mayoritas untuk luka sayat dan luka memar (sedikit
untuk patah tulang, dan pertolongan gawat darurat
bedah);
(2) layanan kesehatan umum;
(3) ketersediaan air bersih dan kecukupan makanan;
(4) menyiangi sanitasi, terutama terhadap kemungkinan
munculnya kejadian luar biasa (outbreak) penyakit
menular lokal;
(5) layanan imunisasi (khususnya flu bagi balita dan
 usia lanjut, selain campak untuk bayi);
 (6) kecukupan perangkat infus, dan cuci darah.

Buat Aceh, yang buruk infrastruktur, komunikasi, ataupun
telekomunikasinya, lebih dibutuhkan pertolongan darurat jalur
 udara (airlift emergency service), baik untuk logistik,
pasokan medik, alat berat, transportasi pasien rujukan, dan
pengiriman perangkat rumah sakit lapangan (fieldshospital),
dan unit layanan kesehatan umum (modular health unit).

DALAM manajemen pascagempa, diperlukan pendekatan pluralistik lewat
informasi satu pintu. Belajar dari pengalaman gempa di Gujarat (India),
lemahnya koordinasi dan ordinasi; irasionalitas pengiriman pasokan medik
(lebih banyak obat yang tidak diperlukan); terapi cedera yang tanpa analisis
medis, menimbulkan komplikasi tak diinginkan pascagempa.

Informasi dari wilayah gempa perlu dihimpun guna menyusun peta fasilitas
medis; jumlah korban yang perlu ditolong; besaran, jumlah, dan kondisi
kerusakan; serta penyakit sporadis yang muncul. Dengan demikian paket
pertolongan bisa lebih tepat sasaran, tepat waktu, sesuai kebutuhan lokal.
Untuk korban cedera berat, harus ditolong dalam 24-28 jam, terutama
untuk cedera kepala, dada, serta kasus gawat darurat lainnya.
Untuk kasus gawat bukan darurat bisa ditunda (seperti patah tulang).
Korban cedera bukan darurat, rata-rata harus mendapat pertolongan
dalam 3-5 hari pascagempa.
Perlu diantisipasi, korban gempa kedua dengan dampak medis yang mungkin
sama.
Ihwal wabah penyakit, wilayah gempa tidak mengimpor penyakit dari luar.
Yang perlu diamati, selain penyakit rutin (flu, radang paru-paru bronkitis,
adalah pneumonia yang membutuhkan masker untuk mencegah penularan).
Antisipasi pula kemunculan aneka penyakit lokal yang berpotensi bangkit
dalam kondisi pascagempa, seperti penyakit yang ditularkan oleh nyamuk
(malaria dan demam berdarah), tikus (pes dan leptospirosis), serta muntaber
akibat limbah air kotor (waterborne disease), seperti tifus, kolera, dan
disentri. Wilayah Aceh termasuk endemik malaria, demam berdarah, dan
berpotensi kolera.

Kemampuan angkatan udara (armed forces) lazim masuk manajemen pasca-gempa.
Melihat medan Aceh, TNI Angkatan Udara yang siap pakai perlu dilibatkan agar
pasokan kebutuhan dapat mencapai sasaran. Pasokan satgas yang sinambung
dibutuhkan untuk makanan, pertolongan pertama, dan transportasi pasien
rujukan. Makanan instan (roti dan biskuit) untuk jangka pendek menjadi
pilihan jenis makanan sebelum dapur umum memungkinkan dibangun.
Handrawan Nadesul Dokter; Pengasuh Rubrik Kesehatan di Sejumlah Media;

Penulis Kolom dan Buku




More information about the Marinir mailing list