[Marinir] Re: Marinir Digest, Vol 6, Issue 8

Hong Gie ouwehoer at centrin.net.id
Sun Jul 18 14:09:11 CEST 2004


Bung Nugroho Yth,

Secara keseluruhan saya setuju dan mendukung pendapat Anda.
Saya juga menaruh hormat bagi Ibu Anda, yg sangat peduli dengan pendidikan
anak, saya kira adalah dambaan bagi setiap orang tua.

Ada hal yang ingin saya tanggapi, (kutipan):
"selama tentara aktif, barangkali sibuk cari sampingan yg juga kadang
mengundang keprihatinan. ada anggota menyambi satpam, padahal masih aktif,
risikonya mungkin kesatuan memberikan toleransi tapi 60% penghasilannya
masuk kesatuan (baca: komandan). katakanlah dia dapat 1 juta dari itu, maka
dia hanya dapat 400 ribu. yg 600 ribu untuk menutupi wajib apel. mengapa
dibela-belain menyambi seperti itu, yg kalo toh ketahuan tim disiplin akan
kena sanksi?"

Sejauh saya tahu dari apa yang saya alami dilingkungan (terbatas) Marinir,
bahwa "dana komando" adalah semacam "pot" untuk menutupi kegiatan
operasional dan biaya non-operasional Batalyon, yang menjadi tanggung jawab
seorang Dan Yon.
Anda betul bahwa ada potongan dana komando bagi perajurit yang ngobyek atau
nyambi diluar. Bahkan ada anggota yang memang berbakat dan jeli selalu
mendapatkan peluang mendapatkan penghasilan bagus diluar, mereka ini
cenderung (kesimpulan pribadi) diberikan priveledge oleh Komandan untuk
dibebaskan mencari uang tambahan.

Ketika jaman rusuh-rusuh tidak menentu th '98/'99, berapa kali teman-teman
memintan saya mencari bantuan tenaga Marinir dan mereka minta tolong
dibuatkan anggaran, saya selalu pisahkan dana komando diluar honor para
anggota, sehingga bagian mereka tidak terpotong.
Kalaupun dikeluhkan menjadi mahal, saya jawab bahwa ini 'resmi' diketahui
kesatuan ditingkat batayon dan apabila memberatkan silahkan mencari kesatuan
lainnya.
Namun, jaman sudah berubah, dengan terbitnya UU Keamanan dimana Polisi
adalah aparat yang berwenang dan bertanggung jawab atas masalah yang
berhubungan dengan masyarakat sipil, sehingga tenaga pengaman bagi
perusahaan atau komplex perumahan dibawah kendali POL wilayah setempat.
Apabila ada pihak yang tetap menempatkan tenaga TNI sebagai (kepala)
keamanan, maka sering terjadi benturan dengan pihak POL setempat.

Wassalam, yhg.
-------------------------


From: Nugroho Dwi Priyohadi
Sent: Saturday, July 17, 2004 6:10 PM

Yth Pak Thomy dan Pak Hong Gie serta peserta milis yg budiman....

pada dasarnya usulan saya untuk meningkatkan kesejahteraan tentara yg
utamanya level bintara dan tamtama bukanlah bertujuan untuk "membuat kaya"
para anggota tni, utamanya marinir...., melainkan agar dua kebutuhan penting
yi pendidikan dan kesehatan, terpenuhi bagi keluarga tentara...
saya merasakan kesedihan yg mendalam, karena banyak anggota tni yg dari segi
kesejahteraan kalah dengan sipil, bukan berarti dikotomi sipil militer,
melainkan seakan negara kurang menghargai pengabdian tentara. saya punya
teman security officer di bumn dan sebuah pabrik, yg satu take home pay
sebesar 2,4 juta rupiah, yg satunya malah 3,1 juta rupiah.  bandingkan
dengan perwira pertama sekalipun..
konteksnya ini bukan saling berhitung dengan masalah uang, melainkan sebuah
kepedulian.

kebutuhan apa yg paling mendasar bagi keluarga tni saat ini?
- pendidikan anak-anak tentara
- fasilitas kesehatan pasca pensiun

selama tentara aktif, barangkali sibuk cari sampingan yg juga kadang
mengundang keprihatinan. ada anggota menyambi satpam, padahal masih aktif,
risikonya mungkin kesatuan memberikan toleransi tapi 60% penghasilannya
masuk kesatuan (baca: komandan). katakanlah dia dapat 1 juta dari itu, maka
dia hanya dapat 400 ribu. yg 600 ribu untuk menutupi wajib apel. mengapa
dibela-belain menyambi seperti itu, yg kalo toh ketahuan tim disiplin akan
kena sanksi?
jawabnya bukan karena kebutuhan makan, melainkan sekolah. artinya,
pendidikan anak-anak.
itu masih alhamdulillah sekali karena terbilang halal, belum yg kurang baik
semacam beking.

mengingat indonesia adalah negara kepulauan, maka perhatian terhadap tni
dalam hal ini marinir adalah sangat penting. bukan semata meningkatkan peran
baktinya, melainkan juga fasilitas penunjang utamanya fasilitas pendidikan
bagi keluarga marinir, juga kesehatan pasca pensiun.
saya mohon maaf kalau harus mengakui adanya fakta bahwa kesenjangan yg
sangat besar terjadi di bidang kesejahteraan tentara. yg bergelar pati,
jelas tidka pernah berpusing masalah pendidikan atau semacamnya. anak-anak
pati bisa dikatakan terbuka kemudahan akses pendidikan, bahkan keluar
negeri. sedangkan anak-anak bintara dan tamtama, orang tua terseok-seok
untuk membiayai sekolah.
solusi masalah ini memang kompleks, namun kalau pemeirntah punya political
will yg kuat, sebenarnya tidak sulit. bumn punya anggaran community
development, yg selama ini mungkin belum tersentuh public auditing, alokasi
untuk subsidi pendidikan anak-anak tentara dan masyarakat yg membutuhkan ,
menurut saya, adalah sangat mungkin sekali.
kesempatan pendidikan bagi anak-anak tentara tanpa harus membuat orang
tuanya kebingungan mencari penghasilan tambahan untuk biaya, adalah masalah
nyata saat ini.
teriring simpati saya pada semua anak-anak dari keluarga besar tentara yg
selalu bersemangat meraih kesempatan pendidikan tinggi. terima kasih juga
buat ibu saya, istri tentara yg sangat peduli dengan pendidikan anak,
sehingga meskipun sempat tersendat-sendat, saya dan adik-adik saya dapat
bersekolah di jenjang pendidikan tinggi.

wassalam
citadelsvagen, sverige



More information about the Marinir mailing list