[Marinir] Tim Penyidik Swedia Datang Pertengahan Maret
Hong Gie
ouwehoer at centrin.net.id
Tue Mar 2 23:52:38 CET 2004
-----------------------------------------------------------------------
Mailing List "NASIONAL"
-----------------------------------------------------------------------
Nasional
Tim Penyidik Swedia Datang Pertengahan Maret
01 Maret 2004
TEMPO Interaktif, Jakarta: Tim penyidik Swedia akan segera datang ke
Indonesia pertengahan bulan ini. "Pertengahan bulan Maret ini, Insya Allah,"
kata Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Susilo Bambang
Yudhoyono di Lemhanas, Senin (1/3).
Yudhoyono menjelaskan, tim ini akan berada di Indonesia selama enam hari.
Mereka akan melakukan penyidikan di Aceh, Medan dan Jakarta. "Saat ini
sedang dinegosiasikan, tim ini akan melakukan penyidikan apakah benar
terlibat separatis GAM," ujarnya.
Menurut dia, kedatangan tim Swedia ini akan dimanfaatkan pemerintah
Indonesia untuk menekan dan menggugah kesadaran pimpinan GAM di Swedia untuk
membebaskan sandera. "(Pimpinan GAM) Berbuatlah sesuatu agar tahanan atau
sandera segera dibebaskan," ujarnya.
Upaya pembebasan sandera, kata Yudhoyono, saat ini masih terus berjalan.
Peran Palang Merah Internasional (ICRC) dan Palang Merah Indonesia (PMI)
dalam upaya ini juga masih berlanjut. Dia juga mengakui, sempat terhentinya
upaya kedua badan ini karena tidak dipenuhinya beberapa komitmen GAM oleh
Pemerintah Indonesia. "Pada prinsipnya fasilitasi untuk segera dibebaskannya
mereka yang masih disandera termasuk Ferry Santoro, masih berlangsung,"
tegasnya.
Pemerintah Indonesia melalui Kementrian Polkam juga meminta kepada Panglima
Komando Operasi dan Penguasa Darurat Militer Daerah untuk tidak putus asa
dalam membebaskan para sandera ini. Dia kembali menegaskan, Pemerintah
Indonesia tetap menunggu itikad baik dari GAM untuk segera membebaskan
sandera. Menurutnya, pemerintah Indonesia bisa mengatur tempat dan waktu
pembebasan jika GAM berniat baik.
Dewi Retno - Tempo News Room
http://kompas.com/kompas-cetak/0403/02/daerah/885489.htm
Selasa, 02 Maret 2004
Perburuan Anggota GAM di Pangkalan Kerinci Berlanjut
Pekanbaru, Kompas - Perburuan anggota Gerakan Aceh Merdeka yang menyusup ke
Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau, hingga kini berlanjut. Tim
khusus yang dibentuk dari Satuan Reserse dan Kriminal Polres Pelalawan
berhasil menangkap Rudi Syahputra (25), salah seorang anggota GAM yang
melarikan diri dalam kontak tembak dengan pasukan TNI Korem 031 Wirabima,
Jumat lalu.
Kepala Polres Pelalawan Ajun Komisaris Besar Slamet Suroso mengungkapkan itu
saat dihubungi di Pangkalan Kerinci, Pelalawan, Senin (1/3).
Slamet mengatakan, tim khusus dari Satuan Reskrim Polres Pelalawan menangkap
Rudi Syahputra dalam sebuah pengejaran, Sabtu sekitar pukul 16.00. Rudi
tertangkap ketika sedang bersembunyi di semak-semak di belakang Masjid Raya
Al-Muttaqin, Pangkalan Kerinci.
"Dia tidak bisa lari jauh-jauh karena akibat kontak tembak dengan pihak TNI
terdapat tiga luka tembakan di kedua kakinya," kata Slamet.
Menurut Slamet, setelah berhasil menangkap Rudi, tim Polres Pelalawan
melakukan penyisiran di belakang Masjid Raya Al-Muttaqin. Dalam penyisiran
itu ditemukan dua senjata api laras pendek jenis FN dan revolver yang
merupakan senjata standar TNI dan Polri.
"Kami menemukan kedua senjata api itu di sebuah kandang ayam milik warga
setempat sekitar pukul 17.30. Kedua senjata itu memang digunakan dalam
kontak senjata dengan pihak TNI, Jumat lalu," kata Slamet.
"Kami memang sempat menginterogasi dia tentang kepemilikan senjata- senjata
api itu. Namun, karena kasusnya terkait erat dengan GAM, maka malam itu juga
kami serahkan kepada Korem 031 Wirabima di Pekanbaru," kata Slamet.
Untuk dijual
Sementara itu, Kepala Penerangan Korem 031 Wirabima Kapten Maringan Manik
mengatakan, kedua senjata api yang dimiliki Rudi Syahputra itu akan dijual
kepada tim intelijen TNI yang menyamar sebagai pembeli senjata api. Tetapi,
pihaknya belum mendapatkan informasi lengkap tentang kedatangan tersangka
berikut dua pucuk senjata api itu di Markas Korem 031 Wirabima, Pekanbaru.
Sementara itu, Komandan Korem 031 Wirabima Kolonel (Inf) Karseno mengatakan,
pihaknya yakin keempat anggota kelompok bersenjata yang disergap timnya itu
adalah anggota GAM yang melarikan diri dari kawasan darurat militer Nanggroe
Aceh Darussalam (NAD). Itu antara lain karena di telepon genggam mereka
terdapat pesan-pesan dalam bahasa Aceh. Selain itu, senjata AK 47 yang
disita juga merupakan senjata standar yang digunakan GAM.
Menurut Karseno, pihaknya sudah menetapkan tiga kawasan di Riau yang
dikategorikan sebagai daerah rawan karena diduga kuat menjadi basis para
pelarian anggota GAM dari Aceh. Ketiga kawasan itu adalah Batam, Duri
(Kabupaten Bengkalis), dan Pangkalan Kerinci sendiri.(OIN)
http://kompas.com/utama/news/0403/02/015434.htm
Baku Tembak Masih Terus Berlangsung di Aceh
Jakarta, Selasa
Baku tembak antara pasukan TNI dengan anggota Gerakan Aceh Merdeka (GAM)
masih terus berlangsung di sejumlah kabupaten di Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam (NAD) sepanjang Minggu (29/2), yang mengakibatkan enam orang
pemberontak tewas.
Komandan Satgas Info Komando Operasi (Koops) TNI di NAD, Letkol CAJ Asep
Sapari kepada wartawan di Lhokseumawe, Senin (1/3), menyatakan, dalam kontak
tembak tersebut pasukan TNI juga berhasil menyita senjata dan peralatan
tempur, berupa dua pucuk AK-47, sepucuk M-16, sepucuk AK-56, dan sepucuk
pistol, serta 927 butir amunisi.
Di Aceh Utara, pasukan Marinir saat melakukan patroli terjadi kontak tembak
dengan 12 anggota GAM di Kampung Risah Tengah, Kecamatan Sawang, yang
mengakibatkan lima pemberontak tewas, yakni Muzakir alias Mukhtar (28),
Damri bin Husen (28), Usmanbin Husen (27), Musnadi (17) dan Saiful bin Ramli
(25).
Selain itu, disita dua pucuk AK-47, sepucuk M-16 A1, sepucuk AK-56, 484
butir amunisi M-16 A1, 440 butir AK-47, tiga magazen AK-47 dan satu magazen
M-16 A1.
Kelima jenazah pemberontak tersebut diserahkan kepada Keuchik (kepala desa)
setempat untuk dimakamkan, sedangkan barang bukti diamankan di Kotis BTP
Marinir, kata Asep.
Di Kabupaten Pidie, anggota TNI Tim-1 Kl-C Yonif 725/WRG saat melaksanakan
patroli terjadi kontak tembak dengan dua anggota gerakan separatis di
Kecamatan Glumpang. TNI hanya berhasil menyita satu granat tangan.
Di Aceh Utara, anggota TNI Kl-II Den Paskhas saat melaksanakan patroli
terjadi kontak tembak dengan lima anggota GAM di Desa Tengoh, Kecamatan
Sawang, namun tidak ada korban dari kedua pihak.
Di Kabupaten Bireun, tim gabungan Yonif 301/PKS dan Sattis Bireun saat
melaksanakan pengepungan terjadi kontak tembak dengan empat anggota GAM di
Kampung Abeuk, Kecamatan Jeumpa, akibatnya seorang pemberontak atas nama
Komaeni (35) yang menjabat Komandan Operasi Sagoe Blang Badeh, tewas dan
dua anggota lainnya ditangkap, yakni Ibrahim (40) dan Nurdin Ismail (59).
Selain itu, disita sepucuk pistol colt, tiga butir amunisi, dan sarung
pistol. Sementara jenazah korban diserahkan Keuchik setempat dan dua orang
lainnya diamankan ke Pos Satgas POM Bireun untuk pemeriksaan.
Selanjutnya, di Aceh Timur, pasukan TNI tim-8 Kl-3 Yon Parako-2 saat
melaksanakan patroli terjadi kontak tembak dengan 20 anggota GAM di Kampung
Tani, Kecamatan Rantau Peureulak. Pada insiden tersebut pasukan TNI hanya
berhasil menyita satu bundel dokumen GAM dan album foto.
Sementara itu, pasukan TNI Tim-1 Kl-A Yonif 142/KJ melakukan penyergapan di
salah satu rumah di Desa Krueng Batee, Kecamatan Kuala, Kabupaten Nagan Raya
dan berhasil menangkap seorang anggota GAM atas nama Zulfahmi (27), kata
Asep Sapari. (Ant/mbk)
SUARA PEMBARUAN DAILY
Panglima TNI Persilakan Pemantau Asing di Aceh
BANDA ACEH - Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto menyatakan, TNI sama
sekali tidak keberatan jika lembaga asing datang ke Provinsi Nanggroe Aceh
Darussalam (NAD) untuk memantau Pemilu 2004.
"Saya persilakan mereka datang ke Aceh asal pemantau tersebut dapat mematuhi
semua ketentuan yang telah ditetapkan pemerintah," ucapnya kepada wartawan,
Sabtu lalu, seusai mengikuti apel perlindungan masyarakat di Lapangan Blang
Padang, Banda Aceh.
Menurut dia, kesempatan bagi para pemantau asing itu mengamati jalannya
pemilu di tengah kondisi darurat militer semata-mata untuk membuktikan bahwa
tidak perlua ada keraguan pemilu di NAD berjalan demokratis.
"Keraguan itu akan kita buktikan dalam pemilu tahun 2004 mendatang. Meskipun
Aceh dalam darurat militer kita bisa melaksanakan pemilu secara demokratis,"
tegasnya.
Panglima TNI berpesan kepada para pemantau asing yang datang ke Aceh agar
dapat mematuhi peraturan agar mereka tidak menjadi beban pemerintah di
kemudian hari, terutama dalam menggunakan kebebasan yang diberikan jangan
sampai mereka diculik dan disandera pemberontak GAM.
Meskipun begitu, lanjutnya, militer tetap memberikan kebebasan
seluas-luasnya kepada mereka untuk melihat, tanpa harus melupakan
keselamatan para pemantau asing.
Sementata Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Nazaruddin Syamsuddin yang ikut
mendampingi Panglima TNI mengingatkan agar para pemantau asing tidak
beraktivitas di luar tugas tujuan kedatangannya ke sana.
"Pemantau asing yang ke Aceh tidak lagi berkoordinasi dengan KPU sebab
mereka sebelumnya telah mendapat akreditasi dari KPU, maka dengan sendirinya
mereka sudah boleh melakukan kegiatan pemantauan secara langsung," katanya.
Para pemantau asing yang telah mengantongi akreditasi yakni lembaga dari Uni
Eropa, Amerika Serikat, Jepang dan Rusia.
Endriartono menambahkan, untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya
gangguan terhadap Pemilu di Aceh., TNI akan berusaha memberikan pengamanan
maksimal kepada masyarakat sehingga tidak merasa takut terhadap intimidasi
ataupun teror dari GAM.
"TNI/Polri akan memberi perhatian, terutama di daerah-daerah hitam agar
semua warga dapat mengikuti pemilu," ujarnya.
Untuk pengamanan pemilu di NAD seluruh personil TNI/Polri yang ada di sana
akan dikosentrasikan pada pengamanan Pemilu. Kini ada 35.000 personel TNI
serta 13.000 anggota Polri, termasuk 10 batalyon pasukan Raiders yang
disiapkan untuk menghancurkan basis-basis GAM. (147)
http://www.suarapembaruan.com/News/2004/03/01/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY
Letda Ujang yang Ditembak GAM Dievakuasi ke Jakarta
PEKANBARU - Letda Ujang Zakaria Mansyah dari TNI Angkatan Darat yang luka
serius di bagian dada kiri saat terjadi baku tembak dengan GAM di Pangkalan
Kerinci, Kabupaten Pelalawan, Riau, masih dalam perawatan intensif. Kondisi
perwira pertama itu berangsur-angsur pulih meskipun masih mengeluarkan
darah.
Menurut Kepala Seksi Penerangan Korem 031/Wirabima Kapten M Manik, Senin
(1/3) pagi, Letda Ujang telah dievakuasi ke Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat
Gatot Soebroto, Jakarta.
"Tubuhnya masih mengeluarkan darah, meskipun sudah bisa berkomunikasi,"
tutur Manik.
Baku tembak antara GAM dengan anggota TNI terjadi Jumat lalu sekitar pukul
22.10 WIB di Pangkalan Kerinci. Dalam peristiwa tersebut, dua anggota GAM,
Supardi dan Irawanto tewas ditembak tentara. Dari tangan mereka berhasil
disita satu pucuk senjata AK-47, dua magazin berisi 51 peluru, sejumlah
proyektil, granat yang masih aktif dan sebuah telepon selular. Sementara di
pihak TNI dua anggotanya terluka dalam baku tembak ter-sebut dan masih
berada dalam perawatan medis.
Komandan Korem 031/Wirabima Kolonel Karseno kepada Pembaruan, Sabtu lalu,
mengungkapkan, Riau menjadi tempat pelarian anggota GAM karena tempatnya
berada di jalur lintas timur Sumatera. Selain itu, Riau juga sangat
strategis karena mudah dijangkau.
Menurut Karseno, ada empat daerah rawan yang menjadi tempat persembunyian
GAM, yaitu Pangkalan Kerinci, Batam, Dumai, dan Duri. Anggota GAM sering
merampok dan aksi kriminal lainnya terhadap masyarakat. (Mul/M-7)
http://www.suarapembaruan.com/News/2004/03/01/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY
More information about the Marinir
mailing list