[Marinir] Fw: Operasi Linud Terbesar di Dili
Yap Hong Gie
ouwehoer at centrin.net.id
Tue Aug 23 19:26:25 CEST 2005
----- Original Message -----
From: Wilson Kusumo
To: 'Yap Hong Gie'
Sent: Tuesday, August 23, 2005 10:45 AM
Subject: Operasi Linud Terbesar di Dili
http://www.angkasa-online.com/09/05/militer/militer3.htm
Operasi Linud Terbesar di Dili
Hanya sekitar tujuh jam, Minggu 7 Desember 1975, Kota Dili dikuasai lewat
operasi lintas udara (Linud) terbesar dalam sejarah ABRI.
Grup-1 Kopassandha dan Brigade-18/Linud Kostrad yang sebagian besar dari
Batalion-502/Raiders Jawa Timur itu, diterjunkan dari sembilan pesawat
angkut C-130B Hercules TNI AU.
Menjelang jam 05.00 WITA, BTP-5 (Batalion Tim Pendarat)/Infanteri Marinir,
mengendap-endap di pantai Kampung Alor.
Dengan dukungan tembakan kanon kapal perang TNI AL, BTP-5 mengawali
rencana besar operasi perebutan Kota Dili, 7 Desember 1975.
Operasi ini merupakan kelanjutan "Operasi Komodo" yang digelar Bakin awal
1975, untuk mengantisipasi makin keruhnya peta politik di Timor Loro Sae
(Timor Negeri Matahari Terbit).
Euphoria politik yang berkepanjangan ini, memaksa Indonesia meningkatkan
operasi menjadi operasi Sandhi Yudha (combat inteligence) terbatas dengan
sandi "Operasi Flamboyan". Operasi yang dipimpin Kolonel Dading Kalbuadi
dengan inti pasukan pemukul operasi Grup-1 Para Komando/Kopassandha yang
menempatkan Detasemen Tempur-2 (Denpur) di perbatasan sejak Oktober
1975 inilah, yang kemudian berubah ujud menjadi "Operasi Seroja".
Perebutan Dili yang didahului operasi ampibi ini, diputuskan
Menhankam/Pangab Jenderal TNI M Panggabean, 4 Desember di Kupang.
Operasinya sendiri dilakukan melalui pertimbangan dan analisa lapangan
setelah melihat pergerakan pasukan Fretilin. Bukan sepihak, ketegasan sikap
Indonesia juga didasari keinginan rakyat Timor Portugal berintegrasi dengan
Indonesia. Sikap yang diwakili empat partai Apodeti (Associacao Popular
Democratica de Timor), UDT (Uniao Democratica de Timorense), KOTA
(Klibur Oan Timor Aswain), dan Trabalista itu dikenal dengan Deklarasi
Balibo, 30 Nopember 1975.
Sikap yang sekaligus menandingi deklarasi berdirinya Republik Demokrasi
Timor Timur secara sepihak oleh partai Fretilin (Fronte Revolucionaria de
Timor Leste Independente), dua hari sebelumnya.
Sebelum perebutan Dili, Fretilin sudah terlibat baku tembak dengan pasukan
ABRI dalam perebutan Benteng Batugade (7 Oktober).
Alasan berikutnya, meningkatnya pelanggaran perbatasan diselingi perampokkan
ternak oleh Fretilin di Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur.
Pelanggaran yang meningkat sejak Juni 1975 itu, sering tertangkap basah oleh
ABRI hingga menimbulkan tembak-menembak. Korban mulai berjatuhan.
Lebih seru lagi, sejak 1 Oktober, Komando Tugas Gabungan (Kogasgab)
Operasi Seroja mendeteksi keberadaan dua kapal perang kelas frigat AL
Portugal di sekitar Timor.
Celakanya, 7 Desember pagi, kedua kapal tersebut justru merapat di lepas
pantai Dili.
"Mereka buang jangkar lebih dekat ke pulau Atauro, karena di sana bercokol
pemerintahan pelarian Portugal dari Timor," kata Hendro Subroto, wartawan
TVRI yang meliput saat itu.
Entah kebetulan, di selat yang memisahkan pulau Atauro dan pulau Alor ini,
tiga formasi arrow Hercules satu formasi tiga pesawat akan membuat manuver
abeam (posisi pesawat 90 derajat terhadap suatu check point di sisi kiri
atau kanan pesawat).
Gunship
Menjelang berakhirnya tanggal 6 Desember 1975, di Lanud Iswahyudi, Madiun,
Jawa Timur, di luar kebiasaan, ratusan pasukan berperalatan lengkap
berseliweran. Sebagian menyandang parasut T-10 buatan Amerika, separuh lagi
senapan serbu AK-47 buatan Soviet. Di apron, sembilan pesawat angkut berat
C-130B Hercules Skadron 31, siap terbang. Beberapa air crew menyempatkan
melakukan pemeriksaan akhir sebelum mengudara.
Kesembilan pesawat ini tiba di Iswahyudi siang itu. Letkol Pnb. Suakadirul
menuturkan, perintah berangkat ke Iswahyudi diterimanya Jumat, 5 Desember,
dari Kol. Pnb. Susetyo, Komandan Satuan Tugas Udara Operasi Seroja. Isi
perintah: usai shalat Jumat, seluruh anggota Skadron 31 kembali ke tempat
masing-masing. Tidak seorangpun dibenarkan pulang. "Saya belum tahu kemana
arah perintah itu. Tapi saya bisa menduga dengan melihat perkembangan
situasi di lapangan," ingat Marsda (Pur) Suakadirul.
Dalam perintah rahasianya, Komandan Skadron 31 diminta menyiapkan 12
pesawat untuk mengangkut satu batalion paratroops.
"Jadi saya harus menyiapkan 12 set crew. Pilot, co-pilot, navigator,
engineer, radio telegrafis, load master dan pembantunya.
Jumlahnya sekitar 120 orang," katanya. Kebetulan dua pesawatnya dalam
perawatan, hanya 10 pesawat bisa disiapkan.
Dalam jajaran penerbangnya, Suakadirul sengaja menempatkan dua penerbang
senior Letkol Pnb. Siboen dan Kol.Pnb. Suhardjo.
"Sebagai panutan, lah."
Maka, esok harinya, sembilan Hercules bertolak dari Halim Perdanakusuma
menuju Iswahyudi. Tiga diantaranya mengangkut Kopassandha.
Baru di Madiun lah, sorenya, Suakadirul mendapat kejelasan bahwa akan
dilakukan operasi pen-drop-an pasukan di Dili. Untuk itu, armadanya akan
mengangkut satu batalion pasukan payung. "Satu pesawat memuat 100 orang,"
jelas Hendro, wartawan yang meliput.
Pada hari yang sama di Timor, Batalion-403/Raiders Kostrad tiba di lepas
pantai Tailaco dengan LST KRI Teluk Bone.
Sorenya, disusul BTP-5/Infantri Brigade-1/Pasrat Marinir masuk LST untuk
persiapan pendaratan ampibi di Dili jam 05.00 esok harinya.
Tanggal 6 Desember, jam 23.50, flight leader Letkol Pnb. Suakadirul, memulai
operasi dengan menerbangkan Hercules T-1308.
Berturut-turut, dipekatnya malam, kedelapan pesawat meninggalkan landasan
pacu Lanud Iswahyudi.
Pesawat bergerak ke arah Ponorogo, terus heading ke timur sambil menyusun
formasi.
Dalam penerbangan antara Ponorogo dan Denpasar, sembilan pesawat mulai
membentuk formasi arrow dengan panduan exhaust dan lampu take off pesawat.
Sifat operasi pendadakan. Formasi sembilan Hercules ini diberi sandi
Rajawali Flight. Untuk menjaga kerahasiaan, selama penerbangan diterapkan
radio silence. Komunikasi antar penerbang dilakukan menggunakan morse.
Pesawat terus naik hingga mencapai ketinggian 22.000 kaki dengan kecepatan
280 knot.
Di utara Denpasar, leader mengirim morse ke Air Traffic Control (ATC)
Bandara Ngurah Rai: Rajawali abeam Denpasar.
Lewat Denpasar, Suakadirul kontak Lanud Penfui, Kupang, untuk
menginformasikan posisi Rajawali flight pada beberapa check point ke Markas
Komando Operasi Seroja di kapal tender kapal selam KRI Ratulangi.
T-1308 yang paling lambat terbangnya, dipilih sebagai flight leader agar
pesawat lain sebagai wingman mudah menyesuaikan dalam terbang formasi.
Bertindak sebagai wingman, Letkol Pnb. Sudjiharsono (kiri) dan
Kol.Pnb.Suhardjo (kanan). Formasi arrow kedua, dua mil dibelakangnya,
diterbangkan Letkol Pnb.Siboen (leader), Letkol Pnb.O H Wello (kiri), dan
Letkol Pnb.Sukandar (kanan). Arrow ketiga dipimpin Letkol Pnb.Masulili dan
Mayor Pnb.Achlid Muchlas/Mayor Pnb.Sudiyarso (kiri) serta Mayor Pnb.
Murdowo (kanan).
Suakadirul menggambarkan, suasana begitu senyap di pesawat. Desah nafas
mereka mengeras, maklum, operasi Linud pertama di Dili dan terbesar bagi
Hercules sepanjang sejarah ABRI. Menunggu tentu membosankan.
Apalagi tujuan medan perang. Perhitungannya, penerbangan ke Dili memakan
waktu 4 jam 50 menit. Sementara tiap pesawat membawa 42.000 pound avtur
JP-4, yang cukup untuk penerbangan 10 jam 30 menit.
Garis besarnya, operasi penerjunan untuk merebut Kota Dili dari Fretilin
dilakukan dalam tiga sortie. Sortie pertama dengan sasaran Dili, akan
diterjunkan Grup-1 Kopassandha dipimpin Letkol (Inf) Soegito dan Batalion
Infantri Linud 501 di bawah komando Letkol (Inf) Matrodji. Sortie kedua,
dari Lanud Penfui, Kupang, menyusul Batalion 502 di bawah Mayor (Inf)
Warsito dengan target Komoro. Khusus Baret Merah, dalam operasi ini
dipelopori Denpur-1, disebut juga Nanggala-5, di bawah komandan Mayor
(Inf) Atang Sutisna. Sortie ketiga, direncanakan juga dari Kupang.
Letkol Soegito membagi Nanggala-5 ke dalam tiga tim. Tim-A dipimpin Mayor
Atang Sutisna, melaksanakan perebutan kantor gubernur. Tim-B dipimpin Lettu
Atang Sanjaya, merebut pelabuhan Dili. Sedang Tim-C dipimpin Lettu Luhut
Panjaitan, merebut lapangan terbang Dili. Ketiga tim disebar ke dalam empat
Hercules terdepan, dengan perhitungan jika salah satu pesawat mengalami
gangguan atau tertembak, tim bisa berharap pada pesawat berikutnya. Artinya,
operasi harus tetap jalan.
Pasukan sortie kedua dan ketiga yang akan diberangkatkan dari Kupang,
berasal dari Jakarta dan Jawa Timur. Karena terbatasnya kemampuan TNI AU
dalam mendukung angkutan udara, pengiriman pasukan ke Kupang diputuskan
menggunakan pesawat Garuda Indonesian Airways.
Garuda menjembatani pengiriman pasukan dari Halim Perdanakusuma dan
Iswahyudi menggunakan 17 F-28 dan empat F-27 Friendship.
Operasi jembatan udara ini dipimpin langsung direktur utamanya Wiweko
Supono.
Untuk mempertahankan pendadakan, tentu tidak sekadar mengandalkan
pemahaman topografi. Serangan udara juga berperan.
Perebutan Irian Barat memperoleh keunggulan di udara, karena didukung
pesawat tempur. Pesawat pembom dan angkutnya, juga mendapat close air
support.
Sebaliknya, untuk Dili, bantuan tembakan udara (BTU) justru masalah. Ini
disebabkan seluruh pesawat P-51 Mustang Skadron 3/Tempur Taktis dinyatakan
grounded, setelah kecelakaan beruntun menewaskan, diantaranya, Mayor Pnb
Sriyono. Sedangkan pesawat latih lanjut T-33 T-Bird (versi militernya
Shooting Star) dan F-86 Sabre bantuan Australia, belum dipersenjatai. Dari
tujuh bomber B-26 Invader Skadron 2/Pembom Taktis, hanya dua yang
serviceable. Penerbang pesawat peninggalan PD II inipun, hanya dua orang
yang masih berkualifikasi. Yaitu Letkol Pnb Danendra (Danlanud Penfui) dan
Mayor Pnb Soemarsono, yang ditarik kembali dari Pelita Air Service.
Pentingnya BTU sangat disadari Amerika ketika di palagan Vietnam.
Tidak heran kemudian, Jenderal USAF John P McConnel mengusulkan modifikasi
C-47 menjadi gunship untuk mendukung bantuan tembakan udara.
Dakota itu kemudian populer dengan sebutan Gooney Bird. Sebutannya pun
diganti menjadi AC-47 mulanya FC-47.
Pesawat yang dilengkapi tiga senapan mesin kaliber 7,62 mm di sisi, selama
perang Vietnam digunakan USAF sebanyak 20 pesawat di samping AC-130
Spectre Gunship.
Terinspirasi oleh kepopuleran gunship ini, dua pesawat C-47 Dakota Skadron
2/Angkut Ringan TNI AU, dibedah menjadi AC-47 gunship. Mekanik dan teknisi
Depopesbang 10 Bandung, menjejali dengan tiga senapan mesin kaliber 0,50 mm.
Untuk mengenal medan, ujicoba penembakan dilakukan di sepanjang perbatasan
Timor Portugal bulan September 1975. Jadilah dua B-26 dan dua AC-47,
direncanakan memberikan BTU dalam mendukung operasi Linud 7 Desember.
Go!
Pesawat terus bergerak dalam kesunyian. Sesekali, bunyi morse memecah
keheningan. Di timur Flores, Rajawali flight perlahan-lahan turun ke 5.000
kaki sambil menyusun formasi penerjunan. Persis di atas pulau Alor pada
ketinggian 7.000 kaki, lampu merah dekat pintu menyala dan bel berdering
pendek tiga kali sebagai tanda pasukan mulai berdiri untuk persiapan.
Waktu penerjunan menjelang lampu hijau tinggal 10 menit lagi. Anggota
Kopassandha dan Brigade-18/Linud Kostrad, mencantolkan pengait pada
ujung strop di kabel baja yang merentang di kabin.
Dengan sigap, posisi ransel, senjata, dan perlengkapan perorangan lainnya
dibenahi. Hampir tidak ada suara.
Semua membisu dalam kesibukkan masing-masing.
Abeam Atauro, pesawat sudah di 5.000 kaki. Karena radar pesawat digunakan
untuk cuaca, Suakadirul dibuat kaget ketika melongokkan kepalanya melihat
dua kapal frigat Portugis Joao Roby dan Alfonso de Albuquerque lego jangkar
di lepas pantai Atauro.
"Tidak ada informasi dua kapal frigat dilengkapi radar dan sonar, buang sauh
di Atauro," protes Suakadirul. Aneh.
Padahal, KRI Ratulangi sudah berpapasan dengan Joao Roby di perairan Timor,
23 Oktober.
Hebat lagi, sejak 1 Oktober keberadaan kapal yang memiliki 3 kanon 100 mm
ini sebenarnya sudah diketahui.
"Saya tidak mengerti soal itu," jawab Suakadirul.
Pintu kiri-kanan pesawat mulai dibuka. Kecepatan dikurangi hingga 110 knot.
"Saya bilang kita 5.000 kaki. Lampu kuning menyala, terus depressurized,"
cerita Suakadirul. Waktu tersisa menuju dropping zone (DZ) tinggal empat
menit. Perlahan, jarak horizontal antar pesawat di perpendek hingga 300 kaki
(sekitar 100 meter). Demikian pula jarak vertikal antar pesawat, hanya
selisih 50 kaki. "Saya berada pada ketinggian 900 kaki," ucap Suakadirul.
Jadi kalau dihitung hingga pesawat terakhir, ketinggiannya 1.250 kaki.
Mendekati pantai Dili, dengan referensi Tanjung Fatukama, Rajawali flight
belok kanan langsung menuju jantung kota Dili. Agar pesawat mampu terbang
pada kecepatan 110 knot, menurut Suakadirul, flap diturunkan sebesar 50
persen. Bagi Suakadirul, Dili bukan hal baru. Tahun 1970, lulusan
Chekoslowakia ini telah mondar-mandir dengan Dakota milik Zamrud rute
Denpasar, Rembiga, Sumbawa, Kupang dan Dili untuk RON (remain over night).
Sementara, navigator buka suara, "2 menit ahead."
Sembilan pesawat muncul dari balik perbukitan tanpa lindungan (escort) B-26
dan AC-47. Bel berdering panjang sekitar lima detik setelah Hercules T-1308
terbang melintas di atas sisi barat perkampungan nelayan. Jam di tangan
Suakadirul menunjukkan pukul 05.45, bertepatan perubahan lampu kuning
menjadi lampu hijau. "Kerongkongan saya mendadak kering," ujar Suakadirul.
Hanya dalam hitungan detik menjelang jam 05.45, jumping master berteriak.
"Penerjun siap?" Dilanjutkannya dengan perintah, "Sedia di pintu!"
Sekian detik kemudian, jumping master berteriak lebih keras. "Go!"
Mengambil arah 260 derajat atau hampir ke barat pada garis sejajar dengan
jalan Dr. Antonio de Carvalho di tengah Kota Dili, anggota pertama melompat
dari Hercules T-1308. Ratusan kemudian, berbaur dari Kopassandha dan
Kostrad, melompat dari tiap pesawat.
Dalam empat hitungan, parasut T-10 berwarna hijau zaitun terkembang
dikeremangan pagi di atas Dili. Karena komunikasi segitiga Fretilin,
Dili-Atauro-kapal frigat sudah terjalin rapi, penerjunan sortie pertama
kehilangan faktor pendadakan. Pasukan diberondong secara sporadis dari
bawah.
Peluru api (tracer) yang dilepas Fretilin, bagai kunang-kunang memenuhi
langit.
Pasukan Linud yang masih mengambang, balik menembak. Maka, pagi itu,
terjadilah pertempuran sengit antara pasukan Linud dan gerombolan Fretilin.
Entah digunakan pada saat D-day, beberapa bulan sebelumnya menurut Hendro,
15.000 pucuk senjata peninggalan Portugal dibagi-bagikan Fretilin untuk
mempersenjatai rakyat. Sesungguhnya juga, Fretilin telah siaga begitu
listrik dipadamkan jam 03.00 bertepatan pendaratan marinir disertai tembakan
kanon dari kapal TNI AL. Dan radar Plessey dua kapal frigat Portugal pun,
tentu tidak tidur.
Dapat dibayangkan perjuangan hidup-mati pasukan Linud. Tidak semua mendarat
dengan selamat. Ada yang kandas di atap rumah, tersangkut di pohon atau di
pagar. Yang mendarat di lapangan terbuka di tengah kota, "terpaksa" menjadi
sasaran empuk. Belum sempat berbenah, mereka langsung terlibat baku tembak
dengan Baret Coklat mantan Tropaz, serdadu Portugal. Sama sekali tidak ada
waktu untuk konsolidasi.
Tiga tim yang ditunjuk, berusaha keras menyebar memulai operasi pembebasan
kantor gubernur, pelabuhan, dan lapangan terbang.
Tembak-menembak bergemuruh di mana-mana.
Walaupun sudah mengetahui kedatangan pasukan Indonesia, Fretilin tetap
kocar-kacir. Jika mau bersabar, tentu Indonesia bisa mengambil keuntungan
dengan perencanaan matang karena Fretilin tidak pernah memprediksi Indonesia
akan menyerbu dari udara. Perkiraannya serbuan dari perbatasan.
Karena saat penerjunan pesawat dihujani tembakkan ditambah obstacle bukit
setinggi 1.500 kaki di ujung runway Dili, Rajawali flight harus belok ke
kanan arah pantai untuk terbang ke Kupang. Karena juga DZ cukup pendek dan
interval penerjunan terlalu lama waktunya cuma satu menit 79 orang dari 720
pasukan para batal terjun, termasuk komandan Tim-C Lettu Luhut Panjaitan.
Tidak hanya mengenai pasukan, tembakkan dari bawah juga menghantam empat
Hercules. Bahkan, load master T-1312 yang diterbangkan Letkol Wello, Pelda
Wardjijo, tewas diterjang peluru yang menembus badan pesawat. Pesawat
Suakadirul juga tak luput. Peluru merusak navigation compass dan auxiliary
hydraulic pump. Peluru juga menembus kaca kokpit di sisi kiri Suakadirul.
Secangkir kopi yang ditaruhnya, terlontar ke depan kokpit dan membasahi dahi
sang captain. Crew sempat menduga captain-nya tertembak. Apalagi setelah
melihat cairan kental meleleh di kepalanya.
"Ternyata cuma kopi."
Dua pesawat Hercules lainnya yang diterbangi Letkol Pnb. Sudji Harsono dan
Kol.Pnb. Sukandar, turut tertembak.
Kesembilan pesawat plus 79 anggota yang batal terjun, meneruskan penerbangan
ke Kupang selama 48 menit.
Dari Kupang, setelah memeriksa kondisi pesawat yang tertembak, sortie kedua
dilanjutkan menggunakan lima Hercules.
Komoro ditentukan sebagai DZ. Karena empat pesawat tidak laik terbang,
setengah kekuatan Batalion 502, tidak terangkut. Jam 07.45, sortie kedua
diterjunkan di Komoro dengan aman karena Fretilin telah dipukul mundur ke
perbukitan di selatan Dili.
Suakadirul mengganti pesawatnya dengan T-1305.
Salah tembak
Sortie kedua berhamburan ke luar pesawat. Entah siapa yang memerintahkan,
saat melayang di udara, 400 lebih Baret Hijau menghujani dengan tembakan dan
granat iring-iringan pasukan yang sedang bergerak menuju lapangan terbang
Dili. Seperti sortie pertama, tembak-menembak kembali terulang.
Saling membidik terus berlangsung tanpa kedua pihak menyadari, mereka adalah
teman.
Di bawah Marinir yang habis memukul mundur Fretilin di sepanjang garis
pantai, yang melayang, Kostrad.
Untunglah Marinir cepat berinisiatif mengakhiri tembak-menembak (friendly
fire), dengan mengibarkan "Merah Putih".
Untung lagi, tidak ada korban.
Suakadirul mengetahui kesalahpahaman itu beberapa saat kemudian.
Setibanya di Penfui, Rajawali flight mempersiapkan sortie ketiga penerjunan
pasukan Kostrad yang masih tersisa ke pinggiran barat Kota Dili.
Takut kejadian tragis sortie kedua terulang kembali, Mako Operasi Seroja
memutuskan membatalkan sortie ketiga.
Setelah berjuang dari jam 06.00 hingga tengah hari, Dili akhirnya
dibebaskan. Fretilin mundur ke perbukitan selatan kota Dili.
Pemimpinnya melarikan diri ke Aileu. Lobato dan Ramos Horta hengkang ke
Australia. Hanya mantan Tropaz yang berani bertahan.
Petangnya, 7 Desember, pemerintah mengeluarkan pernyataan bahwa hari itu,
pukul 12.30, Dili telah dibebaskan oleh perlawanan rakyat yang dipelopori
Apodeti, UDT, KOTA dan Trabalista dibantu para sukarelawan Indonesia.
Besoknya dalam evaluasi, korban dihitung. 35 orang Baret Hijau yang hampir
seluruhnya dari Batalion-502/Raiders, termasuk dua mayor dan dua kapten,
tewas. Dari Baret Merah, 16 orang tewas tertembak. Tiga lagi tenggelam di
laut. Tiga orang yang semula hilang, mayatnya ditemukan beberapa bulan
kemudian. Komandan Tim-B, Lettu Atang Sanjaya, terkena pecahan munisi
AK-47-nya yang tertembak. Malang bagi rekannya, Mayor Atang Sutisna,
tewas tertembak. "Ditembak sniper," ungkap Hendro.
Di pihak Fretilin, korban lebih banyak lagi. Hendro Subroto mencatat dalam
tulisannya yang dimuat majalah Airforces, edisi Januari 1999 di bawah judul
"Drop Zone Dili", 122 tewas dan 365 orang tertawan. Operasi terus bergulir.
Tiga hari kemudian, giliran Baucau dibebaskan.(ben)
TERLALU MEREMEHKAN
"Kita terlalu meremehkan Fretilin, hingga merasa Rajawali flight tidak perlu
di-escort," kata Hendro Subroto. Menurut Hendro, memang Fretilin hanya
memiliki senapan mesin ringan MG-34 7,92 mm Spandow. Kalau di-escort,
tentu akan lain ceritanya. Korban bisa ditekan.
Belum lagi keberadaan dua kapal frigat. "Mestinya intelijen beri informasi.
Masa Pak Suakadirul terbang di Atauro, tidak tahu ada frigat di bawah,"
kritik Hendro.
Salah tembak antara Marinir dan Kostrad, juga disinyalir Hendro buruknya
koordinasi.
Hendro menduga lagi, mungkin perwira operasi menganggap apa yang terjadi
di Padang dan Pekanbaru, akan terulang.
Waktu itu, begitu pasukan payung diterjunkan, pemberontak PRRI lari
terbirit-birit. "Mereka kira Fretilin juga akan lari.
Nyatanya, malah nembakki," keluh Hendro. Sedang Belanda waktu "menyikat"
Maguwo Desember 1948, menerjunkan dulu puluhan boneka untuk mengetahui
posisi kekuatan penangkis serangan udara AURI. P-51 Mustang dan P-40
Kittyhawk-nya pun, men-straffing Maguwo sebelum pasukan payung diterjunkan.
Mestinya, banyak yang bisa dijadikan referensi.(ben)
More information about the Marinir
mailing list