[Marinir] [Kompas] 280 Kilometer Jalan di NAD Rusak Berat

YapHongGie ouwehoer at centrin.net.id
Thu Jan 6 14:04:20 CET 2005


http://www.kompas.com/kompas-cetak/0501/06/Geliat/1483245.htm

Geliat NAD & SUMUT
Kamis, 06 Januari 2005
280 Kilometer Jalan di NAD Rusak Berat

Jakarta, Kompas - Sedikitnya 280 kilometer jalan raya dan 2,8 kilometer
jembatan di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam rusak berat. Jumlah tersebut
diperkirakan masih terus bertambah sebab pendataan kerusakan infrastruktur
jalan raya akibat gempa dan gelombang pasang yang dilakukan tim khusus dari
Departemen Pekerjaan Umum ke Provinsi NAD dan Sumatera Utara belum selesai.

Demikian Koordinator Pos Komando Gempa Aceh dan Sumatera Utara pada
Departemen Pekerjaan Umum (DPU) Adhi Sarwoko di Jakarta, Rabu (5/1). Dari
data sementara itu, kerusakan terparah terjadi pada rute Banda
Aceh-Meulaboh, yakni jalan raya sepanjang 223,5 kilometer, dan 10 unit
jembatan dengan panjang total 2,5 kilometer.

Setelah itu, disusul jalan rute Banda Aceh-Krueng Raya sekitar 26,5
kilometer dan lima jembatan. Kerusakan juga terjadi pada jalan lintas timur
Sumatera dengan panjang lebih kurang 30 kilometer. Pada ruas ini 4 kilometer
di antaranya terjadi retak memanjang.
Sarwoko juga mengaku hingga kini lalu lintas jalan raya rute Banda
Aceh-Meulaboh masih putus total. Kendati demikian, hubungan darat kedua kota
itu masih dapat dilakukan melalui jalur alternatif, yakni Ladia Galaska. Di
mana dari Banda Aceh terlebih dahulu melewati Bireun-Takengon-Betong-Ateuh,
lalu masuk ke Meulaboh. "Jalan alternatif ini telah disampaikan kepada
berbagai pihak terkait. Kami berharap segera dimanfaatkan untuk keperluan
suplai bahan makanan, dan lain sebagainya," papar Sarwoko.

Sebagai pengganti jalan Banda Aceh-Meulaboh untuk jangka panjang, maka ruas
Beureunen-Keumala-Tangse Geumpang-Tutut-Meulaboh, yang rusak berat sepanjang
15 kilometer, tengah dikerjakan kontraktor lokal. Diperkirakan selesai dalam
sebulan.
Untuk membersihkan puing, menurut Sarwoko, kini di Banda Aceh dan wilayah
timur provinsi itu telah dioperasikan 69 unit dump truck, 35 unit
ekskavator, 4 unit buldoser, dan 8 unit loader. Untuk Banda Aceh, Bireun,
Lhok Seumawe, dan Idi Rayeuk sedang dimobilisasi 56 unit dump truck, 19 unit
ekskavator, 5 unit buldoser, dan satu unit loader.

Di Meulaboh dan Tapak Tuan sedang dioperasikan 17 unit dump truck, 7 unit
ekskavator, 3 unit buldoser, dan 2 unit loader. Untuk kedua daerah itu telah
dikirim lagi 25 unit dump truck dan 14 unit ekskavator.
Pada 2 Januari telah diberangkatkan dari Medan ke Banda Aceh 8 unit mobil
tangki air, 136 WC knock down, 44 unit hidrat umum, dua ton kaporit, dan
lima ton tawas. Untuk Meulaboh dikirim pula satu unit mobil tangki air dan 8
unit hidrat umum, sementara ke Lhok Seumawe dikirim delapan unit hidrat
umum. Namun, barang yang dikirim tersebut hingga kemarin belum tiba di
tujuan.
Saat ini, kata Sarwoko, sedang disiapkan 25 unit mobil tangki air, 250 unit
tangki hidrat umum, serta 400 unit WC knock down. Dalam waktu dekat
barang-barang itu dikirim ke Banda Aceh, Meulaboh, serta Lhok Seumawe.

Kerja sama semua unsur
Secara terpisah, Komandan Korps Marinir (Dankormar) Mayor Jenderal (Mar)
Safsen Noerdin menyatakan, hanya dengan kerja sama dengan semua unsur yang
ada, maka pemulihan kondisi NAD dan Sumatera Utara pascagempa dan tsunami
akan lebih cepat teratasi.
Dankormar seusai penyerahan bantuan alat berat dari United Tractors Tbk
untuk penanggulangan bencana nasional di Aceh dan Sumatera Utara, Rabu,
mengatakan, jajaran TNI sudah langsung ikut menyusuri laut pesisir untuk
membantu menyelamatkan penduduk Banda Aceh yang terseret tsunami, empat jam
setelah kejadian tersebut.

United Tractors Group pada hari Rabu itu menyerahkan bantuan sebanyak 15
unit alat berat dan meminjamkan 11 unit alat berat beserta 30 orang
operator, dan 15 orang mekanik. Nilai keseluruhan dari bantuan tersebut
mencapai Rp 15,2 miliar yang merupakan kontribusi dari total bantuan
kelompok usaha Astra International sebesar Rp 38 miliar.

Perikanan rugi
Di samping itu, kerugian sektor perikanan dan kelautan dalam bencana gempa
dan gelombang tsunami sekitar Rp 10 triliun. Kerugian material sebesar itu
sebab permukiman nelayan beserta fasilitas rumah tangga, pelabuhan
perikanan, kapal motor, perahu, gedung sekolah perikanan beserta semua
fasilitas pendukungnya, serta usaha budidaya dan sejenisnya hancur total.
"Saat ini tidak satu pun aset kami yang dalam kondisi baik," kata Menteri
Kelautan dan Perikanan Freddy Numberi dalam jumpa pers di tempat terpisah.
(JAN/NIC/AST)




More information about the Marinir mailing list