[Marinir] [nasional] Re: "Indonesia Menangis - Tossi Menangis" [Tsunami menggusur kejahatan HAM Tim-Tim'99

YapHongGie ouwehoer at centrin.net.id
Wed Jan 12 16:58:37 CET 2005


Tidak menyangka Bung Tossi meresponds begitu instant, walaupun dilakukannya
dengan "ogah", tetapi (alasan klasik) atas anjuran dari kawan-kawan Bung
Tossi toch memberi klarifikasi panjang lebar atas dagelan absurd kosong saya
ini.

Anyway, keberanian Bung Tossi untuk menanggapi patut mendapatkan acungkan
jempol, sekaligus saya ucapkan terima kasih pada kawan-kawan beliau yang
berhasil memberi dorongan mental kepada beliau.

Sungguh disayangkan kalau Bung Tossi menganggap saya menembak pribadinya,
ini menandakan bahwa beliau tidak mengalami proses pendewasaan sejak kita
bergaul di PPI Amsterdam, tahun '70an.
Lagi pula, di Belanda kita dididik untuk mengatakan apa adanya, sehingga
tidak pernah mempermasalahkan apakah itu bersifat pribadi, serangan terhadap
aliran atau serangan apapun, oleh karena itu saya berharap Anda jangan
terlalu cengeng lah.

Jelas-jelas saya menentang dan mengkritisi aksi kegiatannya, yang selama 30
tahun lebih tidak henti-hentinya mendiskreditkan pemerintah Indonesia di LN,
terlepas pemerintah manapun yang berkuasa di republik ini.
Bahwasanya saya tidak pernah mau masuk kedalam masalah substansi, adalah
karena prinsip dan titik tolak kita sudah saling berbeda, khususnya Tossi
yang mengambil sisi di pihak pembrontak-separatis; kalau dulu mengambil sisi
kalangan Fretilin/Falantil (milisi), sekarang di pihak GAM, besok dari Free
Papua Movement (TPN/OPM).


Kadang saya bingung, apakah Bung Tossi ini seorang jurnalis profesional
ataukah seorang petualang politik yang berpihak pada pembrontak, yang jeli
memanfaatkan 'cover' dan jaringan media Radio Nederland?
Seorang jurnalis profesional, seharus melakukan coverage both-sides, boleh
saja secara pribadi Tossi bersimpati kaum pembrontak, tetapi secara
profesional peliputan berita harus diambil juga dari sisi TNI dan Pemerintah
RI.
Publik berhak mendapatkan berita yang jujur dan objektif, untuk selanjutan
dapat mengambil kesimpulan dan membuat opininya sendiri.
Tetapi sayang, pemberitaan Tossi lebih banyak merupakan laporan sepihak,
ditambah kesimpulan dan opini pribadi, dengan komen-komen ngawur yang
bersifat subjektif dan sarat dengan pesan sponsor.

(Kutipan:)
"Hati nuraninya tak berubah, meski selaku presiden dia harus ber-retorika
berbeda, karena hal itu demi keselamatan bangsanya".

Kali ini Bung Tossi benar sebagian, Presiden Xanana Gusmao bukannya
melupakan masa lalu, dia memaafkan, tapi tidak melupakan!
Dengan koreksi ini saya tarik kembali statement lalu saya yang salah.
Beliau lebih memilih untuk mementingkan masa depan Republik Timor Leste
untuk bisa berinteraksi secara damai dengan sesama negara tetangga, dari
pada memelihara sakit hati pribadi.

Namun, sisipan statement berikutnya, ngawur!
Walaupun mengaku mengenal baik Presiden "Bung" Xanana dan sudah berkali-kali
mewawancarai beliau, ternyata Tossi tidak bisa membedakan mana ucapan dari
hati yang tulus dan mana yang bersifat retorika atau bahasa politik.
Keselamatan bangsanya apa?
Memangnya RI sudah gila, tidak mau menerima Kemerdekaan Republik
Timor Leste?
Atau Bung Tossi berpendapat, RI ingin menduduki Timor Loro Sae kembali?
Seandainya paranoia Tossi ini benar dan mendasar, memangnya Australia, AS,
UN dan negara-negara Barat, akan berpangku tangan menonton RI menyerang
masuk Timor Leste?
Baginilah terjadinya distorsi journalistik, dimana pemberitaan profesional
dipengaruhi emosi dan kesimpulan pribadi, yang menjadi dis-informasi dan
mis-opinion, semua didasari oleh sakit hati politik Bung Tossi semata.

(Kutipan:)
"... Anda mengaku patriot Indonesia. Okelah, itu masa lalu, dan Anda tak
sendiri, banyak org Indonesia lain, sayap kanan mau pun kiri, yang sama
hipokritnya dengan Anda".

Pertama, saya tidak pernah mengaku seorang patriot, silahkan tunjukan kepada
publik tulisan saya yang menyatakan itu!
Kedua, adalah suatu hal biasa kalau berhadapan dengan kalangan Barisan Sakit
Hati (BSH), yang kerjanya "melacur" dan menjual tanah airnya, mereka selalu
menganggap pendapat orang yang ingin meluruskan kisah horor dan isu iblis
sebagai hipokrit
No big deal ....

Sekali lagi saya pertegas, tidak ada rasa sentiman pribadi terhadap person
Tossi, saya hanya menyayangkan kapasitas beliau sebagai rebellious yang
senantiasa bersikap "in harmony with conflik", especially towards Indonesia.

Coba simak pesan sponsor dipenghujung tulisan beliau, (kutipan) :
"Semoga operasi bantuan dunia ini tidak disabot oleh "tsunami-tsunami di
daratan" yang berpakaian sipil, loreng atau pun gerilya ..."

Seolah-olah yang korupsi, menjarah dan menyabot hanya hanya monopoli TNI
saja, sedangkan kalangan warga sipil, adalah malaikat semua.
Mungkin dibenak Bung Tossi, Abdullah Puteh, oknum Bupati, oknum politisi
dan LSM, serta Direksi Bank Global, adalah tentara yang menyaru sebagai
sipil.

Rupanya sudah khronis sekali kondisi kawan kita satu ini, sudah paranoid,
TNI phobi pula ...

Wassalam, yhg.
-----------------


From:  "tossi20" <tossi20 at y...>
Date:  Tue Jan 11, 2005  9:43 pm ; Msg # 6916

Subject:  Re: "Indonesia Menangis - Tossi Menangis" [Tsunami menggusur
kejahatan HAM Tim-Tim'99

Sdr. Yap Hong Gie ini lucu sekaligus absurd total.

1. Semula ogah saya menanggapi, tapi beberapa kawan menganjurkan
tanggapi saja dengan harapan dia bisa "sembuh" dari dagelan
keabsurdannnya.

Ogah, karena saya bukan org yang 10 jam sehari baca mailinglist dan
tak suka balas membalas yang kosong belaka.

Tapi, ogah dan absurd itu terutama karena Hong Gie hobbynya bermain
tuduh sembarangan alias tirade (aantijgingen) dan tak pernah
memasuki substansi masalah yang saya tulis, melainkan cuma menembak
orang dan pribadi. Hong Gie sama sekali tidak memasuki masalah
kejahatan TNI di TimTim yang saya tulis itu.

Take the message, don't shoot the messenger! Tapi, mungkin,
percumahlah saran ini sebab dia sesuai nama email accountnya Hong
Gie hobbynya "ouwehoeren", istilah Belanda untuk pelacur tua yang
nggak laku jadi kerjaannya cuma membual sepanjang malam.

2. Betapa pun, Hong Gie benar, sekaligus salah.

Dia benar bahwa Indonesia menangis, saya juga menangis. Dia salah
karena saya menangis bukan karena "kehilangan para sponsor, atas
obsesi perlawanannya melawan Republik Indonesia" atau semacam itu.
Yang terakhir inilah yang absurd.

Saya menangis karena di Aceh banyak teman saya, seprofesi, aktivis
dll, entah pegawai, dosen atau GAM, nggak peduli saya, tapi pokoknya
mereka bersama 100an ribu rekan sebangsa digulung ke laut. Saya
menangis karena sekali lagi Aceh dirundung malang, dihajar bencana
alam setelah bertahun tahun dihajar bencana politik. Keduanya adalah
bencana kemanusiaan.

Ada satu cerita: seorang Aceh bilang sama saya, kok "TNI"
dan "tsunami" itu dua kata yang sepintas hampir sama bunyinya yah?

Saya paham pesan yang teman Aceh ini ingin sampaikan namun tak
terucapkan: yaitu bahwa ternyata ada kekuatan yang lebih besar yang
bisa makan nyawa orang secara lebih dasyhat dan lebih besar
jumlahnya ketimbang TNI. Tapi saya jawab, ulah TNI dan perang yang
telah menelan 10an ribu jiwa dlm 10 tahun belakangan itu beda dan
tak sebanding dengan tsunami yang menelan 10 kali lipat dalam 25
menit oleh kekuatan yang kita tak berdaya untuk menghadapinya. Tak
boleh dibandingkan dong, lagi pula GAM tak kalah jahat, dan seperti
saya pernah tulis di The Jakarta Post, GAM membakar ratusan sekolah
dan saya menyaksikan banyak yang lain pula.

Singkatnya: cerita di atas sekedar untuk mengilustrasikan nasib
nestapa Aceh selama sekian dasawarsa yang sebagian notabene berkat
ulah rekan rekan sebangsa. Dan proses semacam itu berlanjut terus
karena banyak rekan sebangsa yang lain mendiamkan, membiarkan terus
saja, termasuk mijnheer Yap Hong Gie.

Jadi, Anda betul, Hong Gie, Indonesia menangis, saya menangis.

2. Hong Gie mengaku "mendalami sosok Presiden Xanana Gusmao
yang ...memilih untuk melupakan masa lalu".

Kau salah, Hong Gie. Saya kenal baik bung Xanana qua profesi, saya
mewawancarainya di Cipinang 1994, Salemba 1998, di kedubes Inggris
1999, menjelang kemerdekaan negerinya 2002,dll dan sewaktu sudah
presiden di Brussel 2004.

Untuk Anda ketahui, Hong Gie, Xanana TIDAK "memilih melupakan masa
lalu". Barangkali dia memaafkan, tapi tidak melupakan. Itu dua hal
yang berbeda. Dan itu layaknya seorang pemimpin bangsa. Untuk Anda
ketahui pula, saya yakin, Xanana tidak berubah sebelum dan sesudah
Timor Timur yang jajahan itu, menjadi Timor Leste yang merdeka. Hati
nuraninya tak berubah, meski selaku presiden dia harus ber-retorika
berbeda, karena hal itu demi keselamatan bangsanya.

Mengapa saya menulis tentang Timor Timur 1999? Saya kira, setiap
orang Indonesia yang hormat atas perjuangan kemerdekaan Indonesia,
harus pula hormat pada perjuangan kemerdekaan Timor Loro Sae.
Keduanya adalah perjuangan kemanusiaan dan kebangsaan.

Tapi okelah, kalau Anda dulu mencemooh saya berdemo untuk Timor,
tapi Anda mengaku patriot Indonesia. Okelah, itu masa lalu, dan Anda
tak sendiri, banyak org Indonesia lain, sayap kanan mau pun kiri,
yang sama hipokritnya dengan Anda.

Satu hal lagi perlu saya jernihkan: artikel saya tsb saya tulis
sebelum (sic!) malapetaka tsunami terjadi, jadi bukan maksud saya
mengalihkan perhatian dari musibah tsunami di Aceh ke Timor Leste.
Dan The Jakarta Post baru memuatnya tgl. 10 Jan. 2005 yang lalu.

Sudahlah Hong Gie, entah kenapa Anda sentimen terus, tapi saya sih
memaafkan Anda, dan mari kita memusatkan pikiran dan kepedulian pada
ihwal yang jauh lebih penting, yaitu membantu para korban musibah
tsunami yang membuat Indonesia dan kita menangis. Semoga operasi
bantuan dunia ini tidak disabot oleh "tsunami-tsunami di daratan"
yang berpakaian sipil, loreng atau pun gerilya ...

Salam, Tossi AS.




More information about the Marinir mailing list