[Marinir] [radartarakan] GAM: RI Jangan Main Tekan
YapHongGie
ouwehoer at centrin.net.id
Fri Jan 28 16:14:51 CET 2005
http://www.radartarakan.co.id/berita/index.asp?Berita=UTAMA&id=46364
:: BERITA UTAMA ::
Rabu, 26 Januari 2005
GAM: RI Jangan Main Tekan
Siap Berunding untuk Perdamaian
BANDA ACEH-Ajakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk
menyelesaikan konflik Aceh secara damai tidak bertepuk sebelah tangan.
Pimpinan GAM dilapangan yang hingga kini masih mengangkat senjata
menyambut baik tawaran itu. Hal ini disampaikan juru bicara militer GAM
Pusat yang juga Panglima Militer GAM Wilayah Pasee Sofyan Daud.
Dalam wawancara telepon dengan koran ini kemarin, dia mengatakan,
penyelesaian konflik Aceh secara damai bukan hanya menjadi kehendak sepihak
GAM, namun juga seluruh rakyat Aceh. ''Makanya, jika ingin berdamai,
sebenarnya tak perlu menunggu momentum tsunami,'' katanya.
GAM juga menginginkan, jika memang ingin benar-benar berunding, sebaiknya
Indonesia tidak lebih dulu mengajukan syarat. Semuanya harus dibicarakan
dalam perundingan. Dia mengingatkan pengalaman pahit kegagalan ''jeda
kemanusiaan'' atau COHA (Cessation of Hostility Agreement) sebelumnya.
''Anda tahu sendiri, saat COHA dulu pemerintah Indonesia sempat tak pede
dengan jalan penyelesaian damai dan akhirnya memilih darurat militer yang
diperpanjang menjadi darurat sipil hingga sekarang,'' ujarnya. ''Tapi,
bagaimanapun kami siap berunding,'' sambungnya.
RI dan GAM memang akan bertemu lagi di Helsinki, Finlandia. Waktunya
disebut-sebut Kamis ini, meskipun pihak Indonesia tidak mau memberikan
konfirmasi.
Menjelang perundingan ini, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menawarkan
amnesti bagi anggota GAM yang meletakkan senjata.
Tetapi, dia tak mengesampingkan perintah kepada TNI untuk terus menumpas
gerakan kemerdekaan Aceh itu (koran ini, kemarin).
Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto sendiri sebelumnya menyatakan
siap menghentikan serangan ke markas GAM menjelang perundingan itu.
Terkait berbagai pernyataan pejabat Indonesia itu, Sofyan menggarisbawahi
komentar dari TNI. Misalnya, komentar Jenderal Endriartono yang kerap
mengatakan bahwa perundingan itu tetap harus dalam kerangka Negara
Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan akan memberikan otonomi luas
bagi Aceh.
''Maksud kami, jangan main tekan dulu. Semuanya biar diputuskan dalam
perundingan. Kalau belum-belum bicara syarat begitu, sebenarnya kami malas
melayani,'' sambungnya.
Sofyan melanjutkan, sejak awal terbentuknya GAM pada 4 Desember 1976 lalu,
tujuan perjuangan mereka hanya satu, yakni merdeka tanpa syarat.
GAM yakin bahwa sejak awal Aceh bukan menjadi bagian NKRI karena tidak
pernah tunduk di bawah pemerintahan kolonial Belanda dan Jepang, yang
menjadi
dasar klaim wilayah Republik Indonesia.
''Makanya itu, Indonesia juga tidak bisa seenaknya kemudian mengklaim bila
Aceh adalah bagian Indonesia,'' lanjutnya.
Namun, bukan semangat ini yang ditonjolkan GAM saat ini. Mereka membuka
pintu untuk perundingan damai. Karena itu, kata Sofyan, GAM merasa kecewa.
Sebab, belum juga mengadakan pembicaraan damai, TNI terus-menerus
mengatakan perundingan tetap dalam bingkai NKRI.
GAM, lanjut Sofyan, sebenarnya bisa melakukan hal yang sama jika mau.
Misalnya, mengajukan syarat supaya para pemimpin dan anggota GAM yang
ditahan pemerintah dibebaskan dulu sebelum berbicara secara damai.
Tapi, GAM tidak melakukan ini. ''Sebab, kami memang benar-benar ingin
mendiskusikan penyelesaian konflik ini secara damai.
Kami tidak ingin menekan-nekan sebelum maju ke perundingan,'' ujarnya.
Sofyan sendiri melihat masih ada bagian TNI yang tidak ingin menyelesaikan
konflik ini secara damai dan memilih terus berperang.
Apakah perubahan sikap GAM dengan mau berdialog ini karena GAM sudah
terpojok? Sofyan menyangkal. Katanya, fakta telah menunjukkan bahwa GAM
tak pernah bisa diberantas tuntas dengan kekuatan bersenjata.
Dia lantas menerangkan, sejak digempur di masa DOM (Daerah Operasi Militer)
1989-1998, lalu diajak dialog (COHA), kemudian diajak perang lagi (darurat
militer),
hingga kini GAM masih eksis. ''Makanya, mari dialog, tapi tanpa syarat.''
Ajakan damai ini, kata Sofyan, juga bukan berarti GAM mengendur. Menurut
dia, GAM menginginkan merdeka tanpa syarat, tapi keadaan dunia sudah berubah
saat ini. Demokrasi telah berkembang, sehingga rakyatlah yang pantas
menentukan. Untuk itu rakyat tetap harus dimintai pendapat apa yang mereka
kehendaki. ''Referendum atau apa pun itu. Tapi, biarlah soal teknis
penyelesaian damai itu kita bicarakan dalam pertemuan nanti.''
Soal referendum pernah menjadi wacana yang sangat kuat di Aceh. Puncaknya
ketika pada 8 November 1999, lebih dari sejuta rakyat Aceh melakukan apel
menuntut referendum. Meski Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sempat
mempersilakan referendum, keadaan politik yang berubah menjadikan momentum
itu hilang lagi.
Benarkah tentara GAM di lapangan akan tunduk terhadap apa pun hasil
keputusannya? Apakah di GAM tidak ada faksi sebagaimana tuduhan TNI?
''Kami ini simple. Tidak seperti Indonesia yang sepertinya punya banyak
pemimpin
di tingkat sipil, militer, bahkan hingga DPR.
Kalau kami (GAM) hanya mendengarkan, patuh,'' jawabnya.
Maksudnya, kata dia, GAM sebagai tentara Aceh tentu tunduk atas perintah
wali negara Aceh yang kini bermukim di Swedia, yaitu Hassan Tiro cs sebagai
unsur sipil. Diperintah stop, GAM akan stop, begitu pula sebaliknya.
Komentar soal faksi di tubuh GAM, menurut Sofyan, hanya propaganda.
Sebagaimana dulu ada isu soal Majelis Pemerintahan (MP) GAM pimpinan
Dr Hussaini Hasan yang menetap di Malaysia. Dia juga menjelaskan, hingga
saat ini tentara GAM di lapangan belum terlibat langsung untuk ikut
berunding.
Tetapi, Sofyan mengaku sudah ditelepon langsung dari Swedia perihal
perundingan ini. ''Kami bersedia melakukan gencatan senjata jika TNI pun
melakukan hal yang sama.''
Yakinkah jika momentum perdamaian ini bakal tercapai? Sofyan menjawab
seharusnya demikian. ''Insya Allah saya yakin. Ini jalan masuk bagi kita.
Ingat, saat ini seluruh dunia tengah memandang Indonesia,'' jelasnya.
GAM menyebut orang Aceh saat ini juga sudah banyak kehilangan.
Kehilangan pertama karena kekerasan yang tak kunjung berakhir.
Bagaimanapun, anggota GAM adalah rakyat Aceh juga.
Kehilangan kedua adalah akibat tsunami itu. ''Alangkah memalukannya jika
200 ribu orang Aceh sudah tewas, Jakarta tetap terus membunuhi rakyat Aceh
(memerangi GAM, Red),'' jelas Sofyan yang mengaku kehilangan beberapa
kerabatnya dalam musibah ini.
KSAD Jenderal Ryamizard Ryacudu menyebut, anggota GAM yang tewas ditembak
sejak tsunami 208 orang. (naz)
copyright @ 2002 webmaster-radar tarakan ::::
More information about the Marinir
mailing list