[Marinir] [KCM] Marinir Perketat Keamanan di Perbatasan Kaltim-Malaysia

YapHongGie ouwehoer at centrin.net.id
Tue Mar 8 06:24:24 CET 2005


Presiden GusDur, yang biasanya urakan dan jarang menanggapi suatu persoalan
secara serius, kali ini memberikan pemikiran yang baik.

Walaupun pihak RI tidak merasa pantas untuk membawa sengketa pelanggaran
batas wilayah ini ke Mahkamah Internasional, namun betul sekali saran
Presiden GusDur untuk menyiapkan bukti-bukti yang akurat dan komplit.


http://www.kompas.com/utama/news/0503/08/080159.htm

Updated: Selasa, 08 Maret 2005, 08:01 WIB
NASIONAL
Marinir Perketat Keamanan di Perbatasan Kaltim-Malaysia
Sebati, Kaltim, Selasa

KOMPAS/ANTON WISNU NUGROHO
Tinjau Perbatasan - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono didampingi Panglima
TNI Jenderal Endriartono Sutarto, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (KSAL)
Laksamana Madya Slamet Soebijanto, Komandan Gugus Tempur Laut Armada RI
Kawasan Timur Laksamana Pertama Soeparno (kedua kiri), dan sejumlah menteri,
antara lain Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro
(kiri), meninjau wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia dari atas anjungan
KRI Karel Satsuit Tubun, Senin (7/3). Menurut rencana, hari ini Presiden
bersama rombongan akan meninjau pos TNI terdepan di Pulau Sebatik.
Selama perjalanan di atas KRI Karel Satsuit Tubun, Presiden memberikan
arahan kepada anggota rombongannya.

Berita Terkait:
. Kemungkinan Bahas Ambalat, Menlu Malaysia ke Indonesia 9 Maret
. Lantamal VII Tanjung Pinang Siap Kirim Pasukan ke Ambalat
. Danlanud: Skadron I Khatulistiwa "Stand By On Call"

Dua kompi pasukan Marinir tambahan dari Brigade Infanteri (Brigif) I Pasukan
Marinir (Pasmar) 1 Surabaya bersama aparat keamanan Indonesia lainnya,
Selasa (8/3), mulai memperketat pengamanan di Pulau Sebatik.
Pengetatan pengamanan terutama menjelang kedatangan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono untuk melihat prajurit TNI- Polisi yang bertugas di daerah
perbatasan Indonesia-Malaysia.
Menurut Komandan Batalyon (Danyon) 1 Marinir Letkol (Mar) Hendro, pasukannya
dengan persenjataan lengkap diberangkatkan dari Surabaya pada Sabtu (5/3)
lalu atas perintah Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto. Keberadaan 2
kompi Marinir itu akan memperkuat keberadaan pasukan yang sudah ada di
wilayah Indonesia di Pulau Sebatik, seperti dari unsur TNI AD dan Polisi
Airud.
Menjelang kunjungan Presiden Susilo, prajurit Marinir mempersiapkan
persenjataan dan pos-pos pertahanan yang terbuat dari pasir, membangun
menara penjagaan. Kota Tawau negara bagian Sabah hanya terletak sekitar
8 Km ke arah utara.
Pada saat gladi gresik pengamanan Presiden dilaksanakan di pos Marinir dan
pos polisi Airud, satu pesawat kepolisian Malaysia melintas dalam ketinggian
sangat dekat hingga ke daratan kota kecamatan Sebatik. Beberapa personil
Marinir mengatakan, pesawat itu melintas berkali-kali pada saat gladi resik
pengamanan presiden tengah dilaksanakan.
Sejumlah anggota pasukan Marinir dan Paspampres mengatakan, mereka hanya
memberikan isyarat agar menjauh, dan merekam pesawat itu. Dengan demikian,
Malaysia sudah 4 kali melanggar kedaulatan RI. Dijadwalkan Presiden akan
tiba di Pos Marinir pukul 10.00 WITA, setelah sebelumnya mengunjungi barak
penampungan TKI di Nunukan Kaltim.


Siapkan bukti

Mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) berharap Pemerintah Indonesia
tetap mengedepankan jalan dialog untuk menyelesaikan masalah batas
teritorial dengan Malaysia di Ambalat.
"Saya berharap pemerintah menyikapi persoalan itu dengan kepala dingin.
Dengan tetap mengedepankan jalan dialog daripada pengerahan kekuatan
militer," kata Gus Dur seperti dikutip www.gusdur.net.

Gus Dur menambahkan, Malaysia akan mengutamakan penyelesaian masalah
Ambalat ini melalui jalan perundingan.
"Perundingan itu dapat terlaksana jika kedua pihak menjaga tindakan dan
pernyataan masing-masing, jangan provokatif," kata Gus Dur.
Karena itu, ia berharap pihak media massa juga turut menjaga hubungan baik
kedua negara yang selama ini telah terjalin. "Jangan sampai kasus teritorial
ini dijadikan alat untuk melupakan kasus yang nyata dirasakan rakyat,
seperti kenaikan BBM," ujar Gus Dur.

Namun demikian, Gus Dur meminta Pemerintah Indonesia mempersiapkan diri
menghadapi skenario terburuk penyelesaian sengketa teritorial itu. Yaitu
dibawanya permasalahan ini ke Mahkamah Internasional. "Pemerintah punya
kewajiban menyiapkan bukti yang akurat dan komplit, jika nantinya harus maju
ke Mahkamah Internasional. Jangan sampai kasus Pulau Sipadan - Ligitan
terulang," jelasnya. (Ant/Nik)

----------------------

http://www.mediaindo.co.id/

      Selasa, 08 Maret 2005 10:54 WIB
      HANKAM
      Satu Batalyon Marinir dengan Peralatan Lengkap Siap ke Ambalat

      SURABAYA--MIOL: Pasukan Marinir (Pasmar) I Surabaya mempersiapkan
satu batalyon pasukannya (600-700 personel) dengan peralatan lengkap untuk
dikirim ke perbatasan RI-Malaysia dalam rangka pengamanan blok minyak
Ambalat di laut Sulawesi.

      Pasukan dari Batalyon Infanteri (Yonif) 1, Brigif I, Pasmar I itu
melakukan apel organik bersama dengan 3.000 lebih personel lainnya di Bumi
Marinir Karang Pilang, Surabaya, Selasa, dengan Komandan Upacara Komandan
Pasmar I, Brigjen TNI (Mar) Baharudin.

      "Marinir tidak mau dikatakan tidak siap. Makanya kalau ada perintah
dikirim ke perbatasan Indonesia-Malaysia, akan dikirim pasukan Yonif 1 ini
lengkap dengan peralatannya, antara lain, enam pucuk Roket RM-70 yang
baru dibeli TNI AL beberapa tahun lalu dari Chekoslovakia," kata Brigjen
Baharudin.

      Ia menjelaskan, roket yang pernah diujicobakan di Puslatpur Marinir
Asembagus, Situbondo itu memiliki daya jelajah sekitar 20 kilometer dengan
daya ledak bisa menghancurkan kawasan dalam radius dua kilometer.
Roket tersebut juga akan berguna untuk digunakan dalam pertempuran laut.

      Selain roket, pasukan baret ungu itu juga dilengkapi dengan
persenjataan artileri, yakni Howitzer-105 dan Howitzer-122. Karena itu,
meskipun secara organik pasukan tersebut berasal dari Yonif 1, namun juga
didukung oleh Resimen Artileri dan pasukan elit Marinir, Taifib.

      "Jadi kalau sewaktu-waktu kami diminta ke perbatasan, kami sudah siap.
Istilahnya kami ini stand by dan on call, meskipun belum ada siaga satu dan
sebagainya. Sampai sekarang belum ada kondisi siaga," kata jenderal marinir
berbintang satu asal Pamekasan, Madura itu.

      Sebelumnya, Sabtu (5/3) Pasmar I juga sudah mengirim satu kompi plus
Marinir yang ditempatkan di Tarakan dan Pulau Sebatik dengan menggunakan
pesawat hercules dari Surabaya. Keberadaan pasukan itu untuk mengantisipasi
kemungkinan terburuk menyusul adanya manuver pesawat dan kapal perang
Malaysia di sekitar laut Sulawesi.

      Apel organik yang diikuti 3.710 pasukan marinir tersebut merupakan
apel tiga bulanan untuk mengecek kesiapan pasukan tersebut dalam menghadapi
penugasan mendadak. Hampir seluruh kekuatan senjata dan personel ditampilkan
dalam apel ersebut.

      "Apel ini dilaksanakan tiga bulanan, cuma kebetulan sekarang
situasinya berbeda, yakni ada masalah dengan Malaysia. Apel ini diikuti
pasukan dari Pasmar I, Lanmar (Pangkalan Marinir) Surabaya dan Kolatmar
(Komando Latihan Marinir)," katanya.

      Selain mempersiapkan pasukan untuk pengamanan perbatasan, Pasmar I
juga mempersiapkan pasukan Yonif 5 Marinir untuk dikirim ke Nangroe Aceh
Darussalam (NAD) menggantikan Yonif 3 yang sudah lama bertugas di daerah
bekas bencana gempa dan tsunami itu.

      "Tapi soal kapan waktu pengirimannya saya belum tahu, apalagi untuk
dikirim ke perbatasan Malaysia itu, juga belum tahu," katanya.
(Ant/O-1)





More information about the Marinir mailing list