[Marinir] [MIOL] Karangan Bunga Pelepas Rindu

Yap Hong Gie ouwehoer at centrin.net.id
Fri Oct 28 21:13:56 CEST 2005


http://www.media-indonesia.com/

 BERITA FOTO
PANGGUL KOMANDAN

ANTARA
Komandan Batalyon Infantri 8 Korp Marinir Letkol Ketut Suwarya dipanggul
anak buahnya usai upacara penyambutan di Kesatrian Korp Marinir Cilandak,
Jakarta, Senin (24/10). Sebanyak 500 lebih personil Batalyon Infantri 8 Korp
Marinir tiba di Jakarta setelah menjalani tugas di Nanggroe Aceh Darussalam.


~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

http://www.media-indonesia.com/

  POLKAM
Selasa, 25 Oktober 2005

Karangan Bunga Pelepas Rindu

 DI penghujung pagi, kemarin, ratusan tentara berseragam lengkap yang tampak
gagah dan tegap terlihat berbaris dengan rapi.
Mereka memang tengah menggelar upacara penyambutan kedatangan 592 personel
anggota Yonif 8 Marinir, yang sebelumnya bertugas sebagai Satgas Rencong
Sakti selama 13 bulan di Tanah Aceh.

Sebagaimana upacara-upacara militer lainnya, suasana khidmat jelas tercipta
di areal upacara yang terletak di lapangan beton Korps Marinir, Cilandak.
Namun, tanpa dinyana, suasana yang hening dan kaku itu sontak berubah.
Ibarat drama yang sarat emosi, seorang wanita muda menghampiri prajurit TNI
yang berada tepat di tengah lapangan.
Dengan setengah berlari dan wajah berseri, wanita itu langsung mengalungkan
bunga kepada sang lelaki berkulit legam itu.
Sang wanita adalah Made Yuniari, sedangkan sang lelaki yang tengah bertugas
sebagai komandan upacara adalah belahan jiwanya, I Ketut Suarya.
Tak merasa cukup dengan kalungan bunga, ibu muda itu juga menghujani suami
tercintanya dengan pelukan dan ciuman. Hangat, penuh syukur, dan kelegaan.

Bagi keluarga personel TNI yang baru pulang dari tugas di daerah operasi,
kerinduan memang acap menghantui mereka. Dan agaknya itulah sebabnya mengapa
rasa haru Yuniari tak kuasa menunggu hingga upacara penyambutan usai.
Melihat hal itu, para prajurit Marinir yang biasanya tampak tegar dengan
seragam lorengnya, banyak yang menitikkan air mata. Terlebih tatkala mereka
yang masih terjajar di dalam barisan beradu pandang dengan keluarga atau
orang-orang terkasihnya yang selama ini mereka tinggalkan demi tugas, entah
untuk kembali hidup atau mati.

Dituturkan Komandan Yonif 8 Marinir Letkol I Ketut Suarya, 13 bulan di Aceh
memberikan pengalaman yang tak terlupakan. Sebagai anggota TNI, menurut
Ketut, mereka senantiasa harus menghadapi tugas-tugas berat.
Bukan saja menumpas separatis di masa sebelum lahirnya MoU Helsinki,
melainkan juga melaksanakan tugas kemanusiaan ketika bencana tsunami
melanda. "Terlebih di sana, pasukan kami menghadapi dua fase yang
berhubungan dengan GAM.  Pertama adalah fase militer. Sedangkan fase yang
kedua adalah fase perdamaian. Ini membuat penugasan itu menjadi sungguh
menarik dan menantang untuk kami laksanakan dengan sebaik-baiknya," katanya.

Bisa jadi, memang tidak terbayangkan oleh mereka, betapa tugas untuk
menumpas kelompok bersenjata GAM harus berakhir dalam sebuah ikatan
persaudaraan sebangsa setanah air. Padahal, konflik yang terjadi, telah
berlangsung selama puluhan tahun.
Perasaan yang terkesan aneh juga dirasakan Ketut, rekan-rekan, dan anak
buahnya pasca-tsunami terjadi. Pasalnya di satu sisi, mereka harus membantu
rakyat Aceh yang sedang ditimpa bencana. Sedangkan di sisi lain, dengan
senjata dan seragam perang, mereka ditugasi untuk berjaga-jaga atas
kemungkinan serangan musuh.
"Jadi waktu itu perasaan kami sungguh campur aduk. Antara empati dengan
korban atas beratnya penderitaan mereka dan juga tetap bersikap siaga jika
suatu waktu ada musuh yang menyerang," kata Ketut seraya memeluk Panji, 9,
putra bungsunya.

Kini, bagi Ketut dan pasukannya, Aceh tinggallah kenangan yang akan menjadi
catatan dalam perjalanan karier mereka sebagai prajurit.
Sebagaimana catatan yang mereka goreskan ketika menyimpan kerinduan dengan
keluarga yang mereka tinggalkan selama bertugas di 'Serambi Mekkah'.
(Dian Palupi/P-5)




More information about the Marinir mailing list