[Marinir] [KCM] Selamat Lebaran Prajurit TNI

Yap Hong Gie ouwehoer at centrin.net.id
Sat Oct 29 10:30:03 CEST 2005


http://www.kompas.com/kompas-cetak/0510/29/utama/2164176.htm

Berita Utama
Sabtu, 29 Oktober 2005
Enggak Mau Jadi Bang Toyib
Korano Nicolash LMS

Bang Toyib, Bang Toyib kenapa enggak pulang-pulang.

Sudah dua kali puasa dan dua kali Lebaran kok enggak pulang-pulang juga.
Cuplikan lagu dangdut Bang Toyib saat ini makin ramai dipelesetkan sesuka
hati oleh pendendangnya.
"Betul, kami juga enggak mau seperti Bang Toyib," begitu kata Sersan Kepala
Marinir Iwan Sugianto (30), yang ditemui selang dua hari setelah pulang dari
bertugas di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), di Markas Komando Pasukan
Marinir I di Jalan Dr Abdul Rahman Saleh, Jakarta.

Setelah mendengar sejumlah batalyon dari TNI Angkatan Darat kembali ke
kesatriaan masing-masing, menurut Iwan, rekan-rekannya yang bertugas di
pesisir Aceh bagian utara juga mulai "tersayat" saat bulan Ramadhan mulai
mereka masuki. "Saat itulah setiap kali duduk-duduk di pos atau berpatroli
kami kerap mendendangkan lagu Bang Toyib," katanya.

Maklum, timpal Sersan Marinir Wawan Winarto (38), sewaktu dikirim ke Aceh
September 2004, teman-teman yang Muslim tengah menjalankan puasa. "Sepuluh
hari setelah bertugas di Aceh langsung Lebaran. Itulah Lebaran pertama saya
yang jauh dari anak istri dan orangtua," kata Wawan yang tinggal di rumah
kontrakannya di Cilandak, Jakarta Selatan.
"Kami semua jelas tidak ingin merayakan dua kali Lebaran jauh dari orangtua
dan anak istri secara berturut-turut. Sebenarnya kami sempat mendengar kabar
bahwa kami sudah bisa pulang sebelum Lebaran November nanti, hanya komandan
kami, Danyonmar-8 Letnan Kolonel (Mar) Ketut Suarya, tidak ingin mengumumkan
secara terbuka," tutur Iwan yang menjadi komandan peleton saat bertugas di
Desa Blang Balok, Kecamatan Peureulak, Aceh Timur.


Gaji diserahkan ke istri
Memang semua gaji sudah langsung diserahkan kepada istri yang mengasuh
ketiga anaknya yang tinggal di kawasan Pondok Ungu, Bekasi. Namun, sebagai
komandan peleton, selama berada di tempat tugas Iwan masih sempat
menabungkan uangnya, yang jumlahnya mencapai Rp 3,7 juta. "Uang itulah yang
akan saya pakai bersama istri pulang ke kampung kami di Bangkalan, Madura,
Sabtu atau hari Minggu (30/10) ini," tuturnya.
Tahun lalu saat ditinggal tugas ke Aceh, istri Iwan, Rina Sriwahyuni, dan
anaknya, tetap nekat pulang kampung dengan menggunakan kereta api. "
Beruntung di kereta ada yang satu kampung, jadi dapat mengurangi
kerepotannya," katanya.

Nasib Sersan Wawan Winarto lebih menyedihkan lagi. Pasalnya, selama dua hari
di rumah, Ridho Kurniawan, putra keduanya yang baru berusia delapan bulan,
sama sekali tidak mau disentuhnya. Maklum, ketika istrinya, Tuti (29) asal
Kudus, Jawa Tengah, hamil tua, ia sudah harus berangkat tugas ke NAD.
"Setelah empat setengah bulan bapaknya di Aceh, saya melahirkan Ridho. Itu
sebabnya, Ridho sampai sekarang masih enggan digendong lama-lama oleh
bapaknya," tutur Tuti.
Mengingat waktu Lebaran seorang diri, Tuti merasa kesepian. "Tetapi karena
ibu dan bapak di Cipete, jadi saya seharian penuh ke rumah ibu. Jadi saya
masih bisa bertemu keluarga saya," ucapnya.

Ihwal kesiapannya membuat Lebaran sedikit lebih istimewa karena kehadiran
sang suami, menurut Tuti, sangat sulit karena semua harga barang sudah
naik. "Sementara gaji yang diterima suami hanya Rp 1,5 juta. Bayar kontrakan
Rp 350.000, beli sayur-mayur untuk kebutuhan sebulan Rp 300.000-an. Beli
beras untuk sebulan yang sekarang seliter saja sudah Rp 3.100. Ya sudah...
habis," ucapnya tegar.

Kalaupun masih ada niat untuk mudik ke kampung halaman Wawan, di Jatiwangi,
Kabupaten Majalengka, itu karena masih ada sisa tabungan Wawan sebesar Rp
2,15 juta. "Mudah-mudahan dengan ini masih cukup sampai ke kampung," kata
Wawan optimistis.
Kisah para prajurit dalam menghadapi Lebaran tentu berbeda dengan kisah
mereka yang sudah tergolong penyandang bintang di pundaknya alias para
jenderal. Sebab, di era rezim Soeharto lalu, tidak ada yang namanya "sulit"
untuk para jenderal.


Nyanyian khusus
Ada nyanyian khusus yang biasa didendangkan di kalangan para perwira tinggi
ini. Demikian pernyataan Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal Djoko
Suyanto pada suatu acara saat ia masih menjadi Komandan Pangkalan Udara
Jayapura. Lagunya, kata Djoko, waktu berpangkat kolonel "sabar menunggu",
tetapi kalau sudah dapat bintang satu nyanyiannya langsung berubah
nyanyiannya "di sini senang, di sana senang, di mana-mana hati ku senang".
Lagu "Di mana-mana hati ku senang" ini tidak jauh berbeda dengan
kenyataan. "Sebab rumah kami selalu penuh dengan parsel sebelum Lebaran.
Makanya setiap kali Lebaran, kue atau berbagai makanan kering yang ada pasti
tersisa sampai beberapa bulan kemudian," kisah seorang teman, yang kakaknya
seorang jenderal.

Sekarang di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla tentu jauh
berbeda. Tentu tidak berlaku lagi pepatah "susahnya buat prajurit, senangnya
biar untuk para perwira tinggi". Begitu kan....

Selamat Lebaran prajurit....




More information about the Marinir mailing list