[Marinir] [rakyatmerdeka] ASA: Berlayar Bersama Kapal Perang RI Dewaruci (1)

Yap Hong Gie ouwehoer at centrin.net.id
Sat Sep 3 10:42:58 CEST 2005


Rekan kita, Bung Supardi di negeri Kincir Angin, menulis laporan pandangan 
mata yang menarik tentang Kapal Dewa Ruci!


http://www.rakyatmerdeka.co.id/?pilih=lihat&id=889

Kapal Tua Yang Jadi Museum Lautan
03 Sep 2005 20:00 WIB | Oleh : A Supardi Adiwidjaya

Berlayar Bersama Kapal Perang RI Dewaruci (1)

IKUT berlayar dengan Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) Dewaruci dari 
pelabuhan Amsterdam ke Vlissingen, rasanya seperti mimpi. Diputuskan secara 
mendadak, di luar rencana. Namun jelas, pelayaran dengan kapal latih untuk 
para Kadet Akademi ALRI tersebut bagi Rakyat Merdeka mempunyai arti dan 
bahkan kebanggaan tersendiri.

Sekitar pukul 10.00 pagi pada hari Sabtu (20/8) saya bersama isteri 
(Tatiana) dan anak perempuan bungsu kami (Hani) memutuskan melihat SAIL 
2005, yang sudah dimulai sejak tanggal 17 Agustus 2005 lalu. Hari terakhir 
SAIL 2005 di Amsterdam adalah tanggal 21 Agustus. Keesokan harinya, Senin 
(22/8), semua tamu dan para peser­tanya pulang meninggalkan pelabuh­an 
Amsterdam untuk berlayar ke tempat tujuan atau negeri masing-masing.

Dari kota Zaandam, di pagi hari Sabtu tersebut kami berangkat de­ngan naik 
bis ke Amsterdam Centraal - demikian orang menyebut nama stasiun ibu kota 
Negeri Belanda itu.

Sekitar satu setengah jam kemu­dian kami sekeluarga sudah berada di galangan 
kapal tempat berbagai jenis kapal-peserta SAIL 2005 ber­labuh. Di sepanjang 
dok (dermaga), yang berada tidak jauh dari stasiun Amsterdam Centraal, kami 
melihat ratusan pengunjung yang ingin melihat-lihat berbagai jenis kapal 
dari berbagai negeri. Ketika sudah sekitar tiga jam kami berada di wilayah 
dermaga sambil melihat berbagai jenis kapal-peserta SAIL 2005 ini, baru 
tahu, bendera merah putih berukuran besar yang berkibar dengan megahnya di 
tiang bendera KRI Dewaruci, ternyata berada jauh di seberang yang berlawanan 
di mana kami berada. Untuk mencapai sebe­rang sana dan berada di dermaga, di 
mana KRI Dewaruci berlabuh (merapat), kami harus jalan balik lagi ke stasiun 
Amsterdam Centraal. Dari sana harus naik bis atau naik pont (kapal 
penyebrangan) lagi. Kami sudah merasa benar-benar lelah. Wal­hasil, hari 
Sabtu (20/8) kami tidak berhasil melihat KRI Dewaruci dari dekat.

Baru keesokan harinya, Minggu (21/8) sekitar pukul 16.30, diantar teman 
dengan berkendaraan mobil, kami sampai ke tempat parkir, yang letaknya tidak 
jauh dari dermaga tempat berlabuh KRI Dewaruci. Setelah berjalan kaki 
sekitar 10 menit, kami baru bisa melihat KRI Dewaruci dari dekat. Para 
pe­ngun­jung, termasuk kami sekeluar­ga, diijinkan naik ke kapal untuk 
me­ngenal lebih dekat kapal layar tiang tinggi yang antik ini.

Di ruangan tengah geladak kapal, dengan iringan hot musik membang­kitkan 
orang bergoyang, para pe­ngunjung tua-muda pada menari poco-poco. Dua-tiga 
kadet memandu para pengunjung tua dan muda berpoco-poco. Bukan main ramainya 
pengunjung kapal Dewaruci ini. Apalagi hari Minggu (21/8) adalah hari 
penghabisan SAIL 2005. Keesokan harinya kapal Dewaruci akan melanjutkan 
pelayaran ke pelabuhan Vlissingen dan berlabuh di sana sampai hari Kamis 
tanggal 25 Agustus. Setelah itu KRI Dewa­ruci akan melanjutkan perjalanan - 
singgah di pelabuhan-pelabuhan beberapa negara yang dilaluinya untuk 
kemudian kembali ke Tanah Air. Jika sesuai jadwal pelayarannya, KRI Dewaruci 
saat itu dijadwalkan tiba di Surabaya pada tanggal 8 Desember 2005.

Di geladak kapal Dewaruci, saya bertemu rekan wartawan Radio Nederland Seksi 
Indonesia (Ranesi). Baru hari Minggu itu dan dari rekan itulah saya 
mengetahui, Ranesi sudah lebih seminggu yang lalu menerima pemberitahuan, 
jika mau, wartawan boleh ikut berlayar dari Amsterdam ke Vlissingen. Untuk 
itu wartawan harus mendaftar atau memberitahu­kan keinginannya pada Athan 
(Atase Pertahanan) KBRI Den Haag Kol Ahmad Subandi. Namun, Rakyat Merdeka 
tidak mendapat pemberita­huan tentang hal itu. Mungkin saja orang yang 
diberi tugas menyam­paikan pengumuman tersebut kelupaan, misalnya.

Mengetahui kemungkinan berla­yar dengan KRI Dewaruci itu, jiwa muda dan rasa 
avontur timbul kem­bali dalam benak saya dan tak pikir panjang, spontan saya 
putuskan ikut berlayar. Sangat kebetulan sore hari Minggu (21/8) itu, 
Kolonel Ahmad Subandi berada di kapal bersama Komandan KRI Dewaruci Letkol 
Sutarmono.

Rakyat Merdeka menyampaikan keinginan ikut berlayar ke Vlissi­ngen. Tanpa 
masalah dan prosedur berbelit, kedua perwira TNI AL tersebut mengijinkan 
Rakyat Merde­ka ikut berlayar dengan KRI Dewa­ruci.Untuk itu, Rakyat Merdeka 
harus sudah berada di geladak KRI Dewaruci pada hari Senin (22/8) sebelum 
pukul 09.00 pagi waktu setempat.

Ketika berada di dermaga, dilihat dari jarak beberapa meter, KRI Dewaruci 
adalah sebuah kapal layar tiang tinggi yang kelihatan antik, terawat baik. 
Dari keterangan brosur, kapal layar ini dibangun tahun 1952 di galangan 
kapal HC Stuicken & Sonh, Hamburg, (ketika itu masih) Jerman Barat. Kapal 
ini diresmikan menjadi jajaran Kapal Perang Republik Indonesia pada tanggal 
24 Januari 1953.

Jika dihitung dari waktu kapal ini selesai dibangun, KRI Dewaruci sudah 
berumur 53 tahun. Dari peralatannya yang bisa dilihat dengan kasat mata, 
kapal layar ini sudah tidak mungkin dijadikan sebagai kapal perang. Memang, 
menurut Koman­dan KRI Dewaruci -Letkol Laut (P) Sutarmono, dalam 
pelayarannya ke luar negeri KRI Dewaruci mempu­nyai misi: (1) Sebagai kapal 
latih bagi para Kadet Akademi TNI Angkatan Laut ; (2) Sebagai Duta Bangsa, 
duta pariwisata, kebudayaan dan sarana informasi tentang Indonesia ; (3) 
Membina hubungan persahabatan internasional.

Di KRI Dewaruci terdapat dua patung Dewaruci. Patung Dewaruci yang satu 
berada di cocor haluan dan yang satu lagi di bagian tengah geladak kapal di 
wilayah haluan.

Di geladak H (pertama) terdapat ruangan yang disebut anjungan untuk tempat 
pengoperasian kapal. Bagian luar dinding-dinding kayu anjungan dan dua pintu 
masuk (sebelah kiri dan kanan) dihiasi ukiran-ukiran, mem­buat bagian luar 
anjungan itu kelihatan indah dan sedap dipandang mata. Pintu masuk khusus 
(untuk awak kapal menuju ruangan bawah) terbuat dari kayu jati (atau mungkin 
juga pintu besi yang dilapis kayu jati) penuh dengan ukiran. Bagian bawah 
dua tiang layar utama juga dilapisi dengan kayu ukiran. Dan sebenar­nyalah, 
ukiran-ukiran kayu tersebut menambah keindahan dan semarak pemandangan di 
geladak kapal KRI Dewaruci.

Di depan anjungan ada dua ke­mudi berbentuk lingkaran. Untuk 
me­ng­operasikan dua kemudi ling­karan ketika berlayar selalu siap empat 
kadet, yang bekerja bergiliran. Tiap giliran bekerja masing-masing dua 
kadet. Juga di haluan selalu berdiri/bertugas jaga sebanyak empat kadet. 
Jadi di geladak kapal selama 24 jam selalu siap melakukan tugas sebanyak 
delapan kadet. Setiap empat jam sekali, delapan kadet yang bertugas di 
geladak kapal mengalami pergantian atau mendapat giliran diganti.

Jika kita turun ke bawah melalui salah satu pintu anjungan, maka sampai di 
lantai bawah di sebelah kiri terletak kamar besar atau salon untuk ruangan 
tamu. Lantai salon ditutup karpet merah. Di ruang kiri dan kanan dalam salon 
ini terdapat dua sofa/divan ukuran besar dan dua meja kaca masing-masing 
dengan tiang penyangga kayu-kayu yang diukir indah. Letak peralatan yang 
disebut belakangan ini simetris.

Motif ukiran-ukiran kayu yang ada di KRI Dewaruci ini kelihatannya 
ukiran-ukiran Bali dan Jawa (Jepara). Masih di lantai bawah ketika turun 
dari anjungan, di sebelah kanan terletak kamar komandan. Tepat di depan 
kamar komandan terdapat kamar berukuran kira-kira separuh ukuran salon untuk 
menerima tamu. Kamar ini untuk tempat para perwira Dewaruci berkumpul, 
bekerja, sekaligus sebagai ruang makan dan tempat istirahat. Di kamar inilah 
Rakyat Merdeka menginap.

Di geladak kapal Dewaruci ini banyak sekali terlihat ukiran-ukiran membuat 
kapal kelihatan cantik dan unik. « Ini mah bukan kapal perang, tapi kapal 
pesiar sekaligus 'museum berjalan" , ucap seorang pengunjung.

Selain berbagai atraksi kesenian yang ditunjukkan para kadet, memang benar, 
karena keantikan dan keunikannya, KRI Dewaruci sangat menarik dan disenangi 
ratusan dan bahkan ribuan pengunjung. Tidak kelirulah jika dikatakan, KRI 
Dewaruci juga bagaikan 'museum berjalan'.

Belum dua jam berlayar, sudah sempat merasakan kesibukan di kapal. 
Masing-masing awak kapal punya tugas tertentu dan jelas kelihatan 
dilaksanakan dengan disiplin tinggi. Di sela-sela kesibukan di kapal 
tersebut, Rakyat Merdeka sempat ngobrol dengan para perwira dan kadet yang 
kebetulan sedang bebas. Keramah-tamahan para perwira dan beberapa kadet AAL 
yang sempat ditemui dan omong-omong serta rasa akrab yang ditunjukkan mereka 
membuat Rakyat Merdeka langsung dan cepat betah berada di kapal Dewaruci.

Untuk mengetahui secara singkat tentang pelayaran KRI Dewaruci dan 
kegiatannya selama di negeri Kincir Angin , khususnya di Amsterdam, Rakyat 
Merdeka sempat bincang-bincang dengan Komandan Latihan (Danlat) KRI Dewaruci 
Letkol Laut (P) Edi Sucipto dan juga dengan Serka Kamal Taufiq dari Dispenal 
(Dinas Penerangan AL).

Menurut Edi Sucipto, KRI Dewaruci merupakan kapal latih bagi Kadet Akademi 
Angkatan Laut (AAL). Pada pelayaran Kartika Jala Krida kali ini, Kri 
Dewaruci bertolak dari pangkalannya di Surabaya awal April yang lalu, telah 
melintasi dan singgah di beberapa negara : India, Oman, Arab Saudi, Mesir, 
Libya, Aljazair, Spanyol. Inggris, Irlandia, Perancis, Norwegia, Jerman.

Khusus mengenai kegiatan KRI Dewaruci di Jerman, menurut Serka dari 
Dispenal, Kamal Taufiq, selama enam hari KRI Dewaruci berlabuh di 
Bremerhaven, Jerman. Kegiatan Open Ship dan Cocktail Party selama kapal 
merapat di dermaga Bremer­haven berlangsung meriah, terutama adanya 
pertunjukan kesenian In-donesia, antara lain, Tari Badinding (dari Sumatra), 
Rampak Kendang (Jawa Barat), Reog dari Ponorogo dan tidak ketinggalan 
berpoco-poco. Hadir dalam acara tersebut Duta Besar RI untuk Jerman Makmur 
Widodo beserta isteri, Walikota Bremerhaven Yorg Schultz, Athan RI KBRI 
Berlin Kolonel Inf Yoedhi Swastono, Ketua Federasi Kapal Layar Internasional 
(KTI) Jostein Haukali.

Pada 16 Agustus menjelang 60 tahun Kemerdekaan Indonesia, lanjut Sucipto, 
KRI Dewaruci tiba di Ijmuiden, Belanda, setelah mengikuti Internasional 
Fleet Review dan Tall­ship Race 2005 Eropa. Bertepatan 60 tahun Proklamasi 
Kemerdekaan Indonesia, tanggal 17 Agustus meru­pakan awal pelaksanaan "SAIL 
Ams­terdam 2005", dengan didampingi ratusan perahu kecil KRI Dewaruci 
melintasi IJ-Haven, yang disambut sangat meriah oleh ratusan ribu penonton 
SAIL 2005.

Berkumandang lagu kebangsaan RI lewat atraksi Drum Band Kadet AAL yang 
sedang beraksi di atas geladak utama KRI Dewaruci. Demikian pula bendera 
Merah Putih dengan ukuran sebesar 15 x 20 M berkibar dengan megah di buritan 
kapal mengundang tepuk tangan ribuan penonton yang melihat lang­sung di 
sepanjang perjalanan , kata Kamal Taufiq.

Dentuman meriam sebanyak 5 kali, lanjut Taufiq, lagu kebangsaan Indonesia 
Raya dan ucapan selamat 60 Tahun Kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 
dari Panitia SAIL 2005 lewat pengeras suara - me­nyam­but kedatangan Duta 
Bangsa Indonesia KRI Dewaruci di Ams­terdam. "Sungguh suasana yang amat 
membanggakan dan meng­harukan ", ujar Kamal Taufiq.

"Kedatangan KRI Dewaruci ke Amsterdam tampaknya juga meru­pakan pengobat 
rindu akan Tanah Air bagi sebagian besar masyarakat Indo­nesia yang 
berdomisili di Be­landa, khu­susnya Amsterdam ", ucap Edi Sucipto. Setiap 
hari masyarakat Indonesia selalu hadir selama KRI Dewaruci berpar­tisipasi 
dalam SAIL Amsterdam 2005, lanjut Edi Sucipto, dan tentunya tak ketinggalan 
ma­syarakat Amsterdam dan para peserta awak kapal partisipan onboard untuk 
melihat keunikan yang ada di KRI Dewaruci.

Dukungan dan sambutan kepada Kadet AAL yang merupakan peserta dari Indonesia 
dan terpanjang terlihat jelas sangat meriah, ketika pada 19 Agustus panitia 
menyelenggarakan Street Parade (Kirap kota) di mana Genderang Suling (GS) 
Gita Jala Ta­ru­na menambah ramai hiruk pikuk kota Amsterdam. "Dari 
Indonesia ? Cong­ratulation, Merdeka", demikian bebe­rapa ungkapan 
masyarakat Ams­terdam sepanjang Kirab Kota. (bersambung) 



More information about the Marinir mailing list