[Marinir] Kenangan Wilson - Sahabatku, Saudaraku
Yap Hong Gie
ouwehoer at centrin.net.id
Wed Sep 7 09:18:27 CEST 2005
----- Original Message -----
From: Henry Biantoro
To: Yap Hong Gie
Cc: 'Min Hui' ; Sita Cundamani ; Handoko
Sent: Wednesday, September 07, 2005 10:47 AM
Subject: Kenangan Wilson - Sahabatku, Saudaraku
Wilson, Sahabatku, Saudaraku
Tanggal 5 September kurang lebih jam 11.05 pagi saya membaca berita di
detik.com tentang terjadinya musibah pada pesawat Mandala no. penerbangan
RI-091 yang jatuh dan terbakar setelah lepas landas di Bandara Polonia,
Medan.
Berita itu langsung saya teruskan via SMS ke kedua sahabatku, saudaraku,
Yap Hong Gie (YHG) dan Wilson Kusumo (WK).
Saya tahu Wilson sedang berada di Medan dalam rangka pemakaman ayah
mertuanya yang wafat pada hari Senin, tanggal 29 Agustus 2005, yang
diberitahukannya kepada saya via email sebelum dia berangkat.
Alangkah terperanjatnya saya atas jawaban SMS dari YHG, bahwa Wilson
Kusumo berada didalam pesawat yang naas tersebut.
Harapan demi harapan saya panjatkan, proses demi proses saya monitor,
mengharapkan Wilson termasuk diantara daftar yang selamat.
Tapi rupanya Tuhan berkehendak lain, tugas Wilson dianggap telah selesai dan
dia dipanggil untuk menghadap mendahului kita semua yang masih harus
berjuang entah sampai kapan.
Kata-kata itu pula yang terakhir dikatakan oleh Wilson kepada Wisnu, staff
Wilson di Jakarta, pada pembicaraan telepon sesaat sebelum Wilson naik ke
pesawat yang naas tersebut, bahwa tugasnya telah selesai dan dia mau pulang.
Siapa mengira bahwa kepulangan Wilson kali ini adalah kepangkuan Sang
Pencipta.
Wilson, sahabatku, saudaraku. Betul sekali apa yang disampaikan oleh YHG
bahwa engkau adalah sosok manusia yang sudah langka didunia saat ini.
Keperdulianmu terhadap teman, sesama dan lingkungan, rasa selalu ingin
menolong, kejujuranmu yang demikian polos, rasa nasinalisme mu yang demikian
kental, inteligensiamu yang demikian tinggi, rasanya sudah tidak banyak lagi
bisa dijumpai dewasa ini.
Wilson, sahabatku, saudaraku. Kami semua sangat kehilangan seorang teman,
saudara, penasihat, dan penghibur dikala bermasalah.
Tapi kami tidak egois saudaraku, menghadaplah dengan tenang dan besar hati
karena saya percaya Tuhan pasti menyediakan tempat yang mulia disisi Nya
atas semua kemuliaan dan kebaikan hatimu semasa engkau masih berada diantara
kami.
Selamat jalan sahabatku, saudaraku. Sosok bijakmu akan selalu terpatri kuat
dihati kami semua,
Doa kami selalu menyertaimu dalam kepergianmu menghadap Sang Pencipta.
Sahabatmu, kakakmu, yang kehilangan,
Henry Biantoro
More information about the Marinir
mailing list