[Marinir] Mabes TNI tentang keluarga korban 65 asvi@...

Yap Hong Gie ouwehoer at centrin.net.id
Sat Sep 17 20:53:04 CEST 2005


Rekan-rekan Yth,

Kebetulan saya hadir dalam acara Silahturahmi Kadispenad dengan kalangan
media massa, di Markas Besar TNI AD.
Ada beberapa hal yang saya anggap esensial namun tidak muncul dalam
pemberitaan Suara Pembaharuan 16/09/2005 tsb, yang ingin saya garis bawahi
sbb:

Pertama-tama perlu dipahami bahwa acara ini diselenggarakan oleh Dinas
Penerangan TNI Angkatan Darat yang berlangsung di Mabes TNI-AD, Kamis
(16/9/'05), dimana para nara sumber a.l. adalah para putra Pahlawan
Revolusi, dimana Anhar Gonggong (AG) yang duduk bersama mereka dan disebelah
Kadispenad; Brigadir Jenderal Hotmangaraja Panjaitan, menghadap audience,
menyampaikan visi dan pesannya kepada forum.

Dalam uraiannya AG menceritakan bahwa beliau juga adalah putra korban sebuah
peristiwa sejarah, dimana ayah dan 2 Kakak beliau dibunuh oleh Westerling di
Makasar, namun AG sudah tidak menaruh dendam terhadap Westerling.
Kemudian menyampaikan pesan agar idelogi jangan menjadi alat untuk
mencerai-beraikan bangsa ini dan selanjutnya mengatakan, "kita" harus bisa
belajar menghilangkan perasaan dendam dan bersikap "Forgive But Not Forget".
Sehubungan dengan itu Anhar Gonggong mengangkat nama Nani Sutojo Nurrachman,
putri Jen Sutoyo - salah satu Pahlawan Revolusi, yang tergabung dalam sebuah
organisasi yang memiliki spirit "Hilangkan dendam sejarah".

Kata penutup dari Kadispenad Brigjen. Hotma Panjaitan, mengingatkan Anhar
Gongong tentang organsisasi tadi adalah "Forum Silaturahmi Anak Bangsa"
(FSAB) dan memperkenalkan kepada forum Direktur FSAB Suryo Susilo, yang
duduk dideretan kursi depan.
Kemudian melanjutkan bahwa TNI AD telah memaafkan seluruh mantan anggota
PKI yang terlibat pemberontakan pada masa lampau, meski TNI AD tidak akan
melupakan peristiwa itu. Brigjen. Hotma Panjaitan juga mengatakan, "Oleh
karena itu, pihak-pihak yang ingin menghidupkan kembali paham seperti itu
dan ingin menyimpangkan negara ini, akan berhadap langsung dengan TNI-AD."
Namun beliau juga menambahkan bahwa, "bukan saja paham komunisme, tetapi
juga terhadap mereka dengan paham lainnya yang ingin menggantikan ideologi
Pancasila".

Yang bagi saya (pribadi) yang merupakan kejutan (surprise) adalah, bahwa hal
ini disampaikan oleh Brigjen. Hotma Panjaitan, yang memiliki latar belakang
khusus: seorang Pati TNI AD (angkatan '77), berasal dari "Baret Merah" ;
mantan Komandan Grup-3 Sandi Yudha Kopassus, serta seorang putra dari
korban konflik politik, dimana beliau adalah wakil representative yang
paling eligible kalau berbicara tentang dendam sejarah.

Secara tidak langsung eksistensi "Forum Silaturahmi Anak Bangsa" (FSAB),
dengan visi-misinya telah mendapat pengakuan dari TNI-AD, sekaligus dari
putra-putri Pahlawan Revolusi, yang disampaikan secara resmi di Mabes
TNI-AD.

Hal ini merupakan suatu trobosan yang sangat berarti untuk perjuangan FSAB
kedepan:
 "Berhenti Mewariskan Konflik - Tidak Membuat Konflik Baru!"


Wassalam, yhg.
------------------



From: "Asvi Warman Adam" <asvi at ...>
Date: Fri Sep 16, 2005  7:08 am
Subject: Mabes TNI tentang keluarga korban 65 asvi at ...

SUARA PEMBARUAN 16 September 2005
Keturunan Mantan Anggota PKI Harus Dimaafkan

JAKARTA - Seluruh keluarga dan keturunan mantan anggota Partai Komunis
Indonesia (PKI) harus dimaafkan. Penyelesaian berbagai persoalan masa lampau
seharusnya tidak dilandasi dengan perasaan dendam.

Hal itu mengemuka dalam acara silahturahmi Kepala Dinas Penerangan TNI
Angkatan Darat (Kadispenad) Brigadir Jenderal Hotmangaraja Panjaitan dengan
kalangan media massa di Markas Besar TNI AD, Jakarta, Kamis (16/9).
Silahturahmi yang membicarakan peristiwa Gerakan 30 September 1965 itu juga
dihadiri pula oleh sejarawan Anhar Gonggong, keluarga pahlawan revolusi dan
beberapa saksi sejarah dalam peristiwa itu.

"Kita memang tidak boleh melupakan sejarah dan kekejaman anggota PKI pada
waktu itu. Tapi, kita harus memaafkan mereka dan keluarga mereka. Mereka
telah menyelesaikan tugas sejarah," kata Anhar Gonggong.
Untuk itu, Anhar mengimbau agar seluruh rakyat Indonesia mau memberikan maaf
dan menghilangkan perasaan dendam terhadap mantan anggota PKI dan keturunan
mereka. Dikatakan, proses menghilangkan perasaan dendam itu memang
membutuhkan waktu yang lama, namun harus tetap diwujudkan.
Dikatakan, bangsa Indonesia harus menghindari perang ideologi melalui
cara-cara kekerasan. Pada masa sekarang, perang ideologi itu harus dihadapi
dengan cara-cara yang demokratis.
"Hilangkan dendam sejarah seperti itu meski kita tidak bisa melupakan
ideologi yang pernah membuat bangsa ini terpecah belah. Mari kita menjadi
dewasa untuk membangun bangsa," kata dia.

Sementara menurut Kadispenad, TNI AD telah memaafkan seluruh mantan anggota
PKI yang terlibat pemberontakan pada masa lampau. Meski demikian, TNI AD
tidak akan melupakan peristiwa itu.
"Oleh karena itu, pihak-pihak yang ingin menghidupkan kembali paham seperti
itu dan ingin menyimpangkan negara ini, akan berhadap langsung dengan TNI
AD," ujar Hotma yang merupakan putera pahlawan revolusi, Mayor Jenderal
Anumerta DI Panjaitan.

Hotma mengatakan pula, ada pihak-pihak yang ingin memanfaatkan kembali
peristiwa masa lampau sebagai komoditas politik. Untuk, dia dan keluarga
korban lainnya menegaskan tidak akan bisa dimanfaatkan untuk polemik seperti
itu.

Kelurga pahlawan revolusi yang hadir pada acara itu antara lain Salomo
Panjaitan (putra Mayjen Anumerta DI Panjaitan), Haryanto Haryono (putra
Letjen Anumerta MT Haryono), dan Untung Yani (putra Jenderal Anumerta Ahmad
Yani). (O-1)

Last modified: 16/9/05



More information about the Marinir mailing list