[Marinir] [gatra.com] Berebut Uranium di Papua
Yap Hong Gie
ouwehoer at centrin.net.id
Mon Apr 10 12:49:38 CEST 2006
http://www.gatra.com/artikel.php?id=93534
Gatra, April 3, 2006
NASIONAL
Berebut Uranium di Papua
KUNJUNGAN PM Inggris Tony Blair pekan lalu -menyusul kedatangan Menlu
Amerika Serikat Condoleeza Rice-- yang kebetulan bersamaan dengan gejolak
tanah Papua, jelas bukan tanpa alasan dan kepentingan. Tidak diragukan lagi,
Papua merupakan daerah yang kini menjadi perebutan antara tiga kekuasaan.
Yang satu adalah negara adidaya Amerika Serikat, dua lainnya Inggris dan
Australia.
Ini semua berawal dari keberadaan Freeport di Papua yang memulai operasi
pada tahun 1967. Kini, gejolak politik di sana sudah bergerak terlalu jauh
dari inti permasalahan sesungguhnya. Pelanggaran HAM, pencemaran lingkungan,
dan korupsi yang merajalela di tanah Papua seringkali membuat kita lupa
untuk mengkaji ulang apa sebenarnya yang membuat harga Papua begitu mahal
bagi NKRI.
Potensi tanah Papua memang tidak diragukan lagi. Dan, sebagian besar saham
Freeport Indonesia dimiliki oleh Freeport McMoran Copper & Gold Inc, dan
sisanya dimiliki oleh raksasa pertambangan Inggris/Australia Rio Tinto; Rio
Tinto sendiri hak 40% atas pemberdayaan Grasberg (laporan tahunan Freeport
dapat diakses melalui www.fcx.com; situs Rio Tinto adalah www.riotinto.com).
Meskipun hubungan diplomatik ketiga negara dikategorikan harmonis, kunjungan
beruntun dari Amerika Serikat dan Inggris ke Indonesia perlu dikaji secara
lebih kritis. Australia menjadi negara yang paling beruntung dalam konflik
ini. Apabila Papua lepas dari NKRI, sangat mungkin Papua akan lebih condong
pro-Australia ketimbang Indonesia, yang banyak dianggap telah
memorak-porandakan Papua sejak era Act of Free Choice pada tahun 1969.
Selain keberadaan Freeport yang memberi keuntungan besar, apa menariknya
Papua bagi ketiga negara tersebut, dan kalau perlu dipisahkan dari NKRI?
Secara kebetulan, UU Investasi Asing pertama di Indonesia, UU Nomor 1 (1967)
Pasal 6 ayat (1-h) mencatat pembangkitan tenaga atom sebagai salah satu
bidang usaha yang tertutup untuk penanaman modal asing secara penguasaan
penuh karena bidang ini dianggap penting bagi negara dan menguasai hajat
hidup orang banyak. Masalahnya, jurnal berbagai scientific community
mencatat bahwa kekayaan alam di Papua belum sepenuhnya tereksplorasi,
termasuk di antaranya adalah tambang uranium.
Berdasarkan data terakhir thn 2004, negara produsen uranium terbesar
tercatat Kanada (11.597 metrik ton (t) = 1000 kg) dan Australia (8.982t).
Disusul dengan jarak yang cukup jauh kurang dari setengah dari produksi
Australia adalah: Kazakhstan (3.719t), Nigeria (3.282t), Namibia (3.038t),
Rusia (3.200t), Uzbekistan (2.016t), Amerika Serikat (878t), Ukraina (800t),
Afrika Selatan (755t), Cina (750t), dan Cekoslovakia (412t) (lihat:
http://www.wise-uranium.org/umaps.html).
Amerika Serikat kebakaran jenggot melihat program nuklir di Libia, Iran,
atau Korea Utara, meskipun pada kenyataannya AS merupakan konsumen uranium
terbesar dunia saat ini --yang tidak memiliki sumber daya alam yang
signifikan atau setidaknya belum mau terbuka mengenai potensi bahan baku
nuklir di dataran Amerika sendiri.
Karena itu, Amerika Serikat dan Inggris, sebagai sekutu dan pihak-pihak yang
memiliki kepentingan, pasti akan sangat dipermudah dengan terdapatnya,
sekecil apa pun, sumber uranium di Papua. Atau sebaliknya, keberadaan nuklir
akan sangat menaikkan harga atau global positioning Indonesia di mata dunia.
Apabila dihubungkan dengan pergerakan politik internasional, disinyalir
tolak-menolak antara negara-negara nuklir dan non-nuklir terlihat sangat
jelas dalam KTT PBB yang terakhir tahun 2005. Melihat betapa pentingnya
peran nuklir dalam diplomasi pada saat ini, perang atas Papua mungkin saja
merupakan produk tarik-menarik antara Amerika dan Inggris, dan Australia,
dengan Australia yang memiliki posisi lebih kuat dan nothing to lose dalam
konteks ini.
Berbagai teori geologi pecahan lempeng menyebut benua Australia, Pulau Papua
(Papua Nugini dan Irian Jaya), dan Timor Timur adalah satu daratan. Jelas
bukan mustahil Papua adalah sumber potensial, readily available, uranium
bagi Amerika Serikat. Uranium terbentuk dalam supernova, jauh sebelum zaman
Pangaea. Berlanjut dengan terpisahnya lempeng Australia yang sekarang
dikenal sebagai benua Australia dan Pulau Papua, endapan mineral yang
terkandung dalam lempeng tersebut kemungkinan besar sama.
Di daerah yang begitu miskin, mungkin rakyat Papua sendiri tidak menyadari
apa yang berada di bawah kaki mereka. Karena itu, sudah waktunya, ada atau
tidaknya kekayaan alam yang tersembunyi, pemerintah kita melakukan survei
untuk memperjelas kepentingan-kepentingan luar negeri yang dapat dikatakan
tendensius seputar Papua, untuk mempertahankan aset negara, sesuai dengan
versi asli UU Nomor 1 (1967).
Lia Suntoso
Pengacara imigrasi Amerika Serikat, saat ini peneliti di CSIS Jakarta
[Kolom, Gatra Edisi 21 Beredar Senin, 3 April 2006]
More information about the Marinir
mailing list