[Marinir] [KCM] Masih Relevankah Pancasila?
Yap Hong Gie
ouwehoer at centrin.net.id
Sat Mar 4 16:11:29 CET 2006
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0603/04/opini/2481834.htm
Opini
Sabtu, 04 Maret 2006
Masih Relevankah Pancasila?
Sulastomo
Pancasila kini sudah jarang disebut dalam wacana politik, begitu keluhan
berbagai kalangan. Meski Pembukaan UUD 1945 di mana rumusan Pancasila
tetap dipertahankan, realitas politik dan ekonomi Indonesia kini sudah
menyimpang dari Pancasila/UUD 1945.
Sistem politik kita, sistem demokrasi kita, sistem ekonomi kita, sudah tidak
lagi berdasar cita- cita buat apa negara ini didirikan. Benarkah sinyalemen
ini?
Sistem berbangsa dan bernegara kita telah mengalami perubahan mendasar.
Secara filosofis, memang mengesankan ada pergeseran. Hal ini tampak dari
realitas kehidupan/sistem politik, demokrasi, dan ekonomi yang berjalan.
Setidaknya ada pergeseran ke arah sistem demokrasi langsung, ekonomi pasar
dengan falsafah individualismenya. Hal ini terlepas dari kenyataan, semua
itu masih dalam tahapan transisi. Transisi demokrasi ke arah bentuknya yang
mantap.
Pertanyaannya, apakah perubahan itu masih mengacu pada Pancasila? Bahwa
transisi demokrasi yang sedang kita jalani adalah dalam rangka memantapkan
Pancasila atau sebaliknya? Di era globalisasi, masih relevankah Pancasila
bagi masa depan bangsa? Tidak berlebih, sekaranglah saat yang tepat untuk
mengangkat wacana itu ketika kita sedang berada di masa transisi.
Mimpi masa depan
Ada buku, The European Dream, yang mungkin dapat digunakan sebagai acuan.
Buku itu melukiskan mimpi "Uni Eropa" di masa depan, ditulis Jeremy Rifkin,
ilmuwan Amerika, yang menggambarkan dua buah mimpi besar, yaitu The American
Dream dan The European Dream. Menarik, setelah ia membandingkan dua mimpi
besar itu, meski ia orang Amerika, ia menyimpulkan, mimpi Eropa akan
mengatasi (eclipsing) mimpi Amerika. Mengapa?
Sebagai seorang Amerika, sejak kecil, ia telah mendapat pendidikan, prinsip
dasar berkebangsaan Amerika "The right to life, liberty and the pursuit of
happiness". "Life, liberty, and happiness" itulah tujuan buat apa Amerika
didirikan. Dalam bahasa agama, negara hanya mengurusi masalah-masalah
duniawi (hablum minannaas). Masalah hubungan dengan Tuhan (hablum min-Allah)
diserahkan kepada masing-masing warga negara.
Inilah prinsip sekularisme yang dianut Amerika. Demikian juga dengan
sekularisme di Eropa. Namun, dalam memaknai hubungan antarmanusia, ada
perbedaan di antara keduanya.
Untuk mencapai mimpi itu, seorang Amerika harus memiliki "otonomi"
(individual autonomy), kebebasan individual yang besar sehingga ia mampu
bersaing di masyarakat. Dengan cara begitu, ia akan merasa aman dalam
mengarungi kehidupan.
Sebaliknya, bagi orang Eropa, ia akan merasa aman jika dapat menyatu dengan
masyarakat. Mereka lebih menekankan community-relationship dibandingkan
individual autonomy.
Dalam berbangsa dan bernegara, perbedaan itu digambarkan, Eropa lebih
menekankan global cooperation dibandingkan unilateral exercise of power,
quality of life dibandingkan accumulation of wealth, sustainable development
dibandingkan unlimited of material growth, dan sebagainya.
Singkatnya, The American Dream lebih menekankan individu (individualisme),
sementara The European Dream lebih menekankan perlunya hubungan antarmanusia
(community relationship), kebersamaan (atau gotong royong)?
Mimpi Eropa itu, menurut Jeremy Rifkin, akan mengatasi mimpi Amerika. Timbul
pertanyaan, itukah mimpi/masa depan umat manusia? Bahwa dunia atau sebuah
negara harus semakin lebih menekankan kebersamaan, kerja sama, solidaritas,
kehidupan masyarakat yang harmoni, dibandingkan kompetisi sesama manusia
dan antarbangsa, yang ujungnya akan melahirkan kesenjangan antara kaya dan
miskin? Jawabnya, "ya". Perkembangan dunia yang kian penuh risiko harus
lebih meyakinkan kita bahwa community relationship akan lebih penting
dibandingkan individual autonomy dengan segala perangkatnya.
Relevansi prediksi itu juga ditunjang kenyataan bahwa negara-negara
demokrasi yang masih menghormati kebersamaan, secara ekonomis, juga lebih
efisien. Hal ini tampak dari berbagai negara Eropa, di mana mereka mampu
menikmati tingkat kesejahteraan yang lebih baik daripada Amerika. Atau
Jepang, sebagaimana digambarkan Ichiro Kawasaki, mantan diplomat Jepang,
dalam buku Japan Unmasked, orang Jepang secara individual tidak efisien.
Namun, 20 orang Jepang yang bekerja sama akan jauh lebih efisien
dibandingkan bangsa mana pun di dunia".
Jika semua itu didalami melalui pendekatan ideologi, dapat dikatakan,
"kapitalisme"
dengan perangkatnya adalah mimpi masa lalu. Dan mimpi masa depan adalah
sosialisme-demokrasi.
Pancasila
Pancasila/UUD 1945 adalah sebuah falsafah/konstitusi yang sarat dengan
kebersamaan/kegotongroyongan. Jika kita sepakat bahwa Pancasila/UUD 1945
mendekati prinsip-prinsip yang dirumuskan sebagai The European Dream,
alangkah jauhnya pandangan the founding fathers kita merumuskan falsafah dan
dasar negara itu sehingga (sebenarnya) masih amat relevan di era
globalisasi. Sudah tentu, kemiripan itu hanya sebagai komplemen "duniawi"
terhadap cita-cita buat apa negara ini didirikan. Sebab, di dalam Pancasila,
ada aspek uchrowi yang hendak dicapai, sebagaimana terkandung dalam Sila
Pertama Pancasila. Karena itu, ada yang menamakan, ideologi Pancasila itu
adalah "sosialisme religius".
"Kekeliruan" kita selama ini, kita belum mampu mengimplementasikan
kaidah-kaidah kebersamaan, khususnya dalam bidang kesejahteraan dan
perekonomian, sebagaimana termaktub dalam Pasal 33 dan 34 UUD 1945.
Bahkan, yang tampak adalah kaidah-kaidah individualisme.
Di sinilah perlunya kita melakukan "revitalisasi" dan menerjemahkan
Pancasila sesuai kebersamaan, termasuk Pasal 33 dan 34 UUD 1945, dalam
mewujudkan kesejahteraan dan perekonomian rakyat dan melaksanakannya
dengan konsisten.
Sulastomo Koordinator Gerakan Jalan Lurus
More information about the Marinir
mailing list