[Marinir] [KCM] Budiarto Shambazy: Orde Deformasi

Yap Hong Gie ouwehoer at centrin.net.id
Sat Mar 11 06:46:44 CET 2006


http://www.kompas.com/kompas-cetak/0603/11/utama/2499422.htm

 Berita Utama
Sabtu, 11 Maret 2006
Orde Deformasi
Budiarto Shambazy

Surat Perintah Sebelas Maret, Sabtu (11/3), genap berusia 40 tahun. Sejak 
tahun 1966 sampai sekarang, isi Supersemar yang memulai kekuasaan Presiden 
Soeharto itu masih membuat dahi mengernyit.

Bagi sebagian orang, Surat Perintah Sebelas Maret (Supersemar) sekadar 
perintah Presiden Soekarno kepada Menpangad Letjen Soeharto untuk mengakhiri 
instabilitas politik. Baru saja terjadi pembunuhan terhadap jajaran pimpinan 
Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) dalam peristiwa Gerakan 
30 September (G30S), diikuti dengan penangkapan dan pembunuhan massal 
terhadap mereka yang dianggap terlibat.

Salah satu butir Supersemar berbunyi, Bung Karno memerintahkan Letnan 
Djenderal Soeharto, Menteri Panglima Angkatan Darat, untuk, atas nama 
Presiden/Panglima Tertinggi/Pemimpin Besar Revolusi:

Mengambil segala tindakan jang dianggap perlu, untuk terdjaminnja keamanan 
dan ketenangan serta kestabilan djalannja pemerintahan dan revolusi, serta 
mendjamin keselamatan pribadi dan kewibawaan (Bung Karno)....

Bagi sebagian orang lainnya, Supersemar dapat ditafsirkan sebagai pengalihan 
kekuasaan dari Bung Karno kepada Pak Harto. Apalagi satu hari kemudian Pak 
Harto mengeluarkan keputusan membubarkan PKI, yang dituding sebagai biang 
keladi di balik peristiwa G30S.

Salah satu versi menyebutkan, Bung Karno ditodong dengan pistol untuk 
dipaksa menandatangani Supersemar. Konon Supersemar ditulis bukan di kertas 
resmi berkop kepresidenan.

Sempat pula beredar cerita bahwa beberapa hari kemudian Bung Karno di Istana 
Bogor sempat meralat isi Supersemar dengan sebuah surat perintah juga. Apa 
daya, surat yang sempat dicetak beberapa ribu lembar itu tak pernah sampai 
di Jakarta.

Posisi politik Bung Karno sudah terpojok. Padahal, tanggal 8 Maret 1966 ia 
mengeluarkan satu perintah harian yang isinya mengingatkan agar bangsa 
Indonesia tidak dipecah belah oleh kaum nekolim dan golongan kontrev 
(kontrarevolusi).

Melalui Perintah Harian 8 Maret itu Bung Karno menyinggung pula pembentukan 
Barisan Soekarno. Seluruh isi Perintah Harian 8 Maret didukung oleh setiap 
partai politik maupun organisasi-organisasi politik lainnya.

Indonesia, terutama ibu kota Jakarta, sudah berminggu-minggu diliputi 
ketegangan. Mahasiswa dan pelajar tak henti-hentinya berdemonstrasi dan 
berbagai kalangan juga tak berhenti melancarkan kekerasan termasuk 
pembunuhan terhadap saudara-saudaranya sendiri.

Sampai sekarang belum ada data yang akurat mengenai jumlah korban tewas. 
Namun, berbagai sumber menyebutkan jumlahnya bisa mencapai lebih dari satu 
juta jiwa.

Bung Karno turut menjadi korban Orde Baru karena meninggal dunia di dalam 
kesengsaraan. Setelah terbitnya Supersemar, ia bertahan sekitar satu tahun 
sebelum akhirnya secara resmi dipecat dari jabatannya oleh MPRS 12 Maret 
1967.

Setelah itu Pak Harto yang berkuasa sampai akhirnya mengundurkan diri pada 
21 Mei 1998. Sejarah mencatat, Bung Karno dan Pak Harto menjadi presiden 
yang berkuasa dalam waktu yang sangat lama, yakni masing-masing 22 dan 31 
tahun.

Sebuah persepsi mengenai kekuasaan mengatakan bahwa kekuasaan membuat siapa 
pun menjadi orang yang jahat. Ia memuja-muja dirinya sendiri, kejam terhadap 
rakyatnya, megalomaniak, dan buta terhadap ukuran-ukuran moral.

Lord Acton mengatakan, Power tends to corrupt, and absolute power corrupts 
absolutely. Great men are almost always bad men. Betulkah?

Di lain pihak, persepsi yang bertolak belakang mengatakan, setiap pemimpin 
pasti ada jasanya. Firaun toh membangun piramid, Adolf Hitler-lah yang 
membangun autobahn, Bung Karno yang membangun bangsa, dan Pak Harto yang 
membangun lewat Repelita.

Apakah kita mau melupakan dosa-dosa mereka? Semuanya terserah Anda.

Sebenarnya yang lebih menarik adalah siapa yang pertama kalinya 
mengintrodusir istilah Orde Baru (1967-1998) sebagai antitesa dari Orde Lama 
(1945-1967)? Apa pun yang baru pasti mengasyikkan, sedangkan yang lama sudah 
usang.

Ada yang mengatakan, istilah Orde Baru lahir begitu saja pada saat para 
mahasiswa marak unjuk rasa di bulan-bulan awal tahun 1966. Namun, ada juga 
yang mengungkapkan, Orde Baru sesungguhnya istilah yang diimpor dari luar 
negeri.

Personifikasi Orde Lama bukan cuma pada PKI atau sosok Bung Karno. Juga 
bukan pada Gubernur Bank Indonesia Jusuf Muda Dalam atau Gerwani 
semata-mata.

Orde Lama bahkan dituduh sebagai penyebab merosotnya ekonomi sekalipun utang 
luar negerinya tak sampai sepuluh miliar dollar Amerika Serikat. Orde Lama 
pun dipersalahkan sebagai kambing hitam yang mengakibatkan merosotnya akhlak 
bangsa.

Orde Baru adalah orde milik tentara karena merekalah yang berkuasa lewat 
dwifungsi ABRI. Orde Baru penuh janji walaupun akhirnya banyak yang tidak 
ditepati.

Orde Baru memang membangun, tetapi cuma untuk keluarga mereka. Orde Baru 
memang seram, tetapi melindungi kemaslahatan rakyat biasa.

Orde Lama dan Orde Baru banyak jeleknya, tetapi tak sedikit pula 
kebaikannya. Mereka mengajarkan kita tentang nasionalisme Indonesia serta 
pentingnya Undang-Undang Dasar 45 dan Pancasila.

Orde Reformasi (1998-sekarang)? Anda sendiri tahu bagaimana situasi ekonomi 
kita, kualitas politisi kita, dan mutu demokrasi baru kita.

Lihat pula surat-suratnya. Ada surat jenis katebelece, ada surat bodong, dan 
ada pula korupsi surat suara.

Lihat pula trias politica-nya. Ada yang sebentar-sebentar minta naik gaji, 
ada pula yang berucap, come on baby.

Lihat budayanya. Sudah cantik dan ganteng memakai kain
kebaya atau kemeja batik lengkap dengan peci, kok masih mau lain sendiri?
Kita memang memasuki Orde Deformasi. Kita mengubah diri dan akhirnya malah 
rugi sendiri. 




More information about the Marinir mailing list