[Marinir] Agus Widjojo: Reformasi TNI Berjalan Terus & FSAB
Yap Hong Gie
ouwehoer at centrin.net.id
Thu May 25 14:00:52 CEST 2006
http://www.pontianakpost.com/berita/index.asp?Berita=Tokoh&id=113232
Kamis, 25 Mei 2006
Minggu, 2 April 2006
Reformasi TNI Berjalan Terus
Sosok Dan Kiprah Agus Widjojo
Letnan Jenderal (Purn) Agus Widjojo, mantan kepala staf territorial TNI dan
mantan wakil ketua MPR RI bicara panjang mengenai proses reformasi TNI.
Menurut dia, perubahan bisa dilihat secara konkret, secara formal tapi juga
bisa kita lihat secara kultural yang tidak bisa kasat mata kita lihat
tergantung yang mana kita maksudkan. Kalau kita berbicara tentang struktural
formal - terkadang orang melihat dalam gradasi sesuai perjalanan waktu -
kurang bisa menghargai perubahan-perubahan yang telah dilakukan oleh TNI
yang sebetulnya itu diawali oleh TNI sendiri. Misalnya ketika kita coba
bandingkan TNI saat ini dengan keadaan 10 tahun yang lalu. Ketika itu kalau
sebuah partai politik akan memilih ketua umum, mereka tidak berkonsultasi
kepada siapapun termasuk kepada Mendagri pun tidak, mereka akan memilih
untuk berkonsultasi kepada Kepala Staf Sosial Politik Angkata Bersenjata
Republik Indonesia (ABRI)
Pak Agus, kami sebagai orang awam melihat dikotomi militer dalam konteks
reformis yaitu tentara reformis dan tentara konservatif. Bapak tampaknya
termasuk dalam kategori tentara yang reformis. Saya mungkin tidak akan
mengatakan beberapa peristiwa yang kemudian mengaitkan seberapa reformis
Anda dan sebagainya. Saya mulai dengan pertanyaan apakah Bapak merasa
sebagai tentara yang reformis?
Mungkin terlalu berat kalau kita mulai dari beban karena menyandang sebuah
predikat. Saya melihat itu hasil dari sebuah proses. Dalam pengertian,
manusia itu hanya bisa berusaha untuk mencari peran yang diberikan kepada
dirinya oleh Yang Maha Pencipta dan bagaimana bisa berbuat yang
sebaik-baiknya di dalam peran tersebut.
Apakah Anda merasa bahwa Anda mendapatkan peran yang kebetulan pas?
Saya rasa pencarian peran itu adalah sebuah proses yang berlangsung
sepanjang hayat. Kita tidak pernah bisa untuk memastikan atau menyimpulkan
bahwa inilah peran saya. Kita akan terus mencari. Di dalam konteks proses
untuk berusaha sebaik-baiknya itu, kita mendapatkan sebuah hasil atau posisi
yang dapat menimbulkan citra yang kemudian diwakili oleh predikat yang
mungkin diberikan oleh publik.
Saya kebetulan agak mengikuti proses itu sendiri yaitu ketika paradigma baru
Tentara Nasional Indonesia (TNI) sedang diwacanakan. Kalau tidak salah, pada
tahun 1999 peran sosial politik TNI diredefinisi, kemudian pada tahun 2001,
kalau tidak salah, kemudian ada semacam paradigma baru TNI. Dalam hal ini
ada dua hal yang mungkin tidak banyak orang tahu; Pertama, penegasan tentang
peran sosial politik TNI yang waktu itu diprakarsai Jenderal Wiranto. Kedua,
rapat pimpinan (Rapim) TNI pada 20 April 2000 yang dipimpin oleh Panglima
TNI Widodo. Di mana peran Anda pada saat momen tersebut karena waktu itu
kita semua langsung tahu bahwa Bapak punya semacam peran yang besar dalam
menyiapkan paradigma baru TNI ini?
Pertama saya memang perlu untuk angkat topi bahwa Mbak Dhani lebih hapal
tanggal-tanggal tentang TNI tersebut daripada saya. Tapi kalau menyangkut
peran tadi kita melihat pada buku paradigma baru pertama yang diterbitkan
dalam sebuah brosur pada 5 Oktober yang ditandatangani oleh Jenderal
Wiranto. Pada waktu itu, fungsi itu berada pada Kepala Staf Sosial Politik
TNI yang waktu itu dijabat oleh Letnan Jenderal (Letjend) Susilo Bambang
Yudhoyono. Saya bekerja erat dan dekat dengan beliau dan pada waktu itu
tidak dapat kita lupakan kita masih berada pada dwifungsi. Karena itu
paradigma baru pertama itu masih bersifat menghaluskan pelaksanaan
dwifungsi. Ingat, tidak selalu di depan tapi bisa di belakang, tidak
menduduki tapi mempengaruhi. Itu berarti peran sosial politik itu masih ada,
tinggal menghaluskan. Nah, pada saat paradigma baru kedua saat iatu
Panglimanya adalah Laksamana Widodo, saya menggantikan Letjend Susilo
Bambang Yudhoyono. Pada waktu itu kita sudah bisa melepaskan diri sama
sekali dari kultur dwifungsi sehingga paradigma baru yang kedua itu adalah
paradigma baru peran TNI yang menempatkan TNI sebagai bagian dari sistem
nasional sesuai dengan peran dan kewenangannya yang diberikan oleh
konstitusi berdasarkan kesepakatan bangsa. Ini adalah fungsi pertahanan yang
sama sekali terbebas dari peran sosial politik karena semua diletakkan
sebagai bagian dari sistem nasional.
Apakah Bapak melihat ada perubahan yang signifikan dengan adanya paradigma
baru TNI ini tentang bagaimana meletakkan tentara dalam konteks negara
demokrasi pada saat sekarang ini?
Perubahan bisa kita lihat secara konkret, secara formal, tapi juga bisa kita
lihat secara kultural yang tidak bisa kasat mata kita lihat, tergantung yang
mana kita maksudkan. Kalau kita berbicara tentang struktural formal -
terkadang orang melihat dalam gradasi sesuai perjalanan waktu - kurang bisa
menghargai perubahan-perubahan yang telah dilakukan oleh TNI yang sebetulnya
itu diawali oleh TNI sendiri. Tetapi kalau kita - dan ini saya selalu
katakan untuk mengejutkan teman-teman yang melupakan hal itu, coba kita
bandingkan 10 tahun yang lalu. Ketika itu kalau sebuah partai politik akan
memilih ketua umum, mereka tidak berkonsultasi kepada siapapun termasuk
kepada Mendagri pun tidak, tetapi berkonsultasi kepada Kepala Staf Sosial
Politik Angkata Bersenjata Republik Indonesia (ABRI).
Perubahan itu memang baru terasa signifikan dan kontras dan tidak bisa kita
rasakan sebagai sesuatu terjadi dengan sendirinya. Artinya bahasa
wawancaranya itu taken for granted. Kalau kita bandingkan dengan 10 tahun
yang lalu, waktu itu TNI sangat dominan menguasai panggung sosial politik
Indonesia, partai politik dan organisasi massa akan sangat bergantung kepada
restu ABRI. Kemudian jabatan-jabatan sipil di hampir semua departemen,
eselon I, direktur jenderal (Dirjen), inspektur jenderal (Irjen) diduduki
oleh perwira aktif TNI saat itu. Dengan demikian perubahannya signifikan.
Jangan lupa juga dalam pemilu, TNI beserta keluarganya memang mendukung
Golkar. Sekarang semua itu tidak kita lihat lagi. Dan tidak hadir di
lingkungan kita. Bukankah itu sebuah perubahan yang signifikan. Tetapi kalau
kita berbicara tentang kultur dan di bawah tataran yang terlihat maka
perubahan ini tidak bisa menghindarkan diri dari rumus-rumus sebuah proses
perubahan. Artinya perubahan itu tidak bisa kita harapkan berlangsung
sekaligus sama untuk semua pihak karena kecepatan orang untuk menyadari
berubah itu juga tidak sama.
Dan proses perubahan tidak akan bisa untuk menghindari tantangan pertama dan
utama untuk sebuah proses perubahan yaitu menyamakan visi. Semuanya serempak
untuk bisa merasa bahwa kita merasa perlu untuk berubah.
Menurut Bapak, bagaimana strategi perubahan itu dilakukan? Artinya, mengubah
mindset itu adalah masalah yang sangat sulit karena dalam hal ini kita
bicara soal kultur, kebiasaan, dan kita bicara macam-macam hal. Kalau dalam
konteks tentara, tentara itu sangat patuh dengan hirarki, komando, dan
segala macamnya. Kalau diletakkan dalam konteks itu, apa sebaiknya yang
dilakukan dalam konteks reformasi TNI tadi?
Sebetulnya - dan ini selalu saya katakan - untuk mengatur dan mengatakan
tentara itu seharusnya bagaimana adalah mudah. Beritahu saja pimpinannya
bagaimana kita menghendaki tentara bertindak, berposisi, maka dia akan
mengalur kepada kebijakan komando pimpinan tersebut. Itu juga sebetulnya
adalah rumus pertama dalam setiap proses perubahan yaitu pimpinan puncak
harus meyakini perlunya untuk berubah dan mengapa berubah serta bagaimana
perubahan itu terjadi. Saya rasa itu yang terpenting. Selama ini memang bisa
kita katakan bahwa posisi pimpinan puncak TNI memang belum pernah diduduki
oleh seorang perwira yang sepenuhnya percaya, meyakini akan perlunya TNI
berubah, sehingga proses perubahan ini baru bergerak secara merayap sampai
tingkat staf untuk meyakinkan Panglima perlunya perubahan ini. Tetapi
mungkin itu juga memberikan hikmah bahwa perubahan itu kalau dipaksakan
secara terlalu cepat tentunya akan menimbulkan gesekan-gesekan karena
perbedaan kecepatan dan kemampuan untuk menangkap kebutuhan akan perubahan
yang tadi saya katakan.
Jadi memang ada hikmahnya bahwa mungkin ada elemen-elemen yang ingin
mengadakan perubahan secara cepat, tetapi ada juga elemen-elemen yang lebih
bijak untuk bisa meredam kecepatan dan melaksanakan perubahan itu dalam
kecepatan yang lebih sesuai dengan kenyataan.
Anda merupakan putra dari pahlawan revolusi kita yaitu Jenderal Sutoyo.
Apakah kehidupan Anda menjadi seorang tentara terinspirasi oleh Bapak Anda
dan bagaimana Anda melihat Bapak Anda sebagai tentara juga?
Saya juga tidak tahu dalam keadaan itu saya bersama ayah saya atau tidak.
Tapi ada dua hal yang sering ditanyakan pada saya, setelah semua yang
terjadi, yaitu pertama adalah apakah memang Pak Agus itu bercita-cita untuk
menjadi pemikir dalam karir tentara. Kedua, apakah Pak Agus itu dari sejak
kecil bercita-cita jadi tentara. Keduanya salah.
Yang pertama, pemikir itu adalah persepsional. Tetapi perlu diingat bahwa
sebagian besar dari karir saya sebagai perwira aktif TNI itu saya habiskan
untuk satuan Kostrad. Saat pangkat kolonel, saya baru masuk Jakarta dan saya
sendiri terkejut waktu diperintahkan untuk menduduki jabatan Komandan
Brigade Infanteri Lintas Udara 17 Kostrad. Saya jadi kaget, lho kolonel itu
masih harus terjun toh. Jadi sebagian besar karir saya ada di satuan tempur
dan saya melihat serta bergaul dengan para prajurit-prajurit di asrama
tentara. Tetapi itu juga memberikan hikmah kepada saya bahwa saya dipaksakan
untuk dapat melihat dan hidup bersama kehidupan prajurit yang asli di
asrama. Menurut saya, kesempatan untuk bisa menghayati kehidupan prajurit
pada tingkat dasar seperti itu langka. Tetapi peluang, misalnya, untuk
memasuki markas komando, markas besar, jabatan-jabatan perencanaan, jabatan
strategis itu akan ada waktunya di masa depan. Tetapi kesempatan untuk bisa
bergaul dengan para prajurit itu hanya dilalui satu kali.
Yang kedua apakah memang sejak kecil cita-cita saya itu menjadi tentara?
Tidak. Saya menyadari bahwa saya hidup di tengah-tengah kehidupan lingkungan
tentara. Tetapi saat itu saya belum berpikir, namanya juga anak SMA Betawin
jadi siapa sih yang berpikir serius tentang masa depan, kerja saya juga
banyak mainnya. Saya tidak terpikir menjadi tentara karena terutama badan
saya kecil, jadi apakah bisa saya menjadi tentara. Sampai ketika menjadi
perwira, saya jadi bertanya-tanya apa sih ukuran atau kriteria seorang
perwira yang sukses? Apa saya memenuhi persyaratan itu? Seperti tadi saya
katakan, inilah sebenarnya yang merupakan proses pencarian terhadap peran
yang bisa saya mainkan dan diberikan kepada saya di dalam hidup ini.
Pak Agus bersama rekan-rekan korban Gerakan 30 September Partai Komunis
Indonesia (G 30 S/PKI), anak-anak korban G 30 S/PKI, membentuk semacam Forum
Silaturahmi Anak Bangsa. Sebetulnya yang justru menarik dari forum ini
adalah semboyannya. Kalau tidak salah semboyannya adalah lupakan konflik
semacam itu dan jangan ciptakan konflik baru. Ini menarik karena sebagian
besar anak tentara di sana. Ada anak DN Aidit, cucu Daud Beureuh, kemudian
Kartosuwiryo, dan lainnya. Ini suatu hal yang sangat menarik sekali bahwa
rekonsiliasi justru datang dari bawah dan justru diprakarsai oleh anak-anak
tentara korban G30 S/PKI. Pak Agus mungkin bisa menceritakan sedikit asal
muasal mengapa ini ada dan mengapa harus ada?
Iya, peran yang dimainkan dalam rangka mengumpulkan teman-teman dari
generasi kedua, ketiga dari peristiwa yang kemudian merobek-robek bangsa
menjadi terpecah-pecah secara emosional, sebetulnya lebih banyak dimainkan
oleh adik saya, Nani Nurahman karena dia seorang psikolog seperti Mbak Dani.
Tapi sebuah pelajaran yang bisa kita ambil di sini adalah mengapa hal itu
bisa terjadi. Proses ini terjadi dari inisiatif masing-masing teman itu
sendiri. Mereka dengan sukarela sudah bisa meninggalkan masa lalu dan
kemudian di dalam diri mereka sendiri membangun kesepakatan untuk bisa hidup
bersama-sama dengan teman-teman yang berasal dari kelompok yang berbeda yang
mungkin berhadapan dalam peristiwa-peristiwa yang dialami oleh bangsa ini.
Jadi di sini kita ambil pelajaran bahwa rekonsiliasi yang sebenarnya itu
hanya bisa terjadi apabila ada keikhlasan, kerelaan dari masing-masing
individu untuk memandang masa lalu itu dalam kesepakatan dan membangun
sebuah kehidupan baru yang lebih berorientasi ke masa depan. Artinya,
rekonsiliasi itu sulit untuk dibangun apabila prosesnya merupakan pemaksaan
eksternal, berasal dari kekuatan luar tanpa disadari hakikat atau
semangatnya dari keikhlasan dalam diri masing-masing aktor yang terlibat
tersebut.
Menurut Anda, apakah ini relatif berhasil ?
Kerelaan untuk memaafkan masa lalu tanpa harus melupakan, tahap satu
berhasil karena kehadiran secara fisik didalam sebuah kelompok yang
bersama-sama menjalin kehidupan dan komunikasi itu sudah ada dan berhasil.
Tetapi saya melihat tahapan kedua sebagai sebuah tantangan. Tahapan kedua
itu adalah beranikah kita berbicara secara terbuka menurut versi kita
masing-masing untuk mencapai sebuah kesepakatan, dimana dalam pembicaraan
itu tentu terdapat pertentangan pendapat karena masing-masing posisinya yang
mungkin akan saling berhadapan. Itu yang masih harus diuji karena hanya
dengan forum seperti itu kita bisa memberikan saluran keluar menuju healing
process (proses penyembuhan/rekonsiliasi). .
Kalau dalam konteks yang lain lagi, misalnya kasus Tanjung Priok, kita juga
bicara soal rekonsiliasi tapi boleh dikatakan proses ini gagal. Dalam arti,
hal ini masih sekadar wacana saja, ada yang pro ada yang kontra dan
sebagainya. Dalam konteks yang pernah dilakukan oleh Anda dalam Forum
Silaturrahmi Anak Bangsa ini, apa kira-kira yang bisa dilakukan dalam
peristiwa Tanjung Priok ini karena masing-masing pihak bersikukuh untuk
tetap pada pendiriannya sehingga rekonsiliasi akhirnya belum terjadi?
Selama masing-masing pihak masih bersikukuh pada pendiriannya dan tidak mau
memberikan sejengkal konsensi apapun maka rekonsiliasi itu tidak akan
terjadi. Kalau rekonsiliasi hanya kita lihat sebagai zero sum game, dan satu
pihak masih dalam pendirian tidak bersalah, bahwa dia yang paling benar dan
pihak yang lain yang sebetulnya menanggung kesalahan, maka rekonsiliasi
tidak mungkin akan terjadi. Rekonsiliasi hanya akan terjadi atas dasar
kompromi dan kompromi itu memerlukan pengorbanan, sedikit atau banyak dari
semua pihak yang terlibat. Tanpa ada pengorbanan rekonsiliasi tidak akan
tercapai.
Dalam FSAB (Forum Silaturahmi Anak Bangsa), apa saja yang dilakukan selama
ini, selain kegiatan rekonsiliasi diantara para anggota-anggotanya?
Kita masih berada dalam proses mengembangkan diri dan sebetulnya juga
mencari identitas diri tentang dimana dan bagaimana bisa memberikan
sumbangan bagi masyarakat Indonesia dengan masa lalu atau sejarah masa lalu
yang kita kenal untuk mencapai kesepakatan, memandang masa lalu, dan mulai
memandang masa depan. FSAB hadir menawarkan sebuah model siapa tahu model
itu bisa dijadikan sebagai bahan banding. FSAB juga masih mencari apa
sebetulnya yang bisa ditularkan kepada kawan-kawan komponen bangsa lainnya
yang berada pada situasi yang sama, tetapi kita tidak bisa mengklaim bahwa
semua orang itu, semua komponen harus sama seperti FSAB karena ada satu yang
sulit, semua itu diawali dari diri kita sendiri dan FSAB sudah bisa
memulainya dan itu tidak bisa kita paksakan kepada orang lain.
--
----------------------------------------
I am using the free version of SPAMfighter for private users.
It has removed 564 spam emails to date.
Paying users do not have this message in their emails.
Get the free SPAMfighter here: http://www.spamfighter.com/len
More information about the Marinir
mailing list