[Marinir] [KCM] Gede Prama: Haji Bambang Berjumpa Tuhan

Yap Hong Gie ouwehoer at centrin.net.id
Tue Oct 10 09:17:39 CEST 2006


http://www.kompas.com/kompas-cetak/0610/07/opini/3004965.htm

Opini
Sabtu, 07 Oktober 2006
Haji Bambang Berjumpa Tuhan
Gede Prama

Empat tahun yang lalu, persisnya 12 Oktober 2002, untuk pertama kalinya bom
meledak di Kuta, Bali, dengan korban ratusan nyawa. Sedih, berduka,
tersentuh, dan prihatin barangkali kata-kata yang tepat ketika itu. Seperti
dikomando oleh sebuah kekuatan yang tidak bisa dijelaskan, berbagai pihak di
dalam negeri dan luar negeri semuanya bergerak sebagai tanda simpati dan
empati. Uang, tenaga, obat-obatan, pemberitaan semuanya mengalir deras
sekali.

Namun, di atas semua itu, ada yang lebih menyentuh hati lagi. Masyarakat
Kuta yang tempat lahir sekaligus tempat hidupnya dihancurkan melalui ledakan
bom, dinodai darah manusia, digoyang masa depannya, digoda kesabarannya,
malah merespons secara menyentuh.

Soal cerita kemarahan dibalas kemarahan, darah dibayar darah, kebencian
diikuti kebencian, dan penghancuran tidak punya sahabat ikutan lain selain
penghancuran sudah terlalu sering kita dengar, baca, dan tonton. Namun,
penghancuran diikuti persahabatan, bencana darah manusia direspons dengan
ketenangan, kecurigaan terhadap pihak lain diganti empati-empati saling
berbagi, dan di atas semua itu, tidak ada satu pun tempat ibadah yang
terkena lemparan batu, apalagi dihancurkan. Bukankah ini sebuah peristiwa
kemanusiaan yang langka?

Lebih langka lagi, tatkala petaka darah manusia terjadi di tempat yang bukan
mayoritas beragama Islam, dan yang dicurigai ketika itu adalah jaringan Al
Qaeda, malah mengangkat nama Haji Bambang sebagai salah satu pembawa
suara hati. Ini tidak saja muncul dalam pemberitaan media massa, tetapi juga
penghargaan kemanusiaan yang mengalir deras buat Haji Bambang.

Bersama Nyoman Bagiana Karang serta masyarakat Kuta lainnya, mereka langsung
menyingsingkan lengan. Dari mengangkut korban mayat manusia yang
tercabik-cabik, menggendong yang berdarah-darah, menyelamatkan yang bisa
diselamatkan, sampai dengan bersama-sama meredam emosi massa masing-
masing.
Hasilnya, setelah empat tahun kejadian ini berlalu, bahkan lewat pengadilan
telah ditetapkan terhukum serta hukumannya, wajah Kuta tidak berubah:
kebencian tidak harus diikuti kebencian, penghancuran tidak mesti disertai
dendam, darah manusia tidak harus dibayar dengan darah manusia susulan,
dan Haji Bambang masih menjadi salah satu warga Kuta yang dihormati.

Bagi siapa saja yang punya kepekaan, mencatat kejadian ini di dalam hatinya,
mungkin akan membuka pintu-pintu renungan. Kebanyakan manusia hormat dan
cinta sekali dengan Tuhan yang ditemukan di masjid, gereja, vihara, konco,
dan pura. Sahabat Islam lima kali sehari shalat di masjid. Sahabat Nasrani
menyimpan tidak terhitung jumlah lagu-lagu pujian buat Tuhan, sahabat Buddha
bahkan bernamaskara kepada setiap patung Buddha. Orang Hindu memiliki
ratusan bahkan ribuan ritual untuk memuja Tuhan di pura.

Pertanyaannya kemudian, apabila penghormatan terhadap Tuhan di tempat ibadah
demikian khusyuknya, adakah sahabat yang juga melakukan penghormatan
khusyuk kepada Tuhan yang ada pada suami/istri, orang tua, putra/putri, 
tetangga,
atasan/bawahan, pemerintah, manusia lain, binatang, tetumbuhan serta wajah-
wajah Tuhan lainnya?

Banyak agama sepakat, Tuhan ada di mana-mana. Dalam bahasa Buddha, semua
memiliki sifat-sifat ke-Buddha-an. Kita semua boleh berbangga dengan
banyaknya sumbangan untuk membangun tempat ibadah, frekuensi sembahyang
yang tinggi di tempat ibadah. Namun, menyisakan pertanyaan, apakah 
penghormatan
manusia terhadap Tuhan di luar tempat ibadah sama khusyuknya?

Meminjam pendapat Dalai Lama, Tuhan adalah cinta kasih yang tidak terbatas.
Kalau ini pengertiannya, Haji Bambang, Nyoman Bagiana Karang, dkk telah
berjumpa Tuhan (baca: cinta kasih tidak terbatas), sekaligus menjadi bukti
bahwa dengan cinta kasihlah kebencian, kemarahan, dendam, ceceran darah
manusia akibat perang dan perkelahian bisa dihentikan sampai ke akar-akarnya
yang paling dalam.

Sebagai bahan pembanding, serangan teroris terhadap gedung kembar World
Trade Center, New York, 11 September 2001, telah diikuti oleh penyerangan
terhadap Afganistan dan Irak. Berapa peluru telah ditembakkan, berapa bom
telah diluncurkan, berapa pesawat tempur sudah dikerahkan, berapa kapal
perang serta tank sudah berada di belakang dendam dan pembalasan.
Sebagaimana sudah dicatat sejarah, belum ada tanda-tanda teroris sudah
kapok, belum ada tanda-tanda bahwa AS bersama sekutu-sekutunya puas
dengan dendam dan serangan. Yang paling penting, ketakutan umat manusia
di dunia terhadap serangan baru teroris tidak menurun.

Kuta memang hanya sebuah desa. Kuta juga bukan negara adikuasa. Kuta
kerap dituduh menggadaikan budaya untuk pariwisata. Namun, kejadian 12
Oktober 2002, ditambah juga bom Bali kedua yang terjadi di desa yang sama,
telah menjadi monumen kehidupan bahwa Kuta sudah memberikan pembanding
tentang bagaimana persoalan- persoalan kemanusiaan sebaiknya diselesaikan.

Lebih dari selesai, ia juga membuat Haji Bambang, Nyoman Bagiana Karang, dkk
berjumpa Tuhan. Ini sebabnya ketika ada wacana apa sebaiknya nama monumen
bom Bali, seorang sahabat memberi saran: monumen kemenangan Dharma
(hukum alam). Seperti memegang air, basah; memegang api, terbakar. Siapa
yang mengisi hidupnya dengan cinta kasih, kebahagiaan adalah hasil 
ikutannya.
Apabila kehidupan diisi oleh kemarahan, penderitaanlah buahnya.

Haji Bambang tidak saja selamat dari bom Kuta, bahkan dihadiahi sejumlah
penghargaan internasional. Nyoman Bagiana Karang tidak saja dianggap sebagai
Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kuta yang berhasil, sekarang malah
sudah jadi anggota DPRD Badung. Adapun para teroris, yang tertangkap serta
telah diputuskan hukumannya oleh pengadilan, kita sudah tahu sendiri
nasibnya di Nusa Kambangan. Pemerintah AS dan sekutu-sekutunya juga sudah
kita ketahui kerepotannya.

Dari seluruh cerita ini, bom Bali memang sudah memakan ongkos mahal.
Bukankah sayang sekali kalau kejadian yang memakan ongkos demikian mahal
kemudian menghilang terbang bersama waktu? Adakah sahabat-sahabat yang
terketuk hatinya kemudian membaca kalau model penyelesaian Kuta juga model
penyelesaian kita?

Gede Prama Penulis 22 buku, Bekerja di Jakarta, Tinggal di Desa Tajun, Bali
Utara




More information about the Marinir mailing list