[Marinir] Poso dan Elit Politik RANESI =>Tano H
Yap Hong Gie
ouwehoer at centrin.net.id
Fri Oct 27 08:52:02 CEST 2006
Ditahun 90an George Junus Aditjondro (GJA) sering melakukan propaganda
komunisme di internet dan majalah Progress Australia, yang menentang ABRI
dan Pemerintah Orde Baru, kemudian kabur ke Australia.
Sekarang setelah rezim berganti, dengan sponsornya Australi, GJA menjadi
tokoh contra-NKRI, yang mendukung setiap gerakan separatis.
Berbaju "crusader", Mr. GJA tidak pernah mencari solusi untuk perdamaian,
tetapi mensponsori Laskar Kristus, dimana "keadilan" yang diperjuangkan
sebenarnya adalah untuk melaksanakan Referendum, dengan tujuan akhir:
kemerdekaan bagi wilayah-wilayah tertentu, khususnya yang berpenduduk
Kristen.
Perhatikan track record-nya selama konflik Timor Timur, Ambon (RMS), Irian
Barat (Front PEPERA PB/OPM) dan sekarang dengan aksi "Poso Centre"-nya.
Jadi siapakah "white colour" terorisnya?
Wassalam, yhg.
--------------------
Poso dan Elit Politik RANESI
23-10-2006
Seorang laki-laki tertembak mati dalam kerusuhan yang kembali melanda Poso.
Dua
orang lainnya terluka. Menurut wakil presiden RI Jusuf Kalla, konflik di
Poso
sebenarnya bukan konflik komunal, tapi sisa-sisa radikalisme. George Junus
Aditjondro dari Poso Centre berpendapat ungkapan Jusuf Kalla ini sebenarnya
terlambat, dan sang wapres sendirilah yang diuntungkan dari konflik Poso.
Lebih
lanjut George Junus Aditjondro kepada Radio Nederland Wereldomroep.
Rakyat dan teroris
George Junus Aditjondro [GJA]: "Jusuf Kalla mestinya mengatakan itu lima
tahun
yang lalu. Sejak Malino 9 Desember tahun 2001, orang yang mengenal konflik
Poso
sudah tahu bahwa ini bukan lagi konflik antara komunitas Kristen dan
komunitas
Islam. Ini konflik antara rakyat dan teroris."
"Kan yang jadi sasaran adalah komunitas Kristen. Tapi komunitas Kristen juga
tidak melihat bahwa yang menyerang mereka atau berbagai tindakan penembakan
misterius dan lain-lain itu dilakukan oleh komunitas Islam. Mereka lebih
melihatnya itu sebagai tindakan orang-orang yang terlatih. Baik dari dalam
aparat sendiri, maupun orang-orang yang dilatih oleh unsur-unsur militer dan
polisi."
Ungkapan munafik
Radio Nederland Wereldomroep [RNW]: "Jadi ungkapan Jusuf Kalla sebenarnya
terlambat ya Pak?"
GJA: "Ya, dan itu hanya untuk mencuci dirinya. Sebab katakanlah ada
ketegangan
yang meningkat di Poso, dalam arti kemarahan kelompok komunitas Kristen.
Karena
orang yang sama sekali bukan pelaku utama konflik Poso, yaitu almarhum Tibo
dkk
dieksekusi dan yang ikut mendorong supaya cepat dieksekusi adalah Jusuf
Kalla
juga."
"Yang jelas dengan eskalasi ketegangan di Poso, yang untung juga Jusuf
Kalla.
Sebab dengan penambahan pasukan, yang untung adalah perusahaan keluarga
Jusuf
Kalla, Bukaka, yang sedang membangun sebuah PLTA yang sangat kontroversial
di
sana, yang berdampak terhadap desa-desa sepanjang sungai Poso. Jadi itu
ungkapan
yang agak munafik saya anggap."
Untung
RNW: "Kerusuhan di Poso tampaknya tidak kunjung berakhir. Apakah ini karena
pemerintah kurang berupaya atau lalai menangani masalah ini?"
GJA: "Kerusuhan di Poso sebenarnya justru menguntungkan segmen-segmen
tertentu
dalam pemerintah. Terutama angkatan bersenjata, baik polisi maupun militer.
Yang
dengan merdekanya Timor Leste, dan juga perdamaian di Aceh, kehilangan
ladang
latihan, tapi juga ladang tempat mencari tambahan pendapatan. Jadi yang
diuntungkan adalah faksi-faksi dalam militer dan polisi."
"Yang kedua yang juga diuntungkan adalah mereka yang kemudian juga ikut
mengkorup dana bantuan kemanusiaan. Dan itu tidak sedikit. Dalam kasus Poso
dari
200 milyar yang dicadangkan dari tahun 2000 sampai 2004, 2005 hanya
seperempat
yang kabarnya sampai ke pengungsi. Jadi ada korupsi setingkat 75 persen."
"Nah yang ketiga adalah perusahaan-perusahaan besar seperti kelompok Bukaka.
Dan
juga beberapa kelompok perusahaan lain yang diuntungkan dengan penempatan
pasukan sebanyak-banyaknya ke Sulewesi Tengah bagian Timur. Jadi karena ada
yang
diuntungkan maka tentu ini dilanjutkan."
Satu paket
"Yang lain juga adalah ucapan almarhum Munir bahwa Ambon dan Poso hanya
merupakan pemantik api untuk membakar jerami di Jawa. Jerami di Jawa adalah
kelompok-kelompok Islam radikal, dan kalau sampai misalnya ada imbas ke
kelompok
Islam di Poso, misalnya ada penyerangan terhadap ini, maka sebagian
pembalasan
terhadap orang Kristen atau gereja-gereja Kristen di Jawa, akan menaikkan
suhu
politik demikian tingginya, sehingga tentara akan ikut campur tangan secara
langsung. Dan dengan demikian usaha ke arah demiliterasi pemerintahan
Indonesia
dan supremasi sipilnya akan terganggu."
"Dengan kata lain almarhum Munir melihat bahwa Ambon, Poso dan kemudian
kerusuhan di Jawa merupakan satu paket. Dan berada di belakang paket juga
jaringan intelejen yang dulu dirintis oleh Hendro Priyono."
Bagian kecil
RNW: "Jadi konflik di Poso sebenarnya bagian kecil dari sesuatu yang lebih
besar
lagi?"
GJA: "Saya melihat konflik di Poso adalah bagian tindakan militer untuk
melepaskan urusan sipil kepada polisi. Sehingga dengan kegagalan sipil
mendamaikan Ambon, khususnya Poso dan Sulewesi Tengah, maka tentara bisa
mengatakan kami harus tetap ikut campur. Dan dengan demikian mementahkan
ketetapan MPR untuk memisahkan polisi dari ABRI."
"Dan ini masih kuat. Kuatnya kelompok yang ingin kembali ke supremasi
militer
sangat besar. Dan itu bisa dilihat dari ketegasan aparat militer untuk
melakukan
eksekusi terhadap almarhum Tibo dan juga untuk mengerahkan pasukan begitu
banyak, ribuan militer dan polisi di Sulewesi Tengah, dan Nusa Tenggara
Timur.
Jadi tidak kelihatan kemajuan di dalam usaha menegakkan demokrasi dan
supremasi
sipil. Tetapi justru yang terjadi sebaliknya."
Hak cipta Radio Nederland 2006
--------------------------------------------------------------------------------
I am using the free version of SPAMfighter for private users.
It has removed 843 spam emails to date.
Paying users do not have this message in their emails.
Try SPAMfighter for free now!
More information about the Marinir
mailing list