[Marinir] [gatra.com] Mesin Tempur Berjiwa Manusiawi
Yap Hong Gie
ouwehoer at centrin.net.id
Mon Jan 29 13:33:29 CET 2007
http://web.gatra.com/2005-11-21/majalah/beli.php?pil=23&id=90013
BUKU
Mesin Tempur Berjiwa Manusiawi
60 TH PENGABDIAN KORPS MARINIR;
Penulis: Mayor Laut Drs. Junaedi dkk.;
Penerbit: Dinas Penerangan Korps Marinir, 2005, 893 halaman
Senjata untuk musuh, cinta dan persahabatan sepenuhnya untuk rakyat.
Bertebaran kisah humanis.
Wajah kesatuan militer yang mengawal reformasi.
LIMA hari sudah para pengunjuk rasa menduduki Gedung MPR/DPR-RI, di kawasan
Senayan, Jakarta.
Di bawah temaram cahaya lilin, menggantikan lampu neon yang sengaja
dimatikan, beberapa pendemo berjaga di tiap pintu masuk.
Yang lain terlelap di lorong-lorong gedung.
Di balik pagar kantor wakil rakyat itu, satuan Pasukan Antihuru-hara Polri
dan Marinir terus berjaga.
Jarum jam menunjuk pukul 22.30 WIB. Tiba-tiba, puluhan anggota Kostrad
menerobos masuk.
Mereka datang melalui pintu kecil dekat masjid di samping gedung.
Dengan pengeras suara, komandan pasukan meminta para pegunjuk rasa segera
pergi meninggalkan gedung.
Belasan bis telah disiapkan di gerbang utama.
Para mahasiswa menolak evakuasi. Akibatnya, aksi perlawanan mereka dijawab
dengan kokangan senjata dan bentakan.
Suasana makin panas. Melihat itu, pimpinan Marinir di lapangan segera
berbicara dengan komandan Kostrad yang bertugas.
Untuk mencegah jatuhnya korban, pasukan baret hijau itu akhirnya mundur.
Sejak kejadian itu, di mata pendemo, Kostrad adalah momok, sebaliknya
Marinir adalah kawan.
Teriakan, "Hidup Marinir, Hidup Marinir," pun terdengar.
Wajah yang tadinya tegang kembali tenang. Setelah dibujuk, perlahan para
pendemo keluar dan menuju ke Universitas Katolik Atma Jaya.
Mahasiswa juga minta Marinir mengawal mereka. Pukul 02.30 semua bis mulai
bergerak.
Persahabatan dan kerja yang tulus melahirkan ikatan batin yang kuat antara
marinir dengan masyarakat dan mahasiswa.
Secara spontan, di halaman gedung Grahadi Surabaya tanggal 25 Mei 1998
sekelompok masyarakat yang terdiri dari aktivis mahasiswa, LSM, pengacara,
dan wartawan di Surabaya mengucapkan terima kasih.
Rasa simpati itu berwujud foto ukuran 20R yang melukiskan seorang Marinir
yang tengah dipanggul mahasiswa dalam sebuah aksi proreformasi di Jakarta.
Secara simbolis, foto itu diserahkan kepada satuan Marinir. "Kehadiran
Marinir membawa ketenangan," kata Pieter A. Rohi, mewakili rekan-rekannya,
waktu itu.
Sejak reformasi pecah, bangsa Indonesia terus dilanda ketidakstabilan
politik. Konflik horizontal makin besar dan meluas.
Dalam suasana itu, Marinir menunjukkan jati dirinya, berjuang membela
kepentingan rakyat. Di Jasilo, Maluku, korps baret ungu ini secara aktif
mendorong terjadinya rekonsiliasi damai antara kelompok putih (Islam) dan
merah (Kristen).
Hingga, meski baru sebulan bertugas, Kolonel (Marinir) Alfan Baharudin,
diminta pimpinan kedua kelompok untuk memegang kendali Komandan Sektor II
Maluku Utara.
Selain menengahi konflik, prajurit Marinir juga terlibat dalam berbagai aksi
sosial, mulai Operasi Bhakti dan ABRI Masuk Desa sampai membantu musibah
nasional akibat tsunami.
Meski tampak bersahabat, Korps Marinir tetaplah satuan prajurit tempur
andal. Mereka dilatih dan dilengkapi kemampuan komando sebagai pasukan
pendarat dalam operasi amfibi.
Secara perorangan maupun satuan, Marinir mampu bergerak cepat, agresif,
trengginas, dan rahasia di segala medan operasi.
Untuk menjaga kedaulatan negara, Marinir hadir mengamankan pulau-pulau kecil
di garis depan, seperti di Kepulauan Natuna, Sangir Talaud, Bunyu, dan
Sebatik.
Di tingkat internasional, di bawah bendera PBB, prajurit Marinir juga ambil
bagian Kontingen Garuda.
Semua rekaman dan pengalaman prajurit Marinir itu terdapat dalam buku ini.
Ulasan yang disusun secara komprehensif dan runtut menjadi salah satu alasan
mengapa buku ini tetap menarik untuk dibaca.
Buku setebal hampir empat sentimeter ini juga memuat foto peristiwa yang
eksklusif. Kisah-kisah humanis di balik tampang keras prajurit ikut
menghiasi buku ini.
Marinir resmi berdiri di Pangkalan IV Laut Tegal pada 15 November 1945
dengan nama Corps Mariniers.
Kala itu, anggotanya terdiri dari nelayan, guru, lulusan akademi pelayaran,
mantan angkatan laut Belanda dan KNIL, serta bekas anggota Kaigun Heiho.
Hari itu pun ditetapkan sebagai Hari Lahir Marinir.
Pada 9 Oktober 1948, berdasarkan Keputusan Menteri Pertahanan, Corps
Mariniers berubah nama menjadi Korps Komando Angkatan Laut (KKO AL).
Namun, pada 15 November 1975, berdasarkan keputusan Kepala Staf Angkatan
Laut, korps ini kembali menggunakan nama Marinir.
Jalesu Bhumyamca Jayamahe!
Alexander Wibisono
More information about the Marinir
mailing list