[Marinir] Memandang Pak Harto dari Luar

Yap Hong Gie ouwehoer at centrin.net.id
Thu Jan 31 05:46:35 CET 2008


----- Original Message ----- 
From: imamedy imamedy
To: Yap Hong Gie
Sent: Thursday, January 31, 2008 6:26 AM
Subject: Re: Selamat Jalan Pak Harto, Jasamu Akan Selalu Dikenang....

Memandang Pak Harto dari Luar

Berita meninggalnya Pak Harto betul-betul menjadi headline, bukan hanya di
Indonesia namun juga di luar negeri. Kalau kit a baca pada beberapa situs
Koran seperti Washington Post, New York Post, atau Yahoo, semua mengulas
dan hampir sama beritanya. Pada intinya mereka menuliskan Pak Harto yang
menjadi diktator selama 32 tahun.
Semua seirama, memang sudah irama dunia saat ini, siapa bisa mengatur?

Yang menarik adalah dari perbincangan serius dengan rekan-rekan yang
mendalami hubungan internasional, strategis maupun sejarah.
Pernyataan yang mereka keluarkan bisa berbeda. Secara strategis, diakui pak
Harto sangat peka membaca tanda-tanda zaman, paling tidak mulai ?65 hingga
berakhirnya perang dingin.
Setelah perang dingin selesai, dan agenda dunia berubah, Pak Harto karena
terlena oleh keberhasilan pembangunan Indonesia, kurang peka melihat arah
angin bertiup.
Hal ini tampak manakala Madeline Albright selaku Dubes AS di PBB sekitar
tahun 1991 mulai melancarkan tema baru yaitu demokratisasi dan pasar bebas
dalam suatu ceramah di Austria, hingga kunjungan Clinton di Bogor 1994 untuk
acara APEC. Tema itulah yang selanjutnya menjadi acuan seluruh dunia, baik
berlangsung secara damai atau kekerasan.
Damai artinya proses demokratisasi berjalan mulus, setengah mulus, hingga
perang untuk melengserkan penguasa yang dianggap durjana. Ingat kasus
Bosnia, Somalia, Kamboja hingga Irak dan Afganistan?

Ada suatu keyakinan yang sangat mendalam di dalam diri para pemimpin barat,
bahwa hanya demorasi yang bisa menyelamatkan dunia dari kekacauan (demokrasi
liberal ), selain itu hanya pasar bebas yang bisa mengatur ekonomi dunia,
bukan sosial atau pasar dengan campur tangan negara. Ini semua bersumber
dari thesis Francis Fukuyama dalam bukunya yang monumental, the end of
history, dan menjadi Bible baru bagi para penguasa.
Banyak yang tidak setuju dengan pandangan itu, namun apa daya, semua harus
menyesuaikan dengan irama dunia. Salah satu yang konsisten menentang
pandangan itu adalah Hernando de Soto, ahli ekonomi dari Peru, dengan
pandangan ekonominya yang agak nyeleneh. Bukunya yang terkenal The Mystery
of Capital: Why Capitalism Triumphs in the West and Fails Everywhere Else.
Karena kegigihannya, akhirnya beberapa konsep de Soto diterima di berbagai
dunia dan termasuk juga dikagumi para pimpinan negara.

Pak Harto yang memandang dunia dengan kacamata perang dingin sudah tak
sesuai untuk memimpin. Maka mulailah berbagai gelombang gejolak muncul di
Indonesia.
Keberhasilan reformasi di Indonesia, hendaknya juga dilihat dari konstelasi
dunia yang ada saat itu.  Jadi, menurut pandangan teman-teman dalam diskusi
di luar, kejatuhan pak Harto bukan hanya karena dunia luar menganggap sudah
tak sesuai, namun juga karena keberhasilan yang diciptakan dalam pendidikan
dan ekonomi memang menuntut suatu keadaan yang sudah tak dapat diberikan
lagi oleh pak Harto. Kata mereka, the victim of his own success.

Jadi, sangat penting untuk diingat bahwa setiap pemimpin ada jamannya dan
setiap jaman ada pemimpinnya. Selamat jalan Pak Harto.

Leaders are Readers




---------- Forwarded message ----------
From: Ronald Lumban Tobing
Date: Jan 29, 2008 4:13 PM
Subject: Selamat Jalan Jendral....
To: Group AA <mainegroupe at yahoo.com>

Selamat Jalan Jendral..........

Ada saatnya nanti kita berjumpa lagi dikehidupan yang lain.....

Walau diakhir perjalananmu ada salah, namun tetap kukenang yang terbaik yang
pernah kau berikan.

Walau banyak teman2 dekatmu meninggalkan engkau, namun aku tetap melihat
sosok mu.....

" The Smiling General"

With aLL Luv

>>Ronald L Tobing



More information about the Marinir mailing list