[Marinir] [Kompas] Langkah Pembenahan di Tubuh TNI Berlanjut

Yap Hong Gie ouwehoer at centrin.net.id
Sat Jun 28 15:54:33 CEST 2008


Yang menarik menghiasi artikel dikompas ini adalah foto Panglima TNI Djoko 
Santoso melakukan "Salam Komando" bersama para perwira tinggi dari ketiga 
matra dan dengan Kapolri Jendral Sutanto, yang kesemuanya memakai loreng 
Kopassus, di Markas Komando Kopassus Cijantung, Jakarta 30 January 2008.

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/06/27/02322965/langkah.pembenahan.di.tubuh.tni.berlanjut

Sabtu, 28 Juni 2008
Langkah Pembenahan di Tubuh TNI Berlanjut
Jumat, 27 Juni 2008 | 02:32 WIB
Oleh F Djoko Poerwoko

Di tengah kegamangan dan kecurigaan masyarakat tentang reformasi internal 
TNI, pasti tapi jelas langkah pembenahan diri di tubuh TNI terus berlanjut. 
Meski langkah itu sendiri kadang mengundang kecurigaan di masyarakat, sebut 
saja sebagai contoh pengangkatan pejabat sementara gubernur Sulawesi Selatan 
atau beberapa perwira TNI yang masuk dalam bursa pemilihan kepala daerah.

Tapi semua itu akan terjawab bagaimana upaya TNI untuk tidak melanggar 
rambu-rambu yang disepakati, yaitu dilengkapinya persyaratan administrasi.

Di balik itu semua seperti yang diamanahkan dalam Undang-Undang Nomor 34 
Tahun 2004 tentang Jabatan Panglima TNI, semenjak diangkatnya Laksamana 
Widodo AS sebagai Panglima TNI (2001) langkah pasti itu terus berlanjut. 
Langkah ini telah dijalankan meskipun UU TNI masih dalam konsep kala itu. 
Ini sekadar contoh bahwa reformasi internal TNI telah dijalankan tanpa 
tekanan dari luar semenjak gelombang reformasi bergulir di negeri ini.

Jabatan Panglima TNI yang sejak dulu selalu didominasi perwira tinggi matra 
darat kali ini dijabat ketiga matra secara bergantian. Bergantian yang 
diterjemahkan secara adil ini dapat divisualisasikan dalam bentuk grafik 
sinusoida. Setidaknya grafik dari Joseph Fourtier (1822) ini lebih 
memvisualisasikan secara proporsional dengan pola matra 
darat-laut-darat-udara-darat dan nantinya kembali ke laut.

Setelah Djoko

Dengan demikian, setelah Jenderal TNI Djoko Santoso yang akan pensiun pada 
September 2010, maka pola ini berulang lagi dengan jabatan Panglima TNI akan 
berasal dari matra laut. Semua ini mengacu pada UU No 34/2004 yang telah 
diundangkan pada 16 Oktober 2004 di mana jabatan Panglima TNI dapat dijabat 
secara bergantian oleh perwira tinggi aktif dari tiap-tiap angkatan yang 
sedang atau pernah menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan (dengan batas umur 
sampai 58 tahun).

Peluang sebagai Panglima TNI tahun 2010 terbuka bagi matra laut bila kita 
sepakat bahwa pola sinusoida secara tertibdijalankan dan dipatuhi.

Dengan demikian, siapa pun pengganti Laksamana TNI Sumardjono (pensiun Juli 
2008) nantinya mempunyai peluang yang besar menjabat sebagai Panglima TNI.

Saat ini di lingkungan TNI AL ada tiga pati berbintang tiga. Mereka Laksdya 
TNI Tedjo Edhy Purdijatno (Kasum TNI), Laksdya TNI Y Didik Heru Purnomo 
(Wakil KSAL), dan Letjen (Mar) Safzen Noerdin (Irjen Dephan). Yang disebut 
terakhir berpeluang kecil menjadi KSAL karena yang bersangkutan berasal dari 
Korps Marinir dan belum perpah menjabat selaku Panglima Armada. Meski masih 
berbintang dua peluang justru dimiliki Laksda TNI Muchlis Sidik, kini 
Asisten Operasi KSAL.

Dengan demikian Tedjo, Didik, dan Muchlis sama-sama mempunyai peluang 
memimpin TNI AL karena sama-sama pernah menjadi Panglima Armada, persyaratan 
kultural matra laut.

Jika menilik faktor usia, Laksdya TNI Didik mempunyai peluang besar jadi 
orang nomor satu di TNI karena ia baru akan pensiun pada April 2012, 
sedangkan Laksdya TNI Tedjo Edy (September 2010), dan Laksda TNI Muchlis 
Sidik pensiun Juli 2011 meskipun dari angkatan yang lebih muda, yaitu 
alumnus AAL 1977.

Pola trimatra

Selain itu, masih ada beberapa ketentuan lain yang telah dijalankan dalam 
tubuh TNI meskipun tidak diatur secara tertulis.

Seperti sudah menjadi kesepakatan antarangkatan bahwa jabatan Kepala Staf 
Umum TNI (orang kedua di TNI) dijabat oleh perwira tinggi yang tidak berasal 
dari satu matra dengan Panglima TNI. Jadi kalau panglimanya dari AD seperti 
saat ini, pasti kepala staf umum (kasum)-nya bukan dari AD. Ini terlihat 
kenapa Laksdya TNI Tedjo Edy (AL) hanya sebentar menjabat Komandan Sesko TNI 
dan langsung dialihkan menjadi Kasum menggantikan Letjen TNI Erwin yang 
pensiun. Atau contoh lain, kenapa jabatan Irjen Dephan dibiarkan kosong lama 
setelah Laksdya TNI Sumardjono (AL) diangkat menjadi KSAL menggantikan 
Laksamana TNI Slamet Subianto.

Masih ada kesepakatan lain yang cukup unik, yaitu dibaginya jabatan bintang 
tiga, baik di dalam maupun di luar TNI dengan pola trimatra. Jabatan bintang 
tiga yang disepakati (lingkungan Mabes TNI) yaitu Kasum TNI, Irjen TNI, 
serta Komandan Sesko TNI. Adapun di luar struktur TNI adalah Sekjen Dephan, 
Irjen Dephan, dan Wakil Gubernur Lemhannas.

Dengan diberlakukannya Perpres No 99/2007, yang memutuskan dikeluarkannya 
organisasi Basarnas dari Dephub dan langsung di bawah Presiden, pun telah 
diantisipasi TNI dengan bijaksana. Kesempatan jabatan bintang tiga lainnya 
telah terbuka, yaitu untuk Sekretaris Menko Polhukam, Sekjen Wantannas, 
Kepala Bakorkamla, serta Kepala Basarnas juga akan terbagi dengan adil ke 
matra darat, laut, dan udara.

Sudah tertata

Dengan selesainya Marsdya TNI Toto Riyanto (pensiun Mei 2008) sebagai Wagub 
Lemhannas dan penggantinya juga dari matra udara, jabatan bintang tiga di 
luar struktur TNI saat ini adalah Sekjen Dephan (AD), Irjen TNI (AL), dan 
Wagub Lemhannas (AU). Terlihat juga jabatan di dalam struktur TNI saat ini, 
yaitu Kasum TNI (AL), Irjen TNI (AD), serta Komandan Sesko TNI (AU). Pola 
ini telah dijalankan beberapa periode sebelumnya, yang menggambarkan 
terjadinya perubahan besar dalam pengertian intergative TNI.

Patut diapresiasi bahwa para pejabat TNI telah meletakkan dasar pembinaan 
internal TNI yang jelas dan transparan. Seperti halnya Peraturan Panglima 
TNI No 44/2007 (19 Desember 2007) yang ditandatangani Marsekal Djoko Suyanto 
saat menjabat sebagai Panglima TNI, yaitu mengubah sebutan asisten dalam 
jajaran TNI, kecuali untuk Asrenum (Perencanaan Umum) dan Irjen TNI.

Tadinya para Asisten berada dalam koordinasi Kasum, sehingga sebutannya 
adalah Asisten Kasum bermakna meng- "asisten"-i Kasum. Kali ini sebutan 
tersebut berumah menjadi Asisten Panglima TNI yang bermakna para asisten 
berada langsung dan bertanggung jawab kepada Panglima TNI, sedangkan Kasum 
TNI hanya sebagai koordinator dalam tugas keseharian.

Komposisi tujuh Asisten Panglima TNI beserta Wakil Asisten saat ini pun 
sudah terbagi dalam trimatra secara seimbang, setiap matra mempunyai 
kontribusi yang sama. Setidaknya struktur (baru) ini akan terlihat lebih 
efektif setelah digelar Latihan Gabungan TNI Juni 2008 dengan sandi "Yudha 
Siaga", sebuah gelar pasukan terbesar dalam kurun waktu 12 tahun terakhir.
F Djoko Poerwoko Pemerhati Militer
© 2008 Kompas Gramedia. All rights reserved 



More information about the Marinir mailing list