[Marinir] Selamat Hari Raya Nyepi, Tahun Baru Saka 1930
Yap Hong Gie
ouwehoer at centrin.net.id
Fri Mar 7 17:08:38 CET 2008
Selamat Hari Raya Nyepi, Tahun Baru Saka 1930!
http://www.gatra.com/artikel.php?id=112827
Hari Raya Nyepi
Bali Bagai Pulau `Mati`
Denpasar, 7 Maret 2008 15:02
Pulau Bali terdiri delapan kabupaten dan satu kota dihuni 3,2 juta jiwa
serta ribuan wisatawan mancanegara yang berlibur, sejak Jum`at pagi (7/3)
tampak sepi dan terasa hening, bertepatan umat Hindu menunaikan `tapa brata
penyepian`.
Kawasan Kota Denpasar, seperti sekitar Jl Gatot Subroto-Lapangan Lumintang,
tempat-tempat wisata dan pusat perekonomian lainnya yang sehari-hari
diwarnai kemacetan lalu lintas, berubah total menjadi sunyi senyap, bagaikan
pulau `mati` tanpa penghuni.
Umat Hindu "mengurung" diri melaksanakan empat pantangan sambil melakukan
introspeksi diri selama 24 jam sejak pukul 06.00 Wita sebelum matahari
terbit hingga terbit kembali keesokan harinya, Sabtu pagi.
Ibadah tapa brata penyepian yang wajib dilaksanakan umat Hindu pada
peralihan tahun saka dari 1929 ke 1930 itu meliputi amati karya (tidak
bekerja), amati geni (tidak menyalakan api), amati Lelungaan (tidak
bepergian) dan amati Lelanguan (tidak mengumbar hawa nafsu/mengadakan
hiburan).
Karena tidak boleh keluar rumah maupun hotel, tim wartawan ANTARA melakukan
pemantauan dari kantor dan rumah di Denpasar serta dari kampung halaman
masing-masing yang tersebar di Pulau Dewata melalui sarana telepon.
Laoporan dihimpun dari sejumlah lokasi di kota Denpasar, daerah pedesaan di
Kecamatan Marga, Kabupaten Tabanan, Desa Payangan, Desa Bitra Kabupaten
Gianyar dan sejumlah Desa di Kecamatan Rendang, Kabupaten Karangasem.
Tidak terlihat aktivitas di luar rumah, kecuali hanya terdengar suara alam
kicauan burung dan aneka satwa seperti kokok ayam serta bunyi pepohonan yang
diterpa angin.
Di berbagai kawasan sejak pagi benar-benar terasa hening, dengan pancaran
sinar matahari yang juga redup, seakan sang surya ikut "bertapa" dengan
mengurangi kekuatan pancarannya.
Di Komplek Perumnas Monang-Maning Denpasar yang dihuni sekitar 2.500 kepala
keluarga berasal dari berbagai etnis di Nusantara, warga menunjukkan
toleransi tinggi menghormati Hari Raya Suci Nyepi.
Sepanjang jalan dan gang-gang tampak sepi, kecuali hanya beberapa pecalang
(petugas keamanan desa adat) yang berjaga di ujung gang dan perempatan
jalan.
Pemandangan serupa juga terjadi hampir di seluruh pelosok Pulau Dewata,
termasuk kawasan wisata Kuta, Nusa Dua, Sanur, dan kawasan wisata lainnya,
yang hanya dapat dipantau melalui komunikasi telepon.
Wisatawan mancanegara yang kebetulan maupun sengaja menikmati liburan di
Bali bertepatan tapa brata penyepian ini, hanya diperkenankan melakukan
aktivitas di dalam kawasan hotel.
Deretan sejumlah hotel berbintang di Pantai Kuta dengan tingkat hunian yang
cukup menggembirakan juga memberlakukan ketentuan bagi wisman secara ketat,
sehingga pantai yang sehari-hari ramai sebagai tempat berjemur sambil
menikmati deburan ombak juga sunyi senyap.
Pantai berpasir putih sepanjang enam kilometer itu bebas dari kunjungan
wisman, hanya terdengar deburan ombak dan tiupan angin serta kicauan burung.
Demikian pula umat lain dari non Hindu yang selama ini hidup rukun dan
berdampingan satu sama lain, pada hari yang "diistimewakan" itu sangat
menghormati umat Hindu melaksanakan "Tapa Brata Penyepian".
Nyepi yang jatuh bertepatan hari Jum`at, saat umat Islam melaksanakan shalat
Jum`at tidak terpengaruh, karena mereka tetap diijinkan melakukan ibadah
wajib itu seperti biasanya.
Hal itu sesuai seruan bersama Gubernur Bali Dewa Beratha dan seluruh lembaga
umat beragama di Bali untuk mematuhi dan menghormati Catur Brata Penyepian.
Umat Islam diimbau melaksanakan shalat Jum`at di masjid terdekat dari tempat
tinggal dengan berjalan kaki. Bagi mereka yang tinggalnya jauh dari masjid
dan mushala diimbau melaksanakan shalat dengan menggunakan fasilitas atau
tempat lain yang ada di lingkungannya setelah dimusyawarahkan dengan aparat
desa, lurah setempat. [EL, Ant]
More information about the Marinir
mailing list