[Marinir] Bangau Pengembara Sjamsul Nursalim
Yap Hong Gie
ouwehoer at centrin.net.id
Sat Mar 22 08:44:07 CET 2008
Tulisan yang saya kutip dari majalah mingguan Forum Keadilan No.45, 17 Maret
2008, akan mengundang reaksi dari pihak-pihak yang kurang senang kalau
etnis/rasnya dikritik.
Apakah tulisan ini dianggap rasis atau bukan tapi inilah suatu
kenyataannya....
Seperti pepatah orang seberang YANG mengatakan "Truth Hurts".
Analisis FORUM
"Bangau Pengembara Sjamsul Nursalim"
Priyono B. Sumbogo.
Pepatah berkata "setinggi-tingginya bangau terbang, pasti akan kembali ke
sarangnya". Karakter bangau adalah terbang sejauh-jauhnya, namun tetap rindu
pada sarang dan akan kembali ke kampung halamannya.
Manusia adalah ibarat bangau. Di mana saja dan dari mana saja, manusia
selalu merindukan tanah leluhurnya. Dengan indah Bu Sud melukiskan kodrat
manusia dalam tembang Tanah Airku.
Tanah Airku tidak kulupakan
Kan terkenang selama hidupku
Biarpun saya pergi jauh
Tidak kan hilang dalam kalbu
Tanah ku yang kucintai
Engkau kuhargai
Walaupun banyak negri kujalani
Yang mashyur permai dikata orang
Tetapi kampung dan rumahku
Di sanalah kurasa senang
Tanahku tak kulupakan
Engkau kubanggakan
Lagu itu untuk menggambarkan perasaan orang Indonesia yang merantau ke
negeri orang. Walaupun disana bergelimang kemakmuran, namun hatinya tetap
berada di kampung halamannya. Walaupun rumah dari dinding bambu dan atap
rumbia, namun tetap lebih nyaman daripada gedung bertingkat di perantauan.
Suatu hari semua perantau ingin pulang, membawa seluruh hasil jerih payah,
mati dan dimakamkan di tanah leluhur.
Tetapi Indonesia bukan tempat leluhur Sjamsul Nursalim. Walaupun memakai
nama Sjamsul Nursalim, darah Sjamsul bukan darah orang Indonesia. Walaupun
sudah lama di sii, dan mungkin lahir di sini, hatinya tetap di sana, nun
jauh di seberang. Ia terbang ke sini, berputar-putar di angkasa. Menukik.
Hinggap di danau. Mematuki ikan-ikan sambil membuang kotoran. Suatu hari ia
akan terbang kembali ke sarangnya, karena di sanalah ia merasa senang. Dan
itu sudah ia lakukan. Walaupun kehadiran sang bangu membawa keindahan dan
mendatangkan pesona, namun ia juga meninggalkan bulu-bulu yang rontok dan
kotoran di perantauan. Kotoran itu ada di kejaksaan, di kantor pengacara, di
partai politik, di media massa, dan di mana-mana.
Sebagaimana orang Indonesia yang dianggap tidak memiliki integritas terhadap
negri tempatnya merantau, Sjamsul Nursalim pun tidak bisa diharapkan akan
menyerahkan segenap hati dan raganya untuk Indonesia. Ia tidak akan pernah
mencintai negri ini. Ia tidak akan rela mati untuk Indonesia. Ia tidak akan
merasa bersalah kendati melakuka beribu kesalahan yang mencelakai penduduk
se-negara. Sebab ia hanya perantau. Cintanya ada si sana. Di tanah
leluhurnya. Di kampung dan rumahnya.
Sjamsul berbeda dengan Tommy Soeharto, Tutut, atau Bakrie Group. Meskipun
mereka terbang jauh apabila dikejar, mereka akan tetap pulang ke kampung
kelahirannya. Mereka tetap mati di sini. Terlebih Tommy atau Tutut. Mereka
pasti ingin dimakamkan di Astana Giri Bangun, berdampingan dengan ibu dan
bapaknya. Seburuk-buruknya Tommy dan Tutut mereka akan lebih mencintai
Indonesia daripada Sjamsul Nursalim atau pengusaha-pengusaha yang mencari
makan di sini lalu kabur ke seberang laut.
Rasiskah cara berpikir seperti ini ? bukan. Ini bukan soal rasis atau
perbedaan warna kulit. Bukan pula soal pribumi atau etnis Cina. Ini perkara
kodrat manusia yang selalu merindukan dan mencintai kampung halamannya.
Siapapun yang mencintai kampung halamannya, menghargai tempat kelahirannya,
bersedia dihukum di negrinya bila bersalah, dan ingin mati untuk tanah
airnya, maka dia adalah pribumi.
Bob Hasan yang bersedia dipenjara di Nusakambangan dan Tomy Winata yang
datang ke kepolisian untuk diperiksa, adalah etnis Cina yang mungkin telah
menjadi pribumi. Keduanya jauh lebih baik dari Sjamsul Nursalim yang kabur
dan meninggalkan kotoran seperti jaksa penyidik Urip Tri Gunawan. Bob Hasan
dan Tomy Winata juga lebih baik daripada Soekanto Tanoto yang kabur
meninggalkan kotoran seperti Eduard Depari atau Debra Yatim - corong dan
centeng Sukanto- yang memecah belah pers dan akademisi.
Di negri ini diperkirakan ada 15juta etnis Cina, jauh lebih banyak daripada
Malaysia atau Singpura. Agar menjadi pribumi, mereka haruslah mencintai
negri ini dan ingin mati disini, bercengkrama serta berbagi secara setara
dengan waarga berkulit sawo matang dan hitam.
Tapi bila mereka hanya ingin menjadi bangau pengembara, suatu hari mereka
akan diusir dari sini. Bila mereka hanya makan di sini, memenuhi kampung
orang, dan membuang kotoran di sini, suatu hari nanti Tragedi Mei 1998 akan
terulang. Lebih dasyat, lebih kejam dan lebih luas.
Hari itu tembang Tanah Airku karya Ibu Sud, akan ditambah satu bait:
Tanah airku tidak kulupakan
Kan kubela sampai nanti
Biarpun saya sendirian
Tidak kan gentar lawan kamu semua
Kampung ku yang kucintai
Engkau kan kujuga.
Forum Keadilan No.45, 17 Maret 2008.
More information about the Marinir
mailing list