<P>
<TABLE cellSpacing=0 cellPadding=0 width="100%" border=0>
<TBODY>
<TR>
<TD width="100%" bgColor=#ffffff><FONT class=option><B><B>Selasa, 20 April 2004</B><BR><A href="http://www.dephan.go.id/modules.php?name=News&file=categories&op=newindex&catid=3"><FONT class=storycat>Berita</FONT></A>: TNI Bantah Latih Milisi Sipil untuk Lawan GAM</B></FONT></TD></TR>
<TR>
<TD bgColor=#ffffff colSpan=2><BR>
<TABLE width="98%" align=center border=0>
<TBODY>
<TR>
<TD><A href="http://www.dephan.go.id/modules.php?name=News&new_topic=3"><IMG alt="Berita Umum" src="http://www.dephan.go.id/images/topics/blue_ball.gif" align=right border=0></A><FONT class=content>Pihak TNI membantah melatih milisi sipil guna menghadapi Gerakan Aceh Merdeka (GAM). TNI hanya melatih Pam Swakarsa untuk pengamanan lingkungan. Hal itu menanggapi tudingan sejumlah LSM bahwa TNI mempersenjatai rakyat sipil untuk menghadang gerakan separatis. <BR><BR>“Itu bukan milisi seperti di Timtim, tapi dalam bentuk siskamling. Soal TNI melatih dan lain-lain, dalam UU memang diatur warga negara untuk berlatih bela negara. Makanya jangan disebut milisi. Dalam UU disebut rakyat terlatih dan itu sebenarnya dibentuk dan direkrut oleh pemerintah,” kata Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen Sjafrie Sjamsoeddin di Jakarta, Senin (19/4/2004) malam. <BR><BR>Menurut Sjafrie, status darurat militer di Aceh memberikan peluang buat pemerintah daerah selaku penguasa darurat militer
daerah untuk membentuk rakyat terlatih. “Jadi TNI hanya digunakan sebagai pelatih saja,” imbuhnya. <BR><BR>Mengenai nama Front Perlawanan Rakyat, dijelaskan mantan Pangdam Jaya itu, dalam UU hanya disebut sebagai rakyat terlatih. Dengan demikian, jika status darurat militer sudah dicabut, maka mereka akan kembali menjadi rakyat biasa. <BR><BR>Sjafrie menyebut, mereka tidak direkrut oleh TNI, melainkan atas kesadaran pribadi untuk membela negara. Mereka juga tidak dipersenjatai kecuali alat-alat untuk siskamling. “Kalau wilayah itu diserang tetap saja aparat teritorial yang akan melaksanakan tugasnya untuk menghadapi kelompok yang melakukan penyerangan. Rakyat terlatih ini tidak dimobilisasi, karena bukan kombatan,” jelasnya. <BR><BR>Dalam pandangan Sjafrie, lahirnya rakyat terlatih semacam itu sangat wajar. “Lahirnya FPR wajar untuk membela negara karena di satu sisi ada kelompok yang ingin berontak dan di sisi lain ada pihak yang ingin melawan pemberontakan. Itu wajar,” kata dia.
<BR><BR>Sementara, mengenai evaluasi darurat militer, kemungkinan awal Mei mendatang, Panglima TNI akan memberi penjelasan secara rinci mengenai pelaksanaan darurat militer di Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Soal darurat militer dicabut atau tidak, atau diubah menjadi darurat sipil, TNI tetap concern untuk menghadapi GAM. <BR><BR>“Saat ini kekuatan GAM, baik personel maupun senjata, sudah berhasil direduksi sekitar 60 persen, 40 persen lagi tidak boleh kita anggap remeh. Kalau tidak diselesaikan secara tuntas akan menjadi potensi situasi yang terbalik dan ini perlu dipertimbangkan kontinuitasnya,” demikian Sjafrie Sjamsoeddin. <BR><BR></FONT></TD></TR></TBODY></TABLE></TD></TR></TBODY></TABLE></P><p>
                <hr size=1><font face=arial size=-1>Do you Yahoo!?<br>
Yahoo! Photos: <a href="http://pa.yahoo.com/*http://us.rd.yahoo.com/evt=23765/*http://photos.yahoo.c
om/ph/print_splash">High-quality 4x6 digital prints for 25˘</a>