<!DOCTYPE HTML PUBLIC "-//W3C//DTD HTML 4.0 Transitional//EN">
<HTML><HEAD>
<META http-equiv=Content-Type content="text/html; charset=iso-8859-1">
<META content="MSHTML 6.00.2900.3086" name=GENERATOR>
<STYLE></STYLE>
</HEAD>
<BODY bgColor=#ffffff>
<DIV><FONT face=Arial size=2><A
href="http://www.kaskus.us/showthread.php?t=288061">http://www.kaskus.us/showthread.php?t=288061</A></FONT></DIV>
<DIV><FONT face=Arial size=2></FONT> </DIV>
<DIV>18-03-2006, 01:36 AM</DIV>
<DIV><FONT face=Arial size=2></FONT> </DIV>
<DIV>
<DIV class=posttop>
<DIV class=username><FONT face=Arial size=2></FONT> </DIV></DIV></DIV>
<DIV>Tidak terbayangkan sebelumnya, bahwaTuhan mentakdirkan anggota Kompi X yang
berasal dari Lembaga Pendidikan Marinir di Surabaya suatu saat harus
memperingati hari kemerdekaan di tengah hutan Kalimantan. </DIV>
<DIV>Tetapi itulah kehidupan manusia, ada “kekuatan” yang menentukan jalan hidup
masing-masing umatnya. </DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Kami para pelatih dan pembantu pelatih yang biasanya memperingati hari
besar di tengah kota Surabaya atau di medan latihan tempur Purboyo di daerah
Malang selatan, sekarang harus melaksanakan tugas operasi di hulu S.Siglayan
Kalimantan Timur bagian utara dekat dengan wilayah Malaysia, Sabah.</DIV>
<DIV>Sebagai seorang Komandan, saya merasakan situasi kegamangan dan kesedihan
yang cukup menekan perasaan, karena dalam kondisi yang jauh dari kesatuan induk,
berada di lokasi yang sangat terpencil dan terpisah dari kesatuan lainnya, harus
mampu menegakkan disiplin dan sekaligus memelihara semangat tempur dalam kondisi
yang serba terbatas, kalau tidak mau menyebut sebagai serba kekurangan. </DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Di tempat ini kami sudah bertugas selama tiga bulan lebih, dan sebelumnya
bertugas di pulau Nunukan sejak Desember 1965.<BR>Saya tahu kalau saat seperti
ini khususnya menjelang 17 Agustus, anak buah tentu sedang membayangkan upacara
besar ini di Jakarta atau Surabaya. </DIV>
<DIV>Tetapi kesedihan ini tidak lama saya rasakan, karena kemudian Tuhan telah
mengubah dan memberi petunjuk, agar saya tidak larut dalam kebimbangan. </DIV>
<DIV>Kondisi seperti ini justru merupakan tantangan bagi seorang komandan, agar
menjadi tegar dan bagaimana seharusnya dapat memanfaatkan situasi dan kondisi
yang mencekam ini dapat diubah menjadi situasi yang menyenangkan. </DIV>
<DIV>Dan yang lebih penting, adalah bagaimana mengembalikan semangat anak buah
yang mulai melemah, karena jenuh dalam lingkungan hutan yang sepi, agar mereka
dapat bergairah lagi menghadapi kenyataan hidup, timbul kembali semangatnya yang
baru serta tetap tegar menghadapi kondisi saat itu. </DIV>
<DIV>Saya mempunyai keyakinan bahwa Tuhan telah memberikan petunjuk yang cukup
jelas, dengan menunjukkan cara-cara bagaimana membangun kembali semangat tempur
anggota marinir sebagai pasukan yang memiliki motto “pantang mundur mati sudah
ukur “</DIV>
<DIV> </DIV><FONT face=Arial size=2></FONT>
<DIV><BR>Situasi politik pada awal dan pertengahan tahun “60-an dipenuhi udara
panas bagi bangsa dan pemerintah Indonesia, karena adanya gagasan pembentukan
negara federasi baru, Malaysia, yang merupakan gabungan antara Malaya
(Persekutuan Tanah Melayu) yang sudah merdeka sejak tahun 1957 dengan Serawak,
Brunei dan Sabah (Kalimantan Utara jajahan Inggris) Pemerintah Indonesia
merasakan adanya upaya sistematis untuk mengepung NKRI di sebelah utara,
sedangkan dari sebelah selatan sudah dijepit oleh Australia dan Selandia
Baru.</DIV>
<DIV>Bangsa lndonesia merasakan adanya gerakan yang diprakarsai oleh Nekolim
(Neokolonialis), yang akan merugikan Indonesia sebagai negara yang menganut
politik bebas dan aktif dalam politik luar negerinya. Bersama Filipina,
Indonesia pada saat itu menentang berdirinya negara baru Malaysia. </DIV>
<DIV>Filipina mempunyai klaim terhadap Sabah. karena menurut data yang dimilik
pemerintah Filipina, Sabah pada masa lalu adalah wilayah kerajaan Sulu, yang
sekarang merupakan wilayah Filipina. </DIV>
<DIV>Itulah mengapa kemudian timbul konfrontasi antara Indonesia disatu pihak,
menghadapi Malaya, Inggris yang dibantu Australia dan Selandia Baru dipihak
lain.<BR>Dalam rangka itulah telah dikirim masing-masing dua Brigade Pendarat
Marinir ke perbatasan Indonesia. Satu Brigade di P.Batam (Kepulauan Riau) dan
satu Brigade di P.Nunukan dan Sebatik (Kalimantan Timur)</DIV>
<DIV><BR><BR>Kiprah Kompi “X”<BR>Makin mendekati hari kemerdekaan, saya pikir
harus berbuat sesuatu yakni dengan mencoba menggunakan momen ini untuk
menggelorakan semangat anggota yang sudah mulai lelah. </DIV>
<DIV>Setelah tiga bulan di hutan, yakni bulan Mei, Juni dan Juli 1965 semangat
anggota kompi X makin menurun. </DIV>
<DIV>Maklum, tinggal dalam hutan yang sunyi dan benar-benar terisolasi baik dari
kesatuan induk (Batalyon dan Brigade) maupun terpisah dengan penduduk setempat,
memang terasa seperti memanggul beban yang sangat sangat berat terutama dari
segi mental. </DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Coba anda rasakan setiap hari hanya memandang pohon-pohon yang tingginya
lebih 30 meter, semak yang sama, bahkan sinar matahari yang tidak sepenuhnya
mampu menembus rimbunnya dedaunan hutan, menciptakan kesunyian, ketersendirian
dan juga kelengangan yang setiap hari makin memuncak. Udara selalu lembab.
</DIV>
<DIV>Tidak ada aroma lain kecuali bau daun kering dan daun busuk apalagi pada
malam hari, hanya dapat mendengar suara beruang yang sedang berkelahi, suara
monyet dan suara kepakan sayap kelelawar besar, yang melintas diatas pepohonan,
makin menekan mental masing-masing prajurit. </DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Dipihak lain kami tahu lawan gabungan pasukan Inggris-Malaysia hanya dua
bulan mampu bertahan di hutan seperti ini dan setiap dua bulan sudah diganti
dengan pasukan baru. </DIV>
<DIV>Dari segi pengiriman logistik mereka lebih teratur pula pengirimannya.
</DIV>
<DIV>Kami sering melihat pengiriman logistik untuk pasukan Inggris di wilayah
Sabah dilakukan melalui udara dengan menggunakan parasut. yang dijatuhkan ke
tengah hutan di tempat mereka bertugas. </DIV>
<DIV>Kami, boro-boro dikirim, tetapi dibebankan pada kompi, yang setiap bulan
sekali harus mengambil sendiri ke Nunukan menggunakan perahu bermesin tempel 40
PK. </DIV>
<DIV><FONT face=Arial size=2></FONT> </DIV>
<DIV>Karena itu, setiap bulan, secara bergilir, ada anggota yang mendapat
giliran ‘’cuti” ke Nunukan, sambil belanja kebutuhan sehari-hari dengan uang
lauk-pauk yang sangat terbatas Bagi yang mendapat giliran belanja ke Nunukan,
rasanya seperti mendapat kesempatan melihat dunia luar karena dapat bertemu
dengan orang lain termasuk penduduk.<BR>Karena itu, untuk mengurangi beban
mental para anggota kompi X, mereka selama di pedalaman ini berusaha menghibur
diri dengan cara masing-masing antara lain memanjangkan rambutnya. </DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Setelah rambut panjang ada yang berinisiatif untuk mengikat rambutnya
dengan pita seperti layaknya gaya rambut ekor kuda bagi remaja dan gadis-gadis
di Surabaya. </DIV>
<DIV>Berbicara sehari-haripun harus pelan dan nyaris berbisik. Karena di tengah
hutan begini sangat dilarang berbicara dengan suara keras, kami menjadi terbiasa
berbicara dengan berbisik-bisik. </DIV>
<DIV>Hiburan tidak ada sama sekali. Radio tidak ada. Lain dengan kompi Brahma,
kompi sukarelawan gabungan marinir dan sipil lokal, setiap peleton Sukwan,
mereka mendapat radio Philips transistor. </DIV>
<DIV>Karena itu saya sering menumpang dengar berita melalui radio mereka. Sayang
sekali untuk mendengar siaran RRI sangat sulit. </DIV>
<DIV>Yang paling mudah adalah mendengarkan radio Malaysia. Tentu saja. isi
beritanya sangat berlawanan. Berita konfrontasi, tentu menjelek-jelekkan
aktivitas pasukan kita. </DIV>
<DIV>Demikian pula berita nasionalnya tentu membuat telinga kita bisa menjadi
merah karena isinya mesti menjelek-jelekkan pemerintah RI.<BR>Yang lucu, siaran
radio masing-masing pemerintah dalam akhir pidato atau peryataan resmi
pemerintah, selau diakhiri dengan menyatakan: “ Tuhan beserta kita” Komentar
para anggota yang mendengarkan: “ Kasihan, Tuhan bisa bingung kalau begini,
habis masing-masing negara mau memonopoli Tuhan. Terserah. </DIV>
<DIV>Mau membela Indonesia atau Malaysia” , karena setiap pemerintah, baik
Indonesia maupun Malaysia ingin agar Tuhan hanya membela negaranya.<BR></DIV>
<DIV>Sampai bulan Agustus, musim hujan masih terus berlangsung hampir tiap malam
turun hujan. Kadang-kadang hujan turun sangat lebat yang disertai angin
kencang.</DIV>
<DIV>Kalau cuaca sudah begini, kami makin ngeri karena biasanya kalau sudah ada
angin begini banyak pohon tumbang akibat tanah yang menjadi lembek, atau dahan
yang patah, jatuh kebumi. </DIV>
<DIV>Suaranya sampai terdengar dari kejauhan. Rasanya makin NGLANGUT, karena
tidak ada yang dapat membantu kalau terjadi apa-apa. </DIV>
<DIV>Inilah risikonya terpisah dari induk pasukan Bila sudah begini yang dapat
dilakukan hanya berdoa. Tetapi dengan kekuatan doa kami, Tuhan rupanya masih
menaruh belas kasihan pada kompi X.</DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Selama enam bulan, mulai Mei sampai Oktober 1965 di tengah hutan dan
terpisah dari masyarakat manusia tidak ada satupun pohon maupun dahan yang jatuh
di barak kami.<BR>Bagi saya selaku pimpinan. maupun anggota pada umumnya.
hiburan satu-satunya yang paling diharapkan adalah kedatangan surat dari
keluarga atau kawan-kawan dari Surabaya. </DIV>
<DIV>Bagi saya yang mempunyai kebiasaan membaca terutama sebelun tidur, sangat
memerlukan bacaan dan bacaan yang saya dapat, baik kiriman dari Surabaya maupun
yang saya peroleh dari markas batalyon, sangatlah mengembirakan. Majalah apapun,
bagi saya merupakan hiburan yang sangat berarti, termasuk majalah “Mangle”
terbitan Bandung yang berbahasa Sunda. </DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Walaupun saya tidak begitu paham bahasa ini, namun masih dapat mengerti
isinya secara umum, terutama karena jasa baik seorang anggota, ditolong oleh
salah seorang caraka, prajurit marinir Suhanda yang berasal dari Purwakarta.Jadi
kalau ada kata-kata yang saya tidak mengerti, saya panggil Suhanda untuk
menerjemahkan kalimat tertentu. </DIV>
<DIV>Kadang-kadang kalau lagi mujur, saya dapat memperoleh majalah bulanan
“Intisari” dari markas batalyon kalau kebetulan ada tamu yang datang dari
Jakarta atau Surabaya. </DIV>
<DIV>Pada waktu malam, karena hutan yang gelap namun saya masih berusaha membaca
walaupun hanya dari sinar temaram, dengan penerangan sebatang lilin.</DIV>
<DIV><BR>Seminggu menjelang tanggal 17 Agustus tahun 1965 saya minta para
perwira dan bintara yang ada untuk mengadakan pertemuan, dengan fokus
pembicaraan bagaimana caranya agar anggota kompi X dapat merayakan hari nasional
ini walaupun sedang berada di tengah hutan. Saya jelaskan tujuan pertemuan dan
tujuan perayaan, yakni pertama, memperingati hari kemerdekaan sekaligus
mengembalikan semangat perjuangan membela negara dan bangsa. Akhirnya diputuskan
untuk melaksanakan kegiatan sebagai berikut: </DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Pada tanggal 17 Agustus kompi harus mengadakan perayaan, tetapi tetap harus
waspada terhadap kemungkinan serangan mendadak lawan. </DIV>
<DIV>Pada hari itu, semua anggota harus berseragam lengkap sebagaimana seragam
tempur marinir termasuk menggunakan helm, yang selama pasukan di tengah hutan
tidak pernah lagi dikenakan. </DIV>
<DIV>Dua pertiga pasukan melakukan upacara penaikan bendera, sedangkan sepertiga
tetap siap tempur menjaga lingkungan upacara. dan pos jaga masing-masing seperti
yang sudah ditentukan sebelumnya, mereka bertanggungjawab bila ada pendadakan.
</DIV>
<DIV>Sebagai “lapangan upacara” dicari tempat yang lapang dan rata, yakni
dibawah sebatang pohon besar yang rindang Semak belukar dibawah pohon
dibersihkan dan daun-daun kering di bawah pohon disapu bersih. Di tengah
lapangan upacara didirikan sebatang kayu untuk pengibaran bendera sang merah
putih dengan tali batang rotan yang kecil tetapi cukup kuat. </DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Sekarang untuk pestanya, selelah upacara selesai, harus ada suasana baru.
Diputuskan, hari istimewa itu seluruh anggota akan makan ketupat. Bahannya
pembungkusnya (sarang ketupat) gampang ambil saja daun nipah yang masih muda
dianyam menjadi sarang ketupat. Sekarang, apa yang pantas menjadi lauknya.
Kami putuskan untuk mendapatkan daging, segar. Caranya, kami bentuk empat tim
pemburu untuk mencari babi hutan. Kebetulan pada bulan Juli - Agustus sedang
musim buah terutama cempedak hutan. Babi biasanya mudah ditemui pada musim buah
ini.</DIV>
<DIV><BR>Dua hari menjelang tanggal 17, empat tim yang sudah ditunjuk berangkat
keempat penjuru untuk mencari dan menembak babi. Untuk sementara larangan
menembak dicabut. Dalam keadaan “normal” letusan senjata berarti kontak dengan
musuh, dan demi kerahasiaan, dilarang menembak tanpa tujuan yang jelas.<BR>Nasib
untung masih berfihak pada kami, pada sore hari ketika tim pemburu ini kembali,
mereka datang sambil memikul empat ekor babi hutan.</DIV>
<DIV><BR>Sementara itu pada tanggal 16 Agustus, untuk membuat musuh panik, saya
perintahkan seksi mortir 81 dikawal satu regu untuk menyerang pos musuh dengan
menggunakan mortir 81. </DIV>
<DIV>Tentu sangat sulit untuk menembakkan mortir di tengah hutan yang tertutup
semacam hutan Siglayan ini. Harus dapat menemukan lubang agar dapat menembak.
</DIV>
<DIV>Tetapi mereka tidak kurang akal. Pada suatu medan yang agak terbuka, mereka
berhasil menembakan enam peluru mortir 81 dengan jarak sejauh mungkin, sekitar
tiga setengah kilometer. </DIV>
<DIV>Setelah berhasil menernbakkan enam butir peluru secara beruntun, pasukan
kembali secepat mungkin agar tidak dapat dibaring dan dibalas oleh musuh. </DIV>
<DIV>Menurut data intel yang kemudian kami peroleh dari penduduk sipil yang
berhasil masuk ke Tawao, serangan ini berhasil mengenai sasaran dan menewaskan
satu orang. </DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Rupanya, lawan juga sudah mengantisipasi kemungkinan kami menyerang pada
sekitar tanggal 17 Agustus ini. Tetapi karena kami menyerang sehari sebelumnya,
mereka panik, dan mengira kami akan menyerang secara besar-besaran. Buktinya,
tepat pada tanggal 17 musuh menembaki seluruh hutan itu dengan mortir selama
satu hari penuh. Kami hanya menyambut dengan santai. Tidak perlu dibalas, karena
tembakan mereka sangat tidak terarah. Maklum tembakan orang lagi panik. </DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Tanggal 17 Agustus pagi kami siap mengadakan upacara penaikan bendera. Jam
delapan, pasukan pengaman sudah menempati pos masing-masing. </DIV>
<DIV>Seluruh anggota berpakaian tempur lengkap. Jam sembilan kurang seperempat,
pasukan upacara sudah siap di lapangan upacara. Jam sembilan kurang lima menit
saya selaku pemimpin upacara memasuki lapangan upacara. Sersan Mayor Zaini,
bintara peleton satu, menjadi komandan upacaranya. </DIV>
<DIV>Penaikan bendera dimulai dilakukan oleh Kopral Adam dan seorang prajurit,
diiringi lagu Indonesia Raya yang dinyanyikan oleh seluruh peserta upacara.
</DIV>
<DIV>Tiba-tiba menjelang bendera sampai kepuncak tiang, rotan tali bendera
putus. Lagu kebangsaan berjalan terus. Terpaksa tiang dicabut, bendera diikatkan
di puncak tiang, tancapkan lagi ditempat semula, Namun upacara tidak terganggu
oleh insiden ini, tetap khidmat Semua anggota merasakan suasana anggunnya
upacara memperingati hari kemerdekaan ini walaupun ada sedikit gangguan putusnya
tali bendera. (kepercayaan yang berkembang, bila tali bendera putus pada waktu
upacara, biasanya akan ada peristiwa yang gawat, mendebarkan)</DIV>
<DIV><BR>Dalam pidato sebagai amanat inspektur upacara, saya mencoba memberikan
semangat dengan menjelaskan mengenai tugas kompi X maupun anggota Kompi Brahma
(satu peleton) sebagai prajurit yang sedang melaksanakan tugas suci karena
mengemban tugas negara walaupun sekarang sedang berada di tengah hutan di
perbatasan Kalimantan Utara, jauh dari Surabaya sebagai “homebase” kompi X
maupun pasukan induk, yang ada di Pulau Nunukan, tetapi pasukan harus tetap
tabah menghadapi situasi dan kondisi saat ini. Jangan berfikir yang tidak-tidak
seperti merasa dibuang dan seterusnya. Kita adalah ksatria yang pantang
menyerah.</DIV>
<DIV><BR>Saya perhatikan reaksi para prajurit, mereka rupanya mendengarkan apa
yang saya sampaikan dengan serius. Saya merasa puas. </DIV>
<DIV>Selesai upacara diadakan perlombaan lari karung jarak duapuluh meter,
diteruskan lempar gelang rotan. Hadiahnya korned dan abon. Suasana cukup meriah.
</DIV>
<DIV>Setidaknya sejenak melupakan situasi tegang selama ini. </DIV>
<DIV>Selesai perlombaan, semua menikmati makan ketupat dengan lauk daging babi
bagi yang mau, sementara yang tidak mau makan dengan lauk sarden dan “corned
beef” kalengan. Semua masakan sudah dimasak semalam jadi sekarang sudah dingin.
Karena selama barada ditengah hutan, dilarang keras masak pada siang hari. Namun
demikian, suasananya sungguh berbeda. Ada kegembiraan yang dalam beberapa hari
sebelumnya sudah sirna.</DIV>
<DIV><BR>Menjelang tanggal 31 Agustus 1965, datang peringatan dari batalyon
melalui radio GRC-9, mengingatkan hari kemerdekaan Malaysia yang akan jatuh pada
tanggal 31Agustus 1965, supaya kompi yang ada di Siglayan waspada. Sebenarnya
peringatan itu tidak begitu perlu. Kami sudah siap menghadapi mereka kalau
memang berani datang menyerang. Pedoman Marinir “pantang mundur”, terus
bergema dibenak masing-masing anggota. Pertempuran di dalam hutan berarti
pertempuran jarak sangat dekat. </DIV>
<DIV>Ternyata tanggal 30 dan tanggal 31 Agustus tidak ada kegiatan lawan. Kami
agak mengendorkan kesiagaan.</DIV>
<DIV> </DIV><FONT face=Arial size=2></FONT>
<DIV><BR>Tanggal 1 September 1965 sekitar jam sembilan pagi secara tak terduga
kami diserang dengan rentetan tembakan senjata ringan secara serentak. </DIV>
<DIV>Dari arah depan kiri. Karena terkejut, ada anggota di lapis depan yang
langsung panik dan saya mendengar ada yang mengatakan : “mundur...”. Saya segera
maju, kupertahanan peleton dua untuk mencari sumber tembakan. </DIV>
<DIV>Beberapa anggota sudah ada yang bergerak mundur saya segera bertindak.
Sambil membentak ‘tetap ditempat” diiringi suara kepala regu satu pleton satu,
Sersan Suprapto dibelakang saya “ dengarkan suara tembakan, dari mana arahnya”.
Teriakan ini membuat pasukan menjadi tenang kembali. Semua siap menghadapi
kemungkinan serangan lanjutan. Semua segera tiarap dengan memegang senjata
masing-masing. </DIV>
<DIV>Dalam situasi menunggu, saya perin-tahkan mencari awak mortir 81 untuk
segera masuk seteling. Ternyata me-reka tidak ditempat. Kemarin, memang ada
pergantian awak mortir Karena itu, mereka empat orang dipimpin seorang kopral
sedang mencari kayu untuk mendirikan baraknya. Tidak lama kemudian mereka muncul
sambil terengah-engah “Siapkan mortir siap menembak” Saya perintahkan segera.
Karena mereka hanya ada empat orang dan harus melayani dua pucuk mortir, mereka
gugup dan kewalahan. Saya perintahkan anggota yang berdekatan, kopral Adri
Waroka dan prajurit lainnya untuk membantu menyiapkan peluru mortir.</DIV>
<DIV><BR>Tidak lama kemudian terdengar bunyi peluru meriam mendekat.
Ses-ses-ses... ........Dan disusul bunyi ledakan di sebelah kiri petak
pertahanan. Untung peluru pertama musuh jatuh sekitar 500 meter disamping kami,
tidak mengenai seorangpun. Bau mesiu makin merangsang semangat tempur kami. Kini
kami benar-benar sudah siap untuk bertempur. </DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Segera terjadilah saling tembak yang kurang seimbang. Musuh menggunakan
artileri, jarak tembaknya bisa lebih jauh dan tembakan mortir karena kami hanya
menggunakan dua pucuk mortir. </DIV>
<DIV>Saya minta satu pucuk menembak dengan jarak maksimal dengan isian penuh,
satu pucuk melindungi pasukan kawan di seberang sungai, disana ada dua regu yang
menembaki pos di seberang sungai, setiap regu terpisah satu di sebelah kiri
depan kompi, satu lagi regu yang menjaga “Pos Tanah Merah’’. Pos inilah yang
mendapat serangan pertama. </DIV>
<DIV>Rupanya musuh masih mempunyai data awal, yaitu terbukti hanya menembaki
barak yang pertama dibuat yang lokasinya lebih ke hulu sungai, persis di belokan
Siglayan, tempat para gerilyawan memasuki Sabah pada tahun 1963. Sedang
kedudukan kami sekarang sudah mundur lebih 500 meter lebih ke belakang. </DIV>
<DIV>Pos pertama ini sudah beberapa kali mendapat kiriman peluru meriam musuh.
Karena itu, tembakan musuh jatuh di samping kiri depan kedudukan kami atau jatuh
di depan kami di rawa-rawa, jadilah hari itu tembak menembak sampai berhenti
total jam empat sore. Hanya menjelang peluru meriam akan jatuh ke tanah,
kecepatan peluru sudah lemah dan mengeluarkan bunyi ses... ses... ses, kami
harus waspada. Itu artinya peluru sudah hampir tiba. Semoga tidak jatuh di
daerah posisi sekarang. </DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Menghadapi ulah peluru demikian, hati menjadi ciut, karena tidak tahu
dimana peluru itu akan kehabisan tenaganya. Dan kami hanya bisa berdoa Tuhan,
lindungi kami. Yang jelas, bagi pasukan yang pernah mendapat serangan meriam
seperti ini, kalau dia selamat, akan menjadi kenang-kenangan yang indah dalam
hidupnya </DIV>
<DIV>Sementara itu, musuh mengirimkan pelurunya secara terus-menerus dan lebih
cepat. Mungkin mereka menembak dengan enam pucuk meriam sedang kami hanya
memiliki dua pucuk mortir 81. Itupun masih kami anggap untung, karena sebelumnya
kami hanya memiliki AK dan RPD saja.<BR>Dengan adanya tembakan balasan dari
kami, musuh akhirnya lari terbirit-birit, tidak jadi mengadakan serangan jarak
dekat. </DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Ketika besok paginya saya mengadakan patroli pengejaran mulai di sekitar
pos Tanah Merah, sesuai jejak yang kami temukan, ternyata pada kemarin malamnya,
musuh bermalam tidak jauh dari pos Tanah Merah, sekitar 500 meter, di seberang
lembah. Rupanya musuh tidak tahu, ada satu regu menduduki medan di depan
mereka.</DIV>
<DIV><BR>Setelah pertempuran selesai, saya cek jumlah anggota, ada dua anggota
hilang. Saya bersama yang lain terus mencari mungkin mereka terluka atau gugur.
</DIV>
<DIV>Untung sebelum gelap, dua prajurit ini muncul dan segera memeluk saya.
Karena girangnya rupanya begitu musuh membrondong mereka, mereka sempat loncat
ke tebing di atas sungai Siglayan dan kebetulan di sana ada sebuah lubang mirip
gua, sehingga kedua prajurit ini dapat bersembunyi dengan aman dan mereka tak
dapat diketemukan musuh yang berada di atasnya. </DIV>
<DIV>Melihat bekas tembakan serentak musuh, lokasi di mana terjadi
tembak-menembak, semak belukarnya sudah rata seperti dibabat dengan parang.
</DIV>
<DIV>Karena itu saya menduga, dua orang ini sudah gugur atau tertangkap musuh.
Ternyata keduanya selamat, tak ada sehelai bulunya yang tanggal. </DIV>
<DIV>Dasar nyawanya masih betah tinggal di tubuhnya, dan rupanya belum mau
pindah ke akhirat. </DIV>
<DIV> </DIV>
<DIV>Dari penelitian selanjutnya, ternyata masih ada satu orang lagi yang
hilang, yakni prajurit dua marinir Panut, caraka komandan peleton dua. </DIV>
<DIV>Empat hari kemudian, jenasahnya diketemukan mengambang di sungai. </DIV>
<DIV>Malam itu saya menemani regu yang mendapat serangan musuh pada siang
harinya, untuk mendorong semangat tempur regu itu. </DIV>
<DIV>Selamat jalan Panut. </DIV>
<DIV>Apakah ini arti tali bendera putus waktu penaikan bendera? </DIV>
<DIV>Jenasah Prajurit marinir Panut dimakamkan juga di TMP.</DIV>
<DIV> Jayasakti Nunukan©<BR><BR></DIV>
<DIV> </DIV></BODY></HTML>