<!DOCTYPE HTML PUBLIC "-//W3C//DTD HTML 4.0 Transitional//EN">
<HTML><HEAD>
<META http-equiv=Content-Type content="text/html; charset=iso-8859-1">
<META content="MSHTML 6.00.2900.3132" name=GENERATOR>
<STYLE></STYLE>
</HEAD>
<BODY bgColor=#ffffff>
<DIV><FONT face=Arial size=2><A
href="http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=5792&c_id=21&g_id=25">http://www.berpolitik.com/news.pl?n_id=5792&c_id=21&g_id=25</A></FONT></DIV>
<DIV><FONT face=Arial size=2></FONT> </DIV>
<DIV><TR><TD style="PADDING-TOP: 10px">
<DIV class=greengold>Senin, Jul 02, 2007 12:24</DIV>
<DIV class=header style="PADDING-BOTTOM: 5px; PADDING-TOP: 5px"><SPAN
style="FONT-SIZE: 20px; FONT-FAMILY: verdana"><FONT color=#4682b4 size=1>Pasca
pengibaran bendera RMS</FONT><BR>Setelah Benang Raja, ada Bintang
Kejora</SPAN></DIV>
<DIV class=greengold style="FONT-SIZE: 9px; FONT-FAMILY: Helvetica">- Redaksi
Berpolitik.com</DIV></TD></TR><TR><TD style="PADDING-TOP: 10px">
<DIV class=precontent>
<TABLE cellSpacing=0 cellPadding=0 align=left border=0>
<TBODY>
<TR>
<TD style="PADDING-RIGHT: 10px; PADDING-BOTTOM: 10px">
<TABLE
style="BORDER-RIGHT: rgb(167,167,167) 1px solid; BORDER-TOP: rgb(167,167,167) 1px solid; BORDER-LEFT: rgb(167,167,167) 1px solid; BORDER-BOTTOM: rgb(167,167,167) 1px solid; BACKGROUND-COLOR: white"
cellSpacing=0 cellPadding=0 align=left border=0>
<TBODY>
<TR>
<TD style="PADDING-RIGHT: 5px; PADDING-LEFT: 5px; PADDING-TOP: 5px"
colSpan=2><IMG hspace=0
src="http://apps.berpolitik.com/data/buzz/berpolitik/files/images/ori_5792"
width=200 align=left></TD></TR>
<TR>
<TD class=smlfnt style="PADDING-LEFT: 5px">Yusak Pakage</TD>
<TD class=smlfnt style="PADDING-RIGHT: 5px"
align=right>HRW</TD></TR></TBODY></TABLE></TD></TR></TBODY></TABLE></DIV>
<DIV class=precontent><SPAN><B>Berpolitik.com:</B>: Setelah pengibaran bendera
Republik Maluku Selatan (RMS) yang membuat kepanikan, pada Minggu (01/07) siang,
bendera Bintang Kejora berkibar di tanah Papua.<BR><BR>Menurut sumber
Berpolitik.com di Papua, pengibaran bendera terjadi sekitar pukul 13.45 WIT, di
lapangan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Abepura, Papua. Berawal dari gagalnya
rencana jumpa pers antara para tahanan politik penghuni LP Abepura dengan
sejumlah wartawan, dalam rangka syukuran 1 Juli. <BR><BR>Tanpa alasan jelas,
dengan serta-merta pihak lembaga pemasyarakatan melarang jumpa pers tersebut.
''Bahkan pihak LP memerintahkan para wartawan keluar dari LP Abepura,'' kata
sumber tadi kepada Berpolitik.com. Melihat perlakuan para aparat LP, Ketiga
tahanan politik (tapol), Yusak Pakage, Simson Wenda dan Cosmos Yual (kasus 16
Maret), kemudian melakukan aksi dengan naik ke atas LP. Bendera Bintang Kejora
pun berkibar selama lima menit.<BR><BR>Petugas LP kemudian segera menurunkn
bendera tersebut, untuk kemudian menahannya sebagai barang bukti. Hingga saat
ini masih belum diketahui dari mana bendera Bintang Kejora berasal. Namun sumber
Berpolitik menyatakan bahwa di Papua, hampir sebagian besar warganya memiliki
dan menyimpan bendera kebanggan mereka. Juga masih belum diperoleh keterangan,
apakah para pelaku ditahan atau dimintai keterangan oleh petugas LP.<BR><BR>Yang
pasti, Yusak Pakage adalah tahanan politik (tapol) yang ditangkap aparat
keamanan sejak 2 Desember 2004, bersama rekannya Filep Karma, seorang pegawai
negeri sipil berusia 45 tahun. Pada saat ditahan, Pakage masih berstatus
mahasiswa berusia 26 tahun. Di Papua, keduanya adalah tapol yang paling terkenal
saat ini.<BR><BR><B>Aktivis politik</B><BR><BR>Cerita berawal saat Karma dan
Pakage didakwa melakukan makar dan dianggap memberontak, sehari setelah ratusan
mahasiwa berkumpul di Universitas Cendrawasih di Jalan Sentani, Abepura
Jayapura, Papua. Ratusan mahasiswa kemudian melakukan <I>long march</I> sambil
meneriakkan kata-kata 'Papua' dan 'kemerdekaan!'. Teriakan-teriakan mereka juga
mengajak untuk menolak Undang-Undang Otonomi Khusus, dan meminta 'pemisahan
Papua dari Indonesia'.<BR><BR>puncak perayaan perayaan tersebut digelar di
Lapangan Trikora di Abepura, disertai berbagai pidato politik dari sejumlah
tokoh masyarakat dan mahasiswa, doa-doa, serta atraksi tarian tradisional. Dalam
perjalanannya, beberapa orang dalam kerumunan mengibarkan bendera Bintang
Kejora.<BR><BR>Oleh beberapa saksi, seperti dilansir Human Rights Watch,
mencatat bahwa selama pidato-pidato berlangsung, suasana masih tenang. Namun
pada saat bendera Bintang Kejora dikibarkan, kekerasan mulai terjadi. Sejumlah
saksi yang tertuang dalam surat dakwaan terhadap Karma menyatakan bahwa
pengibaran bendera tersebut bersifat spontan dan bukan merupakan tindakan
terorganisir.<BR><BR>Ketika polisi berusaha menurunkan bendera secara paksa,
bentrokan tak terelakkan. Kerumunan massa kemudian menyerang polisi dengan kayu,
batu, dan botol. Polisi menanggapi dengan menembaki ke arah kerumunan massa.
Seperti diberitakan Cenderawasih Pos, dalam bentrokan tersebut, lima warga sipil
mengalami luka-luka. Beberapa diantaranya mengalami luka tembak. Sedang dari
pihak kepolisian, delapan anggotanya mengalami luka-luka. <BR><BR>''Saat bendera
Bintang Kejora dikibarkan, saya sedang berdiri dengan memegang megaphone dan
berkoordinasi dengan polisi setempat. Saya tidak tahu siapa yang membawa bendera
tersebut atau mengibarkannya. Saya berdiri di antara polisi dan massa, sementara
polisi sedang menembaki ke arah kerumunan. Dan kerumunan massa sendiri sedang
melemparkan batu ke arah polisi. Saya berusaha mengendalikan situasi agar kedua
belah pihak tetap berhati dingin. Namun tiba-tiba megaphone yang saya pegang
hancur terkena peluru,'' kata Pakage ketika menggambarkan apa yang terjadi pada
perayaan tersebut beberapa tahun silam.</SPAN></DIV>
<DIV class=precontent><SPAN><BR><BR><B>Di luar perkiraan</B><BR><BR>Sementara
itu, terkait dengan pengibaran bendera RMS pada peringatan Hari Keluarga
Nasional ke-14 di Lapangan Merdeka, Ambon yang dihadiri Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono beberapa waktu lalu, Kapuspen TNI Marsekal Muda Sagom Tamboen
menyebutkan sebagai peristiwa yang terjadi di luar perkiraan. Pasukan Pengamanan
Presiden (Paspampres) yang didukung unsur TNI dan Polri, saat itu lebih
memperhatikan pengamanan fisik. <BR><BR>Artinya, insiden pembentangan bendera
RMS oleh pemuda yang melakukan tarian Cakalele (tarian perang) untuk
membentangkan bendera RMS adalah sungguh di luar dugaan. Sedangkan pengamanan
fisik dimaksud, berkait dengan kemungkinan adanya masyarakat yang membawa
senjata tajam dan benda- benda berbahaya lainnya.<BR><BR>Kapuspen berharap,
insiden pembentangan bendera RMS tidak ditarik ke wilayah politik, karena misi
pendukung RMS akan berhasil jika insiden itu bergerak ke wilayah politik.
"Belajar dari kasus itu, kita akan lebih cermat lagi di masa mendatang,"
katanya. <BR><BR>Pastinya, sejauh ini pemerintah belum memberikan klarifikasi
resmi berkait dengan pengibaran bendera RMS di Lapangan Merdeka, Ambon.
<B>(*)</B> </SPAN></DIV></TD></TR></DIV></BODY></HTML>