[Nasional-f] Re: Fw: [koran-salatiga] Z. AFIF: Debat SUKARNO

chctkb nasional-f@polarhome.com
Fri Nov 29 20:48:01 2002


Bung Afif yb,

Pendapat bung dibawah ini sangat berharga sekali dalam kita mendiskusikan
 peranan bung Karno, yg saya usulkan berfokuskan pada tahun2 1959-1965.

Sebagai seniman musik yg menjadikan politik sebagai hobby, sudah barang 
tentu
saya tidak berpretensi untuk terjun aktif dlm pendiskusian ini, paling2 
saya cuma
bisa memberikan sedikit komentar atau pendapat untuk dipertimbangkan 
oleh para
peneliti politik yg profesional. Sama halnya dgn bung Afif, pengetahuan 
saya thd
bung Karno masih sangat miskin, banyak tulisan2 dlm media internet saya tak
sempat baca (serial bung Karno dari Ibrahim Isa), bahkan pidato2 bung Karno
yg diucapkan pada setiap perayaan 17 Agustus 1959 s/d 1965, satupun saya
tak miliki, bagaimana bisa menulis  dan menjawab problim2 yg saya ajukan
dgn lurus?  Justru saya ajukan problim2 tsb agar dibahas oleh para peneliti
politik profesional seperti bung Isa, pak Umar Said, Goenawan Mohamad ,
Siauw Tiong Jin, Arief Budiman dll  agar saya banyak belajar untuk menge-
cek apa kesimpulan saya itu lurus atau tidak.

Jika kita boleh mengambil prosentasi antara jasa dan kesalahan bung Karno
terhadap bangsa Indonesia. Tetap jasanya lebih besar dari pada 
kesalahan2nya.
80% berbanding 20%.  

Kemudian kita harus secara jujur mengakui, itupun bukan kesalahan bung
Karno secara pribadi, kesalahan itu terjadi pada syarat2 sejarah 
tertentu (Indonesia
baru saja merdeka, belum berpengalaman dlm membangun perekonomiannya,
dunia sedang diamuk oleh perang dingin antara Blok Timur dan Blok Barat,
Indonesia sendiripun sedang dilanda bahaya perpecahan yg dilancarkan oleh
golongan seperatis yg mau membikin Indonesia menjadi negara federal, bahkan
pecah jadi banyak negeri2 kecil berdasarkan kesukuan atau propinsi). 
Kemudian
peranan golongan kiri yg dipimpin oleh PKI dan golongan kanan yg dipimpin
oleh para jenderal AD sangat memegang peranan penting untuk bung Karno
mengambil keputusan2 politik, yg sekarang baru kita tahu itu tidak 
benar. Ter-
akhir ada pula kelemahan bung Karno sebagai manusia biasa yg mata keranjang,
yg sebetulnya merupakan tabu bagi seorang kepala negara.  Dalam sejarah
Tiongkok yg banyak saya pelajari, kaizar2 yg mata keranjang selalu membawa
negaranya ke jurang kehancuran, akhirnya digulingkan oleh  jenderal2 ber-
senjata,  dan berdirilah dinasti baru yg dipimpin oleh jenderal 
bersenjata itu.

Saya harapkan para peneliti sejarah dan politik Indonesia supaya secara 
lurus,
menganalisa kesalahan2 bung Karno pada periode 1959-1965, yg puncaknya
mendatangkan tragedi nasional 1965 yg menyeret korban jutaan rakyat tak
berdosa.  Apapun motif baik bung Karno dan kawan2 seperjuangannya,  harus
memperhitungkan akibat kesalahan2 politiknya yg akan membawa korban itu.
Jangan seperti dokter yg sembarangan memberikan resep, tanpa memperdulikan
sang pasien bisa tertolong atau mati karena resepnya terlalu berat. 
 Obat itu
kebanyak racun, jika diberikan dalam dosis yg tepat akan menyembuhkan
penyakit, tapi kalau diberikan dosis yg berat,  akan membunuh sang pasien !

Hongli, Komponis, Guru Piano dan Peneliti Komputer Musik. di Hong Kong.
9 November 2002 pagi.

HKSIS wrote:

>  
>
> ----- Original Message -----
> 寄件者:NYALA BACEH <mailto:nyala@swipnet.se>
>
> 收件者: koran-salatiga@yahoogroups.com 
> <mailto:koran-salatiga@yahoogroups.com>
>
> 傳送日期: 2002年11月8日 上午 09:14
>
> 主旨: [koran-salatiga] Z. AFIF: Debat SUKARNO
>
>
>
> MELURUSKAN SEJARAH SELAYAKNYA DENGAN CARA LURUS
>
>
> Oleh: Z. AFIF
>
>
> Rekan-rekan Hong Li, JJ. Kusni, Ibrahim Isa, Umar Said,
>
>
> (1) Adanya perdebatan atau polemik tentang Sukarno tentu hal yang
> baik, kalau ia bersendikan maksud baik dan benar. Keinginan
> meluruskan sejarah yang selama Rezim Militer Fasis Suharto
> berkuasa telah dijungkir-balikkan, memang usaha yang patut
> didukung. Tetapi, untuk mencapai tujuan meluruskan itu, juga sudah
> selayaknya dengan cara, metode, langgam yang lurus pula. Artinya
> harus ilmiah, tidak berat sebelah, objektif, adil. Tegasnya, dari hasil
> itu orang akan mendapat pelajaran yang berharga dan menjadikannya
> khazanah yang membimbing ke arah cara berfikir sehat.
>
>
> (2) Melihat Sukarno - Bung Karno, harus melihat, pertama sebagai
> seorang manusia biasa; kedua, sebagai seorang manusia pejuang
> anti- penjajahan, anti - ketidakadilan, pencinta kemerdekaan dan
> perdamaian, seorang yang berusaha mempersatukan berbagai etnisk
> di kepulauan Nusantara. Jika ini boleh dibulatkan, Sukarno sebagai
> pemimpin pergerakan perjuangan rakyat.
>
>
> (3)  Melihat Sukarno sebagai Presiden, Pemimpin Negara, Pangti
> Angkatan Bersenjata. Masa ini telah dihasilkannya: Manipol; Dekon;
> UUPA; UUPBH.
>
>
> (4)  Melihat Sukarno sebagai pemikir, penggagas untuk cita-cita
> yang selalu dikumandangkannya: menciptakan masyarakat yang adil,
> makmur, gemahrimah lohjenawi. Dari segi ini telah dihasilkannya
> karya-karya yang monumental:
>
>
> Pertama, Indonesia Menggugat;
> Kedua, Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme;
> Ketiga,  Pancasila.
>
>
> Itulah materi dasar yang harus dicermati, dikaji, dianalisis, ditapis
> secara dialektis, sehingga dapat ditemukan segi positif dan negatifnya,
> segi kelebihan dan kekurangannya, segi menguntungkan dan segi
> merugikan (baik bagi masyarakat/rakyat maupun bagi diri Sukarno
> sendiri), segi hasil dan gagalnya.
>
>
> Ada satu masalah yang perlu ditelaah, yaitu, mengapa Sukarno
> menyerahkan kepada tentara pengurusan ekonomi. Perusahaan-
> perusahaan Belanda yang diambil alih diserahkannya kepada TNI-AD
> pengurusannya. Pertamina  juga dipercayakan kepada TNI-AD.
> Pengadaan dan pendistribusian   bahan pokok kebutuhan masyarakat
> juga diserahkannya kepada TNI-AD, yang dipegang oleh PT Berdikari
> yang dikeloni Suhardiman. Koperasipun diberikan kepada TNI AD
> pengurusannya, yang mereka dirikan Kosgoro yang dipimpin Jenderal
> Isman. Kemudian Komando Tertinggi Urusan Ekonomi (KOTOE) juga
> di tangan militer. Yang menyebabkan terhalangnya pelaksanaan UUPA
> dan UUPBH juga militer. Matinya kapten Sudjono di Sumatra Timur
> adalah karena soal tanah yang dipertahankan oleh para penggarapnya.
>
>
> Masalah Aceh, Papua Barat, Ambon, Kalimantan bagi TNI AD
> pertama-tama bukan mencegah disintegrasi wilayah NKRI,
> melainkan kepentingan ekonomi dan finansilnya. Pendeknya,
> kepentingan bisnis yang utama dan terutama bagi TNI AD.
>
>
> Mungkin saja saya salah, kalau saya katakan bahwa itulah basis
> ekonomi TNI AD yang menjadi kekuatan penyangganya, sehingga
> dengan sekali pukul PKI hancur, Sukarno tumbang dan Rezim
> Orba Militer Fasis AD berdiri. Ini faktor internalnya, sedangkan
> faktor eksternalnya bantuan dan sokongan imperialisme AS
> melalui CIAnya.
>
>
> Sebagai  aktivis gerakan pelajar dan kebudayaan  untuk mengadakan
> kegiatan dan pertunjukkan, dulu saya sering harus berhubungan
> dengan instansi militer seperti KMKB dan berbagai macam Badan
> Kerjasama Militer di Medan dan kemudian duduk dalam macam-
> macam badan dan panitia di Jakarta yang dipimpin militer. Saya
> merasakan sekali bahwa pada masa 1950-an dan 1960-an peranan
> militer sudah mendominasi sipil, lebih-lebih dengan adanya SOB.
>
>
> Saya teringat Bapak M. Ali Hanafiah, dari Bengkulu, ketika Sukarno
> dibuang kesana, beliau dan isteri beliau (adik sastrawan Sanusi
> dan ArmijnPane) menjadi guru Taman Siswa di sana. Pada suatu
> hari di Stockholm, Pak Ali Hanafiah mengatakan, bahwa kelemahan
> Bung Karno adalah terlalu memikirkan "macht" (kekuasaan). Karena
> itu ia mudah terperangkap dalam sanjungan. Adalah militer yang
> menjadikannya Presiden seumur hidup sebagai perisai menghadapi
> "bahaya" PKI.
>
>
> Saya sebenarnya tidak mau terlibat dalam debat atau polemik tentang
> Sukarno ini. Karena, seperti kata Hong Li, ini bukan jurusan saya.
> Saya tidak punya ilmu untuk masuk ke dalam kancah yang pelik itu.
> Saya pun tidak cermat mengikuti tulisan-tulisan yang berhubungan
> dengan itu di dalam media internet dan media cetak.
>
>
> Sebagai penutup, saya mendukung pertanyaan atau persoalan yang
> diajukan kedua rekan dekat saya, masing-masing sastrawan dan
> musikus: JJ. Kusni dan Hong Li. Bagi saya cukup menarik sikap
> Ikranegara dalam soal Manikebu. Sedangkan penandatangan
> Manikebu lainnya seperti Arief Budiman, Gunawan Mohamad dan
> alm. Satyagraha Hurip sudah melakukan peninjauan kembali atas
> Manikebu yang diotaki Wiratmo Sukito sebagai agen militer dalam
> tubuh sastrawan dan seniman. Ajip Rosidi sudah menulis juga
> bagaimana militer AD mendalangi KKPSI (Konferensi Karyawan
> Pengarang Seluruh Indoensia).
>
> Stockholm, Sweden, 8-11-2002.
>
>
>
>
>
> To unsubscribe from this group, send an email to:
> koran-salatiga-unsubscribe@yahoogroups.com 
> <mailto:koran-salatiga-unsubscribe@yahoogroups.com>
>
>  
>
> Your use of Yahoo! Groups is subject to http://docs.yahoo.com/info/terms/
>
>
>