[Marinir] Pengakuan Seorang Tawanan

Hong Gie marinir@polarhome.com
Mon, 25 Aug 2003 23:38:11 +0700


----- Original Message -----
From: "a.supardi" <a.supardi@chello.nl>
To: <national@mail2.factsoft.de>
Sent: Monday, August 25, 2003 9:07 PM
Subject: [Nasional] Pengakuan Seorang Tawanan

-----------------------------------------------------------------------
Mailing List "NASIONAL"
-----------------------------------------------------------------------
SUARA PEMBACA
SUARA PEMBARUAN DAILY, Senin, 25/08/2003

(1)
Pengakuan Seorang Tawanan

KETIKA berbelanja di pasar Peunayong, Banda Aceh, tanpa diduga-duga aku
bertemu dengan kawan lama, yang biasa kupanggil "Bunda", karena beliau sudah
kuanggap seperti Ibu kandungku sendiri. Bunda tinggal di daerah Seulimuem,
Aceh Besar dan kudengar kabar bahwa putra tertuanya, Abdullah (27) sudah 2
tahun tidak pulang karena "naik gunung" bergabung dengan anggota Gerakan
Aceh Merdeka (GAM).
Setelah berbasa-basi sebentar, akhirnya kuberanikan diri menanyakan
bagaimana kabar "Si Lah" (orang Aceh biasa memanggil/menyebut nama seseorang
dengan memendekkan nama aslinya dan ditambah dengan kata Si).
Aku tidak menduga, ternyata reaksi Bunda bukan sedih tapi justru menunjukkan
raut muka yang gembira. Bunda bilang "Alhamdulillah, Abdullah sekarang sudah
aman di tangan tentara. Seminggu lalu dia pulang ke rumah dan minta diantar
untuk menyerah ke aparat keamanan.
Dia bilang, daripada mati konyol karena terus ikut GAM yang sudah tidak
punya apa-apa lagi, masuk keluar hutan dan naik turun gunung, lalu jumpa
dengan patroli tentara yang banyak jumlahnya dan kuat senjatanya, maka lebih
baik menyerah secara baik-baik. Apalagi katanya jika menyerah maka akan
mendapat ampunan.
Kemudian Bunda mengatakan bahwa dua hari yang lalu dia mengunjungi Si Lah di
tahanan tentara dan melihat bahwa keadaan anaknya sehat wal afiat dan
Abdullah kelihatan gembira dan tidak tampak sedih atau sengsara.
Abdullah bilang, tentara memperlakukannya dengan baik. Dia dapat makan
dengan teratur, tidak pernah dipukuli dan justru selama ditahan diberikan
berbagai pengetahuan dan keterampilan. Tentara hanya menanyakan sejauh mana
keterlibatannya dengan GAM. Abdullah yakin akan mendapat ampunan dan
secepatnya dilepaskan karena dia merasa selama ikut GAM hanya bertindak
selaku tukang masak dan pikul barang.
Dia tidak pernah terlibat membakar rumah atau sekolahan, merampok apalagi
membunuh rakyat atau aparat keamanan, kata Bunda melanjutkan ceritanya.
Bahkan, kata Abdullah jika tahu tentara akan memperlakukan anggota GAM yang
menyerahkan diri seperti itu, ia pasti sudah menyerah dari dulu.
Makanya, dia minta tolong ke Bunda untuk menyampaikan cerita ini kepada
teman-temannya yang masih ikut GAM, apabila sewaktu-waktu berkunjung ke
rumah, dengan pesan supaya mereka lebih baik menyerahkan diri, daripada
tertangkap apalagi sampai kontak senjata dan akhirnya mati sia-sia.
Para pimpinan GAM tidak punya rasa tanggung jawab sedikit pun kepada
anggotanya, buktinya mereka banyak yang sudah lari dan bersembunyi
meninggalkan anak buahnya yang kebanyakan orang-orang bodoh, hanya
ikut-ikutan dan banyak yang tidak bersenjata itu, kebingungan, kelaparan,
dan ketakutan.
Dari cerita Bunda tentang Abdullah ini dapat ditarik satu "benang merah"
bahwa anggota GAM yang menyerahkan diri ternyata kondisinya jauh lebih baik
dibandingkan yang tertangkap maupun mereka yang masih bandel terus berada di
gunung/hutan, yang cepat atau lambat, insya Allah akan menjadi korban
sia-sia. Apa pun motivasi dan tujuan mereka menyerah tidaklah menjadi soal,
namun yang pasti dalam tawanan TNI/ Polri, mereka merasa lebih tenang, aman,
terlepas dari belenggu ketakutan, baik akan ancaman kematian akibat peluru
aparat keamanan ataupun karena dibunuh oleh teman-teman sendiri.
H Moch Yudha S
Sabang

---

(2)
GAM Tawarkan Barter Tawanan

TAKTIK GAM menawarkan barter tawanan, menjadi cara baru, yang mulai ditempuh
oleh tokoh-tokoh GAM di Aceh yang mulai terdesak dan kehabisan akal.
Baru-baru ini dikabarkan GAM memutuskan untuk melepaskan dua ibu rumah
tangga Ny Soraya dan Ny Safrida keduanya isteri perwira TNI yang disandera
bersama dengan wartawan RCTI Ersa Siregar dan kameramennya Ferry Santoro
serta sopirnya Rahmatsyah yang diculik 29 Juni 2003, dengan syarat ditukar
dengan istri anggota GAM yang ditawan TNI di Korem Lilawangsa.
Pola baru yang ditawarkan Panglima GAM untuk wilayah Peureulak (Aceh Timur)
Iskak Daud untuk barter tawanan ini perlu dicermati dengan hati-hati, TNI
sebaiknya jangan buru-buru menerima tawaran ini. Jangan sampai tawanan yang
di tangan aparat diserahkan kepada GAM.
Kita masih ingat bagaimana kelompok GAM selalu mengkhianati kesepakatan
dalam setiap usaha perundingan damai, secara sepihak menentukan sendiri
kebijaksanaannya yang tetap ingin memisahkan diri dari NKRI. Sudah banyak
korban nyawa dan harta benda yang dialami masyarakat Aceh yang menginginkan
Aceh damai, ketegasan dari aparat terutama Penguasa Darurat Militer di NAD
untuk sesegera mungkin menyelesaikan konflik Aceh menjadi harapan masyarakat
Aceh dan bangsa Indonesia.
Usaha pembebasan bagi tawanan yang disandera GAM memang harus mendapat
prioritas. Namun jangan sampai pembebasan sandera dari tangan GAM harus
ditukar dengan anggota GAM yang ditangkap TNI, itu tidak menyelesaikan
masalah. Karena GAM sampai saat ini terus melakukan penculikan baik kepada
rakyat maupun aparat TNI dan Polri.
Sebaliknya TNI mempersiapkan operasi militer lebih intensif lagi, dan
menyiapkan operasi pembebasan sandera apabila sudah yakin di mana posisi
terakhir sandera, jangan ada kompromi lagi dengan GAM yang ingin memisahkan
diri dari NKRI.
Reza S
Jakarta