[Marinir] [Nasional] Fw: Situasi Poso Mencekam

Hong Gie marinir@polarhome.com
Wed, 3 Dec 2003 07:48:26 +0700


----- Original Message -----
From: "BDG Kusumo" <bdgkusumo@volny.cz>
To: "National" <National@mail2.factsoft.de>
Sent: Wednesday, December 03, 2003 2:32 AM
Subject: [Nasional] Fw: Situasi Poso Mencekam
-----------------------------------------------------------------------
Mailing List "NASIONAL"
-----------------------------------------------------------------------
----- Original Message -----
From: HKSIS
To: Undisclosed-Recipient:;
Sent: Tuesday, December 02, 2003 2:44 AM
Subject: Situasi Poso Mencekam

http://www.tempo.co.id/
Wakil Panglima GAM Aceh Besar Menyerah
01 Desember 2003
TEMPO Interaktif, Banda Aceh: Sambil menyerahkan sepucuk pistol Colt beserta
15 butir pelurunya, Wakil Panglima Gerakan Aceh Merdeka (GAM) wilayah
Kutaraja atau Banda Aceh, Wahyu, 35 tahun, menyerahkan diri ke markas
Komando Distrik Militer (Kodim) Aceh Besar, Senin (1/12).

"Ini penyerahan diri pertama di wilayah Aceh Besar dengan menyerahkan
senjata," kata Letnan Kolonel Infantri Joko Warsito, Komandan Kodim Aceh
Besar, di markas Kodim Aceh Besar, Senin (1/12). Tentu saja, penyerahan diri
itu disambut baik pihak militer Indonesia. "Anggota GAM yang menyerah
diperlakukan baik," kata Joko.

Menurut Wahyu -lelaki lajang yang masuk GAM sejak 1999, selama lebih empat
tahun terlibat dalam struktur organisasi GAM. Bersama 20 anggota pasukannya,
ia kerap menyerang pasukan TNI/Polri dan mengutip dana perjuangan dari
masyarakat di wilayahnya. "Keluarga ingin saya kembali ke masyarakat tanpa
dikejar-kejar aparat," katanya. Untuk itu, dirinya juga menyerukan agar
rekan-rekannya yang masih bersembunyi, menyerahkan diri. "Cobalah pulang,
kembali ke NKRI dan bergabung dengan masyakarat," katanya.

Selain Wahyu, kata Joko, selama sepuluh hari terakhir sudah 10 anggota GAM
menyerahkan diri ke Kodim Aceh Besar. Mereka adalah Muslim bin Itam, 27
tahun -warga Desa Bulot, Samidan Hasyim, 31 tahun -warga Desa Bulot, Muslim,
24 tahun -warga Desa Jeumpit, Bukhari, 19 tahun -warga Desa Bulot, Hasan, 30
tahun -warga Desa Tiengkem, Syukri Hasbi, 40 tahun -warga Desa Suka Marmur,
Armia, 17 tahun -warga Desa Meunasah Lampuk, Musliadi Sarbaini, 31
tahun -warga desa Tingkem, Muhammad Amin, 38 tahun -warga Tingkem dan Wahyu,
25 tahun -warga Batoh. Kesemuanya berdomisili di wilayah Aceh Besar.

Yuswardi A. Suud - Tempo News Room


http://www.suarapembaruan.com/News/2003/12/01/index.html
SUARA PEMBARUAN DAILY

Situasi Poso Mencekam
POSO - Situasi keamanan di Poso dan sekitarnya pada Senin (1/12) pagi aman
tapi mencekam. Artinya, keadaan memang terlihat lancar-lancar saja terutama
pada siang hari, tetapi masyarakat sebenarnya diliputi perasaan was-was dan
takut menyusul terus bergentayangannya para penembak misterius di daerah
tersebut.
"Warga saat ini banyak yang tidak berani ke kebun, takut ditembak," kata
seorang warga Poso kepada Pembaruan, Senin.
Sebanyak dua satuan setingkat kompi Brimob dari Surabya didatangkan ke Poso
sehubungan dengan situasi setempat yang memanas.
Kadispen Polda Sulteng AKBP Agus Sugianto yang dihubungi Senin (1/12)
mengatakan, kondisi Poso tetap aman dan stabil. Ia membenarkan adanya
penembakan di Kilo Trans dan Ulubongka, dan pelakunya masih diusut.
Dijelaskan, Kapolda Sulteng Brigjen Pol Taufik Ridha, sudah berada di Poso
ikut mengawasi secara dekat pengamanan Poso.
Sedang tindakan massa menghancurkan kantor Polsek Tentena, diakui Kapolres
Poso Abdi Dharma kepada wartawan, Minggu sore (30/11). Namun katanya,
penembakan itu dilakukan aparat Brimob berawal ketika anak muda yang mabuk
mengendarai empat sepeda motor di jalan raya sekitar Tentena.
Saat itu, anak muda tersebut memborong jalan dan secara kebetulan dari
belakang ada mobil patroli yang hendak melambung.
Keempat sepeda motor itu, lanjut Abdi, tak mau mengalah sementara mobil
patroli tetap berusaha melambung dan akhirnya rodanya terpeleset ke dalam
got.
"Saat itu dua anggota polisi tersebut mengejar anak muda itu, tetapi karena
tetap melarikan diri, polisi menembak dan mengenai Beny," jelas Abdi.
Melebar
Dari Palu dilaporkan, aksi penembakan misterius (petrus) yang terus meminta
korban manusia kini tidak hanya terjadi di Kabupaten Poso, tetapi melebar
sampai ke Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah (Sulteng).
Sabtu (29/11) malam antara pukul 19.00 hingga 20.30 Wita, sejumlah 4 orang
tewas dan beberapa lainnya terluka akibat petrus.
Penembakan pertama terjadi sekitar pukul 19.15 di Desa Kilo Trans, Kecamatan
Poso Pesisir. Korbannya Kepala Desa Kilo Trans, I Ketut Serman (40) dan adik
iparnya I Made Simson (26). Keduanya ditembak di dalam rumahnya, dan usai
menembak pelakunya langsung melarikan diri.
Pada saat yang hampir bersamaan atau sekitar pukul 20.30, bom meledak di
Pasar Sentral Poso namun tidak ada korban jiwa.
Para penembak misterius juga beraksi di Desa Tobamawu, Kecamatan Ulubongka,
Kabupaten Tojo Una-Una (baru sebulan diresmikan jadi kabupaten - hasil
pemekaran Kabupaten Poso).
Penembakan itu mengakibatkan dua korban tewas yakni Ruslan Tarapi (33) dan
Rifin Bode (26). Empat lainnya juga dilaporkan terluka tembak yakni Liming
Layagi (37), Sandra Tengker Tiwa (34), Yulmin Gaji (23) dan Yun Ndeo (46).
Informasi yang dihimpun menyebutkan, para korban ditembak di depan Gereja
Pantekosta Tobamawu sekitar 30 km dari Ampana. Menurut saksi mata, penembak
menggunakan sepeda motor dan bergerak begitu cepat. "Tembakannya berentetan
hingga mengenai beberapa korban. Saat penembakan, sedang berlangsung ibadah
dalam gereja, dan mereka semua tiarap," katanya.
Di Tentena, ibukota Kecamatan Pamona Utara, Poso, Sabtu (29/11) malam
sekitar pukul 11.00 terjadi aksi unjuk rasa massa memrotes penembakan Beny
(26) seorang warga Tentena, oleh aparat Brimob. Massa melempar kantor Polsek
Tentena hingga kaca-kacanya hancur serta sebuah mobil patroli juga hancur
dilempari massa.
Sekretaris Crisis Center Gereja Kristen Sulawesi Tengah (CC-GKST) Tentena,
Noldy Tacoh yang dikonfirmasi Minggu malam menyebutkan, penembakan berawal
dari aparat Brimob yang baru saja kembali menghadiri pesta di Desa Soe,
Pamona Utara. Dalam perjalanan pulang ke Tentena, aparat Brimob berpapasan
dengan Beny yang mengendarai sepedamotor. Entah kenapa, tiba-tiba truk
patroli yang ditumpangi aparat Brimob terjatuh ke selokan (got). Dari
belakang melaju sebuah sepeda motor yang dikendarai aparat Brimob lainnya.
"Saat itu aparat itupun mengejar Beny sambil menyatakan kepada warga mereka
mengejar penyusup. Beny yang merasa diburu aparat, berlari ketakutan namun
ia berhasil ditembak aparat dan mengenai punggung serta pinggulnya," jelas
Noldy.
Dalam keadaan terluka, Beny terus berlari menuju rumahnya dan menjelaskan
kejadian pada kedua orangtuanya dan iapun langsung dibawa ke rumah sakit.
Memperunyam
Sekretatris Lembaga Pengembangan Studi dan Hak Azasi Manusia (LPSHAM)
Sulteng, Syamsul Alam Agus mengatakan kepada Pembaruan, penambahan jumlah
aparat yang begitu banyak di Poso saat ini, bukannya mengurangi aksi-aksi
masyarakat tetapi justru semakin memperunyam keadaan.
"Aparat sebaiknya segera mengevaluasi diri dan mengubah strategi pengamanan
yang dilakukan di Poso," katanya. Alam juga sekaligus mengklarifikasi berita
Pembaruan (17/11) yang menyebutkan Oranje Tadjodja (Bendahara Majelis Sinodo
GKST ) tewas dengan mayat terpotong-potong. "Saya tidak pernah menyebutkan
hal itu, saya hanya melihat wajahnya yang rusak," katanya. (128)