[Marinir] Berduka Cita atas gugurnya Erza Siregar
Hong Gie
marinir@polarhome.com
Tue, 30 Dec 2003 04:43:35 +0700
http://www.detik.com/peristiwa/2003/12/30/20031230-024459.shtml
© 2003 detikcom,
TNI Sayangkan Tertembaknya Ersa
Reporter : M. Rizal Maslan
detikcom - Jakarta, Mabes TNI menyayangkan peristiwa tertembaknya repoter
RCTI Ersa Siregar dalam kontak tembak di Aceh Timur, Nangroe Aceh Darussalam
(NAD). TNI juga menyesalkan sikap Gerakan Aceh Merdek (GAM) yang
mengikutsertakan Ersa dalam pelarian.
Demikian disampaikan Kepala Pusat Penerangan TNI Mayjen TNI Sjafrie
Syamsudin kepada wartawan di rumah duka almarhum Ersa Siregar di Jl. Tuntang
Raya, Perumnas II, Karawaci, Tangerang, Senin (29/12/2003) malam.
"Sebetulnya, kalau GAM konsisten, Ersa ditinggal di suatu tempat untuk
dibebaskan. Tidak dibawa-bawa dan melarikan diri," ujar Sjafrie ketika
ditanya apakah kasus tertembaknya reporter RCTI itu dijadikan tameng.
Dalam kesempatan tersebut, Sjafrie juga mengatakan, kenapa dua warga sipil
tertembak mati, termasuk diantaranya Ersa Siregar. Menurutnya, peritistiwa
kontak tembak memang terjadi di lokasi hutan yang gelap dan rawa-rawa yang
dalam.
"Situasinya memang gelap dan hutan. Jadi tidak bisa saling melihat, jarak
tembak sendiri diperkirakan sekitar 50 meter," jelasnya. Dalam situasi
seperti itu terdengar tembakan dari berbagai arah, lalu dilakukan
penyebaran.
Pasukan TNI terpaksa melakukan pengejaran ke rawa-rawa. Namun menurut
Sjafrie, garak pasukan terhambat karena rawa yang harus dilalui sampai se
leher. "Karena ini rawa yang tinggi se leher sehingga memperlambat daya
gerakan dan memakan waktu juga mempengaruhi ketepatan, jadi tidak bisa di
lihat yang mana GAM atau bukan," jelasnya.
Sjafrie juga menambahkan bahwa peristiwa tersebut terjadi bukan dalam
operasi pembebasan sandera, tapi operasi rutin biasa yang mengalami kontak
tembak perjumpaan. Kontak tembak dengan GAM sendiri diawali adanya laporan
warga bahwa di wilayah itu ada kegiatan GAM.
Pasukan patroli pun diterjunkan guna mencari lokasi tersebut, namun persis
pukul 10.00 WIB terjadi kontak tembak yang sangat lama sekitar 5 menit. Dan
aru pukul 12.30 WIB dilakukan pembersihan dan diketahui ada dua warga ipil
yang tertembak, Ersa Siregar salah satunya yang enjadi korban. (mar)
RCTI Jamin Kesejahteraan Keluarga Ersa
Reporter : M. Rizal Maslan
detikcom - Jakarta, Pihak manajemen RCTI berduka cita atas tewasnya Ersa
Siregar dalam kontak tembak TNI dan GAM di Nanggoe Aceh Darussalam. RCTI
juga menjanjikan akan memperhatikan kesejahteraan istri dan anak-anak Ersa
Siregar.
"Kami keluarga besar RCTI mengucapkan bela sungkawa dan semoga arwahnya
diterima Tuhan Yang Maha Esa. Kami akan memperhatikan kesejehteraan bagi
keluarga yang ditinggalkan," kata Direktur Utama RCTI Harry Tanubrata kepada
wartawan di Jl. Tuntang Raya, No 25, Perumnas II, Karawaci, Tangerang, Senin
(29/12/2003) malam.
"Pasti kami akan memberikan sesuatu yang terbaik bagi keluarga, terutama
anak-anaknya. Apalagi Ersa meninggal dunia dalam menjalankan tugas
jurnalistiknya," katanya lagi.
Ditanya berapa santunan yang akan diberikan kepada keluarga?
Harry Tanubrata enggan mengomentarinya, namun dia mengaku akan berbuat yang
terbaik bagi keluarga.
Sementara itu, di rumah duka tampak pelayat terus berdatangan, baik
masyarakat sekitar maupun sanak keluarga Ersa Siregar. Menurut informasi,
Selasa (30/12/2003), pukul 06.00 Ersa akan diberangkatkan pukul 06.00 WIB
dengan helikopter dari Lhokseumawe ke Medan. Selanjutnya dari Medan akan
diberangkatkan dengan pesawat komersil pukul 09.30 WIB.
Begitu tiba, jenazah akan langsung dibawa ke rumah duka di Karawaci,
Tangerang, Banten. Menurut rencana, jenazah Ersa Siregar akan dimakamkan di
Tamann Pemakaman Umum (TPU) Carang Pulang, Legok, Kabupaten Tangerang.
(mar)
Pemerintah Sayangkan Kontak Tembak Yang Sebabkan Ersa Tewas
Reporter : Danang Sangga Buwana
detikcom - Jakarta, Menko Polkam Susilo Bambang Yudhoyono menyayangkan
terjadinya kontak tembak antara pasukan TNI dan GAM yang telah menewaskan
wartawan RCTI Ersa Siregar. Pemerintah berencana melakukan otopsi dan
investigasi terhadap tewasnya Ersa.
"Dengan demikian ini pertempuran perjumpaan yang kita sayangkan, saudara
Ersa meninggal dunia dalam kejadian itu. Saya sudah cek kebenaran ini ke
penguasa darurat militer dan memang terjadi kontak tembak di Simpang Ulim
Aceh Timur," kata Susilo Bambang Yudhoyono kepada wartawan, di Acara
Refleksi Akhir Tahun 2003 KNPI, di Jakarta, Senin (29/12/2003) malam.
Langkah pemerintah, kata Yudhoyono, saat ini melakukan otopsi, investigasi
dan perawatan terhadap korban. Jajaran TNI dan Polkam telah menuju ke pihak
keluarga korban untuk menyampaikan penjelasan agar tidak terjadi
kesimpangsiuran.
Yudhoyono mengatakan, dua minggu lalu dia berkunjung Aceh dan terus-menerus
melakukan upaya pembebasan Ersa. Tapi posisinya sangat sulit karena GAM
terus berpindah-pindah.
"Saya pertanyakan apakah GAM menjadikan mereka (Ferry dan Ersa-red) tameng
hidup, tawanan atau sandera. Karena tidak sepantasnya mereka diajak untuk
manuver seperti itu sebab sangat membahayakan jiwanya.
Mengenai keberadaan kamerawan Ferry Santoro, Yudhoyono menyatakan, belum
mengetahui apakah Ferry berada bersama Ersa, karena situasinya sulit dan
rawa-rawa.
Almarhum wartawan RCTI Sory Ersa Siregar meninggalkan seorang istri dan tiga
orang anak. Pria kelahiran Brastagi, 04 Desember 1951. Pria yang pernah
mengenyam pendidikan di Komunikasi IISIP ini beristerikan, Tuty Komala
Bintang. Mempunyai 3 orang anak, yang bernama Ridwan Ermalandra, Syawaludin
Adesyahfitrah dan Syarah Meiliani Fauziah.
Ersa bergabung di RCTI sejak 18 Agustus 1993, sebelumnya Ersa pernah menjadi
wartawan juga di Majalah Suasana dan Majalah Keluarga. Selain mengenyam
pekerjaan sebagai jurnalis, Ersa juga pernah menjadi staf general affair di
PT Satmarindo dan pernah juga bekerja di PT Fesda.
Sejumlah kursus dan diklat jurnalistik pernah diikuti Ersa. Karirnya di RCTI
pada tahun 1993 dimulai dengan menjadi translator dan produser. Almarhum
juga pernah menjadi koordinator daerah (korda) dan koordinator bidang
(korbid). Terakhir jabatannya di RCTI menjadi koordinator liputan hingga ia
gugur. (mar)
Pangdam Iskandarmuda: Jangan Jadikan Sandera Perisai Hidup
Reporter : Nur Raihan
detikcom - Jakarta, Pangdam Iskandar Muda, Mayjen Endang Suwarya meminta
GAM bertindak gentle, dengan tidak menjadikan sandera sebagai perisai hidup.
Jika punya niat baik membebaskan sandera, Pangdam memberikan waktu 1 hari
penuh.
"Jika GAM punya niat baik membebaskan sandera, kosongkan misalnya satu desa,
dorong sandera ke desa itu. Setelah itu akan kami jemput," ujar Endang pada
wartawan di Makodam Iskandar Muda, Senin (29/12/2003) malam.
Pangdam yang juga menjabat Penguasa Darurat Militer Daerah ini menjanjikan
tidak akan melakukan penyergapan atau penyerangan saat penempatan para
sandera di tempat yang telah disepakati. "Soalnya itu menyangkut banyak
orang (sandera). Jadi kita tidak akan ceroboh dengan melakukan penyergapan.
Jadi saya pikir, waktu satu hari, pantas. Tapi GAM jangan minta kosongkan
satu kecamatan atau minta waktu satu minggu," tandasnya.
Jika tidak demikian menurut Pangdam, bukan mustahil kejadian seperti Ersa
akan dialami para sandera lainnya yang kini masih di tangan GAM. "Kita juga
tidak tahu apa kepentingan GAM menyandera wartawan. Dibawa-bawa,
berpindah-pindah. Hal ini (sandera yang dibawa berpindah-pindah) membuat
kita susah. Jika sudah terjadi kontak tembak dengan mereka, kita kan tidak
bisa membedakan. Apalagi misalnya medannya, gelap, hutan atau rawa-rawa,"
katanya meski untuk kasus Ersa, Pangdam mengatakan sudah melakukan berbagai
cara bagi pembebasannya.
Pangdam juga menyampaikan pesannya pada wartawan untuk lebih berhati-hati
lagi dalam melakukan peliputan di Aceh. "Jangan asal nyelonong aja. Aspek
keamanan harus balance, apalagi mereka (GAM) tidak berada dalam satu garis
komando," demikian Endang. (mar)
Luka Tembak Ersa di Dua Tempat
Reporter : Nur Raihan
detikcom - Banda Aceh, Jenazah Ersa telah usai diotopsi. Ersa tewas akibat
dua tembakan di tubuhnya, di leher dan dada. Setelah dikafani, jenazah
tersebut disembahyangkan di musholla RS Kesrem, Lhokseumawe.
Rekan-rekan wartawan dan jajaran Koops TNI ikut melakukan proses sembahyang
jenazah bagi Ersa. Usai itu, doa-doa juga dipanjatkan di hadapan jenazah
Ersa yang sudah disemayamkan dalam sebuah keranda.
"Luka tembak Ersa, satu di bagian leher tembus ke tangan kanan dan satunya
lagi di dada tembus ke punggung," jelas Panglima Kodam Iskandar Muda, Mayjen
Endang Suwarya pada wartawan di Makodam Iskandar Muda, Senin (29/12/2003)
malam.
Pangdam yang juga Penguasa Darurat Militer Daerah (PDMD) ini, mengucapkan
rasa dukacita dan menyesalkan kejadian ini.
Menurut Endang, jenazah Ersa akan dievakuasi ke rumah keluarganya di
Jakarta, Selasa besok pagi.
Tiga hari yang lalu, Panglima Operasi GAM wilayah Peurlak, Ishak Dawood yang
menyendera Ersa menelpon sejumlah wartawan di Banda Aceh, meminta kepada
PMI maupun ICRC untuk segera menjemput Ersa dalam beberapa hari.
Karena kondisinya sudah sangat kritis, Ishak menyatakan GAM tidak akan
bertanggung jawab jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap Ersa.
(mar)
Kronologis Tewasnya Ersa Siregar
Reporter : Suwarjono
detikcom - Jakarta, Pangkoops TNI Brigjen George Toisutta mengatakan
wartawan RCTI Ersa Siregar tewas setelah terjadi kontak tembak antara
patroli TNI dari Batalion VI Marinir pimpinan Lettu Marinir Samson Sitohang
dengan GAM. Peristiwa terjadi di Dusun Kuala Maniham Kecamatan Simpang
Ulim Aceh Timur pukul 12.30 WIB siang tadi.
Berikut kronoligis kejadian tewasnya Ersa, menurut Toisutta dalam
teleconference di Mabes TNI, Cilangkap, Senin (29/12/2003) malam.
Peristiwa berawal ketika patroli keamanan dari Marinir menyisir daerah rawa
di Kuala Maniham dimana di daerah tersebut jarak pandang sangat terbatas.
Terbatasnya jarak pandang karena daerah itu tertutup alang-alang dan
pepohonan perdu.
Saat keduanya bertemu, langsung terjadi baku tembak dari jarak dekat.
Dalam pertempuran itu, kedua belah pihak baik GAM maupun TNI tidak
mengetahui kondisi lawan.
Tembak menembak antara keduanya terjadi begitu saja.
Sulitnya medan perang, membuat prajurit TNI menembak berdasarkan arah
tembakan dari GAM. Sangat sulit mengidentifikasi pihak lawan karena
situasinya. Tembakan dilakukan sebagai penyelamatan dari prajurit TNI.
Dalam pertempuran itu, kekuatan GAM diperkirakan berjumlah 8 orang dengan
senjata campuran. Setelah terjadi baku tembak selama 30 menit langsung
dilakukan pembersihan dan penyisiran.
Saat dilakukan penyisiran, pasukan TNI menemukan mayat dua orang, yaitu
satu dari GAM dan satu lagi dari sipil, bernama Ersa Siregar, wartawan RCTI.
Ersa disandera oleh GAM sejak 29 Juni sejak 29 Juni 2003. Saat itu juga
ditemukan 4 pucuk senjata dan barang milik pribadi. (mar)
Ferry Diduga Bersama Ersa
Reporter : Suwarjono
detikcom - Jakarta, Keberadaan kamerawan RCTI Ferry Santoro diduga berada
bersama dalam kelompok GAM yang melakukan baku tembak dengan TNI saat Ersa
Siregar tewas.
Indikasinya, setelah dilakukan penyisiran ditemukan sejumlah barang milik
Ersa dan Ferry.
Dalam penyisiran itu, ditemukan satu set kamera merk Sony bertuliskan RCTI.
Selain itu ditemukan juga tas berisi dua buah jaket, 3 buah dompet, satu
kartu anggota RCTI dan dua dompet dengan beberapa kartu ATM atas nama Ferry
Santoro dan Ersa Siregar.
Dengan temuan inilah menjadi salah satu indikasi Ferry berada dalam kelompok
GAM itu, menurut Jubir Koops TNI, Letkol TNI Ahmad Yani Basuki dalam
teleconference, di Mabes TNI, Cilangkap, Senin (29/12/2003). Namun demikian,
Yani, tidak bisa memastikan apakah Ferry berada dalam kelompok itu.
Yani mengatakan, tewasnya Ersa adalah konsekwensi dari pertempuran.
TNI tidak menginginkan adanya korban sipil. Tapi dalam operasi seperti ini,
GAM sering memanfaatkan sandera sipil untuk menjadi tameng.
Dalam kondisi pertempuran di rawa dan semak-semak, kata Yani, jarak pandang
jadi sangat sulit sehingga tidak bisa memastikan posisi Ersa dan Ferry.
Lebih jauh Yani mengatakan, pada 28 Desember Yon Marinir VI yang berada di
Pos Simpang Ulim mendapat info dari masyarakat, kalau ada sekelompok
GAM yang melintas di Kampung Bantaian. Berdasarkan info ini, Yon Marinir VI
mengirim tim Flores dan Dwipangga dengan kekuatan 13 orang untuk
melakukan pengecekan dan pengejaran.
Kemudian setelah menempuh perjalanan 12 kilometer, pada 29 Desember pukul
01.00 WIB, pasukan Marinir menemukan jejak pasukan GAM. Dan pada
pukul 12.30 saat melanjutkan patroli mereka melakukan pencegatan dan terjadi
kontak tembak dengan GAM yang berkekuatan 8 orang. Saat kontak tembak
itulah, Ersa tewas. (mar)