[Marinir] [Tempoint'f] Strategi KSAL Kent Sondakh Untuk Pertahanan Kedaulatan Negara

YapHongGie ouwehoer at centrin.net.id
Thu Dec 9 20:13:08 CET 2004


http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2004/12/09/brk,20041209-05,id.htm
l

Nasional
Strategi KSAL Kent Sondakh Untuk Pertahanan Kedaulatan Negara
Kamis, 09 Desember 2004 | 04:02 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta:Diam-diam Angkatan Laut Indonesia (TNI-AL) sudah
mempersiapkan cetak biru pertahanan laut Indonesia. "Yang kami kembangkan
adalah bagaimana mempersiapkan angkatan laut yang mengerti Archipelago
Strategic War, Strategi perang kepulauan, itu yang tidak ada dalam buku-buku
buatan luar negeri,"kata Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Bernard
Kent Sondakh, 56 tahun, kepada Tempo di ruang kerjanya di Mabes AL,
Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu siang (8/12).

Karena itulah selama Bernard memimpin AL-sejak 25 April 2002, langsung
mengelompokkan (menggroupkan) kapal-kapal yang dimiliki TNI AL menjadi tiga
: kapal tempur, kapal patroli dan kapal pendukung.

Kapal tempur (striking force) yang dilengkapi sensor weapon dan command yang
lengkap (alat deteksi, senjata dan meriam, dan peluru kendali dll), yang
fungsi utamanya untuk bertempur ada 36 kapal lalu diturunkan (degradasi)
menjadi 14 kapal.Kapal tempur itu yang menjadi primary line (baris utama)
pertahanan, kekuatannya bisa menenggelamkan kapal tempur lawan. "Tapi 14
kapal itu harus punya kemampuan 100 persen yang siap menenggelamkan kapal
tempur lawan,"kata Kent.

Sebelumnya kapal-kapal tempur yang ada tak lengkap, kalau tidak rudalnya
rusak, radarnya mati. "Berarti sebenarnya kalau kita lihat penampilan
angkatan laut saat itu memang armadanya ya memang kapal-kapal tua yang
jelek2 itu, Apa kita mau begitu terus?"tanyanya.

Padahal ada ancaman yang termasuk potensial (ancaman yang paling berpotensi
terjadi tetapi belum terjadi). Misalnya sengketa perbatasan, pelanggaran
alur laut kepulauan. "Itu yang harus dihadapi kapal tempur,"kata Kent.

Selebihnya 22 kapal diubah menjadi kapal patroli. agar bisa bergerak lebih
lincah untuk daerah kepulauan seperti Indonesia. "Itu merupakan secondary
line dengan kemampuan yang lebih,"kata Kent. Kapal patroli, yang penting
mesin dan navigasinya jalan, senjata kecil dan bisa cepat. "Kapal patroli
itu harus sebanyak-banyaknya, dan itu tidak mahal, yang penting mesin hidup,
navigasi bagus, kasih senjata kecil,"ujarnya. Karena ada ancaman faktual,
yang setiap hari terjadi, seperti illegal loging, illegal fishing,
penyelundupan dll itu dihadapi kapal patroli, "Dan itu yang paling
banyak,"ujarnya.

Dari 22 kapal ini, yaitu 16 eks Jerman Timur dan 6 eks Belanda, merupakan
kapal-kapal tua yang teknologinya ketinggalan, sehingga kalau merenovasinya
menjadi 100 persen, akan butuh dana yang besar. Sehingga kapal ini dijadikan
kapal patroli tetapi fungsinya tidak dihilangkan menjadi secondary
line(lapis kedua). Sehingga jika sewaktu-waktu negara membutuhkan perang, 22
kapal tersebut masih bisa digunakan untuk bertempur. "Tapi dalam keadaan
damai lebih baik jadi kapal patroli,"kata Kent. Kelompok ketiga, kapal-kapal
pendukung seperti tanker dan angkutan.

Selama ini orang awam, menurut Kent, membayangkan angkatan laut cuma Kapal.
Bagi publik angkatan laut itu hebat, kalau dilihat armada, kapal-kapal yang
hebat dan tentu performance, hasil dan kerjanya. "Yang menjadi pegangan saya
adalah kerjanya. Maka kebijakan apa yang harus saya ambil agar kapal hidup
kembali, sementara diut nggak ada. Beli baru susah, maka harus ada
kebijakan,"katanya.

Nah, strategi besar pertahanan menurut KSAL harus dibuat oleh Departemen
Pertahanan, lengkap dengan perencanaan anggarannya. "Tapi pada pelaksanaan,
dan strategi sektoral, harus dilakukan TNI-AL. karena kami yang tahu
persoalan di lapangan,"katanya.

Untuk pengamanan Selat Malaka, beberapa negara siap membantu, termasuk
Jerman. "Tetapi bagi kita yang penting bantuan asing itu tidak dalam bentuk
mengirim kekuatan patrolinya. Tetapi dalam bentuk sharing intelejen,
training, memberikan dan membantu pengembangan kekuatan seperti bantuan
peralatan,"kata Kent.

Karena itu KSAL kelahiran Tobelo, Halmahera, Maluku itu, mengadakan
kerjasama tiga negara, Malaysia, Singapura dan Indonesia (Malsindo).
Kerjasama itu untuk memperkuat kawasan Selat Malaka yang berbatasan dengan
ketiga negara itu. "Kalau tidak tiga negara itu yang melakukan pengawasan
dengasn kekuatan sendiri, kami kawatir kekuatan tempur asing masuk dengan
lasan mengamankan kapal-kapal niaga negeri yang lewat kawasan selat Malaka,
yang dianggap rawan keamanan,"katanya.

Karena gagasan Kent pada Malsindo itulah dua opekan lalu, Kent memperoleh
Bintang Tertinggi Panglima Gagah Angkatan tentra dari Yang dipertuan Agung
Raja Malaysia. "Kerjasama itu bukan dalam bentuk joint, tetapi dalam bentuk
trilateral, kerjasama tiga negara, komando pada masing-masing negara, jadi
kami hanya koordinasi,"katanya.

Tak salah jika, banyak pihak malah mendukung Laksamana Kent menjadi Panglima
TNI menggantikan Jenderal Endriartono. Bisakah para wakil rakyat di Senayan
melirik Kent?

Sunaria dan AT




More information about the Marinir mailing list