[Marinir] Sudibyo: Tertembaknya E Siregar Menimbulkan Masalah bagi TNI
Hong Gie
marinir@polarhome.com
Mon, 12 Jan 2004 07:31:50 +0700
http://www.apindonesia.com/krusial.htm
Politik
Jumat, 9/1/2004 10.30 WIB
SOEDIBYO: TERTEMBAKNYA ERSA SIREGA MENIMBULKAN MASALAH KRUSIAL BAGI TNI
Jakarta,(APIndonesia.Com).
Dengan gencar Al-Qaeda terus menyiarkan berbagai rencana serangan terhadap
daratan Amerika Serikat, seperti informasi yang di sadap oleh fihak
intelijen, bahwa al-Qaeda akan melakukan pemboman terhadap sasaran-sasaran
yang jauh dari kota-kota besar. Selain sasaran-sasaran umum seperti Pusat
Listrik, Bendungan (DAM Air), Pusat Komunikasi dan Pusat-pusat Industri
juga serangan ditujukan kerpada sasaran yang jauh dari Pusat Kehidupan
Amerika Serikat, yaitu tambang minyak di Alaska., pada hari Senin (5
Jamuari 2004) waktu setempat. Informasi-informasi meskipun kadang-kadang
sulit di nilai kebenaran dan ketelitiannya karena hanya berasal dari satu
sumber, namun perlu segera difollow up dengan tindakan-tindakan
operasional yang mahal, untuk menjamin kesiap siagaan dan tidak terlambat.
Dengan tidak mengenyampingkan kemungkinan perang urat syaraf dari kelompok
Al-Qaeda namun nampaknya ketidak pastian akan menjadi ciri-ciri pokok
dalam menghadapi aksi-aski terror yang tidak bisa diperkirakan dengan pasti
dimana dan kapan akan terjadi.
Demikian dikemukakan Letjen (Purn) Soedibyo pada APIndonesia.Com belum lama
ini di Jakarta seraya menambahkan, di Indonesia hilangnya sejumlah besar
detonator listrik (5796 buah) pada situasi ancaman terorisme yang
utamanya masih menggunakan bahan peledak dengan detonator listrik,
merupakan peristiwa yang dramatis dan serius dilihat dari ancaman
terorisme selanjutnya di Indonesia. Pemboman yang terjadi di Thailand
Selatan, di Philippina Selatan, di Peuroulak Aceh dan di Medan dalam
hari-hari terakhir pasti tidak bisa dibantah merupakan aksi terror, meskipun
pelaku dan motifnya belum jelas. Terrorisme sebagai tindakan jahat,
pelakunya merupakan spectrum yang luas, mulai dari kelompok-kelompok
criminal, kelompok-kelompok yang tidak puas dan sakit hati,
kelompok-kelompok dengan kepentingan yang bersifat sempit serta
kelompok-kelompok dengan motivasi-motivasi ideologi dan politik yang besar,
seperti organisasai Jemaah Islamiah.Mereka dilapangan tidak bisa dibedakan,
adakalanya secara taktis dan teknis bahkan berhubungan. Oleh sebab itu
detonator listrik yang sedemikian besar jumlahnya akan mudah tersebar
dikalangan terroris.
Mantan Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (BAKIN) juga memprediksi,
tertembaknya wartawan RCTI Ersa Siregar seperti diduga telah mengakibatkan
masalah yang krusial bagi TNI. Dewasa ini salah seorang wartawan dan dua
wanita masih dalam tawanan GAM dan seolah-olah menimbulkan tuntutan
politik dari Rakyat kepada Pemerintah agar segera dapat dibebaskan.
Untuk proses pembebasan itu Kabinet nampaknya ingin memanfaatkan peranan
PMI dan ICRC (International Commision for the Red Cross) sementara pihak
GAM menuntut gencatan senjata selama dua hari untuk proses pembebasan
tersebut. Fihak TNI menolak syarat yang diajukan GAM, khususnya adanya
klausul gencatan senjata dua hari, karena hal tersebut selain akan menaikkan
bobot politik GAM juga dapat menjadi preseden untuk akan terjadinya
penyanderaan-penyanderaan seperti yang dewasa ini terjadi. Secara politis
apabila upaya Pemerintah yang di kordinir Menko Polkam Soesilo Bambang
Yudhoyono berhasil, maka kredit point akan dinikmati Menko Polkan,
sedangkan TNI mungkin akan semakin tersudutkan.
Soedibyo juga menegaskan, TNI tidak anti asing atau anti Barat. Bahkan
affinitas kejiwaan TNI lebih condong ke Barat, seperti nampak dalam pola
Seragam Militer , tanda-tanda pangkat bahkan teori-teori militer teknis
lebih terasa American-look, US Army Style atau American-taste, meskipun
ratusan Perwira telah mengikuti pendidikan di berbagai Negara disamping
Amerika Serikat. Namun ada dorongan kuat agar ciri-ciri khas TNI
dipelihara, salah satunya yang sangat menjadi kebanggaan TNI AD adalah
konsep territorial TNI AD. Konsep territorial TNI AD bukan sarana
politik Dwi Fungsi TNI. Konsep territorial TNI AD mirip konsep Perang
Rakyat Vietnam atau Yugoslavia. Masalahnya timbul karena beberapa Perwira
TNI yang baru kembali dari belajar atau bertugas diluar negeri atau
kontak-kontaknya dengan sesame Perwira dari nrgara lain, membuat
saran-saran untuk menghapus konsep territorial TNI. Perwira-perwira
semacam ini sering disindir sebagai telah terinfiltrasi oleh
pikiran-pikiran asing.
"KASAD Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu dengan ucapannya bahwa ada
infiltarsi intelijen asing kedalam tentara condong diperkirakan
merupakan asosiasinya kepada antara lain masalah territorial yang pernah
menjadi sangat hangat didalam TNI,"kata Soedibyo.(Toni Ervianto).
[Home]