[Marinir] Re: Marinir Digest, Vol 6, Issue 6

Hong Gie ouwehoer at centrin.net.id
Tue Jul 13 17:12:44 CEST 2004


Bung Nugroho,

Terimakasih atas responds Anda jauh-jauh dari belahan bumi sebelah Utara,
Sweden kalau tidak salah, mengenai artikel di Kompas Cyber Media: "Istri
Anggota Marinir Dihukum 7Th Dalam Kasus Narkotika"

Anda benar sekali, kalau kita bicara mengenai kesejahteraan perajurit, maka
yang dimaksudkan disini adalah biaya kebutuhan keluarga yang paling basic,
seperti sandang-pangan, sekolah anak, kesehatan, dll., bukannya kebutuhan
untuk pergi berlibur atau belanja di Mall.
Dan kebutuhan mendasar ini sulit dipenuhi oleh kalangan perajurit, bintara
dan sebagian besar juga kalangan Pamen, yang umumnya sudah berkeluarga
dengan 2-3 anak yang meningkat remaja.
Tekanan ini semakin berat apabila mereka hidup di Jakarta dan kota besar
lainnya, dengan gangguan konsumerisme yang besar.
Pemantauan Anda juga benar sekali, bahwa jaman sekarang banyak Polisi
berpangkat Kapten standardnya memiliki mobil dan rumah pribadi.

Dengan reformasi TNI semakin suli peluang bagi anggotanya untuk nyambi atau
mendapatkan pemasukan extra dari kerja sampingan.
Disamping itu organisasi TNI mulai lebih teratur dan ketat dalam mengontrol
kegiatan personilnya, ditambah lagi masyarakat, LSM dan wartawan seolah-olah
berfungsi sebagai TNI Watch.
Pemerintah dan masyarakat menutut TNI yang profesional, melarang TNI
melakukan bisnis, namun dilain pihak hak imbalan secara profesional juga
tidak pernah menjadi pembahasan.
Ibaratnya, kita menuntut seorang sekretaris yang profesional, tetapi
menawarkan gaji setingkat pembantu rumah tangga.
Kalaupun masalah kesejahteraan perajurit sempat disinggung, maka orang
cenderung membantah dengan mengangkat kasus-kasus korupsi dari beberapa
oknum petinggi TNI, sehingga seakan-akan permasalahan ini bukan menjadi
prioritas negara, apalagi melihat gejala akhir-akhir ini dengan isu-isu
semangat
anti-militerisme.
Terkesan di lingkungan Korps Marinir tingkat kesejahteraan dibawah TNI-AD,
walaupun strata penggajian dan Uang Lauk-Pauk (ULP) aturannya sama rata.
Inilah gambaran saya secara pribadi mengenai masalah kesejahteran TNI,
mungkin rekan-rekan milis lain bisa mengkoreksinya.

Mohon maaf saya bukan maksud berkampanye, tetapi hal ini pula lah yang
menjadi harapan dan tuntutan keluarga besar para militer, ketika di
komplex-komplex TNI mereka pada umumnya memilih SBY-JK.
Seperti di negara lainnya, permasalahan kesejahteraan TNI adalah kewajiban
dan tanggung jawab Pemerintah bersama dengan DPR-RI, bukan lagi bisa
dipecahkan ditingkat Mabes atau Dephankam.

Demikian komentar dari saya, mungkin rekan-rekan milis bisa menambahkannya.

Wassalam, yhg.
------------------------------


http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0407/09/Politikhukum/1138594.htm

Politik & Hukum
Jumat, 09 Juli 2004
Yudhoyono Dititipi Pemulihan Citra Tentara

SEPERTI sudah diduga dan dianalisa sebelumnya, sebagian besar suara alumni
Cilangkap dan anggota keluarga besarnya memberikan dukungan kepada calon
presiden dari Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono dan calon wakil
presiden Jusuf Kalla. Tidak heran jika pasangan yang juga dicalonkan Partai
Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) dan Partai Bulan Bintang (PBB) ini
dielu-elukan saat penghitungan suara di tempat pemungutan suara mereka.

"Hidup SBY! Hidup JK! Bersama kita bisa!" Begitu salah satu teriakan massa
seperti paduan suara yang menggema dari TPS-TPS yang terletak di lingkungan
tentara. Di sebagian besar TPS di Kelurahan Cijantung, Pasar Rebo, Jakarta
Timur, misalnya, teriakan massa yang terlihat bergembira itu menggema di 100
TPS dari 103 TPS yang ada di sekitar Kompleks Komando Pasukan Khusus
(Kopassus) itu. Di 100 TPS tersebut, Yudhoyono menang mutlak meninggalkan
pesaing terdekatnya Amien Rais-Siswono Yudo Husodo yang hanya mampu menang
di tiga TPS saja.

Gema teriakan massa menyambut kemenangan pasangan Yudhoyono-Jusuf Kalla saat
penghitungan suara di TPS bergema juga di hampir seluruh lingkungan tentara
yang ada di Jakarta. Seperti di Cijantung, kemenangan mutlak pasangan
purnawirawan jenderal dan pengusaha ini juga dirayakan secara meriah dengan
sorak-sorai di kawasan perumahan Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat
(TNI AD), kawasan Halim Perdana Kusuma (TNI AU), dan kawasan Sunter-Kodamar
(TNI AL).

"Sudah kami duga dan perkirakan sebelumnya mengenai besarnya dukungan
keluarga besar TNI kepada pasangan Yudhoyono-Kalla. Keyakinan kami akan
dukungan suara keluarga besar TNI menguat ketika kami menggelar kampanye
rapat umum mengakhiri masa kampanye Yudhoyono-Kalla di Gelanggang Olahraga
Bung Karno, 27 Juni 2004 lalu. Lima tribun yang kami sediakan untuk keluarga
besar TNI di Jakarta penuh bahkan sejak pukul 09.00. Sejak itu kami menjadi
semakin yakin akan besarnya dukungan mereka," ujar anggota seksi pengumpulan
dan pengolahan data Tim Kampanye Nasional SBY-JK Zainal H Yusuf, di Jakarta,
Kamis (8/7).

Meskipun mengaku terkejut dengan dukungan besar keluarga besar Cilangkap dan
alumninya, Zainal mengaku suara yang diperoleh pasangan Yudhoyono-Kalla di
kantong tentara telah terpetakan sebelumnya. Memetakan dan memprediksi arah
pilihan politik tentara menurut Ketua Bidang Organisasi PKPI ini lebih mudah
karena kultur komando, disiplin tinggi, dan kepastian data anggota.

Ditanya kenapa antusiasme keluarga besar tentara kepada pasangan
Yudhoyono-Kalla begitu tinggi, Zainal mengangkat tangan tanda tidak tahu
secara pasti. Namun, berdasarkan pengalamannya sebagai anak kolong, Zainal
berujar, "Kami sebagai anak tentara sejak kecil mendambakan pemimpin yang
gagah dan kuat. Kegagahan kami temukan pada sosok tentara. Karena itu, omong
kosong jika anak tentara tidak mengharapkan tentara menjadi presiden."

Ditanya lebih lanjut mengapa di antara tiga figur purnawirawan jenderal yang
maju ke muka pilihan lebih banyak dijatuhkan kepada Yudhoyono, Zainal
kembali berujar, "Selain mendambakan pemimpin yang kuat dan gagah, kami juga
mengidam-idamkan pulihnya kembali citra tentara. Kami anggota keluarga besar
tentara melihat Yudhoyono dapat memulihkan kembali citra tentara karena
sedikitnya masalah di sekitarnya jika dibandingkan dengan Wiranto."


MENURUT analisa dan hitungan Tim Kampanye Nasional SBY-JK, dibandingkan
dengan partai politik, organisasi keluarga besar tentara dilihat lebih
efektif menjadi "mesin politik". Dengan jumlah purnawirawan beserta anggota
keluarganya yang mencapai lebih dari 12 juta, dapat dibayangkan berapa suara
yang dapat diperoleh jika potensi tersebut dimanfaatkan secara tepat. "Dalam
menggarap besarnya potensi suara keluarga besar tentara, kami juga
mempertimbangkan efek dominonya. Umumnya purnawirawan apa pun pangkat
terakhirnya tetap menjadi komandan di lingkungan tempat tinggalnya,"
ujarnya.

Karena itu, pernyataan resmi dari Persatuan Purnawirawan dan Warakawuri
Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian RI (Pepabri) untuk mendukung calon
presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wiranto lantas ditindaklanjuti dengan
upaya pendekatan door to door. Untuk melipatgandakan upaya itu, seminggu
setelah PKPI mencalonkan Yudhoyono-Kalla, jaringan anggota keluarga besar
tentara yang telah terbentuk dan berjalan efektif di PKPI digerakkan.

Jaringan anggota keluarga besar tentara di PKPI ditampung dalam Barisan Muda
PKPI yang didalamnya masuk Pemuda Panca Marga dan Forum Komunikasi Putra
Putri Purnawirawan dan Putra Putri TNI (FKPPI). "Setelah PKPI mencalonkan
Yudhoyono, jaringan FKPPI dan PPM bergerak. Dengan bergeraknya jaringan ini,
tergaraplah potensi besar suara keluarga tentara," ujar Zainal yang juga
Ketua Bidang Organisasi PKPI.

EFEKTIVITAS upaya penggalangan keluarga tentara oleh jaringan yang mereka
miliki terbukti secara nyata di sejumlah kompleks tentara dan Polri di
Jakarta. Dari 128 kompleks tentara yang ada di Jakarta, menurut catatan
Zainal, setidaknya ada 80 kompleks yang dimenangkan Yudhoyono. Kemenangan
itu merata di seluruh angkatan baik Kompleks TNI AD, TNI AU, maupun TNI AL.

Sebagai contoh di Kelurahan Cijantung, tempat bertebarannya kompleks
perumahan TNI AD. Di kelurahan ini, pasangan Yudhoyono-Kalla menang telak.
Dari 103 TPS dengan 22.833 suara pemilih yang dinyatakan sah di kelurahan
itu, Yudhoyono menang di 100 TPS memperoleh 10.106 suara. Menyusul di urutan
kedua pasangan Amien Rais-Siswono Yudo Husodo dengan 6.396 suara.

Calon presiden lain yang juga purnawirawan jenderal, Wiranto, yang
berpasangan dengan Salahuddin Wahid, berada di urutan keempat dengan
perolehan 2.255 suara di bawah perolehan pasangan Megawati
Soekarnoputri-Hasyim Muzadi yang memperoleh 3.806 suara. Di kompleks
tentara, pilihan memang cuma dua yaitu kalau tidak Yudhoyono maka Wiranto.
Kandidat lain tampak hanya sebagai penggembira saja karena hanya mendapat
suara belasan saja per TPS yang rata-rata memiliki pemilih 200 orang.

Contoh perolehan suara Yudhoyono-Kalla di lingkungan perumahan tentara di
Jakarta menguatkan anggapan sebelumnya mengenai besarnya dukungan anggota
keluarga besar tentara kepada Yudhoyono. Di pundak Yudhoyono, keluarga besar
anggota tentara menyerahkan harapan pulihnya citra tentara yang menjadi
bulan-bulanan reformasi. Yudhoyono lebih dipercaya karena dinilai tidak
banyak bermasalah dibanding calon tentara lainnya. Sekali tentara tetap
tentara! (wisnu nugroho)




----- Original Message -----
From: Nugroho Dwi Priyohadi
To: marinir at polarhome.com
Sent: Tuesday, July 13, 2004 6:27 PM
Subject: [Marinir] Re: Marinir Digest, Vol 6, Issue 6

Yth. Bapak Hong Gie.....

saya adalah peserta milis ini, mohon maaf saya mengomentari kasus di bawah
ini. menurut saya, meskipun perilaku ybs tidak bisa dibenarkan, tetapi akan
lebih bijaksana kalao pihak kesejahteraan tentara, maaf apa ya namanya,
intinya pihak TNI meneliti mengapa ada aggota dan istri melakukan demikian.
(deleted).

wassalam
nug van malmö, sverige






More information about the Marinir mailing list