[Marinir] MAR] Keharuan Warnai Pelepasan Yonif-7 Mar
Hong Gie
ouwehoer at centrin.net.id
Wed Jul 28 09:29:59 CEST 2004
Penugasan Satgas MAR Rencong Sakti akan memakan waktu lebih dari 12 bulan,
dimana memasuki periode 6 bulan berikutnya akan muncul tanda-tanda
kejenuhan, menurunnya semangat dan disiplin, menurunya kewaspadaan, serta
gejala fatigue pasukan, yang bisa mengancam moral dan moril kesatuan.
Kepada Yonif-7 MAR yang dipimpinan oleh Letkol. Mar. Bambang Sus, kita
ucapkan Selamat jalan, semoga berhasil melaksanakan tugas dan kembali dengan
selamat !
http://www.marinir.mil.id/detail.php?id=37&PHPSESSID=eaf4c2bee202f8c1d6dc24e
cc5a8e903
DETAIL BERITA
KEHARUAN WARNAI PELEPASAN MARINIR
(Dispen Kormar, 22/7/04)
600 prajurit Marinir yang tergabung dalam Satgas Mar Rencong Sakti XXVI
dilepas oleh Komandan Korps Marinir Mayor Jenderal TNI Marinir Achmad Rifai
dari Pelabuhan Kolinlamil Tanjung Priuk Jakarta Utara untuk diberangkatkan
ke NAD
Keharuan mewarnai pelepasan tersebut. Istri, anak, saudara, teman dekat
hadir menghantarkan prajurit Marinir yang akan melaju di medan tugas di
Tanah Rencong dalam waktu kurang lebih satu tahun seperti kesatuan-kesatuan
sebelumnya untuk operasi pemulihan keamanan (Kamis, 22/7).
Para prajurit Marinir yang berasal dari Yonif-7 Marinir Cilandak Jakarta
Selatan ini harus rela meninggalkan keluarga mereka demi menunaikan tugas
negara yang mulia.
Dengan bangga keluarga melepas kepergian orang yang dicintai dan dibanggakan
berlaga sebagai kesatria.
Satu diantara mereka adalah istri Pratu Marinir M. Darto, Ny. Sutarti adalah
orang yang rela melepas kepergian suami tercinta. Pratu Marinir M.Darto baru
saja menikahi Ny. Sutarti pada tanggal 19 Juli 2004 yang lalu.
Mereka masih pengantin baru. Mungkin janur kuning yang menghiasi pernikahan
mereka belum kering, saat-saat yang indahpun masih mereka rasakan, akan
tetapi panggilan tugas sebagai prajurit datang menuntut Sumapah Setianya.
Ny. Sutarti mengaku berat hati, wajarlah air mata selalu membasahi pipinya.
Namun dari awal Ny. Sutarti menyadari hal ini pasti dia alami.
Sebagai manusia biasa dia hanya berdo'a kepada TUhan Yang Maha Esa agar
suami tercinta dapat menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya dan selalu dalam
lindungan Yang Maha Pelindung.
Pratu Mar M. Darto beramanah kepada istrinya agar dapat menjaga diri dengan
sebaik-baiknya hanya kepercayaan dan kesetiaan yang dia sampaikan kepada
istrinya yang ia nikahi setelah gelar kesiapan pasukan yang dihadiri Asops
Kasum TNI Mayjen TNI Adam Damiri (19/70.
Dia memutuskan cepat menikah menjelang pemberangkatan tugas agar dapat
tenang menjalani tugasnya.
Dari pada kepikiran mendingan nikah dulu, ungkapnya.
Satu wanita yang juga mengalami nasib serupa adalah Ny. Ida Royani istri
Pratu Marinir Edy Suwarno.
Pratu Edy menikah 29 Juni 2004. Wanita asal Palembang ini juga mengaku berat
melepas kepergian suaminya, namun dia tetap sabar dan tawakal dan akan
selalu menjaga amanah sang suami.
Disamping pasangan pengantin baru, ada juga yang meninggalakan istri yang
sedang hamil.
Hanya doa-doa yang mereka panjatkan ke hadirat Yang Maha Kuasa.
Agar yang pergi dan yang ditinggalkan selalu dalam lindungannya. Mereka
harus hidup tanpa kehadiran sang suami dalam kesehariannya. Semoga bayi yang
dikandung selamat sampai melahirkan itu harapan Ny. Aminah.
Begitulah kehidupan prajurit Marinir. Tugas diatas segalanya.
More information about the Marinir
mailing list