[Marinir] [Kompas] Panglima TNI: Capres Purnawirawan Jangan
Pengaruhi TNI
Hong Gie
ouwehoer at centrin.net.id
Tue Jun 1 09:27:46 CEST 2004
Untuk kesekian kalinya Panglima TNI menekankan kembali pada seluruh jajaran
TNI, secara institusional maupun pribadi, bahwa TNI bersikap netral selama
proses Pemilu 2004, demi menjaga suksesnya proses transisi menuju demokrasi.
TNI telah bertekad meninggalkan politik praktis dan politik partisan.
----------------------------------------------------
Berita Utama
Selasa, 01 Juni 2004
Capres Purnawirawan Jangan Pengaruhi TNI
Jakarta, Kompas - Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto menyatakan,
tampilnya tiga purnawirawan TNI sebagai calon presiden dan calon wakil
presiden serta sejumlah anggota tim sukses kandidat presiden, adalah bagian
dari demokrasi yang telah disepakati seluruh bangsa. Walaupun para
purnawirawan memiliki hubungan emosional dengan TNI, namun mereka tidak
pernah mewakili TNI dan tidak memiliki kaitan struktural dengan TNI.
"Kepada para purnawirawan yang akan bertarung dalam pemilu, saya ingatkan
agar tidak menggunakan hubungan emosionalnya untuk tujuan kekuasaan. Kalau
sampai itu dilakukan, saya sangsi para purnawirawan itu berjuang untuk
bangsa," ujar Panglima TNI dalam pengarahan kepada seluruh jajaran Panglima
Komando Utama (Pangkotama) TNI di Jakarta, Senin malam (31/5).
Dalam ramah tamah itu, Endriartono duduk akrab satu meja dengan Kepala Staf
TNI AD Jenderal Ryamizard Ryacudu, Kepala Staf TNI AL Laksamana Bernard
Kent Sondakh, dan Kepala Staf TNI AU Marsekal Chappy Hakim.
Seluruh jajaran Pangkotama hadir kecuali Asisten Operasi KSAD dan Panglima
Komando Pertahanan Udara Nasional.
Meskipun pengarahan dilakukan dalam suasana santai sambil makan malam
diiringi musik dengan penyanyi, Endriartono menyebut acara itu sebagai acara
yang sangat serius. Menurutnya, suasana acara dibuat santai agar seluruh
Pangkotama meresapi, memahami, dan melaksanakan soal bagaimana TNI
memposisikan diri dalam proses demokratisasi yang sedang berjalan.
Kepada purnawirawan dan anggota keluarga TNI, Endriartono justru
menganjurkan dan mendorong mereka untuk menggunakan hak pilihnya, sesuai
dengan hati nurani. Markas Besar TNI, juga tidak akan menghalangi kandidat
manapun, yang berusaha menarik para purnawirawan atau anggota keluarga TNI,
asalkan menggunakan cara-cara sah.
Endriartono juga menyebut calon presiden dan calon wakil presiden
purnawirawan, sebagai founding fathers (penggagas dan pelaksana) reformasi
dalam tubuh TNI.
Namun, untuk kesekian kalinya, Panglima TNI menegaskan lagi, secara
institusional maupun pribadi, TNI bersikap netral selama proses Pemilu 2004,
demi menjaga suksesnya proses transisi menuju demokrasi. TNI telah bertekad
meninggalkan politik praktis dan politik partisan. "Pada tahun 2004 kita
tujukkan tekad itu dengan tidak mendukung tetapi juga tidak melakukan
kegiatan merintangi atau memboikot calon presiden manapun.
Dengan meninggalkan hak pilih kami, TNI berharap para calon presiden dan
para pendukung atau tim suksesnya menggunakan cara-cara fair, jujur, dan
tidak menghalalkan segala cara untuk meraih kekuasaan. "Kami mengakui, ada
upaya atau tarikan-tarikan kepada TNI untuk memihak kepada salah satu
pasangan calon," ujar Endriartono.
Karena itu untuk menegaskan netralitas TNI, Endriartono menyebut lima
larangan. Pertama larangan penggunaan satuan atau perorangan dan fasilitas
TNI untuk kegiatan pemilu. Kedua, larangan penggunaan satuan atau perorangan
TNI untuk membantu kandidat selama kampanye. Ketiga larangan berkomentar,
berdiskusi tentang kontestan baik sesama prajurit, keluarga atau masyarakat.
Keempat larangan menyimpan atau menempel atribut kontestan di lingkungan
TNI. Dan kelima larangan menyambut atau mengantar kontestan. "Untuk itu
semua, saya perintahkan seluruh parjurit untuk menjaga kekompakan. Jangan
mau dipecah belah dengan iming-iming tertentu," ujarnya.
Dengan tegas dan berulang-ulang ini, Endriartono menyatakan akan menjatuhkan
sanksi terberat kepada yang tidak netral. "Jangan hanya karena iming-iming
kalian melakukan tindakan penghianatan bangsa dengan menciderai netralitas,"
ujar Endriartono.
Akan tawarkan kabinet
Sementara itu, Partai Golkar menyatakan tengah mempertimbangkan untuk
mengumumkan susunan kabinet bayangan, sebelum memasuki putaran kedua Pemilu
Presiden. Setidaknya, beberapa menteri yang memiliki posisi kunci akan
ditawarkan kepada masyarakat sebagai pertimbangan sebelum memilih calon
presiden dan wakil presiden.
Demikian dikatakan Ketua DPP Partai Golkar Fahmi Idris semalam. "Yang kelak
akan ditawarkan terutama posisi menteri-menteri di bidang ekonomi dan hukum.
Dua bidang ini lah yang dalam lima tahun ke depan penting, sehingga rakyat
perlu tahu siapa yang ditawarkan oleh calon presiden dan wakil presiden,"
ujar Fahmi.
Hal senada dikatakan Ketua Umum DPP Partai Golkar Akba Tanjung, di sela-sela
pembekalan Juru Kampanye Wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten.
"Beberapa posisi kunci perlu ditawarkan seperti Menteri Keuangan, Menteri
Dalam Negeri, Menteri Luar Negeri, Menteri Pendidikan, dan Jaksa Agung.
Tapi, ini tentu perlu dibicarakan dengan capres dan cawapres, Wiranto dan
Salahuddin Wahid serta dukungan PKB," tambah Akbar.
Khofifah Mundur
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa Senin kemarin
(31/5) menyatakan mundur sebagai anggota Tim Sukses calon presiden dan wakil
presiden Wiranto-Salahuddin. Ini dilakukan atas instruksi Dewan Pimpinan
Pusat Muslimat NU, yang meminta seluruh anggotanya bersikap netral dalam
pemilu.
"Saya sudah minta izin Pak Alwi (Ketua Umum DPP PKB Alwi Shihab). Saya
mengatakan mundur jika benar, seperti disebut media massa, saya masuk tim
sukses Wiranto-Wahid. Menurut saya sudah cukup banyak jajaran DPP PKB yang
sudah bergabung dalam tim sukses itu," ujar Khofifah.
Khofifah menambahkan, seluruh pengurus Muslimat NU, yang saat ini tercatat
sebagai anggota tim sukses pasangan kandidat tertentu, harus nonaktif dari
kepengurusan. "Kami minta Muslimat NU seoptimal mungkin berhati-hati dengan
kegiatan mobilisasi massa seperti istighosah, majelis taklim atau aktivitas
ritual lain, agar tidak dimanfaatkan kandidat mana pun untuk menggalang
dukungan," ujar Khofifah.
Hal itu dilakukan mengingat selama ini Muslimat NU, yang jumlahnya sekitar
12-13 juta orang, sering menjadi andalan untuk mengumpulkan massa.
Kampanye Mega
Di kediaman resmi Presiden Jalan Teuku Umar Jakarta Pusat, calon presiden
dari PDIP Megawati Soekarnoputri menggelar jumpa pers. Didampingi calon
wakil presiden dari PDIP Hasyim Muzadi, Megawati memaparkan lima butir
rencana program yang akan dilaksanakan bila memenangkan pemilihan presiden
mendatang.
Lima program itu meliputi, lapangan kerja dan usaha, pendidikan,
kesejahteraan sosial, pelayanan kesehatan, dan infrastruktur. Program
lapangan kerja antara lain akan menciptakan lapangan kerja baru bagi 12,9
juta orang, skema kredit baru non agunan untuk UKM dan subsidi pupuk.
Untuk pendidikan, ditargetkan antara lain, pengangkatan 100.000 guru baru
per tahun ,meningkatkan penerima bea siswa, dan memperbaiki serta membangun
sekolah baru. Bidang kesejahteraan sosial di antara lain mengurangi
kemiskinan, subsidi beras, subsidi minyak tanah dan perumahan. Sementara
untuk infrastruktur antara lain dicanangkan program kelistrikan, jalan baru,
air bersih, irigasi, dan jalan kereta.
Acara yang dipandu Sekretaris Jenderal DPP PDIP Sutjipto itu juga dihadiri
Hermawan Sulistyo, Rizal Malarangeng, Sri Adiningsih, Ahmad Bagdja, Moerdaya
Poo, Marisa Haque, Irma Hutabarat, Dedi Sutomo dan Ruyandi Hutasoit.
Relawan peduli
Pada hari yang sama di Jakarta, kelompok baru pendukung Amien Rais-Siswono
Yudo Husodo, "Kelompok Relawan Peduli Indonesia baru mendukung
Amien-Siswono", dideklarasi. Ketua kelompok, Ine Hakim Tohir menjelaskan,
kelompok masih didominasi kalangan selebritis dan pengusaha. "Kami bukan
orang partai, atau menjadi bagian dari tim sukses pak Amien. Kami membentuk
kelompok ini karena kami bersimpati dengan usaha Pak Amien dan Pak Sis,"
ujar Ine.
Ine mengakui, kelompok barunya tidak akan mampu menghadapi mesin-mesin
politik pesaing Amien-Siswono. "Ya kita memang tidak berniat membuat mesin
politik. Kita cuma ingin membangun dan memperluas kelompok gaul agar
Amien-Siswono bisa ngetrend," kata Ine. (ELY/OSD/win/dwa/sut/bur/inu)
More information about the Marinir
mailing list