[Marinir] Marinir di Nias Bermodal Nyali...

Yap Hong Gie ouwehoer at centrin.net.id
Thu Apr 7 22:23:22 CEST 2005



HARI-hari pertama pascagempa bumi suasana sedih menyelimuti kota Gunung 
Sitoli, Kabupaten Nias, Sumatera Utara. Ratapan berbaur dengan rasa 
kehilangan dan kepedihan akibat perginya anggota keluarga yang dicintai. 
Bangunan fisik kota pun centang-perenang. Rumah, toko, sekolah, dan 
rumah ibadah ambruk sehingga muncul gambaran mengerikan di sana.

DALAM kondisi seperti itu warga terpesona pada tim penyelamat dari 
berbagai negara, seperti Singapura, Hongaria, Australia, dan Meksiko. 
Mereka datang dengan berbagai peralatan lengkap berikut seragam yang 
dikenakan. Penampilan mereka tak ubahnya dengan mereka yang ada di 
film-film bertemakan penyelamatan manusia dalam sebuah bencana besar. 
Mereka terkesan benar-benar gagah!

Namun, pesona itu hanya bertahan sekitar dua hari. Anggapan ini berbalik 
ketika anggota pasukan Marinir TNI Angkatan Laut yang datang dari Medan, 
Sumatera Utara, sampai di lokasi bencana. Begitu memasuki kota Gunung 
Sitoli, Rabu (30/3), pasukan marinir itu langsung bekerja.

Pertama kali, setidaknya mereka sudah bisa meredam amarah warga yang 
hendak menjarah beras di depan pendopo Kabupaten Nias. Dengan sigap 
pasukan marinir menenangkan warga hingga kiriman beras itu aman dan 
tidak lama kemudian bisa dibagikan kepada warga.

Kerja pasukan marinir yang paling dramatis dan membanggakan adalah 
ketika menyelamatkan Hendra (40), warga Jalan Jenderal Sudirman Nomor 6, 
Gunung Sitoli, Sabtu lalu. Selama tujuh setengah jam pasukan marinir dan 
juga tim Brigada Internacional de Rescate Azteca (BIRT) Meksiko dan 
Singapore Rescue Team berhasil mengangkat Hendra yang selama lima hari 
berada di bawah reruntuhan bangunan.

"Saya sangat gembira bisa menyelamatkan Hendra," kata Sersan Satu (Mar) 
Totok Santoso, salah seorang anggota marinir yang menyelamatkan Hendra. 
Setidaknya ada empat anggota marinir yang bahu-membahu bersama tim 
penyelamat dari negara lain di tempat itu.

Totok menceritakan, keterampilan menyelamatkan nyawa dalam berbagai 
medan didapatkannya saat dia mengikuti pendidikan marinir. Setelah itu 
keterampilannya makin terasah karena Totok menjadi anggota tim 
penyelamat (SAR) di Provinsi Sumatera Utara.

Komandan Batalyon Marinir Belawan Letkol Tofik Manggus mengatakan, 
sejumlah anggotanya yang ikut dalam penyelamatan Hendra dan mengevakuasi 
korban yang meninggal di reruntuhan memang terbiasa dengan operasi 
penyelamatan.

"Bahkan, operasi penyelamatan dengan cara menyelam di dalam air yang 
keruh juga biasa dilakukan," kata Tofik, yang pada tahap awal telah 
memberangkatkan 100 anggota Marinir Belawan ke Pulau Nias. Tofik mengaku 
bangga dengan anak buahnya yang dengan sigap bekerja di lapangan.

Sudah barang tentu kerja Totok dan rekan-rekannya itu membanggakan Tofik 
dan Korps Marinir. Meskipun demikian, Tofik pun tetap meminta agar 
anggotanya tetap berhati-hati dan menghitung risiko setiap kali memasuki 
reruntuhan bangunan yang kadang sangat sempit dan hanya bisa dimasuki 
badan. Di samping itu, gempa susulan yang sering terjadi menjadikan 
puing-puing itu mudah bergeser.

"Saya berpesan begitu karena puing-puing bangunan itu mudah runtuh," 
kata Tofik, yang memantau anak buahnya langsung di lokasi penyelamatan.

MELIHAT kerja marinir dibandingkan dengan tim penyelamat dari negara 
lain, kadang muncul juga hal-hal yang mengharukan. Tim penyelamat dari 
luar negeri umumnya mengenakan seragam yang memang sesuai untuk operasi 
penyelamatan berikut helm dan kaus tangan yang tebal. Sudah tentu mereka 
pun dilengkapi dengan alat yang komplet, mulai dari pemotong besi beton, 
pembongkar beton, hingga dongkrak hidraulik untuk menahan tembok yang 
kemungkinan bisa runtuh.

Sebaliknya, jika melihat perlengkapan marinir, rasa haru yang muncul 
lebih kuat. Mereka hanya mengenakan seragam marinir biasa tanpa helm 
pelindung. Beberapa di antaranya menggunakan kaus tangan, namun ada juga 
yang tangan telanjang alias tanpa kaus tangan. Alat-alat yang ada pun 
hanya berupa palu, tali, dan pahat besi.

Walaupun demikian, kepercayaan diri anggota marinir sangat tinggi saat 
bekerja. Mereka langsung memasuki ruang yang ada di reruntuhan meski 
sangat sempit, sementara anggota tim penyelamat lainnya tampak masih 
ragu-ragu untuk melakukan hal serupa.

Dengan alat seadanya, mereka kadang terpaksa mencari akal untuk 
menyiasati keadaan. Semisal, ketika dibutuhkan semacam tangga untuk 
menuruni reruntuhan, sementara alat yang dibutuhkan itu tak tersedia, 
Totok dengan cerdik memanfaatkan tali hingga ia bisa menuruni ruang yang 
ada di puing-puing tersebut dengan kedalaman empat meter.

Kerja pasukan marinir sungguh membanggakan. Warga yang melihat operasi 
penyelamatan itu tidak sedikit yang terharu dengan mereka.

Pasukan marinir itu pun tentunya bangga pada diri mereka. Bermodal 
keberanian yang besar, mereka tidak kalah dengan tim penyelamat dari 
negara lain. Nyali, komitmen pada tugas dan kemanusiaan, menjadi 
pegangan para anggota marinir di Nias. 
(NEL/AIK/MAR)


More information about the Marinir mailing list