[Marinir] [hankam] Kapal Malaysia Tabrak KRI suherly_az
Yap Hong Gie
ouwehoer at centrin.net.id
Sun Apr 10 07:23:35 CEST 2005
From: "Zaini" <suherly_az at ...>
Date: Sat Apr 9, 2005 6:18 pm
Subject: Kapal Malaysia Tabrak KRI suherly_az
Minggu, 10 Apr 2005,
Kapal Malaysia Tabrak KRI
http://www.jawapos.com/index.php?act=detail_c&id=165996
SBY Inginkan Penyelesaian Damai
TARAKAN - Kesabaran para prajurit TNI-AL yang berpatroli di Perairan
Ambalat benar-benar diuji. Meski armada tempur Malaysia secara terbuka
bermanuver dengan sengaja menabrak KRI Tedung Naga, pasukan TNI masih
sabar untuk tidak membalasnya.
Jumat pagi lalu, Kapal Diraja Malaysia (KDM) Rencong melakukan
tindakan yang sempat memanaskan situasi laut kaya minyak di Perairan
Kaltim tersebut. KDM Rencong secara sengaja memasuki wilayah Indonesia
serta mendekati proyek mercusuar Karang Unarang.
Menyaksikan manuver kapal perang Malaysia yang tinggal beberapa ratus
meter dari Karang Unarang tersebut, KRI Tedung Naga yang sedang
berpatroli berusaha menghalanginya.
Akibatnya, KDM Rencong langsung menabrak KRI Tedung Naga.
Kedua pihak langsung bersiaga. Tak ada yang berani meletuskan tembakan.
Walaupun tak ada letusan meriam, tabrakan antar kedua kapal perang tersebut
merupakan yang pertama terjadi sejak situasi Perairan Ambalat yang
sama-sama diklaim kedua negara memanas.
Komandan Gugus Tempur Laut RI Armada Timur (Guspurla Armatim)
Laksamana Pertama Soeparno menjelaskan, tabrakan itu terjadi sekitar
pukul 06.55 Wita. "Kapal tersebut (kapal Malaysia) berusaha mendekati
Karang Unarang," ungkapnya dalam jumpa pers di atas KRI Karel Satsuit
Tubun (KST) kemarin sore.
Aksi KDM Rencong yang menabrak KRI Tedung Naga tersebut hanya berjarak
500 meter dari Karang Unarang. Terjadi beberapa kali benturan.
"Gesekan itu terjadi sampai tiga kali," jelas Soeparno yang lebih
senang menyebut tabrakan tersebut sebagai gesekan.
Laksamana TNI-AL berbintang satu itu menambahkan, meski telah terjadi
tiga kali gesekan, tak ada kontak komunikasi antara kedua kapal
tersebut. KDM Rencong berhasil diusir setelah dua kapal perang TNI-AL
lainnya datang membantu. "Sejak itu hingga hari ini (kemarin sore,
Red), tak satu pun kapal Malaysia berada di sekitar Karang Unarang,"
ujarnya.
Secara fisik, menurut dia, KRI Tedung Naga tidak mengalami kerusakan.
Hanya, cat di lambung kanan kapal sedikit lecet. Sedangkan mengenai
kondisi KDM Rencong, dia tak mengetahui pasti apakah rusak atau tidak.
Saat ditanya wartawan, apa yang akan dilakukan jika terjadi insiden
serupa, Soeparno mengatakan bahwa KRI akan lebih keras. "Kalau pakai
cara halus nggak bisa, ya lebih keras," tandasnya.
Ketika ditanyakan kembali apakah aksi manuver Malaysia itu memang
sengaja atau tidak, Soeparno mengaku tak bisa menduga. Menurut dia,
begitu terjadi gesekan dan pengusiran dari KRI, kapal perang Malaysia
itu langsung pergi. "Pengamanan selanjutnya, TNI-AL tetap akan
menyiagakan beberapa KRI di Karang Unarang," tuturnya.
Malaysia Sengaja Menabrak
Bagaimana sebenarnya kejadian itu? Komandan KRI Tedung Naga Kapten
Laut (P) Nurlan yang diwawancarai secara terpisah mengindikasikan,
manuver KDM Rencong itu dilakukan secara sengaja. Ketika terjadi
gesekan, kata Nurlan, anak buahnya diperintahkan untuk masuk ke KRI
dan selalu siap tempur serta siaga. Artinya, setiap ABK KRI diawaki
senjata yang terisi lengkap amunisi.
"Mereka saya siapkan untuk siaga dan siap tempur. Sewaktu-waktu saya
perintahkan untuk tempur sudah siap semuanya. Hanya beberapa anggota
yang tetap berada di luar untuk melihat situasi yang terjadi selama
gesekan tersebut," katanya.
Lebih rinci dijelaskan, secara fisik gesekan yang terjadi di lambung
kanan kapal itu sekitar 20 meter dari panjang keseluruhan kapal.
Tetapi, yang lecet atau catnya terkelupas hanya di lambung belakang.
"KDM Rencong penyok di bagian lambung," jelasnya.
Menurut Nurlan, KDM sengaja melakukan manuver hingga gesekan terjadi
untuk memancing amarah TNI. "Mereka sengaja melakukan itu," ungkapnya.
Saat kejadian itu, KDM Rencong meluncur dengan kecepatan 20 knot.
Sedangkan KRI hanya 6,6 knot. Karena posisi KRI Tedung Naga hanya
menghalau dan terbuat dari fiberglass, jelas Nurlan, dirinya tidak
mengambil action yang berlebihan.
SBY Pilih Damai
Pemerintah memilih bersikap lunak dalam menanggapi insiden Jumat pagi
itu. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta insiden antara
KRI Tedung Naga dan KDM Rencong milik Malaysia di kawasan Ambalat itu
diselesaikan secara damai.
Setelah dua KRI lain datang, kapal Malaysia melarikan diri dari
kawasan tersebut. Ditanya apakah ada unsur kesengajaan dari pihak
Malaysia, panglima mengelaknya. Dengan diplomatis, dia mengatakan
bahwa kedua kapal tersebut sama-sama menjalankan tugasnya. "Kita pun
akan menghalangi apabila mereka (Malaysia) tetap ingin masuk," tegas
jenderal bintang empat ini.
Panglima TNI menyerahkan sepenuhnya penyelesaian insiden ditabraknya
KRI Tedung Naga oleh KDM Rencong milik Malaysia itu kepada Presiden
SBY. Dia akan melaporkan insiden itu secara detail kepada Presiden
SBY, yang kemarin baru pulang dari kunjungannya selama enam hari di
tiga negara, yaitu Australia, Selandia Baru, dan Timor Leste.
"Sekarang tinggal penyelesaian masalahnya seperti itu dan
kewenangannya ada pada pemerintah (presiden)," ungkapnya. Sebab, dia
mengaku belum secara detail melaporkan insiden tabrakan itu kepada
presiden.
Hingga kemarin, panglima juga mengaku belum berkomunikasi dengan
Panglima Tentara Diraja Malaysia terkait insiden tabrakan kapal milik
dua negara itu. "Ya, nanti kita sampaikan dululah pada pemerintah
(Presiden SBY). Keberatan itu nanti kan pemerintah yang akan
menyampaikan," jelas panglima.
DPR Minta Pemerintah Tegas
Anggota Komisi I DPR Djoko Susilo menyesalkan sikap lemah Presiden
Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) terhadap insiden penabrakan kapal TNI-
AL di Ambalat. Sikap presiden yang hanya berharap tabrakan tak terjadi
lagi dan tak memberikan perintah kepada TNI bertindak tegas itu
membuat lemah patriotisme dan semangat juang TNI serta masyarakat
dalam mempertahankan Ambalat.
"SBY harus menarik kata yang hanya harapan itu dan memerintahkan TNI
bersikap lebih tegas terhadap pelanggaran kedaulatan," kata Djoko
kepada koran ini kemarin.
Anggota DPR dari FPAN itu menegaskan, tabrakan kapal dan lemahnya
sikap presiden merupakan perkara serius dalam rapat konsultasi
Presiden SBY dengan DPR pada 15 April nanti. DPR akan menggugat
kelemahan sikap SBY dalam mempertahankan kedaulatan RI itu. "Masak tak
bersikap terhadap provokasi Malaysia," sesalnya.
Menurut dia, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto telah memenuhi
prosedur karena melaporkan peristiwa di Ambalat itu kepada presiden.
Kini, tinggal menunggu keputusan politik presiden memerintahkan TNI
bertindak tegas atau menetapkan Ambalat sebagai daerah operasi
militer. "Kondisi Ambalat itu mengenaskan. Tapi, tinggal menunggu
sikap presiden terhadap konflik yang terjadi."
Gara-gara penabrakan kapal TNI-AL oleh kapal AL Diraja Malaysia itu,
Djoko mendesak pemerintah agar segera melayangkan protes diplomatik
kepada negeri jiran itu. Selanjutnya, TNI harus mengambil langkah
konkret dalam mempertahankan kedaulatan RI di Ambalat. "Jika kemarin
siaga tiga, ya tingkatkan siaga dua. Jika terjadi lagi, tak boleh ada
toleransi. Tembak dan tenggelamkan kapal Malaysia," tegasnya.
---------------------------------------------------------------------
From: "grupv" <xjasax at ...>
Date: Sat Apr 9, 2005 7:20 am
Subject: Indonesian, Malaysian navy ships collide in disputed maritime area
grupv
JAKARTA (AFP) Apr 09, 2005
An Indonesian navy ship has collided with a Malaysian vessel in an
oil-rich maritime area claimed by both Jakarta and Kuala Lumpur, a
report said Saturday.
The incident off the coast off Borneo island happened Friday morning
and involved Malaysia's navy ship KD Rencong and Indonesia's KRI
Tedung Naga, the Sinar Harapan evening daily said, quoting an
anonymous Indonesian navy officer.
The left side of the Indonesian ship's hull was damaged while the
Malaysian ship's front was also damaged.
"Looking at the circumstances, it is clear that their ship hit ours,
not the other way around," the officer told the daily.
He said the Malaysian warship had earlier circled an area where
Indonesian workers were building a lighthouse and its crew made
provocative gestures, including giving a thumbs down.
A navy spokesman with the Indonesian navy's eastern fleet said he
had no knowledge of the incident.
Last month officials from Indonesia and Malaysia began negotiations
to settle the dispute over the area. The two countries are set to
meet again in May.
Warships from both countries have come into close contact several
times since February 16 when energy giant Shell was given a
concession by Malaysia's state oil company Petronas.
Jakarta says the blocks awarded by Petronas are outside Kuala
Lumpur's sovereignty.
After initial tension, Indonesia and Malaysia agreed to hold
peaceful dialogue to end the dispute.
The two countries have locked horns over the territory before. A
dispute over the ownership of two islands ended in December 2002
with an International Court of Justice ruling that the islands
belong to Malaysia.
Indonesia declared war against Malaysia following sporadic tensions
over the future of Borneo island in 1963 after the British
relinquished control. The conflict ended three years later as
Jakarta focused on internal problems.
All rights reserved. © 2005 Agence France-Presse.
More information about the Marinir
mailing list