[Marinir] [Nasional] Sobron Aidit: CORAT-CORET dari HOLLAND
(Sedikit Tentang Rasialisme)
Yap Hong Gie
ouwehoer at centrin.net.id
Tue Apr 12 22:16:43 CEST 2005
From: "Sobron Aidit" <sobrona at ...>
Date: Mon Apr 11, 2005 2:26 am
Subject: CORAT-CORET dari HOLLAND ( Sedikit Tentang Rasialisme )
Banyak sekali dan sering sekali saya mendengar cerita - keluhan - banyak
teman - kenalan yang mengeluhkan - semacam keluh-kesah kehidupan mereka
di Holland. Persoalannya - seluk-beluk kehidupan yang mereka alami.
Mereka yang saya maksud adalah orang Indonesia, baik yang sudah warga-negara
Belanda - maupun yang tetap warga-negara Indonesia.
Karena saya tertarik buat mendengarkan keluhan itu lebih lanjut - saya malah
mengumpulkan beberapa catatan tentang semua ini. Dan yang saya maksud
tentang semua ini - adalah keluhan bahwa banyak di antara mereka yang masih
mengalami perlakuan yang sedikit-banyaknya masih berbau rasialisme.
Lalu saya bandingkan dengan kehidupan kami di Perancis.
Di Perancis bukannya tidak ada rasialisme - bahkan nyata sekali.
"Ya, tetapi di Hollland lain!",- demikian kata banyak teman-teman itu.
"Nafas rasialisme di Belanda - tampak sangat munafik - hipokrit - di depan
lain di belakang lain. Ini barangkali perbedaannya dengan Perancis.
Saya tahu juga sedikit tentang Perancis",- kata teman itu.
"Di sana bahkan jelas - nyata dan terang-terangan. Ada Partai Front-Nasional
yang dikepalai Le Pen yang nafasnya anti-orang asing - anti Arab dan
terusterang. Nah, di Belanda terlalu banyak kepura-puraan. Mereka tidak
mengakui mereka adalah masih berperilaku rasialisme - atau mereka tidak mau
mempersoalkan masalah tersebut - tetapi mereka menjalankan nafas
ke-rasialisme-an dengan segala pernik-perniknya. Pabila ada beberapa nama
yang menjadi kandidat buat menerima lowongan pekerjaan, dengan nama-nama
terdaftar seperti nama Burhan dan ada nama Boer Van de Vries - lalu ada nama
Sudirman dan ada nama Robert Van Heijn - ada nama Sukarto Wijoyo dan ada
nama Van den Berg atau nama Tom Van Dorp, sudah dapat diduga nama-nama
yang berbau Indonesia - Jawa, pasti tidak akan diterima biarpun
kepandaiannya sama - pintarnya sama - diploma yang dimiliki sama!
Ini satu hal! Hal lainnya seandainyapun nama-nama yang berbau Indonesia dan
Jawa itu "terpaksa" diterima juga - kebanyakan bahkan ada kemungkinan semua
nama yang berbau bukan Belanda itu akan ditempatkan jauh di bawah nama-nama
bule tadi! Dan jangan lupa - pada berkas-berkas wajah-lama kolonialisme dulu
yang sangat sulit terhapus dari mereka - tetap wajah-lama itu akan tampak -
rasa masih tetap menghina - merendahkan kita! Merendahkan dan menganggap
kita itu masih bodoh dan sangat terbelakang. Dan inipun tidak
terang-terangan mereka tampakkan - tetapi dengan sembunyi-sembunyi - dengan
munafik - dengan hipokrit.
Barangkali ini bedanya perlakuan rasialisme dengan seluk-beluknya antara
Belanda dan Perancis...",-
Demikian teman-teman itu berkeluh-kesah. Dan masih berlanjut rasa
keluh-kesahnya itu.
"Sampeyan kan dengar dan tahu dan baca - bahwa sekarang ini banyak sekali
tindakan PHK - penciutan tenaga kerja di mana-mana. Apa yang kami lihat?
Kebanyakan dari yang di-PHK-kan adalah yang nama-namanya bukan berwarna
bule - tetapi malah yang kulit-berwarna.
Yang di PHK malah meneer Subarjo bukan meneer Elbert Hoogeland - walapun
dua-duanya adalah dari seksi yang sama - dan bahkan meneer Subarjo masih
punya nilai lebih lainnya daripada meneer Elbert!",-
Saya dengan tekun mendengarkan semua cerita dan keluh-kesah mereka.
Mungkin ada sedikit berlebiah cerita keluh-kesah mereka.
Tetapi kebanyakan keluhan ini banyak sekali yang saya dengar tidak hanya
dari dua - tiga orang! Dan apa yang dikatakan mereka tentang perbedaan
rasialisme di Holland dan di Perancis - rasanya pendapat mereka dan pendapat
saya - banyak kesamaannya dan sayapun melihat dan merasakannya.
Di Perancis - mereka bersifat terang-terangan - terpampang jelas - menolak
orang asing di beberapa tempat dan bagian.
Tetapi di Holland tidak dengan cara demikian. Sangat tersembunyi
- hipokrit dan munafik. Mereka tidak mengakuinya tetapi mereke
menjalankannya - dan dengan ada tambahan dari teman-teman saya yang terkena
semua itu. Katanya mereka sangat bersifat menyakitkan hati - menghina -
merendahkan "para melayu ini" yang dulunya adalah tanah jajahan mereka -
walaupun hal itu sudah long - long ago yang seharusnya sudah lama di-forget.
Saya masih tetap selalu mendengar banyak keluhan ini - dan ini di Belanda -
suatu wilayah dan negara kecil tetapi cukup makmur yang dulu menduduki dan
mejajah kita selama ratusan tahun. Rupanya masih juga membekas itu nafas bau
kolonialisme - yang padahal paling banyak orang kita berdiam dan tinggal di
Belanda turun-temurun. Kata saya dalam batin - walaupun saya pada pokoknya
tidak merasakan semua itu selama hidup puluhan tahun di Paris, tetapi saya
penuh menaruh rasa simpati kepada banyak keluh-kesah teman-teman saya ini.
Dan saya menyatukan diri dengan perasaan banyak teman-teman kami ini,-
-----------------------------------------
Holland,- 11 april 05,-
More information about the Marinir
mailing list