[Marinir] (no subject)
Yap Hong Gie
ouwehoer at centrin.net.id
Fri Apr 22 14:25:02 CEST 2005
http://www.marinir.mil.id/majalah/m_apung_08_04.php
MAJALAH MARINIR
NO. 105, AGUSTUS 2004
Pengetahuan Militer
TEKNIK MENGAPUNG
Tanpa Alat Apung di Laut
Bermula dari merasa berhutang budi kepada Korps Marinir tentang
pengalaman dilaut, ingin rasanya saya memberikan / menyumbangkan sesuatu
yang kecil atau mungkin dianggap remeh ini sebagai sumbangsih saya kepada
Korps Marinir yang besar tentang bagaimana cara mengapung di laut tanpa
harus membawa alat apung (Pelampung) sambil menunggu pertolongan, hal
tersebut untuk mengurangi korban sia-sia pada saat problem / kecelakaan
dilaut.
Ilmu Anatomi Tubuh
Berdasarkan ilmu Anatomi tubuh manusia terdapat rongga-rongga
didalamnya dan rongga tersebut sudah barang tentu berisikan udara.
Sebagai contoh: Rongga telinga, rongga hidung, rongga mulut, rongga
tenggorokan, rongga dada, rongga perut dan lain-lain.
Dengan mempelajari dan memperhatikan rongga-rongga yang dapat dimanfaatkan
sebagai alat apung yang selalu setia terhadap manusia maka tidak harus
repot-repot menyediakan/membawa karena sudah menjadi satu dengan tubuh
manusia
Hal Lain Yang Medukung
Serat baju/celana yang terbuat sedemikian rupa akan membantu sebagai
sarana apung melalui gaya kapiler serat-serat tersebut akan tertutup rapat
oleh air yang membasahi dan akan membuat gelembung atau balon udara pada
bagian tertentu (bagian atas), hal ini terjadi karena sebagian udara tidak
dapat keluar karena pori-pori serat baju atau celana tertutup oleh air yang
membasahi.
Tahap Cara Mengapung di Laut
Usahakan dalam kondisi ini tidak panik, harus tenang atau familiar
dengan media laut, yakin kalau kita tidak akan tenggelam karena manusia
mempunyai akal pikiran, punya keinginan untuk terus hidup/bertahan hidup
sambil menunggu pertolongan.
~ Tahap pertama
Setelah kita masuk ke laut usahakan tenang, langkah pertama tekuk
lutut ke depan, lalu julurkan kaki sejauh mungkin sejajar ke arah dengan
kepala (rata-rata air), dengan proses penjuluran kaki maka badan akan
terangkat ke permukaan air, bersamaan dengan hal tersebut ambil nafas
dalam-dalam dan simpan di dada sebagai pelampung utama, gunakan nafas 2/3
bagian untuk sirkulasi dan 1/3 tersimpan di dada sebagai pelampung.
~ Tahap Kedua
Sebagai penimbang agar kaki tidak turun ke bawah maka angkat kedua
tangan dan julurkan ke atas kepala, sehingga posisi badan membungkuk ke
bawah, sedang keseimbangan atau titik pusat busur tersebut berada pada badan
antara badan dan perut. Setelah dipandang aman dan tenang, untuk menghindari
kekurangan supply O² (oksigen) keseluruh tubuh sekali- kali buang nafas
sebanyak-banyaknya, simpan 1/3 bagian didada dan 2/3 bagian untuk bernafas
karena bila supply O² (Oksigen) di dalam tubuh berkurang akan berakibat
lemas, pusing, kunang-kunang atau bahkan pingsan.
~ Tahap Ketiga
Sambil menunggu pertolongan usahakan mendekati daratan dengan
memanfaatkan arus air laut atau mencari benda-benda yang terapung yang
terbawa arus air laut,kurangi gerakan-gerakan yang memakan tenaga atau
bahkan menguras tenaga.
Penutup
Demikian pengalaman mengapung di laut tanpa alat apung yang kecil ini
saya sumbangkan sebagai tanda terima kasih saya yang telah merasa dibearkan
oleh Korps Marinir, semoga hal tersebut dapat bermanfaat bagi Korps Marinir
di masa mendatang.
Catatan Penulis
1.Penulis pernah menyeberangi selat Nusakambangan dengan berpakaian PDL dan
bersepatu pada tahun 1998 dalam rangka membantu pengamanan siswa Lemhanas ke
Nusakambangan.
2.Sering diujicoba di kolam Dermaga Komando Armada Timur , Dermaga Kapal
Selam sampai dermaga penjelajah dengan PDL dan bersepatu pada tahun 2000 s/d
2001.
3.Digunakan untuk penyeberangan sungai ± 50 meter di Tj. Pasir dengan PDL
bersepatu pada saat Pratugas Satgas Rencong Sakti XVIII tahun 2002.
Copyright by : Korps Marinir
More information about the Marinir
mailing list