[Marinir] TNI Jangan Ditarik Selama Aceh Masih Terus Bergolak

Yap Hong Gie ouwehoer at centrin.net.id
Sat Aug 13 09:29:20 CEST 2005


TNI JANGAN DITARIK SELAMA ACEH MASIH BERGEJOLAK
Oleh: Abdullah Zaenal Syafei *


Pemerintahan Presiden SBY dengan cermat dan teliti selalu mengamati situasi
yang berkembang di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam ( NAD ). Setiap hari
keadaan di Bumi Serambi Mekkah ini berangsur-angsur telah mengalami
peningkatan baik dari segi ekonomi maupun dari keamanan yang signifikan.
Melalui pertimbangan yang matang ditambah aspirasi masyarakat Aceh sendiri,
sehingga pemerintah merubah status di Aceh dari Darurat Sipil menjadi Tertib
Sipil pada tanggal 19 Mei 2005. Seiring dengan perubahan status tersebut,
sebagian masyarakat dan LSM menganggap bahwa Aceh saat ini sudah aman dari
gangguan pemberontak GAM, sehingga mereka beranggapan sebaiknya TNI
ditarik saja dari Aceh.

Akhir-akhir ini kita sering melihat di media massa baik cetak dan 
elektronik,
pemerintah RI dan GAM mengadakan kembali perundingan di Helsinki,
Finlandia untuk membicarakan masalah Aceh.
Dari hasil perundingan sementara, pihak GAM sepertinya memanfaatkan
perundingan ini sebagai moment mengumpulkan kembali kekuatannya, karena
tuntutan mereka untuk mendirikan partai politik local sudah merupakan 
indikasi yang kuat bahwa yang diinginkan mereka hanyalah perdamaian semu.

Mencermati keadaan seperti ini, kita sebagai masyarakat Indonesia hendaknya
jangan mengambil kesimpulan yang sifatnya menduga-duga, karena kenyataan
berbicara bahwa Aceh sampai saat ini belum aman betul.
Jadi jika ada sebagian orang atau LSM yang menginginkan TNI ditarik dari 
Aceh adalah pendapat yang keliru. TNI di Aceh hanya untuk mencari dan 
menumpas
pemberontak GAM bukan untuk menyengsarakan rakyat Aceh.
Kasihan dong kita mengorbankan rakyat Aceh hanya untuk kepentingan
orang-orang yang tidak menginginkan Aceh damai.

Kita jangan membiarkan pemberontak GAM bernafas lega, karena mereka sudah
nyata-nyata hanya menyengsarakn rakyat Aceh. Kita harus ingat bahwa GAM di
Aceh itu masih ada dan terus melakukan intimidasi kepada masyarakat yang
muaranya kepada penderitaan dan kesengsaraan rakyat Aceh sendiri. Oleh
karena itu, sudah sepantasnya kita mendukung keberadaan TNI/Polri yang
melaksanakan tugas disana, selama Aceh masih bergejolak.

Dengan keberadaan TNI/Polri di Aceh, pemberontak GAM tidak akan berani
melakukan intimidasi kepada masyarakat. Dukungan kita kepada aparat
TNI/Polri sudah merupakan bukti bahwa kita menginginkan Aceh cepat aman
dan kondusif seperti Aceh yang dulu.
Dengan niat baik dan dukungn segenap lapisan masyarakat, niscaya kedamaian 
akan cepat pulih dan tumbuh subur di bumi Serambi mekkah.

(* Hasil analisa putera Aceh,  Kandidat Doktor di Ohio State University, 
Colombus, OH)

---------------------------------


http://www.kompas.com/kompas-cetak/0508/13/Politikhukum/1975064.htm

Politik & Hukum
Sabtu, 13 Agustus 2005
Satu Marinir Dibacok, Satu GAM Tewas

Banda Aceh, Kompas - Menjelang kesepakatan damai RI-GAM, suasana di Nanggroe
Aceh Darussalam tetap panas.
Kopral Dua Ignatius Arbeni dari Brigade Infanteri I Marinir Satgas Muara
terluka parah dibacok di Pasar Peusong, Lhok Seumawe, Jumat (12/8) pagi.
Adapun pembacoknya tewas ditembak anggota Marinir lain yang berada di lokasi
kejadian.

Komandan Satuan Tugas Informasi Komando Operasi Pemulihan Keamanan Aceh
Letnan Kolonel Erie Soetiko memastikan, pembacok merupakan anggota GAM.
"Anggota GAM itu berusaha merebut senjata yang dibawa Ignatius, lalu terjadi
perebutan. Ignatius terkena bacokan sehingga temannya menembak anggota GAM
bernama M Dahlan, warga Kampung Jawa Lama itu," kata Erie.

Ignatius Arbeni kini dirawat di Rumah Sakit Kesrem, Lhok Seumawe, sedangkan
jenazah M Dahlan juga dibawa ke rumah sakit itu menunggu keluarga untuk
mengambilnya.

Juru Bicara GAM Wilayah Pase Tengku Jamaika mengatakan, M Dahlan (26),
pelaku pembacokan itu, bukan anggota GAM. "Dia masyarakat biasa dan punya
KTP merah putih. Dia mungkin warga yang sakit hati dengan TNI," katanya.
Jamaika menambahkan, pihaknya tidak pernah memerintahkan penyerangan anggota
TNI menjelang kesepakatan damai 15 Agustus. "Anggota kami sekarang semuanya
bertahan di barak dan dilarang melakukan operasi. Kami menghormati rencana
perjanjian damai," katanya.

Namun, menurut Erie, pembacokan terjadi di tengah keramaian pasar saat
anggota Marinir akan berbelanja keperluan sehari-hari.
Kasus ini merupakan yang pertama kalinya dalam minggu ini, tetapi Erie
menyebutkan terjadinya peningkatan intimidasi, penculikan, dan ancaman
terhadap rakyat, terutama para kepala desa (keuchik).
Sebaliknya pihak GAM merasa pasukan TNI terus mendesak mereka lewat
operasi militer ke wilayah-wilayah pedalaman.
(RAY/AIK/DIK)



More information about the Marinir mailing list