[Marinir] Re: [wahana-news] [SP] Di Balik Konflik RI-Belanda 1962

Sumargo sumargo at telkom.net
Fri Aug 12 18:09:57 CEST 2005


Bung Hong Gie barangkali mengetahui peristiwa tenggelamnya KRI Macan Tutul
dan tewasnya Komodor Yos Sudarso pada 15 Januari 1962 dalam pertempuran
heroik di laut Arafuru. Setahu saya mantan Pangkopkamtib Sudomo juga
terlibat dalam pertempuran itu dan selamat berkat pengorbanan almarhum Yos
Sudarso yang menjadi Komanadan pertempuran dan berada di kapal komando Macan
Tutul. Yang pasti pangkat Pak Domo pada waktu itu masih dibawah pangkat
almarhum. Pertanyaan saya, apakah pada hari-H 12 Agustus 1962 itu Pak Domo
menggantikan tugas almarhum dengan pangkat Komodor ?

Terima kasih dan salam,
Sumargo

----- Original Message -----
From: Yap Hong Gie <ouwehoer at centrin.net.id>
To: Post X-PPI Se-Eropa77-87 <X-PPI_Se-Eropa77-87 at yahoogroups.com>; Post
Wahana-News <wahana-news at yahoogroups.com>; Post Tionghoa-Net
<tionghoa-net at yahoogroups.com>; Post Nasional-list
<nasional-list at yahoogroups.com>; Post MAR Polarhome <marinir at polarhome.com>;
Post KIAD Grp <KIAD at yahoogroups.com>; Post IndoMildiLN
<IndoUsaMil at yahoogroups.com>; Post Hankam Grp <hankam at yahoogroups.com>; Post
FSAB Yahoo <fsab at yahoogroups.com>; Post Apakabar <apakabar at yahoogroups.com>
Sent: Thursday, August 11, 2005 11:10 PM
Subject: [wahana-news] [SP] Di Balik Konflik RI-Belanda 1962



http://www.suarapembaruan.com/News/2005/08/11/index.html

SUARA PEMBARUAN DAILY
Perebutan Irian Barat
Di Balik Konflik RI-Belanda 1962
Bagian Pertama dari Dua Tulisan
Sudomo

PERUNDINGAN untuk menyelesaikan suatu konflik, baik domestik, regional,
maupun internasional, tidak selalu mulus, dalam arti saling menguntungkan
atau memuaskan kedua belah pihak yang bersengketa. Perundingan pada
hakikatnya merupakan suatu proses tarik menarik kepentingan melalui konsesi
atau kerelaan untuk mengurangi tuntutan masing-masing.

Pihak yang berunding diberikan mandat dari atasan sampai berapa jauh dapat
memberikan konsesi tersebut. Kita mengenal adanya bottom line yang memuat
batas fundamental tuntutan yang tidak dapat ditolerir (harga mati) atau
dikurangi lagi.
Kompromi adalah penyelesaian sengketa dengan mengorbankan bagian dari
tuntutan fundamental dari bottom line. Kompromi diibaratkan mata uang dengan
dua sisi, satu sisi memang mencegah dead lock, tetapi sisi lainnya
mengandung risiko.
Tidak jarang, dalam kompromi diselipkan bom waktu oleh pihak lawan yang
dapat meledak kapan saja dengan akibat yang fatal. Untuk menjinakkan bom
waktu, kita perlu mengadakan langkah-langkah yang bersifat preventif.

Konflik mengenai Irian Barat pada hakikatnya merupakan kompromi yang harus
kita terima, pada waktu diadakan Perundingan Meja Bundar yang
diselenggarakan dari tanggal 23 Agustus-2 November 1949 mengenai penyerahan
kedaulatan atas Indonesia.
Sampai detik ini, tidak diketahui dengan benar, apa sebab Belanda
mempertahankan Irian Barat. Tampaknya Belanda tidak mau belajar dari
sejarah, yaitu Konflik Indonesia-Belanda (1945-1950) dan mereka yang tidak
mau belajar dari sejarah, menurut ahli filsafat India terkenal, Santayana,
akan dikutuk untuk mengulangi lagi.

Dalam konflik ini, Indonesia menerapkan apa yang diajarkan oleh Carl Van
Clausewitz, perang hanyalah merupakan kelanjutan dari politik dengan cara
lain. Presiden Soekarno secara cemerlang menerapkannya dengan konsep terpadu
diplomasi-konfrontasi-perang yang memakan waktu 14 tahun (1949-1963).
Tulisan ini akan lebih banyak mengungkap cerita terkait yang belum pernah
terangkat dan sekarang ini sudah dapat dibuka karena peristiwa tersebut
terjadi setengah abad yang lalu.

Fakta Sejarah
Diplomasi telah dilakukan secara langsung dan melalui Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB) mulai 27 Desember 1949 saat penyerahan kedaulatan,
hingga 19 Desember 1961 saat dilancarkannya Tri Komando Rakyat oleh Presiden
Soekarno.
Diplomasi ditingkatkan dengan konfrontasi. Dalam konfrontasi dilancarkan
infiltrasi melalui laut, Pertempuran Laut Arafuru 15 Januari 1962, dan pada
tanggal 26 April 1962 dilakukan infiltrasi melalui udara di Merauke 347
orang, Kaimana 334 orang, dan sekitar Sorong 64 orang.

Infiltrasi ini dilakukan sampai tanggal 9 Agustus 1962. Persiapan perang
dilakukan mulai tanggal 1 Februari 1962 dengan pembentukan Komando
Pembebasan Irian Barat di bawah pimpinan Mayor Jenderal Soeharto.
Operasi Gabungan Djayawijaya dipersiapkan dengan rencana operasi sebagai
berikut: Hari H (12 Agustus 1962) sasaran antara Biak. Serangan udara dan
penerjunan 4.000 pasukan payung AD dan bersamaan sebagai link-nya, Operasi
Amphibi Gabungan dari Angkatan Laut Mandala Pembebasan Irian Barat di bawah
pimpinan Komodor Laut Sudomo. Phase berikutnya: sasaran akhir Hollandia, Ibu
Kota Irian Barat.

Pada tanggal 2 April 1962 Presiden JF Kennedy mengirim surat kepada Perdana
Menteri Belanda Dr JE de Quay yang isinya secara pokok adalah sebagai
berikut. Bahwa pemakaian kekuatan militer dalam konflik memiliki konsekuensi
buruk dari semua bagian permasalahan.
Selanjutnya ditulis bahwa jika Angkatan Bersenjata Indonesia menyatakan
perang total melawan Belanda akan mengundang intervensi komunis, dan jika
Indonesia berpaling kepada komunisme dalam keadaan itu, seluruh posisi
non-komunis di Vietnam, Thailand dan Malaysia, akan berada dalam bahaya
besar.
Diingatkan bahwa negara-negara tersebut berada di wilayah di mana Amerika
Serikat mempunyai komitmen dan beban terus. Oleh karena itu, disarankan
kepada Belanda untuk menarik diri dari wilayah dan menyerahkan kekuasaan
atas West New Guinea kepada Indonesia.

Karena surat Presiden JF Kennedy tersebut, di Markas Besar Perserikatan
Bangsa-Bangsa di New York dilakukan perundingan antara Indonesia dan Belanda
dari tanggal 2 April 1962-15 Agustus 1962, dengan mediator Ellsworth Bunker,
seorang duta besar kepercayaan Presiden JF Kennedy.
Pada tanggal 15 Agustus 1962 tercapai Persetujuan New York yang selanjutnya
menghentikan Konflik Indonesia dan Belanda, dan Irian Barat kembali ke
pangkuan Ibu Pertiwi pada tanggal 1 Mei 1963, melalui pemerintahan peralihan
dari PBB yang mempergunakan Angkatan Darat Pakistan sebagai Pasukan
Pengamanan.

Operasi Gabungan Amphibi dan Angkatan Tugas Amphibi ATA-17 dengan Pasukan
Pendarat 45 (Pasrat 45) merupakan Operasi Amphibi terbesar dalam sejarah
Indonesia.
Operasi berkekuatan 40 kapal perang dan 21 kapal niaga yang dimiliterisasi
yang mampu mengangkut dan mendaratkan 12.000 pasukan terdiri atas 5.700
Pasukan Pendarat Marinir dalam formasi 3 BTP, 1.400 Pasukan AD yang
dikonversi dalam 1 BTP, dan 5.000 pasukan AD on call.
Operasi Gabungan Amphibi ini telah siap tempur di Daerah Kumpul I di Teluk
Peleng, Kepulauan Banggai, 540 mil dari sasaran antara Biak. Belum termasuk
dalam formasi tersebut 18 kapal perang dan 15 kapal niaga yang harus
melakukan pre-operations sebelum hari H dengan misi menegakkan supremasi di
laut dan mengganggu (harassing actions) kekuatan musuh.
Lain dari pada itu, masih ada cadangan 6 kapal selam dengan awak kapal Rusia
karena belum sempat kapal diserahkan kepada pihak Indonesia, yang merupakan
cadangan strategis dari Angkatan Laut Mandala (ATA-17) dan waktu itu siap di
Pangkalan Aju Bitung.

Kekuatan keseluruhan disiapkan dalam waktu 5 bulan, dari tanggal 1
Februari-1 Juli 1962, baru sampai tingkat individual ship dan type training,
belum sampai kepada combat training gabungan, apalagi dalam susunan angkatan
tugas untuk operasi amphibi.
Rencana semula, ATA-17 harus siap awal tahun 1963, tetapi dipercepat menjadi
medio 1962. Operasi Gabungan Amphibi ATA-17 tidak dilindungi oleh close air
support. Itulah sebabnya misi tersebut kita namakan one way ticket mission.

Menurut perhitungan di atas kertas, kalau perang terjadi, kemungkinan
keberhasilannya 50 persen. Kekuatan Angkatan Laut Belanda di Irian Barat
terdiri atas 5 kapal destroyer, 2 fregat dan 3 kapal selam, 1 kapal
logistik, 10 pesawat Neptune dan 12 pesawat Hawker Hunter, 9.000 pasukan
Angkatan Darat dan Marinir.
Di Biak diperkirakan tinggal 500 orang, lainnya tersebar di sekitar Kaimana,
Merauke, dan Sorong dan terikat dengan pasukan payung AD kita yang telah
diterjunkan sekitar tempat-tempat tersebut.

Walaupun Operasi Gabungan Djayawijaya dilakukan oleh ketiga angkatan, yaitu
Angkatan Darat, Laut, dan Udara, dan masing-masing mempunyai peranan
penting, namun intelijen Amerika Serikat berpendapat, bahwa Operasi Gabungan
Amphibi ATA-17 dan PASRAT-45 yang sudah siap tempur di Kepulauan Banggai,
yang terletak 540 mil dari sasaran antara Biak, merupakan faktor dominan
setelah di-check dengan U-2 dan kapal selam, yang mendorong dilaksanakannya
surat Presiden JF Kennedy tanggal 2 April 1962 untuk menekan Belanda agar
menyerahkan Irian Barat kepada Indonesia, dan tercapainya Persetujuan New
York di PBB, 15 Agustus 1962

Dalam bukunya yang berjudul Morgen bij het aanbreken van de dag 1977, Dr JG
de Beus menulis tentang kekecewaan Menteri Luns.

(Bersambung)
Penulis adalah mantan Panglima Angkatan Laut Mandala Pembebasan Irian Barat
merangkap Komandan Angkatan Tugas Amphibi-17 (ATA-17)
Last modified: 11/8/05




More information about the Marinir mailing list