[Marinir] [KCM] Perjanjian Damai di Mata Para Prajurit
Yap Hong Gie
ouwehoer at centrin.net.id
Mon Aug 15 08:02:58 CEST 2005
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0508/15/utama/1978960.htm
Berita Utama
Senin, 15 Agustus 2005
Perjanjian Damai di Mata Para Prajurit
Oleh: Ahmad Arif dan Prasetyo Eko
Ketika para petinggi Indonesia-Gerakan Aceh Merdeka bersiap-siap
menandatangani kesepahaman tentang Aceh Damai di Helsinki, Finlandia, para
serdadu kedua pihak di Nanggroe Aceh Darussalam menanti dengan harap-harap
cemas.
Tertutupnya materi naskah kesepahaman itu membuat mereka, terutama kalangan
TNI/Polri, lebih berdebar lagi.
"Kami hanya bisa berharap ksepahaman itu benar-benar bisa mewujudkan
perdamaian di Aceh. Apa pun isinya, Aceh tetap harus menjadi bagian dari
NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia-Red).
Bertahun-tahun kami berperang untuk menjaga hal itu," kata seorang anggota
marinir yang ditemui sedang duduk-duduk di pos penjagaan Kecamatan Baktiya
Barat, Aceh Utara, Minggu (14/8).
Namun, di dalam hati kecilnya, lelaki berpangkat prajurit satu yang pernah
bertugas selama 12 bulan semasa darurat militer itu mengaku masih belum
yakin kedamaian benar-benar akan terwujud di Aceh.
"Waswas dan curiga pastilah masih kami rasakan. Akan tetapi kami hanya
wayang, harus taat perintah. Disuruh menembak, akan kami lakukan. Dilarang
menembak, juga akan kami lakukan, walaupun mungkin dengan berat hati,"
katanya menuturkan.
Seorang temannya menambahkan, "Kami dikirim ke Aceh dengan tujuan melawan
(pemberontakan-Red) GAM. Rasanya aneh sekarang kalau kami tidak boleh
menembak mereka. Apalagi katanya senjata GAM baru akan diserahkan mulai 15
September 2005, artinya selama sebulan mereka bisa berhadap-hadapan dengan
kami di kota dengan kondisi sama-sama memegang senjata. Apa bisa?" katanya.
Para prajurit yang terbiasa bertempur di lapangan itu resah karena tidak
boleh berpatroli lebih dari 750 meter dari pos masing-masing.
Artinya, mereka tidak diperbolehkan bereaksi saat melihat sosok yang selama
ini
mereka kejar asalkan jaraknya lebih dari 750 meter dari pos terkait. "Semoga
kali ini benar- benar damai sehingga kalaupun kami pulang bisa dengan tenang
dan tak lagi dipanggil kemari," katanya.
Kebingungan seperti itu jelas terasa di kalangan para prajurit. Naskah
kesepahaman Aceh Damai yang rencananya ditandatangani hari Senin (15 Agustus
2005) ini memang masih misteri dan menimbulkan tanda tanya bagi mereka.
Hanya para petinggi yang terlibat dalam pembuatan naskah itu saja yang tahu
isinya.
Bukan hanya para prajurit, bahkan Kepala Kepolisian Daerah NAD Inspektur
Jenderal Bahrumsyah dan Komandan Satuan Tugas Informasi Komando Operasi
Pemulihan Keamanan Aceh Letkol Erie Soetiko juga mengaku hanya bisa menunggu
hingga kesepahaman itu ditandatangani. "Kami percaya para petinggi negara
ini akan melakukan yang terbaik untuk RI. Kami memang bertanya-tanya soal
isi perjanjian itu, tapi kami hanya bisa menunggu," kata Erie.
Bahrumsyah mengatakan, implementasi penandatanganan naskah kesepahaman itu
memang mencuatkan banyak tanda tanya, terutama mengenai mekanisme perlucutan
senjata para anggota GAM. "Saya benar-benar tidak tahu bagaimana proses
penyerahan senjata itu. Semua itu ditangani Aceh Monitoring Mission (AMM)
tanpa melibatkan kami. Kami hanya bisa berharap, perjanjian kali ini
berhasil. Tetapi, kami juga menyiapkan rencana terburuk, dan jika perjanjian
damai ini dikhianati kami akan panggil lagi TNI dan mungkin akan lebih
dahsyat dibandingkan dengan darurat militer yang lalu," katanya.
Kegamangan juga terasa di pihak GAM. Juru bicara GAM Wilayah Pase Tengku
Jamaika hingga hari terakhir menjelang penandatanganan naskah damai masih
juga ragu dengan implementasinya di lapangan. Berkali-kali dia mengabarkan
kepada rekan-rekan media bahwa mereka masih gamang turun gunung dan
berhadapan dengan TNI/Polri. "Kami masih diburu terus. TNI masih berpatroli
lebih dari 750 meter dari pos," kata Jamaika.
Kian memanas
Di hari-hari terakhir menjelang penandatanganan kesepahaman tersebut,
suasana kian memanas dan desing peluru masih juga terdengar. Sabtu lalu
sekitar pukul 21.00, kembali terdengar rentetan tembakan di Desa Meunasah
Pantai, Kecamatan Baktiya Barat, Aceh Utara. Meski tidak sampai menimbulkan
korban, tapi warga masih dicekam ketakutan. "Gimana tidak takut, peluru itu
tidak punya mata. Kami hanya bisa tiarap di lantai bersama anak- anak," ujar
seorang warga setempat.
Sehari sebelumnya, Jumat sekitar pukul 08.20, Kopral Dua Ignatius Arbeni
dari Brigade Infanteri I Marinir Satgas Muara terluka parah dibacok di Pasar
Peusong, Lhok Seumawe. Pelaku pembacokan pun tewas ditembak rekan korban.
Ketua Front Perlawanan Separatis GAM (FPSG) Sofian Ali di Bireuen
mengatakan, menjelang penandatangan kesepahaman tentang Aceh Damai masih
terjadi penculikan terhadap beberapa anggotanya. Menurut dia, dalam satu
bulan terakhir sembilan anggotanya hilang diculik.
Sofian juga bertanya-tanya, kenapa naskah damai itu disembunyikan dari
rakyat. "Kami belum bisa bersikap sebelum tahu naskah damai itu. Yang jelas,
kami mendukung perdamaian yang abadi untuk Aceh karena rakyat sudah lelah
berkonflik," ucapnya.
"Tetapi, jika kesepahaman itu untuk kedamaian dan adil untuk semua pihak,
kenapa disembunyikan?" kata Sofian lagi.
Kalau penandatangan kesepahaman itu sesuai dengan rencana, tentunya
pertanyaan para prajurit dan seluruh rakyat NAD tadi akan terjawab.
Akankah naskah kesepahaman itu hanya menjadi teks-teks suci yang tak banyak
bermakna karena tak bisa diimplementasikan di lapangan, atau tanda tanya,
rasa
curiga, ketakutan, dan kegamangan seluruh rakyat perlahan bisa sirna karena
adanya solusi yang adil dan transparan.
Luka Aceh memang terlalu dalam, tetapi tetap saja harus terobati.
Inilah barangkali saat yang tepat untuk merayakan damai sejati.
Namun, sekali lagi, kita hanya bisa berharap.
More information about the Marinir
mailing list