[Marinir] [KCM] GAM Siap Hentikan Perang, tapi Tak Menyerah

Yap Hong Gie ouwehoer at centrin.net.id
Mon Aug 15 08:00:55 CEST 2005


Pra-syarat yang diucapkan Panglima GAM Muzakir Manaf, Sofyan Dawood di Tanah 
Rencong berlawanan dengan suara Helsinki, bagaimana sistim jalur komando 
GAM?
Sebenarnya siapakah pihak penentu keputusan dalam struktur hirarkhi GAM?

Kalau semangat dan sikap para pimpinan gerombolan GAM di NAD sudah seperi 
itu; "bukan berarti GAM telah menyerah serta tunduk pada pemerintah RI", 
maka konflik berikutnya hanya masalah waktu saja ...........



http://www.kompas.com/utama/news/0508/15/095939.htm

Updated: Senin, 15 Agustus 2005, 09:57 WIB
NASIONAL
GAM Siap Hentikan Perang, tapi Tak Menyerah
Banda Aceh, Senin

Kompas/ Agus Susanto
Ratusan warga, termasuk anak-anak mengikuti doa bersama dan tausyiah untuk
perdamaian di Aceh. Acara tersebut dilaksanakan di halaman Masjid
Baiturrahman, Banda Aceh, Nanggroe Aceh darussalam, Minggu (14/8).

Berita Terkait:

. Presiden Pantau Penandatanganan MoU Lewat Teleconference
. MoU Aceh Damai Ditandatangani Hari Ini
. Damai di Aceh


Juru Bicara Panglima GAM Muzakir Manaf, Sofyan Dawood menyatakan, GAM siap
menghentikan perang melawan pasukan RI. Namun, bukan berarti GAM telah
menyerah serta tunduk pada pemerintah RI, itu tidak ada dalam butir-butir
MoU yang akan ditandatangani Senin (15/8) di Helsinki.
Pernyataan itu diungkapkan Sofyan Dawood dalam wawancara dengan Serambi
melalui telepon selular Minggu (14/8) tadi malam. Ketika diwawancarai Sofyan
mengaku berada di sebuah tempat dengan pasukan lengkap menunggu proses
penandatangan naskah damai. Ketika ditanyakan tentang kapan penyerahan
senjata, Sofyan belum bisa memastikan. Yang jelas, katanya, dalam MoU yang
ditandatangani, penyerahan senjata GAM bukan ke pemerintah RI dan TNI dan
bahkan tak dicantumkan di naskah damai.

Menurut Sofyan Dawood, mulai Senin (15/8) hari ini, perjuangan GAM dengan
menggunakan senjata akan dihentikan di seluruh Aceh. Namun, aktivitas
perjuangan bagi Tentara Nasional Aceh (TNA), kata Sofyan Dawood, tidak akan
dihentikan dalam upaya memperjuangkan keadilan, memberantas kezaliman,
kemungkaran dan berbagai aksi kejahatan yang terjadi di bumi Aceh. Dalam
keterangannya, Sofyan yakin akan dapat mengatur anak buahnya untuk tidak
akan melakukan aksi kejahatan di kalangan masyarakat. Namun, diharapkan agar
TNI/ Polri juga mampu menahan diri dalam melakukan aksinya nanti.

Jangan pula nantinya setelah penandatanganan MoU di Helsinki, masih juga
terjadi penembakan, penculikan, perampasan dan pembunuhan di berbagai
daerah. Menurut Sofyan Dawood, yang juga Panglima GAM Wilayah Pase, pasukan
TNA sekarang ini telah dikumpulkan di beberapa titik yang dirasa aman dari
jangkauan pasukan TNI/Polri. Mereka memberikan peluang kepada rakyat Aceh
kalau mau ikut menyaksikan HUT-RI. "Kami tidak mengganggu proses perayaan
RI. Diharapkan nantinya RI juga jangan mengganggu serta menghormati upacara
Milad GAM," kata Sofyan Dawood.

Dalam kesempatan berdialog dengan Serambi, Sofyan Dawood atas nama Panglima
tertinggi GAM meminta masyarakat Aceh, menyambut dengan baik hasil
perdamaian RI-GAM di Helsinki Senin hari ini. Dengan ditekennya perjanjian
damai, berarti GAM telah menghentikan perang pakai senjata, namun perjuangan
tetap berlanjut tanpa menggunakan senjata.

Harus ikhlas

Sementara mantan Panglima GAM Wilayah Pase, Aceh Utara, Tgk M Jamil
Syamsuddin (82) mengaku gembira sekali dengan terajutnya perdamaian antara
pemerintah RI-GAM. "Bukan hanya saya, itu memang harapan semua masyarakat
Aceh dan bangsa beradab lainnya di berbagai belahan dunia," kata pria
kelahiran Desa Matang Maneh Kecamatan Tanah Jambo Aye Aceh Utara.

Dalam mencapai kesepakatan damai, Tgk M Jamil Syam meminta pemerintah RI
bersikap arif dan jujur yang diiringi keikhlasan, demikian pula dari pihak
GAM harus benar-benar dapat menghayati isi naskah perdamaian yang telah
disepakati. Lebih penting lagi bagi ke dua pihak adalah mensosialisasikan ke
masyarakat tentang hasil kesepakatan dan juga ketegasan pimpinan
masing-masing.

Diingatkan, bangkitnya Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Aceh serta lahirnya
pemberontakan daerah lainnya, seperti di Lampung, Papua, Tim-Tim, disebabkan
tidak jujurnya pemerintah RI masa lalu. Mantan Kepala Desa Matang Maneh ini
mengaku menjabat sebagai Panglima GAM, dulu dikenal dan disebut oleh
Pemerintah RI dengan nama Gerakan Pengacau Liar Hasan Tiro (GPLHT), setelah
Tgk Muhammad Hasan Di Tiro mengproklamirkan kemardekaan Aceh, 24 Desember
1976 di gunung Halimun, Sigli. Bukan hanya dia, tapi banyak lainnya seperti
alm M Yusuf Ali wakilnya yang kemudian naik jadi Panglima Pase kedua.

Menurut Tgk M Jamil Syam, pihaknya waktu itu terpaksa angkat "tabik alias
menyerah" kepada Pemerintah RI tahun 1978. Dia turun gunung di Kecamatan
Tanah Jambo Aye yang dijemput oleh Komandan Koramil 014/ Kecamatan Tanah
Jambo Aye. Menyerahnya M Jamil Syam demi menyelamatkan 360 pejuang Aceh
lainnya."Kalau saya menyerah tentu semua tahanan itu akan bebas melalui
amnesty Presiden," katanya. Dan hal itu memang semuanya terpenuhi
sebagaimana dijanjikan.

Namun, janji-janji lainnya seperti pembagian hasil pendapatan daerah Aceh,
tetap tidak dilakukannya. "Kalau uang mana ada yang jujur," katanya. Sebelum
menjabat sebagai Panglima GAM pertama Wilayah Pase, Tgk M Jamil Syam juga
sebagai pejuang DI/TII. Kala perjuangan digerakkan Tgk Daud Beureueh itu, M
Jamil Syam dipercayakan sebagai Komandan Operasi Wilayah Pase.

M Jamil mengaku bergabung dengan Tgk Muhammad Hasan Di Tiro tahun
1977 -1978."Saya punya SK ditandatangani Tgk Muhammad Hasan Di Tiro,"
katanya. M Jamil mengakui, gerakan Hasan Tiro beda dengan Tgk Daud Beureueh.
Hasan Tiro lebih kuat, karena ada jaringan dengan Luar Negeri. Karena punya
jaringan, mereka bertahan lama di hutan dalam melakukan aksinya dan menurut
M Jamil, kalau bukan dengan cara damai pemerintah RI tidak akan mampu
meredam konflik di Aceh. Oleh sebab itu, M Jamil sangat gembira tatkala
mendengar sudah ada angin damai antara RI-GAM. Dalam hal itu, ia meminta
kedua belah pihak berjiwa besar dan tulus untuk mengaplikasikan poin-poin
kesepakatan sehingga rakyat Aceh bisa hidup damai dan tentram sesuai
diharapkan.



More information about the Marinir mailing list