[Marinir] [Jawapos] Pasukan Katak Terjun di Pantai Barat

YapHongGie ouwehoer at centrin.net.id
Wed Jan 5 05:21:21 CET 2005


http://www.jawapos.com/index.php?act=detail&id=4303

Selasa, 04 Jan 2005,
Pasukan Katak Terjun di Pantai Barat

BANDA ACEH - Operasi penyelamatan di daerah-daerah yang terparah tersapu
tsunami terus dilakukan. Masih terputusnya jalan darat memaksa bala bantuan
menjangkau kawasan itu dengan perahu karet yang dilepas dari kapal TNI-AL
yang buang sauh di lepas pantai.

Diperkirakan masih banyak desa di sepanjang pantai barat yang belum
diketahui nasibnya. Terutama di wliayah Aceh Jaya. Desa-desa di kawasan itu
hanya bisa dicapai dengan "operasi nekat" perahu karet.

Kemarin pasukan TNI-AL kembali mengerahkan 516 personel. Mereka gabungan
dinas kesehatan Armatim, tim kesehatan Marinir, kompi zeni Marinir, dan
pasukan Komando Pasukan Katak (Kopaska).

Khusus Kopaska, pasukan elite TNI AL ini diterjunkan di daerah Aceh Jaya dan
Aceh Singkil yang tak mungkin dirambah lewat darat. Pasukan katak yang
terlatih itu diterjunkan di daerah-daerah yang masih terisolasi. Dengan
perahu karet, mereka melawan derasnya gelombang untuk menyampaikan bantuan
dan melakukan evakuasi.

"Mereka diupayakan menembus lewat jalur laut," ujar Kadispenum Mabes TNI
Kolonel Inf D.J. Nachrowi kemarin. Selain itu, kata dia, pasukan TNI-AL
tersebut dibekali dengan dua unit truk Unimog Marinir dan satu unit jip
Marinir.

Kondisi wilayah barat itu memang sangat parah. Di Aceh Jaya diperkirkan
lebih dari 15 ribu orang tewas. Wartawan koran ini, Boy Slamet, kemarin
sempat memotret wilayah itu dari udara. Kota Calang, salah satu kota
kecamatan di Aceh Jaya yang rusak parah dan 5.000 warganya tewas, terlihat
seperti kubangan. Separo kota itu lenyap.

Kota yang terletak di antara Meulaboh dan Banda Aceh tersebut memang
termasuk kota yang paling parah. Penduduknya hanya sekitar 9.000 jiwa.
Sebagian warga selamat di Calang sudah meninggalkan kotanya karena sudah tak
menjanjikan kehidupan apa-apa. Yang tinggal hanya ratusan orang.

Upaya membangun kembali jalan darat antarkota di Aceh terus dilakukan. Jalan
sepanjang pantai memang masih parah. Namun, sebagian jalan lintas tengah
mulai teratasi.

Mayat-mayat juga masih banyak ditemukan di sepanjang Jalan Syiah Kuala
menuju salah satu pantai barat Aceh. Mereka dibiarkan tergeletak di
pinggir-pinggir jalan. Di sisi kiri dan kanan jalan banyak parit bekas
reruntuhan bangunan dengan air hitam pekat yang menurut penduduk masih
banyak mayat yang terendam. Di antara tumpukan kayu, seng, drum, dan
potongan-potongan perabotan rumah, masih terlihat bagian tubuh manusia.

Kondisi terparah ditemukan di Kampung Mulia, Desa Lambaro Sekp, dan Desa
Lamdingin. Di sana, di antara sekitar 3.300 penduduk, dilaporkan hanya 400
orang yang selamat. Sekitar dua kilometer menuju pantai, jalan darat
benar-benar tertutup tumpukan sampah dan reruntuhan. Beberapa warga yang
saat ditemui koran ini sedang mengais-ngais harta yang tersisa di
puing-puing rumahnya menyatakan bahwa desa mereka relatif belum tersentuh
evakuasi.

Fahrurazi, seorang pegawai swasta yang selamat saat rumahnya roboh dihantam
gelombang tsunami, berharap pemerintah yang berkuasa saat ini segera
memobilisasi masyarakat Aceh untuk mengevakuasi mayat-mayat.

"Ini sudah lewat tujuh hari. Tampaknya, kami tidak bisa lagi mengharapkan
relawan dari luar. Mereka, tampaknya, hanya berlibur di sini menonton
kepedihan kami. Harus orang Aceh sendiri yang menolong. Para korban sudah
lemas untuk menolong dirinya sendiri," ujarnya berkaca-kaca.

Dia kehilangan adik perempuan, adik ipar, dan beberapa keponakannya. Dari
satu rumah bertingkat dua yang mereka tinggali, hanya dia, istrinya, dan
seorang anaknya yang selamat. Sebab, saat musibah terjadi, mereka sedang
berada di luar Lamdingin.

Penjarahan mulai marak di sana. Namun, belum tampak aparat kepolisian maupun
tentara yang berjaga-jaga. Sekitar pukul 12.45, tampak empat anggota Marinir
yang datang ke Lamdingin dan mengevakuasi empat mayat yang sudah dijejerkan
di pinggir jalan. Mereka dibantu beberapa relawan. Selebihnya belum
diangkut. Masyarakat tampak masih sibuk mencari harta atau keluarganya
masing-masing. Sedangkan aparat hanya segelintir. Padahal, jarak dari pusat
kota sekitar enam kilometer. Itu pun tidak terputus.

Desa-desa lain yang menurut penduduk masih dipenuhi mayat, antara lain, Desa
Lam Janeu, Lam Jabat, Pekan Bada, Dayah Baru, Dayah Plumpang, Dayah Tengo,
Alu, Lam Paseh, Pungai Jurong, Pungai Blang Cut, Lam Pulo, dan Sungai Mulya.
Di Taman Sari dan bawah jembatan Surabaya di tengah Kota Banda Aceh pun
masih tampak sekitar tujuh mayat terapung. Belum yang berada di bawah air.

Jalan ke arah Masjid Baiturrahman, yaitu Jalan Muhammad Jam, dijaga polisi.
Halaman masjid itu kemarin sudah dirapikan serta diratakan. Tidak tampak
lagi puing-puing dan bangkai mobil atau mayat di sana.

Di tengah kota, tepatnya di depan Gereja Katolik Hati Kudus di tepian Sungai
Krueng, tentara Australia mulai membagi-bagikan air bersih kepada masyarakat
Aceh. Air itu mereka ambil dari dalam tanah menggunakan teknologi pengeboran
dan penyaringan modern, sehingga bisa langsung diminum. Tiga baris antrean
panjang masyarakat menyemut hingga puluhan meter diawasi sejumlah TNI
bersenjata.

Di seberang tempat itu, yakni di depan reruntuhan Pasar Raya Pante Perak,
antrean masyarakat lebih panjang, sekitar 300 meter. Mereka bergiliran
menunggu kesempatan mendapatkan paket mi instan gratis dari perkumpulan
pengusaha Tionghoa. Untuk menghindari orang yang sama mendapatkan lebih dari
satu paket, jari tangan mereka yang sudah mendapatkan mi instan dicelupkan
ke tinta, persis seperti pelaksanaan coblosan pemilu lalu. Seperti antrean
air bersih, tempat itu pun dijaga ketat tentara bersenjata. Bahkan, petugas
pencelup jari pengantre adalah aparat polisi militer.

Rumah Sakit Kesdam Banda Aceh sangat membutuhkan suplai obat-obatan untuk
para pasiennya, yang umumnya mengalami luka busuk dan harus secepatnya
menjalani operasi. Menurut Kepala (sementara) RS Kesdam Letkol CKM DR Jajang
Edi Prihatno, obat-obatan yang sangat dibutuhkan adalah antibiotik dan
cephalosporin generasi 3. Obat anestesi pun sudah menipis untuk segala
jenis. Selain obat-obatan, pihaknya pun memerlukan segera kasa steril, baju
operasi, dan duk steril yang disposable.

Volume operasi di RS ini per hari mencapai 80 kali. Kebanyakan pasien adalah
penderita luka-luka yang sudah membusuk dan sulit sekali dibersihkan karena
sudah bercampur dengan air laut dan debu berhari-hari. Karena itu, kalau
tidak segera ditangani, si pasien bisa-bisa harus diamputasi. Sejauh ini,
kata Jajang, sudah sepuluh pasien yang diamputasi, kebanyakan di bagian
kaki.

Pasien lainnya adalah penderita trauma di perut, dada, kepala, dan patah
tulang. Antrean pasien yang sedang menunggu operasi masih cukup banyak. Tim
bedah sebenarnya lengkap, hanya sangat kekurangan suplai obat-obatan. Hingga
kemarin, jumlah pasien yang dirawat di RS Kesdam karena korban bencana
sekitar 200 orang.

Seorang warga Ulee Kareng menyayangkan banyaknya tentara bersenjata lengkap
di tengah kota yang hancur dan masyarakat yang dilanda trauma bencana. Dalih
untuk bersiaga mengantisipasi tindak penjarahan tampaknya tidak begitu
diterima warga. Hanif, 56, mengatakan, tentara seharusnya lebih banyak
memobilisasi masyarakat Aceh yang selamat untuk ikut membantu
saudara-saudaranya. Setidaknya, mempercepat proses evakuasi. "Kalau hanya
dilakukan oleh relawan dan tentara, tiga bulan pencarian mayat pun tidak
akan selesai. Mereka sibuk sendiri. Warga Aceh sebenarnya menunggu arahan.
Kalau sekarang, mereka lebih banyak menonton saja," katanya.

Dia juga menyayangkan sikap tentara yang lebih memprioritaskan penyelamatan
harta benda pascabencana, seperti kendaraan atau barang elektronik,
dibandingkan dengan segera mengevakuasi mayat para korban. Akibatnya, hingga
sepekan lebih sejak kejadian, masih banyak mayat yang bergelimpangan di
sisi-sisi jalan, bahkan di sembilan kecamatan yang ada di Banda Aceh.

"Ini kok aneh, Jalan pada diblokir. Warga tidak boleh masuk. Mereka tidak
merangkul warga," keluhnya. (guh)



<<:: Kembali


----------------------------------------------
Best View : 1024 x 768 with IE 5.5 or above
© 2003, 2004 Jawa Pos dotcom.




More information about the Marinir mailing list