[Marinir] [KCM] Cara Menghindari Kematian karena Makan Jamur Liar
YapHongGie
ouwehoer at centrin.net.id
Mon Jan 31 09:17:31 CET 2005
http://www.kompas.com/kompas-cetak/0501/31/ilpeng/1499615.htm
Ilmu Pengetahuan
Senin, 31 Januari 2005
Cara Menghindari Kematian karena Makan Jamur Liar
H Unus Suriawiria
JAMUR lapangan, atau jamur yang secara liar hidup di alam terbuka dengan
bentuk yang beraneka ragam, dengan warna yang bermacam-macam serta sifat
yang belum banyak diketahui, pada umumnya bersifat racun. Jamur ini dapat
menyebabkan sakit pada seseorang yang memakannya, bahkan dapat sampai
mematikan.
BANYAK yang kemudian bertanya, "Apakah yang dapat dijadikan dasar dalam
menentukan satu jenis jamur beracun atau tidak beracun, bentuk, warna, atau
tempat tumbuhnya?"
Memang sampai sekarang, secara visual, bentuk dan warna tubuh-buah jamur
belum dapat dijadikan acuan untuk membedakan mana jamur beracun dan mana
yang tidak kalau sewaktu-waktu menemukannya di lapangan.
Namun, dari beberapa panduan sederhana yang umum digunakan oleh para
penjelajah hutan, atau digunakan di dalam mata-ajaran survival calon
prajurit komando, di Indonesia misalnya untuk calon prajurit Resimen Para
Komando Angkatan Darat/RPKAD (dulu) atau pendidikan rutin untuk prajurit
sekutu khususnya Amerika yang mau diterjunkan ke medan-perang Vietnam,
tertera hal-hal berikut.
(1) Jenis jamur beracun pada umumnya mempunyai warna yang mencolok, yaitu
merah, hijau, biru, hitam, dan sebagainya, walau ada jenis tidak beracun
seperti shiitake berwarna coklat.
(2) Jenis jamur beracun pada umumnya memiliki senyawa sulfida sehingga akan
tercium bau busuk atau senyawa cianida. Dengan adanya senyawa ini, umumnya
jarang dihinggapi serangga atau binatang kecil lainnya.
(3) Kalau jenis jamur beracun dikerat, kemudian dilekatkan pada benda yang
terbuat dari perak asli (misal pisau, sendok, garpu, atau cincin), maka pada
permukaan benda tersebut akan ada warna hitam (karena xulfida) atau kebiruan
(karena cianida).
(4) Kalau jenis jamur beracun dimasak/dipepes bersama nasi putih, nasi
tersebut akan berubah warna menjadi coklat, kuning, merah, atau hitam.
Bagi pemburu jamur di beberapa negara Eropa-misalnya, acara tradisi di
negara-negara Skandinavia (Sweden, Norwegia, dan sebagainya)-kalau musimnya
berburu jamur selalu akan membawa babi yang sudah terlatih, yang dapat
membedakan mana jamur beracun dan mana yang tidak.
Atau di Indonesia, kalau suatu saat menemukan jamur asing serta ingin
diketahui beracun atau tidak, paling mudah menanyakan kepada penduduk
setempat yang berdekatan karena pasti mereka sudah mengenalnya.
Jenis jamur lapangan yang pada saat ini banyak dicari karena memiliki efek
tertentu adalah yang termasuk "halusinogenik" atau kalau dimakan atau diisap
seperti rokok akan menyebabkan halusinasi atau fly.
Misalnya, jenis jamur Psilocybe. Jamur ini sudah sejak lama digunakan dalam
acara ritual suku Indian ataupun suku-suku bangsa di India, China, dan di
kawasan Benua Afrika agar upacaranya lebih semarak dan lebih "khusyuk".
Ternyata sekarang diketahui bahwa Psilocybe mengandung psilosibin, yaitu
senyawa kimia yang dapat menyebabkan seseorang yang memakannya mengalami
halusinasi atau fly.
Bahkan beberapa tahun silam di Indonesia sendiri terungkap penyalahgunaan
serbuk jamur ini pada makanan, yaitu dalam bentuk omelet atau dadar-telur.
Karena ke dalam dadar telur itu sudah ditambahkan serbuk jamur ini, dadar
telur yang tadinya bernama omelet kemudian berubah menjadi "blue omelet".
Kalau dimakan dapat menyebabkan halusinasi, harganya pun meningkat lebih
dari 10 kali lipat.
Jenis jamur Psilocybe umumnya kecil-kecil dengan panjang tangkai sekitar 3-4
cm serta garis tengah tudung sekitar 1-2 cm. Jamur ini banyak ditemukan pada
timbunan kotoran kandang, terutama kandang kuda. Jika dibudidayakan, ukuran
jamur ini dapat berlipat dua kali atau lebih.
Tentu saja karena pengaruh jamur ini dapat menyebabkan seseorang fly,
seperti halnya kalau memakan atau mengisap daun ganja, ekstrak daun koka,
atau candu, maka jamur ini termasuk ke dalam "barang" yang dilarang dimiliki
ataupun digunakan. Pelanggarnya akan dikenai hukuman berat seperti halnya
pemilik atau pengguna narkotika.
Sekarang Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dengan badan terkait lainnya
tengah melakukan survei dan pengumpulan berbagai jenis jamur di beberapa
negara yang sudah lama memiliki tradisi dan pengetahuan yang mendalam
tentang jamur berkhasiat obat, misalnya, China, Jepang, dan Korea. Diketahui
bahwa sejumlah jenis jamur yang umumnya masih tumbuh liar serta belum
dibudidayakan yang termasuk genus Boletus (di kawasan Jawa Barat dikenal
antara lain dengan nama supa/jamur kakabu) ternyata memiliki potensi untuk
dikembangkan.
Akhirnya jenis-jenis jamur lapangan yang semula dianggap jamur liar yang
tidak memiliki nilai, sekarang banyak dibudidayakan. Misalnya "jamur rebung
bambu" atau Dyctyophora, yang di Indonesia dianggap sebagai jenis jamur
beracun, sekarang dibudidayakan. Jenis jamur ini umumnya tumbuh di kebun
bambu dengan ciri khas karena tubuhnya seperti diberi kerudung berbentuk
jaring. Daratan China merupakan produsen jamur ini yang disebut zhusun yang
kemudian dijual dalam bentuk segar ataupun sudah dikeringkan.
Menurut masyarakat Hongkong atau Singapura, masakan dari jamur ini memiliki
cita rasa yang lebih baik dan mantap kalau dibandingkan dengan jenis jamur
lainnya, termasuk jamur shiitake, tiram, kuping, ataupun champignon.
Di hampir semua rumah makan, menu khusus yang berisi jamur ini banyak
dihidangkan dan penggemarnya terus bertambah walau harganya cukup mahal,
misalnya di Hongkong sekitar 6.000 dollar HK atau sekitar 770 dollar AS atau
lebih dari Rp 1,6 juta per kilogram kering.
Bagaimana membedakan jenis jamur yang dapat dimakan dan tidak membahayakan
dengan jenis lain yang membahayakan atau beracun?
Terus terang, ini hanya berdasarkan pada bentuk, sifat, dan keadaannya,
sangat sukar untuk membedakan jenis jamur beracun (membahayakan) dan tidak.
Walau begitu, ada beberapa ketentuan yang sejauh ini dapat dijadikan
pegangan untuk menentukan jenis jamur beracun dan tidak, dengan catatan
bahwa ketentuan ini tidak dapat dijadikan pegangan yang 100 persen benar.
Beberapa ketentuan yang dapat dijadikan dasar pegangan dimaksud antara lain
adalah sevagai berikut.
Tanda jamur beracun
(a) Jenis jamur beracun pada umumnya mempunyai warna yang mencolok:
merah-darah, hitam-legam, biru-tua, ataupun warna-warna lainnya. Walaupun
ada pula jenis jamur beracun yang mempunyai warna terang (kuning muda) atau
putih, dan jamur yang dapat dimakan berwarna gelap, misal coklat-tua.
(b) Jenis jamur beracun dapat menghasilkan bau yang menusuk hidung, seperti
bau telur busuk ataupun bau ammoniak.
(c) Jenis jamur beracun mempunyai cincin atau cawan. Walaupun ada yang
sebaliknya, seperti jamur-merang mempunyai cawan dan jamur kompos mempunyai
cincin, tetapi tidak beracun.
(d) Jenis jamur beracun umumnya tumbuh pada tempat yang kotor: tempat
pembuangan sampah, kotoran kandang, dan sebagainya.
Walaupun untuk penanaman dan pemeliharaan jamur kompos justru dipakai
kotoran kandang/kotoran kuda.
(e) Kalau jenis jamur beracun dikerat oleh pisau yang terbuat dari perak,
atau dikerat oleh pisau biasa kemudian benda perak didekatkan kepada keratan
tadi, maka pada benda perak terbentuk warna hitam atau biru, itu menandakan
bahwa jamur tersebut beracun.
(f) Jenis jamur beracun cepat sekali berubah warna, misal dari putih ke
warna gelap, kalau dimasak atau dipanaskan.
(g) Ada kebiasaan yang turun-temurun di antara petani di desa untuk
menentukan apakah jamur beracun atau tidak, dengan jalan memepes jamur
bersama nasi putih. Kalau kemudian warna nasi berubah menjadi warna gelap,
menandakan bahwa jamur termasuk jenis beracun.
(h) Di banyak negara Eropa dan Amerika, banyak "pemburu jamur" yang sengaja
membawa babi terlatih untuk membedakan jenis beracun dan tidak.
Cara lain yang dianjurkan kalau menemukan jenis jamur dan ingin mengetahui
apakah termasuk jenis beracun atau tidak adalah dengan menanyakan kepada
penduduk setempat. Karena biasanya, penduduk setempat sedikit banyak akan
mengetahuinya, atau dapat memberikan penjelasannya.
Lain soal kalau penduduk setempat tersebut adalah musuh.
Senyawa beracun yang umum didapatkan pada jenis-jenis jamur, antara lain
adalah:
Kholin, yaitu racun yang paling berbahaya dan besar sekali daya
mematikannya. Semua jenis jamur yang disebut "supa upas" (upas = racun)
mempunyai senyawa ini, misal: Amanita, Lepoita, Russula, Collybia, dan
Boletus. Muskarin, juga racun jamur yang cukup berbahaya dan mematikan.
Dengan takaran antara 0,003-0,005 gram sudah dapat membunuh manusia.
Juga racun ini terdapat pada semua jenis jamur yang tergolong "supa upas".
Falin, sama seperti muskarin.
Atropin jamur, sama seperti muskarin.
Asam helvelat, sama seperti muskarin.
Dapat pula jenis jamur tidak beracun menjadi beracun kalau dibiarkan
membusuk karena kemungkinan besar pada jamur membusuk akan ditumbuhi
bakteri penghasil racun, seperti Clostridium, Pseudomonas, dan Salmonella.
Keracunan karena jamur
(a) Keracunan yang diakibatkan karena jamur mempunyai beberapa gejala.
Keracunan karena muskarin, maka setelah 5-10 menit, si pemakan akan
mengeluarkan air mata, peluh atau ludah, kemudian diikuti dengan penyempitan
pupil mata. Lebih lanjutnya: akan sesak napas, buang air, pusing, lemah
kolaps, dan koma, dan diikuti oleh kejang-kejang dan akhirnya meninggal.
(b) Keracunan karena racun lainnya, setelah 4-6 jam si pemakan akan menjadi
haus, sakit perut yang hebat, muntah-mutah, dan banyak mengeluarkan berak
encer. Lama kelamaan akan menjadi shock dan akhirnya dapat menimbulkan
kematian.
Dengan adanya gejala di atas setelah makan jamur, paling aman meminta
bantuan yang berwenang, dokter atau paramedis yang ditunjuk.
Karena, dokter lalu akan melakukan usaha simtomatik atau suportif, dengan
memberikan thiosulfas natrikus.
Untuk penderita yang shock dapat pula diberikan larutan garam fisiologis
(0,85 persen NaCl), sedangkan untuk penderita yang gawat dapat juga
diberikan suntikan ¼ mg antropin secara intra-muskular atau kalau mungkin
per-oral.
Sering pula digunakan obat penawar yang sifatnya universal yang terdiri dari
2 bagian arang kayu (dapat diganti dengan bakaran roti atau beras sampai
hangus), 1 bagian garam Inggris, 2 bagian asam tannin (dapat pula diganti
dengan teh-keras/kental).
Satu sendok campuran di atas kemudian diseduh di dalam 1 gelas air masak
dan diminum.
H Unus Suriawiria Guru Besar Emeritus ITB
More information about the Marinir
mailing list