[Marinir] [detiknews.com] Penangkapan Farid R Faqih (1) Bukti
Bobroknya Koordinasi
YapHongGie
ouwehoer at centrin.net.id
Mon Jan 31 09:09:05 CET 2005
http://jkt1.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2005/bulan/01/tgl/31/ti
me/134211/idnews/282098/idkanal/10
2005-01-31 13:42:00
Penangkapan Farid R Faqih (1) Bukti Bobroknya Koordinasi
Reporter: Ismoko Widyaya
detikcom - Jakarta, Rabu (26/1/2005), tepat satu bulan bencana gempa dan
gelombang Tsunami menghantam Aceh dan Sumatera Utara, merupakan hari sial
bagi Koordinator Government Watch (Gowa) Farid R Faqih.
Di tanggal naas itu dia ditangkap anggota TNI dengan tuduhan mencuri bantuan
kemanusiaan untuk Aceh.
Peristiwa penangkapan Farid ini menarik perhatian banyak pihak. Sejumlah
media massa nasional bahkan menempatkan peristiwa ini sebagai berita utama.
Maklum, pria yang rambutnya dipenuhi uban dan memelihara kuncir ini selama
ini dikenal sebagai aktivis kemanusiaan yang mumpuni.
Apalagi melihat kondisi alumnus IPB ini yang babak belur. Saat penangkapan
terjadi, rupanya Farid juga mendapat hadiah bogem mentah. Sudut mata kiri
Farid lebam dan bibirnya terlihat jontor. Pokoknya tampang Farid benar-benar
mirip maling ayam atau penjahat kelas teri lainnya yang tertangkap basah di
negeri ini.
Menurut versi TNI, sebagaimana dijelaskan oleh Kapten Suharto dari POM
(Polisi Militer) TNI Banda Aceh, Farid ditangkap di Lanud Iskandar Muda
sekitar pukul 16.00 WIB, Rabu (26/1/2005). Sebelum penangkapan, salah
seorang anggota tim kesehatan TNI AD dari Jakarta, Kapten Syuaeb, menerima
sejumlah barang bantuan di Lanud Iskandar Muda Blang Bintang.
Barang-barang bantuan itu berupa minuman, obat-obatan, dan peralatan RS
Kesdam.
Setelah barang-barang tersebut dicek, Syuaeb kemudian melaporkan ke Posko
TNI di Lanud. Dia melakukan koordinasi, agar barang-barang itu bisa
dipindahkan dan dibawa ke hanggar, yang selama ini dijadikan penampungan
bantuan-bantuan.
Setelah pulang dari posko TNI, Syuaeb kaget, barang-barang bantuan yang
diterimanya di landasan, kini raib. Setelah mencari ke sana ke mari,
akhirnya dia menemukan bahwa barang-barang tersebut telah dimuat sejumlah
truk oleh Farid Faqih.
Merasa barang-barangnya diangkut tanpa izin, Syuaeb pun menanyakan kepada
Farid. "Barang siapa ini?" tanya Syuaeb seperti dituturkan Suharto. Farid
menjawab bahwa barang-barang tersebut tidak tercantum alamatnya. Farid
berencana membawa barang-barang ini ke gedung Lukman CM yang dijadikan
posko Gowa.
Syuaeb lantas menjelaskan bahwa barang-barang itu adalah milik TNI. Lantas,
Syuaeb menyerahkan sejumlah bukti bahwa barang-barang tersebut memang
milik TNI. Penjelasan Syuaeb ini tidak digubris oleh Farid.
Bahkan Farid mengatakan bahwa apa yang dilakukannya bukan urusan Syuaeb.
Jawaban Farud ini rupanya membuat Syuaeb tersinggung dan membuat dia naik
pitam.
Sang kapten ini langsung menonjok wajah Farid Faqih berkali-kali.
Setelah terkena tonjokan dan bogem itu, oleh sejumlah anggota TNI, Farid
kemudian diserahkan ke POM TNI AU untuk diamankan. Bersama Farid,
turut pula diamankan 6 anggota FPI untuk dijadikan saksi.
Selanjutnya, oleh POM TNI AU, Farid diserahkan ke polisi.
Sedangkan Sekretaris Eksekutif Gowa, Andi Saputra, kepada detickom
mengatakan, peristiwa itu terjadi karena ada pihak-pihak yang tidak senang
dengan aktivitas Farid Faqih selama di Aceh.
Tapi Andi tidak menyebutkan pihak mana yang tidak suka tersebut.
Gowa pimpinan Farid Faqih sudah berada di Aceh sejak 29 Desember 2004,
atau 3 hari setelah bencana gempa dan tsunami. Mereka membawa bendera
Aceh Logistic Support (ALS).
ALS membantu mendistribusikan bantuan yang menumpuk di Bandara Sultan
Iskandar Muda Banda Aceh.
Kala itu, Farid memang gencar mengkritik buruknya sistem distribusi bantuan
yang tidak merata. Kondisi ini juga pernah disampaikan langsung oleh Farid
kepada Menko Kesra Alwi Shihab. Farid dengan ALS-nya kemudian turun
tangan menangani masalah distribusi tersebut. Nah, dalam operasinya di Aceh
itulah sejumlah kelompok tampak tak suka.
Andi juga mengaku, Gowa memiliki tiga gudang yang menampung bantuan
kemanusiaan di Aceh, yakni di gudang Dolog, Depsos dan Blang Bintang.
Salah satunya, yakni gudang di Blang Bintang, memang telah menerima bantuan
dari istri Panglima TNI dalam kapasitas Ketua Umum Dharma Wanita.
"Kami melihat adanya unsur kesengajaan dan usaha pembunuhan karakter
terhadap Gowa, yang selama ini selalu memberikan bantuan kemanusiaan
menjadi kelompok yang melakukan pencurian," kata Andi.
Singkat cerita, Farid selanjutnya ditahan dengan tudingan melanggar pasal
363 ayat (2) KUHP tentang pencurian dengan pemberatan dalam kondisi bencana
alam, dan bisa dikenai hukuman maksimal tujuh tahun penjara. Sedangkan
Kapten Syuaeb juga diamankan di Pomdam Iskandar Muda, Banda Aceh.
Syuaeb mengakui dirinya telah melakukan pemukulan terhadap Farid.
Atas tindakannya ini dia dituduh telah melanggar KUHP pasal 351 tentang
penganiayaan.
Kasus ini memang telah menjadi persoalan baru di tengah berbagai upaya
meringankan penderitaan rakyat Aceh. Menilik pangkal peristiwanya, pemicu
kasus ini tidak lain adalah bobroknya sistem koordinasi yang ada.
Ditambah lagi banyak pihak yang ingin menonjolkan diri masing-masing.
Seperti dikatakan Menko Kesra Alwi Shihab, kasus ini hanya masalah kesalahan
prosedur. Alwi mengaku prihatin terjadi pengeluaran barang-barang tanpa ada
dokumen-dokumen yang sah. Alwi berharap, semua pihak bisa bersabar dan
melihat kasus ini secara konfrehensif.
Hal senada juga disampaikan Ahmad Paradis, Ketua Yayasan Kemanusiaan
Indonesia. Yayasan yang dibentuk oleh kader-kader Partai Keadilan Sejahtera
(PKS) ini selama ini aktif memberikan bantuan di Aceh. Menurutnya kasus ini
terjadi karena jeleknya koordinasi antar berbagai pihak, termasuk oleh
kelompok Farid Faqih sendiri.
Fakta nyata buruknya sistem koordinasi adalah bertumpuknya bantuan di suatu
tempat, sementara di tempat lain kekurangan. Pemerintah harus memperbaiki
berbagai peraturan dan sistem koordinasi yang ada saat ini. Pemerintah
dinilai cukup bertindak sebagai kordinator, jangan mengurusi teknis di
lapangan.
"Ada kecenderungan semua pihak ingin melakukan semua tindakan dari A
sampai Z. Masing-masing ingin mencari nama.
Ini suatu hal yang sangat tidak baik," tutur Paradis.(djo)
(news from cache) - Reload from Original
More information about the Marinir
mailing list